
Sudah 3 hari 2 malam Caca, Aril, Naufal serta Elang berada di kantor, mereka tidak pulang sama sekali. Bahkan mereka tidur pun hanya 2 sampai 3 jam sehari. Mereka kerja lembur untuk memecahkan masalah di YH GROUP. Dan hari ini merupakan batas terakhir atau jatuh tempo pembayaran utang di bank luar negeri yang YH GROUP harus dilunasi.
Caca, Aril serta Elang itu masih berkutat dengan berkas yang mereka periksa. Sementara Naufal, pria itu malah tertidur dengan cara duduk menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Memang saat ini matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, tapi tangannya masih memegang sebuah berkas.
Tiba-tiba Salma datang ke ruangan Caca dengan langkah terburu-buru sambil membawa sebuah map hitam. Suara langkah sepatu heels Salma membuat Naufal langsung terbangun.
"Ada apa, Salma?" tanya Caca.
"Nona Caira, mas Aril dan semuanya. Departemen hukum baru saja menerima pemberitahuan pembayaran terbaru dari bank luar negeri. Jika kita masih belum melunasi utang hingga hari ini sampai jam 10 pagi, bank akan membekukan semua aset tetap kita. Margin masalah juga akan--"
Ucapan Salma terhenti saat tangan Aril terangkat yang artinya menyuruh Salma berhenti menjelaskan. Wanita itu pun segera menyodorkan map yang dibawanya kepada Aril. Map tersebut berisikan rincian pembayaran utang dari bank luar negeri.
Salma pun keluar dari ruang kerja Caca karena ada tugas lain yang harus ia kerjakan.
Mereka berempat kembali fokus pada berkas di depannya. Disaat Caca sibuk mengorek-ngorek sesekali mencoret lembaran-lembaran di depannya, tiba-tiba sebuah ide tercetus di kepalanya
"Aku punya ide!" seru Caca membuat ketiga pria yang bersamanya itu melihat ke arahnya.
Caca segera memanggil kembali Salma untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Salma.
"Perintahkan departemen keuangan untuk menyerahkan semua pengeluaran utama dalam transaksi ke departemen hukum. Tanya bagian operasi untuk membandingkan tanggal jatuh tempo pembayaran utang dengan klausul pembayaran angsuran dalam perjanjian hipotek," perintah Caca dengan tegas. Salma menyimak sambil mencatat inti penting dalam ucapan atasannya tadi.
"Departemen pemasaran akan menganalisis kembali rencana penjualan dan pembelian YH GROUP. Juga, minta manajer keuangan untuk melaporkan semua aliran modal YH GROUP ke ruangan saya!" sambung Caca. Frans bukan manajer keuangan lagi, dia sudah di pecat oleh Caca. Kini Frans telah di gantikan oleh salah satu karyawan senior YH GROUP yang bernama Derry.
"Hanya itu saja, Nona?" tanya Salma.
"Oh ya. Beritahu juga ke departemen hukum, minta pada bank luar negeri untuk melihat gelombang ekonomi diantara transaksi-transaksi besar dan minta cicilan. Alokasikan aliran modal YH GROUP dan mulai pembayaran utang darurat!" Caca menambah perintahnya pada Salma. Salma mengangguk dan pamit untuk melaksanakan tugas yang telah diperintahkan oleh Caca tadi.
Hari ini semua karyawan YH GROUP sangat sibuk dengan tugas masing-masing.
__ADS_1
Waktu pun terus berjalan, Caca harap cemas dan ia di temani Aril di ruangannya. Mereka berdua tengah menunggu telepon dari perwakilan bank luar negeri.
Tepat pukul 10 pagi, tiba-tiba pesawat telepon di beberapa departemen berbunyi saling bersautan. Tak lama, telepon di ruangan Caca pun berbunyi juga. Ia begitu ragu untuk mengangkatnya, Caca takut mendengar hal yang tak diharapkannya terjadi. Ia malah menyuruh Aril untuk mengangkat telepon tersebut.
"Ril, kamu aja yang angkat!" suruh Caca menatap Aril.
Aril mengangguk, melangkahkan kakinya sedikit menuju meja Caca. Lalu ia mengangkat telepon yang sedari tadi berbunyi tanpa ada rasa keraguan sedikitpun dan menaruh gagang telepon tersebut di telinganya.
Dengan seksama Aril mendengarkan pembicaraan orang di telepon tersebut sambil menatap ke arah Caca yang ada di hadapannya.
"Gimana? Apa berhasil? Atau bank memaksa--" Belum selesai Caca bertanya, Naufal dan Elang masuk ke dalam ruangannya.
"Nona Caira!"
Caca langsung berdiri dari kursi kerjanya. Aril pun telah selesai menelpon dan menaruh gagang telepon tersebut ke tempatnya.
Naufal dan Elang menghampiri meja kerja Caca. "Departemen hukum baru saja melaporkan bahwa krisis pelanggaran hipotek YH GROUP dan bank luar negeri ..." Naufal menjeda ucapannya.
"A-apakah gagal?" tanya Caca gugup.
"Wakil presiden bank luar negeri menelpon dan menyatakan bahwa dia setuju dengan tiga klausul yang kita ajukan. Apalagi mereka sudah mulai mengkaji ulang proyek-proyek besar dan menyetujui rencana cicilan. Mereka juga telah menerima uang muka dari departemen keuangan," jelas Aril.
"Dengan kata lain kita ..." Caca menjeda ucapannya dan di balas anggukan serta senyuman dari ketiga pria di depannya itu.
"Krisis pelanggaran hipotek YH GROUP telah berakhir," ujar Aril. Semuanya bernapas lega, Caca pun sampai memekik tertahan hingga memutar-mutar kursi kerjanya saking senangnya ia bisa mengatasi permasalah tersebut.
"Hah... akhirnya kita bisa meninggalkan tempat ini," ucap Naufal yang sangat penat berada di kantor. Ia merangkul bahu Elang dan mengajaknya pergi ke cafe. Caca membiarkan mereka untuk bersantai hari ini.
Kini hanya Aril dan Caca di dalam ruangan. Dua orang berbeda jenis kelamin itu saling pandang sejenak sambil melemparkan senyuman mereka. Tak lama, Aril pun mengajak Caca untuk pulang. Caca menyetujuinya, ia ingin segera bertemu dengan kasur empuknya.
"Apakah anda sebahagia itu, Nona?" tanya Aril ketika sudah berada di luar gedung YH GROUP.
__ADS_1
Caca memutar tubuhnya menghadap Aril. "Tentu saja aku bahagia. Kita sudah memecahkan krisis hipotek. Memangnya kamu tidak bahagia?" tanya balik Caca.
"Ini hanya krisis hipotek belaka," jawab Aril santai sambil memasukkan tangan kirinya ke saku celana.
“Kamu bilang hanya? Hei, karena kasus hipotek ini, aku terjebak di dalam ruang kerjaku selama tiga hari dua malam. Aku bekerja sangat keras bekerja keras untuk ini!” protes Caca.
“Apakah anda sebelumnya pernah belajar ekonomi?” Aril tidak menanggapi protesan dari Caca, tapi ia malah kembali bertanya.
“Tentu. Waktu kuliah dulu aku pernah mendapatkan mata kuliah dan membahas tentang aliran modal, gelembung ekonomi dan cicilan. Ya walaupun hanya sebentar, tapi aku masih mengingatnya dengan jelas," jelas Caca. Aril hanya manggut-manggut mengerti. Ia berjalan sedikit, lalu membukakan pintu mobil untuk Caca.
Caca masuk dan duduk, Aril pun berjalan mengitari lalu ikut masuk ke dalam mobil. Pria itu mulai melajukan mobil meninggalkan gedung YH GROUP.
"Nona, saya akan mengajukan cuti di hari Sabtu nanti," ucap Aril tiba-tiba tanpa melirik sedikitpun ke arah Caca. Caca menatap Aril dengan kening berkerut.
"Kenapa cuti? Memangnya kamu ada acara?"
Aril mengangguk, "Hanya acara keluarga. Kak Aurora dan kak Irsyan ingin merayakan hari anniversary pernikahan mereka di puncak."
"Hanya satu hari?"
"2 hari 1 malam tepatnya. Anda mau ikut?" tanya Aril membuat mata Caca berbinar tak lama kemudian mata hazel itu meredup.
"Apa boleh? Tapi itu kan acara keluarga kalian, aku nggak takutnya malah mengganggu waktu kalian," ucap Caca sendu.
"Anda tenang saja, Nona. Kak Aurora memang ingin mengajak anda pergi kesana, jika anda berkenan."
"Tentu saja aku mau!" jawab Caca cepat. Sedetik kemudian, ia merutuki diri karena keantusiasan dirinya.
Aril tersenyum tipis, "Sabtu pagi saya akan menjemput anda."
"Oke, Ril."
__ADS_1
...----------------...
To be continued.