GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 115


__ADS_3

"Baiklah anak-anak, Ibu akan membagikan kalian kelompok, 1 kelompok terdiri dari 5 orang," ucap bu Rika, guru IPS sekaligus wali kelas XI IPS 2.


"Kelompok 1 ada Vino, Naya, Ina, Maria dan Fian. Kelompok 2 ada Lala, Aril, Naufal, Caca dan Dennis, untuk ..." Ucapan bu Rika langsung disela oleh Naufal.


"Bu boleh nggak Lala di pindahin aja kelompoknya, saya nggak mau satu kelompok sama dia!" Naufal dan Lala memang tidak pernah akur di sekolah seperti tikus dan kucing. Mereka berdua dulu pernah berpacaran waktu kelas 1, tapi entah kenapa setelah putus mereka menjadi musuh bebuyutan seperti sekarang ini.


"Dih siapa juga yang mau satu kelompok sama lo!" sahut Lala ketus.


"Sudah-sudah, kalian akan tetap menjadi satu kelompok," lerai bu Rika. Lala dan Naufal langsung mendengus kesal.


"Cie yang satu kelompok sama mantan," ledek Caca.


"Ca, gue lagi emosi nih. Jangan bikin tambah emosi dong!" kesal Lala dan Caca hanya terkekeh.


Setelah pelajaran IPS selesai dan bu Rika keluar dari kelas, Caca menyuruh anggota kelompoknya untuk berkumpul sebentar untuk berdiskusi sebelum keluar istirahat.


"Yang jadi ketua kelompok disini siapa?" tanya Dennis. Caca, Lala dan Naufal langsung melirik ke arah Aril. Aril yang sedang fokus pada game online di handphonenya mendongak ke arah teman-temannya itu.


"Apa?" tanya Aril dengan wajah datarnya.


"Lo yang jadi ketua kelompok," tunjuk Naufal.


"Gue setuju," ucap Caca dan Lala serempak.


"Hem," jawab singkat Aril dan kembali fokus pada gamenya.


"Besok kan minggu, gimana kalau buat tugas kelompoknya itu di rumah gue aja?" tawar Lala.


"Boleh tuh," balas Lala dan Dennis.


"Lo gimana?" tanya Lala sewot pada Naufal.


"Gue sih terserah Aril aja."


Lagi-lagi Aril yang sedang fokus bermain game itu harus menatap ke arah teman-temannya, "Jam berapa?" tanyanya.


"Sore aja deh, soalnya gue mau pergi ke rumah keluarga kalau pagi dan pasti pulangnya itu siang," jawab Lala dan disetujui oleh semua.


"Oke kita kumpul di rumah Lala jam 4 sore, oke?" ucap Dennis.


"Oke," ucap semua, kecuali Aril si cuek dan dingin.


Setelah selesai berdiskusi, mereka pun keluar dari ruang kelas menuju ke kantin. Sedangkan Aril dan Naufal pergi ke ruang perpustakaan untuk mengantar buku paket yang dipinjam untuk pelajaran IPS tadi.

__ADS_1


...****************...


Walaupun Aurora tidak tau kapan Irsyan pulang, ia tetap menyiapkan makan malam untuk suaminya itu. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Irsyan masih belum keliatan batang hidungnya membuat Aurora sedikit gelisah.


"Mas Irsyan kemana sih, katanya mau pulang jam 8 atau 9 tapi kok sampai sekarang belum balik juga." Monolog Aurora sambil melihat makanan yang ada di meja makan.


Tanpa disadari mata Aurora sudah sangat mengantuk, awalnya ia hanya menyenderkan kepalanya di atas meja makan, namun lama kelamaan Aurora langsung terlelap dengan nyaman disana, padahal dirinya belum makan malam karena menunggu kepulangan Irsyan.


Setelah sampai di depan halaman rumah, Irsyan segera masuk, sebelum itu ia mengucapkan salam namun tidak ada yang menjawabnya, Irsyan memanggil sang istri sambil celingukan berharap Aurora menyambutnya, namun harapan Irsyan tidak menjadi kenyataan.


"Apa Aurora udah tidur ya?" gumam Irsyan.


Tak sengaja Irsyan melewati ruang makan, ia sangat terkejut melihat Aurora yang tertidur di kursi dengan kepala yang di sandarkan ke atas meja makan, Irsyan segera mendekat dan berjongkok di samping sang istri, begitu lekat memandang wajah Aurora yang menoleh ke samping.


"Kamu dari tadi nungguin Mas ya? Maafin Mas ya sayang," ucap Irsyan lirih sambil mengelus kepala Aurora dengan masih memandang istrinya dari samping.


Kemudian Irsyan mencium pipi Aurora pelan, sedetik kemudian ia memindahkan tubuh istrinya ke gendongannya, Irsyan yang menyadari jika istrinya benar-benar tertidur pulas langsung membawa Aurora ke dalam kamar dan perlahan membaringkan tubuh Aurora ke tempat tidur, bukannya terbangun Aurora hanya menggeliat mengamankan posisi tidurnya.


Irsyan tersenyum lalu menyelimuti tubuh Aurora dan segera masuk ke dalam kamar mandi, tak lama Irsyan keluar, memakai pakaian dan pergi menuju ke ruang makan.


Irsyan yang melihat masakan yang ada di atas meja langsung tersenyum, semua masakan Aurora selalu menggugah selera makan Irsyan, tak jarang ia menasehati istrinya untuk tidak memaksa karena Irsyan tak ingin Aurora kelelahan dan bisa berakibat fatal pada kandungannya, tapi Aurora yang memang kerasa kepala tak mengindahkan peringatan dari suaminya itu padahal ada ART yang akan memasakkan makanan untuk mereka.


Dengan perlahan Irsyan merasakan masakan Aurora sedikit demi sedikit masuk ke dalam mulutnya hingga membuatnya kenyang.


Sisa makanan di bereskan oleh Irsyan dan beberapa makanan yang ia hangatkan untuk sang istri, Irsyan yakin istrinya itu belum makan. Tadi sebenarnya Irsyan akan membangunkan Aurora untuk makan bersama, tapi ia tak tega melihat istrinya yang sudah terlelap tidur itu. Saat membuka lemari pendingin, Irsyan tersenyum lagi melihat salad buah kesukaannya tersedia disana.


"Kamu selalu tau kesukaan Mas, sayang."


Irsyan masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan yang sudah ia hangatkan untuk Aurora, dengan perlahan ia membangunkan istrinya.


"Sayang bangun yuk, kamu belum makan loh," ucap Irsyan dengan menepuk-nepuk pelan pipi Aurora.


Rupanya cara itu tidak membuat Aurora terbangun dari tidurnya jika sudah dilanda kantuk yang berat, terpaksa Irsyan membasahi tangannya dengan air dingin dan menempelkan perlahan di pipi Aurora. Cara kali ini ia berhasil, Aurora menggerakkan tubuhnya dan dengan pelan mengedipkan-kedipan matanya sedikit bingung efek dari bangun tidur.


"Mas sudah pulang?" tanya Aurora dengan suara seraknya.


"Bukan, ini hanya bayangan Mas aja," jawab Irsyan asal sambil tersenyum.


"Bayangan apaan dasar! Loh aku dimana Mas? Perasaan tadi aku ruang makan deh, kok bisa disini?" ucap Aurora linglung. Irsyan terkekeh geli lalu mencium bibir istrinya itu sekilas.


"Kamu ada di kamar sayang, tadi kamu ketiduran di ruang makan karena Mas nggak tega bangunin kamu, jadi terpaksa deh Mas gendong ke kamar daripada badan kamu encok nantinya. Masih mending encok karena melayani Mas dia atas ranjang," balas Irsyan panjang lebar. Aurora memukul keras lengan suaminya.


"Apaan sih Mas, omongannya mesum mulu deh!" kesal Aurora sambil melotot kan matanya bukannya takut Irsyan malah tertawa menurutnya ekspresi istrinya itu sangatlah lucu.

__ADS_1


"Iya maaf sayang, ayo sini biar Mas suapi kamu, kamu pasti belum makan kan? Ini sudah Mas hangatkan dan sisanya Mas masukan ke dalam kulkas."


"Terus Mas sudah makan?" tanya Aurora.


"Sudah sayang, masakanmu selalu enak, untung Mas segera sadar, kalau nggak mungkin perut sixpack Mas ini lama-lama akan membuncit," seloroh Irsyan.


"Kok nggak bangunin aku sih Mas, kan bisa makan barengan," ucap Aurora.


"Kan Mas sudah katakan sayang, Mas nggk tega bangunin kamu. Sudah, ini kamu makan juga Mas temani, mau disuapi?" tawar Irsyan.


"Nggak usah Mas, biar aku makan sendiri aja," tolak Aurora.


"Ya sudah, ini pelan-pelan ya makannya. Mas tungguin kamu disini sambil mengecek email yang masuk," ucap Irsyan sambil menyodorkan makanan yang tadi dibawanya.


"Iya Mas." Aurora segera makan karena perutnya yang sedari tadi minta diisi.


Sambil menikmati makanannya, sesekali Aurora melirik ke arah Irsyan yang serius membaca dan mempelajari email yang masuk ke dalam ponselnya. Aurora tersenyum saat melihat ekspresi wajah suaminya yang kadang berubah-ubah.


'Ganteng, baik, cool, tegas, keren dan humoris. Itulah suami dari Aurora Putri Ramadhina,' batin Aurora tersenyum geli.


Selesai makan Aurora segera turun dari tempat tidur namun segera ditahan oleh Irsyan.


"Mau kemana sayang?" tanya Irsyan menaruh perhatian di atas ranjang.


"Mau taruh ini di dapur," ucap Aurora sambil menunjuk piring dan gelasnya.


"Nggak usah biar Mas aja, sekalian Mas buatkan kamu susu."


"Nggak ngerepotin Mas nih?"


"Ya nggak lah sayang, kamu nggak pernah merepotkan Mas. Ya sudah tunggu, Mas mau ke bawah dulu," ujar Irsyan sambil membawa bekas gelas dan piring bekas makan Aurora ke dapur. Sedangkan Aurora turun dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menyikat giginya, kegiatan rutin yang selalu ia lakukan sebelum tidur.


Tak lama Aurora keluar dari kamar mandi, disana sudah ada suaminya dan di tangannya ada susu cokelat miliknya.


"Ini susunya sayang," ucap Irsyan menyodorkan gelas susu buatannya itu pada Aurora.


"Makasih Mas," balas Aurora duduk di samping Irsyan dan segera meminum susunya hingga tandas tak bersisa. Gelas bekas susunya itu ia taruh di atas meja nakas samping ranjang.


"Ayo tidur sayang, pasti masih ngantuk kan?"


"Hem." Aurora mengangguk menyetujui ucapan suaminya. Mereka berdua membaringkan tubuh, tak lupa mereka harus berpelukan sebelum benar-benar tertidur dengan pulasnya.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2