GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 145


__ADS_3

Pagi harinya terjadi keributan di depan Villa, Aurora dan Irsyan bergegas ke depan melihat apa yang terjadi. Mereka melihat beberapa pekerja kebun sedang membawa anak laki-laki remaja sekitar umur 14 tahunan yang meronta-ronta minta di lepaskan.


"Ada apa ribut-ribut ini, Pak?" tanya Irsyan menghampiri mereka semua.


"Anak ini mau mencuri sayur-sayuran di kebun Tuan," jawab salah satu pekerja kebun. Irsyan dan Aurora terkejut mendengarnya, mereka tak menyangka anak sekecil itu akan mencuri, pasti ada sesuatu hal atau alasan yang membuat anak tersebut melakukan tindakan seperti itu.


Irsyan mendekati anak remaja tersebut, "Nama kamu siapa?" tanyanya lembut.


"Nama saya Ekiq, Tuan. Maafkan saya Tuan dan saya mohon jangan penjara kan saya. Saya hanya mengambil sedikit sayuran untuk Ibu dan adik-adik saya makan," jelas anak yang bernama Ekiq itu dengan nada yang sedih dan ketakutan. Irsyan dan Aurora pun merasa iba dengan anak itu.


"Memang Ayah kamu kemana?" sahut Aurora.


"Ayah saya pergi tidak tau kemana, Nyonya. Dia pergi meninggalkan saya, ibu dan adik-adik saya," jelas Ekiq. Ekiq anak pertama, ia memiliki dua orang adik, satu perempuan berumur 8 tahun dan satu lagi laki-laki berumur 3 tahun. Jahatnya sang ayah, pergi meninggalkan mereka entah kemana dan lepas tanggung jawab, padahal umur mereka masih pada kecil-kecil, pastinya sangat membutuhkan peran seorang ayah di hidup mereka, apalagi ibunya yang sering sakit-sakitan.


"Rumah kamu dimana?" tanya Irsyan.


"Tidak jauh dari sini Tuan," jawab Ekiq.


"Boleh bawa kami ke rumahmu?"


"Anda mau apa Tuan? Saya mohon jangan sampai Ibu saya tau mengenai ini, Tuan. Ibu saya saat ini sedang sakit, saya takutnya nanti penyakit ibu saya bertambah parah jika mengetahui kejadian ini," ucap Ekiq semakin ketakutan bahkan ia sampai bersimpuh di hadapan Irsyan sambil menangis. Irsyan tersentak dan membangunkan Ekiq.


"Jangan seperti ini, kamu tenang saja, saya hanya ingin berkenalan dengan ibu dan adik-adikmu," ucap Irsyan menenangkan Ekiq.


Ekiq mendongak menatap Irsyan, "Tapi rumah kami jauh dari kata baik, Tuan. Kalau Tuan dan Nyonya kesana takutnya nanti kalian tidak nyaman," ucapnya lirih.


"Tidak apa-apa Ekiq, apa boleh kita kesana?" timpal Aurora.


Ekiq mengangguk ragu, "Boleh Nyonya."


Irsyan dan Aurora permisi sebentar untuk mengambil tas serta kotak P3K, Irsyan berniat memeriksa keadaan ibu dari Ekiq, mengingat dia adalah mantan perawat.


Irsyan dan Aurora kembali keluar ke depan teras lalu menyuruh Ekiq untuk membawa mereka ke rumahnya, mereka juga pergi bersama Gilang yang memang Irsyan menyuruhnya untuk ikut, sambil membawa rantang berisi nasi yang tadinya Aurora siapkan untuk Ekiq dan keluarganya.


Kurang lebih sekitar 10 menitan mereka berempat sampailah di sebuah gubug tua yang terbuat dari bambu dan bisa dikatakan tidak nyaman untuk ditinggali. Aurora, Irsyan dan Gilang merasa prihatin dengan kondisi kehidupan Ekiq beserta keluarganya.

__ADS_1


Mereka berempat masuk ke dalam gubug tersebut, disana mereka melihat seorang wanita setengah baya dan dua anak kecil berjenis kelamin berbeda tengah tertidur dengan beralaskan tikar.


"Assalamualaikum," ucap mereka berempat membuat wanita setengah baya itu terusik dan mulai terbangun dari tidurnya


"Waalaikumussalam," jawabnya lemas. Wanita setengah baya itu bingung dan bertanya-tanya siapa ketiga orang dewasa yang datang bersama anaknya itu. Ekiq yang mengerti dengan tatapan bingung sang ibu pun mulai menjelaskannya siapa Aurora, Irsyan dan Gilang serta menjelaskan alasan kedatangan mereka semua ke rumahnya.


"Kata Ekiq, Ibu sedang sakit ya?" tanya Aurora duduk di samping ibu dari Ekiq yang bernama Sri.


"Iya Nyonya, udah satu minggu ini saya meriang," jawab Sri dengan wajah yang pucat.


"Maaf Bu, apa boleh saya memeriksa keadaan Ibu? Kebetulan saya dulu seorang perawat," imbuh Irsyan sambil mengeluarkan alat tensi darah dari kotak P3K.


"Apa tidak merepotkan anda, Tuan?" tanya Sri sungkan.


"Tentu saja tidak, Bu."


"Baiklah silahkan, Tuan." Dengan senang hati Sri mengizinkan Irsyan memeriksanya kebetulan dirinya memang tidak mempunyai biaya untuk memeriksakan kesehatannya di Dokter.


Irsyan memulai memeriksa tanda vital dari Sri yakni memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh yang cukup tinggi, 37 derajat Celcius sedangkan untuk tekanan darah Sri berada di angka normal.


"Ibu sudah makan?" tanya Irsyan sambil mengeluarkan beberapa jenis obat yang akan diminum oleh Sri.


Aurora menyodorkan rantang yang dibawanya tadi ke Sri, "Kebetulan saya bawa makanan untuk Ibu dan anak-anak," ucapnya.


"Astaga Nyonya, saya jadi tidak enak karena merepotkan anda dan suami," balas Sri sungkan.


"Tidak merepotkan sama sekali, Bu. Ini makanannya nanti di makan ya terus Ibu minum obatnya," suruh Aurora.


"Baik, Nyonya."


"Oh ya, Ekiq dan Laras kelas berapa?" tanya Aurora.


"Saya dan adik saya berhenti sekolah, Nyonya," jawab Ekiq.


"Loh kenapa?" tanya Aurora terkejut.

__ADS_1


"Karena kendala biaya, Nyonya."


"Ekiq berhenti sekolah saat di kelas 1 SMP dan Laras berhenti sekolah ketika berada di kelas 1 SD, Nyonya. Saya tidak punya biaya untuk menyekolahkan mereka, bahkan uang untuk makan sehari-hari pun kami tidak punya," timpal Sri dengan suara lirihnya. Aurora, Irsyan dan Gilang semakin merasa iba dengan Ekiq dan keluarganya.


Jadi hidup di dunia ini kita harus banyak-banyak bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan karena masih banyak orang yang hidupnya serba kekurangan dibawah kita.


Setelah itu, Aurora langsung menatap ke arah suaminya, Irsyan yang mengerti maksud istrinya pun mengangguk lalu ia mengambil amplop dari dalam saku jaketnya.


"Ini ada sedikit rezeki untuk Ibu dan keluarga," ucap Irsyan menyodorkan amplop itu pada Sri.


"Tidak usah Tuan, kami sudah merepotkan kalian dari tadi," balas Sri tak enak hati.


"Tidak apa-apa Bu, Ibu terima saja. Itu rezeki untuk Ibu dari Allah yang dititipkan dari kami," timpal Aurora dengan suara lembutnya.


Dengan tangan yang bergetar dan mata berkaca-kaca Sri mengambilnya, "Terima kasih Tuan, Nyonya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dan semoga keluarga kalian selalu bahagia, sakinah mawadah warahmah."


"Aamiin," balas Aurora dan Irsyan tersenyum.


Gilang tersenyum haru dan salut dengan kebaikan Aurora dan Irsyan, ia merasa sangat beruntung memiliki majikan seperti mereka berdua yang memiliki hati bak malaikat.


"Dan untuk pendidikan Ekiq dan Laras, kami akan membantu membiayainya, mungkin nanti kami akan menitipkannya kepada Gilang untuk biayanya setiap bulannya. Jadi kami harap Ekiq dan Laras kembali bersekolah," ucap Irsyan.


"Benarkah Tuan?" tanya Ekiq dengan mata berbinar, sudah lama ia ingin bersekolah lagi. Dulu waktu masih SD Ekiq dikenal sebagai siswa yang pintar dan cerdas, bahkan dulu ia selalu mendapatkan rangking di kelasnya.


Irsyan mengangguk dan tersenyum, "Iya Ekiq, tapi saya mau kamu harus rajin bersekolah dan belajarnya ya?"


"Siap Tuan," jawab Ekiq dengan suara lantangnya. Irsyan tersenyum sambil mengelus kepala Ekiq.


Irsyan juga berjanji akan memperbaiki rumah ibu Sri. Mungkin tidak mewah, tapi yang terpenting adalah nyaman untuk ditinggali Sri dan ketiga anaknya. Sri dan Ekiq sangat terharu dan menangis saat Irsyan mengatakan jika rumah mereka akan diperbaiki.


Setelah cukup lama mereka bertiga di rumah Ekiq, mereka pun pamit pulang balik ke Villa. Kini Aurora dan Irsyan sudah berada di dalam kamar.


"Aku sangat beruntung memiliki suami seperti Mas, yang sangat baik dan dermawan kepada semua orang," ucap Aurora sambil memeluk erat tubuh Irsyan.


Irsyan tersenyum, "Mas bahkan lebih beruntung memiliki istri berhati malaikat seperti kamu sayang," balasnya sambil mencium puncak kepala Aurora.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2