
Caca dan Aril sampailah di rumah besar tuan Ibrahim. Di ruang tamu, sudah banyak orang yang menunggu kepulangan Caca, kecuali Arsal dan Ibunya. Lucas yang melihat Caca langsung menghampirinya.
"Kamu kemana aja, Ca? Kami sangat khawatir mencarimu," tanya Lucas.
"Aku tadi hanya pergi jalan-jalan, kak," jawab Caca tidak sepenuhnya berbohong.
"Tapi kenapa sampai malam begini? Nanti kalau kamu tersesat gimana, kamu pasti sudah lupa jalan disini."
Aril tak suka melihat perhatian Lucas kepada Caca.
"Kakak tenang aja. Kalau aku tersesat, aku bisa menelpon Aril," ujar Caca sembari menatap Aril. Aril yang mendengar itu tersenyum tipis karena ia begitu diandalkan Caca. Sementara Lucas begitu geram dan langsung menatap sinis Aril. Aril tidak peduli dengan tatapan itu, malah ia punya tatapan yang lebih menyeramkan dari itu.
Caca duduk di samping kakeknya. Tadi ia sempat menatap ke arah Arsal dan Kalina, wajah mereka begitu tidak suka melihat Caca kembali ke rumah.
"Kamu kemana saja, nak? Kamu buat kakek khawatir saja," tanya tuan Ibrahim.
"Caca hanya pergi jalan-jalan saja, kek. Caca butuh hiburan," jawab Caca.
"Kenapa tidak membawa Elang untuk mengawal mu?"
"Caca hanya ingin sendirian tanpa dikawal oleh siapapun."
Tuan Ibrahim menghela napas. Ia hanya takut jika nanti ada salah satu pesaing perusahaannya berbuat nekat dan mencelakakan cucunya.
Setelah Caca beristirahat di kamar, semua orang yang tadi berkumpul di ruang tamu satu-persatu memundurkan diri. Begitupun dengan Aril dan Lucas. Sedari tadi Lucas menatap Aril seperti mengajak perang.
"Jangan dekati Caca lagi," desis Lucas.
"Memangnya anda siapa? Yang melarang-larang saya untuk dekat dengan nona Caira. Saya asistennya, jadi tidak ada alasan untuk saya tidak dekat dengannya," ucap Aril dengan nada santai namun terkesan dingin. Lalu ia pun pergi meninggalkan Lucas yang tengah menatapnya dengan tatapan kebencian.
"Sial!"
Secara mendadak tanpa pemberitahuan apapun, Vania dan Mike Smith dari Smith Company datang ke YH GROUP. Entah apa maksud dari kedatangan mereka.
"Ayo kita lihat bagaimana cara kerja CEO baru itu," ucap Mike.
Vania mengangguk, tangannya ia kaitkan ke lengan sang kakak. "Yuk kak."
Caca baru saja menerima telepon dari sang Daddy yang mengatakan jika Wilson dan Ranti akan pergi ke Macau lalu ke Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Hal itu membuat Caca bahagia, ia sudah merindukan orang tuanya.
Aril mengetuk pintu ruangan Caca dan setelah diberikan izin, ia masuk ke dalam ruangan Caca.
"Ril, perusahaan--"
Belum selesai Caca berbicara, Salma sang sekretaris tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dengan wajah panik.
"Nona Caira, mas Aril. Sesuatu telah terjadi. Pesaing sengit perusahaan kami, Mike Smith dari Smith Company datang kesini dengan membawa orang-orangnya."
Caca mengerutkan keningnya, "Mike Smith?" ucapnya bingung. Sesalnya, ia tidak pernah mencari tahu siapa saja pesaing berat dari YH GROUP.
__ADS_1
"Apa tujuannya kesini?" tanya Aril.
"Sepertinya pak Mike membawa hak cipta desain perhiasan. Beliau mengatakan, rangkaian produk yang baru saja kami kirim ke pameran perhiasan internasional menjiplak desain milik Smith Company," jelas Salma.
"Pak Mike memerintahkan kepada kami untuk mencabut semua produk perhiasan yang kami kirim dan memberikan kompensasi kerugian pada perusahaannya," sambungnya.
Caca bingung kenapa desain perhiasan milik YH GROUP bisa sama seperti Smith Company.
"Nona Caira." Mike, Vania, sekretaris beserta asistennya masuk ke dalam ruang kerja Caca secara tiba-tiba tanpa izin atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Sepertinya mereka tidak tahu sopan santun.
Mereka berjalan menghampiri meja kerja Caca membuat Salma harus menggeser posisinya
"Tidak-tidak. Seharusnya saya memanggil anda dengan nama Nona Harsa sang CEO baru," sambung Mike tersenyum meremehkan.
Sementara itu, Vania sedari tadi menatap ke arah Aril dengan tatapan minat dan memuja. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
...****************...
Irsyan sedang meeting dengan kliennya, tapi tiba-tiba Radit membisikkan ke telinganya jika Bi Uyun menelpon dirinya dan mengatakan itu sangatlah penting. Jadi Irsyan menunda sebentar rapat tersebut dan memilih mengangkat telpon dari Bi Uyun di ruangannya.
"Ada apa ya, Bi?" tanya Irsyan.
"N-nyonya Aurora Tuan ..." Terdengar dari suara bi Uyun seperti sedang cemas dan panik.
"Istri saya kenapa, Bi?" desak Irsyan.
"Nyonya tadi pingsan di kamar dan saat ini Nyonya berada di IGD rumah sakit Atma Jaya. Tuan bisa datang kesini?"
"Iya Bi, saya akan kesana secepatnya."
Irsyan mematikan sambungan telepon. Mengambil tas kerjanya lalu berlari keluar dari ruangannya. Radit mengejar atasannya yang terlihat panik itu.
"Pak Irsyan, anda mau kemana? Anda masih di tunggu oleh para klien disana," tanya Radit membuat Irsyan berhenti, kemudian menatap Radit.
"Kamu bisa gantikan saya, Dit? Tadi ART di rumah saya bilang kalau istri saya pingsan dan sekarang berada di rumah sakit. Saya harus kesana!" ucap Irsyan. Baginya keluarga merupakan prioritas nomor satu.
Radit mengangguk cepat. "Baik Pak. Semoga Bu Aurora tidak kenapa-kenapa," ucapnya ikut khawatir.
"Aamiin. Saya yakin kamu bisa menghandle semuanya. Kalau gitu saya pergi dulu," kata Irsyan sambil memukul bahu Radit.
Sesampainya di rumah sakit, Irsyan berjalan cepat menuju ke IGD. Di depan IGD sana terdapat Alina, Bi Uyun dan pak Nudi yang menunggu Dokter keluar.
"Papa!" Alina berlari menuju ke Irsyan dan langsung di gendong oleh sang Papa.
"Gimana keadaan istri saya?" tanya Irsyan pada Bi Uyun dan pak Nudi.
"Dokternya belum keluar, Tuan," jawab pak Nudi.
Irsyan menghela napas panjang dan berdoa semoga istrinya tidak kenapa-kenapa. Tak lama kemudian seorang dokter wanita keluar dari ruang IGD.
__ADS_1
"Dengan keluarga Nyonya Aurora?"
Irsyan dengan cepat berdiri, "Saya suaminya, Dok!"
"Loh mas Irsyan?" Dokter bernama Gita itu terkejut melihat Irsyan. Dulu diam-diam ia pernah menaruh perasaan kepada Aril. Perasaan itu mulai memudar saat Gita harus pindah kerja di rumah sakit lain. Tapi ia kembali lagi ke rumah sakit Atma Jaya.
"Iya ini saya. Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Irsyan.
Dokter Gita tersenyum, "Selamat mas Irsyan sebentar lagi anda akan menjadi ayah lagi," ungkapnya.
Bola mata Irsyan membulat sempurna mendengarnya. Rasa haru dan bahagia karena ia akan menjadi seorang ayah lagi. Tak sia-sia usahanya menukar obat kontrasepsi Aurora dengan vitamin penyubur kandungan.
"Anda serius, Dok?" tanya Irsyan memastikan.
"Iya benar. Perkiraan saya usia kandungannya baru 4 minggu. Jika ingin lebih jelas lagi, mas Irsyan bisa membawa istrinya ke Dokter kandungan," jelas Dokter Gita.
"Baik, Dok. Terima kasih. Apa saya sudah boleh melihat istri saya?"
"Silahkan."
Irsyan pun masuk ke dalam ruang IGD dan mendekati brankar Aurora. Terlihat Aurora baru saja siuman dari pingsannya.
"Aku dimana, Mas?" tanya Aurora.
"Kamu di rumah sakit sayang."
Aurora mengernyit heran, "Kenapa bisa?"
"Tadi kamu pingsan di kamar dan bi Uyun yang menemukanmu."
Aurora mengingat terakhir kali, kepalanya pusing ditambah penglihatannya berkunang-kunang dan ia tidak tahu kejadian selanjutnya.
"Aku sakit apa kata Dokter?" tanya Aurora.
Irsyan tersenyum sambil tangan mengelus perut datar Aurora, "Sebentar lagi kita akan punya anak lagi, sayang."
"Apa! Aku hamil?" Tentu Aurora terkejut mendengarnya. Tapi juga ada rasa bahagia dan bingung, kenapa bisa dia hamil? Sedangkan dirinya selalu minum obat kontrasepsi, bahkan tak jarang Aurora juga menyuruh Irsyan menggunakan pengaman jika akan berhubungan badan dengannya.
"Iya sayang. Kamu hamil. Disini ada calon anak ketiga kita," ucap Irsyan. Aurora langsung terdiam. Pikirannya benar-benar blank saat ini.
"Kenapa diam sayang? Kamu tidak suka kalau hamil lagi?"
Aurora menggeleng cepat, "Bukannya begitu, Mas. Aku hanya bingung aja, kenapa aku bisa hamil, sedangkan aku selalu minum obat kontrasepsi."
"Mungkin ini sudah rezeki dari Allah untuk kita jaga lagi. Jadi kamu nggak boleh suudzon, oke?" ucap Irsyan seraya mengelus rambut Aurora. Tapi beda lagi di dalam hatinya, ia meminta maaf pada Aurora karena ini adalah ulahnya.
"Iya, Mas."
...----------------...
__ADS_1
To be continued.