GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 21


__ADS_3

Mata Aurora terus melihat ke arah luar, dimana anak-anak panti sedang bermain bersama.


"Nak Aurora mau main-main sama mereka?" tanya Ega pada Aurora.


Aurora menoleh ke arah Ega, lalu mengangguk dengan semangat. Lalu Ega pun membawa mereka berdua ke anak-anak panti, sekaligus memperkenalkan mereka.


Tidak butuh waktu yang lama, Aurora dan Irsyan sudah berbaur dengan mereka bahkan bermain bersama.


"Kamu suka sama anak kecil?" tanya Irsyan pada Aurora.


Aurora mengangguk kecil, "Suka banget Mas, makanya pas Mas ajak saya kesini langsung saya setujui," ucapnya. Irsyan tersenyum mendengarnya, nggak sia-sia dia mengajak kucing manisnya itu kesini.


"Bicara yang santai aja Dek."


"Hah? Maksudnya gimana Mas?" tanya Aurora heran.


"Kamu bicara yang santai aja sama aku, jangan terlalu formal."


"Pakai panggilan aku-kamu?" tanya Aurora lagi, sebenarnya ia juga tidak suka bicara dengan formal.


Irsyan mengangguk, "Boleh, itu lebih enak di dengar."


Entah mengapa Aurora langsung mengangguk menyetujui ucapan Irsyan, padahal panggilan aku-kamu itu cocok untuk orang yang sudah sangat dekat, seperti pasangan kekasih misalnya? Sedangkan mereka berdua kenal saja baru beberapa hari ini.


"Mas juga suka anak kecil?" tanya balik Aurora pada Irsyan.


"Iya aku suka banget sama anak kecil, bahkan dulu aku sering minta adik sama mama dan papa, tapi karena ada masalah di rahimnya mama, jadi Dokter tidak menyarankan mama untuk mengandung."


Irsyan tersenyum tipis ketika mengingat kembali pada saat ia merengek meminta adik kepada orangtuanya, dengan sabar mama dan papanya menjelaskan tentang keadaan mamanya yang tidak memungkinkan untuk mengandung karena itu akan berakibat pada kelangsungan hidup sang mama. Dengan berat hati Irsyan pun menerimanya, daripada ia harus kehilangan malaikat tak bersayap nya itu.


Tiba-tiba dua anak kecil berbeda jenis kelamin menghampiri mereka.


"Kakak cantik ini pacarnya kakak ganteng ya?" tanya bocah laki-laki yang diperkirakan berumur lima tahunan.


"Eh masih kecil kok tau yang namanya pacaran? Nggak baik." Irsyan berjongkok di depan bocah laki-laki itu seraya mengacak rambutnya.


"Kata Naya, kalau ada laki-laki sama perempuan lagi berduaan, berarti mereka pacaran," ucap polos bocah yang bernama Bara itu.


"Kok Bala nuduh Naya sih? Naya kan masih kecil nggak tau apa-apa," balas bocah perempuan berumur empat tahunan yang bernama Naya itu dengan bahasa cadelnya.


"Naya namaku Bara bukan Bala. Kamu kira aku bala-bala?"


Naya memanyunkan bibirnya, "Ih... Naya kan nggak bisa nyebut huluf L, Bala."


"Bara, Naya. Bukan Bala-bala!" sungut Bara tak terima namanya disebut seperti nama makanan bala-bala.

__ADS_1


Aurora tergelak melihat interaksi kedua bocah yang sedang berdebat itu. Matanya tak sengaja bertemu dengan mata Irsyan yang sedang menatap ke arahnya.


"Tuh kan kakak ganteng sama kakak cantik saling tatap-tatapan!" seru Bara heboh.


Dengan cepat Irsyan mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan Aurora hanya acuh saja.


"Mas, aku mau ke toilet bentar," izin Aurora ke Irsyan.


"Kamu tau tempat toiletnya? Atau mau aku antar?"


Aurora menggelengkan kepala, "Nggak usah Mas, nanti tinggal aku tanya aja sama anak-anak," tolaknya halus.


"Oh ya sudah sana."


Aurora mengangguk, lalu melangkah kan kakinya untuk pergi mencari toilet, karena ada sesuatu hal yang harus ia buang disana.


"Kakak ganteng sama kakak cantik sangat cocok, Naya suka!" celetuk Naya.


"Naya diem," tegur Bara.


Irsyan memandang kedua bocah itu dengan bibir yang tersenyum.


"Doakan saja Dek, supaya kakak bisa bareng terus sama kakak cantik." Kedua bocah itu hanya manggut-manggut dengan polosnya.


"Kakak ganteng benelan suka ya sama kakak cantik?" tanya Naya dengan suara cadel khasnya.


"Ih kakak ganteng pelit!" ucap Naya merajuk seraya memanyunkan bibir dan melipat tangannya ke atas perut. Irsyan terkekeh melihat wajah bocah perempuan yang sedang merajuk itu.


"Nggak boleh ngambek gitu, nanti kakak nggak kasi permen lollipop loh," ucap Irsyan seraya mengeluarkan 2 permen lollipop dari dalam jaketnya.


Naya yang tadinya merajuk, kini berubah menjadi ceria lagi bahkan matanya sampai berbinar-binar ketika melihat permen favoritnya.


"Naya mau kak!" ucapnya girang.


"Nah ini permen untuk Bara dan Naya," ucap Irsyan seraya memberikan dua permen lollipop itu kepada dua bocah di depannya ini.


"Makasih kakak ganteng," ucap dua bocah itu serentak.


"Iya sama-sama," balas Irsyan sambil mengelus rambut Bara dan Naya.


...****************...


"Sering-sering ya kalian datang kesini, salam untuk pak Harun dan bu Jihan juga."


"Insya Allah Bu," jawab Irsyan sopan.

__ADS_1


Mereka berdua berpamitan pulang karena sudah lumayan lama disini dan juga Aurora harus cepat ke rumah sakit. Naya dan Bara berdiri tepat di samping Ega, ibu pantinya.


"Kakak cantik mau pulang? Kenapa nggak tinggal disini aja?" tanya Naya dengan wajah polosnya.


"Nggak bisa Naya, kakak cantik kan punya rumah, punya keluarga, nggak seperti kita," timpal Bara.


"Siapa bilang kalian nggak punya keluarga sama rumah? Keluarga kalian kan ada ibu Ega sama teman-teman lainnya dan tempat ini adalah rumah kalian," ucap Irsyan dengan lembut seraya berjongkok menyamakan posisinya dengan tinggi Bara. Ega sang ibu panti hanya tersenyum mendengar ucapan Irsyan.


"Bu, bisa nggak ya saya adopsi mereka?" tanya Aurora, Irsyan cukup terkejut mendengar ucapan Aurora.


"Mana boleh kamu adopsi mereka dek," jawab Irsyan.


"Kok nggak boleh?" tanya Aurora cemberut.


"Iya soalnya adopsi anak itu harus ada syaratnya Aurora, adopsi anak minimal udah nikah selama 5 tahun dan usia paling rendah itu harus 30 tahun. Benar kan Bu?" tanya Irsyan pada Ega.


"Iya, apa yang dikatakan dengan nak Irsyan itu benar nak," jawab Ega yang membenarkan ucapan Irsyan.


Aurora memanyunkan bibirnya, dia melirik Bara dan Naya secara bergantian, dia seperti enggan dan tidak tega untuk pergi meninggalkan kedua bocah lucu dan menggemaskan itu.


"Ya udah Bu, kita pamit pulang dulu," ucap Irsyan.


"Iya kalian hati-hati di jalan."


"Kakak cantik dan kakak ganteng sering-sering ya main kesini?"


"Iya Bara, kakak janji bakal sering main-main kesini," ucap Aurora sambil mengelus rambut milik Bara dan Naya secara bergantian.


Setelah selesai berpamitan, mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Sekarang kamu mau kemana Ra?" tanya Irsyan.


"Langsung pulang aja Mas, soalnya aku mau buatkan makan siang untuk ibu dan adikku, setelah itu baru pergi ke rumah sakit," jawab Aurora. Irsyan hanya manggut-manggut, lalu mengendarai mobilnya menuju ke alamat rumah Aurora.


20 menit kemudian, mereka berdua pun sampai di halaman rumah Aurora.


"Nggak mampir dulu Mas?" tawar Aurora.


"Nggak usah dek, kapan-kapan deh aku ke rumah kamu. Soalnya habis ini aku mau antar mama ke rumah temannya."


"Oh gitu, ya sudah gapapa Mas. Kalau gitu aku masuk dulu ya Mas? Mas hati-hati di jalan."


Irsyan tersenyum dan mengangguk, "Iya Aurora, sampai ketemu lagi nanti di rumah sakit."


Aurora mengangguk dan tersenyum, lalu membuka pintu mobil dan keluar. Setelah itu Irsyan pun pergi melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Aurora.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2