
Setelah cukup lama kumpul dengan sahabat-sahabatnya, Irsyan memutuskan untuk pulang karena ia takut jika Aurora membutuhkannya.
Suara dering handphone membuat Irsyan menepikan sejenak motornya. Melihat nama istrinya lah yang terpampang di layar ponselnya. Tanpa berlama-lama lagi Irsyan langsung mengangkat dan menaruh handphonenya di sela-sela helm.
"Assalamualaikum sayang," sapa Irsyan.
"Waalaikumsalam Mas. Mas masih di cafe?" tanya Aurora.
"Mas udah di jalan pulang, kenapa sayangku?" tanya Irsyan dengan lembut.
"Aku minta tolong dong beliin ayam penyet sambal ijo sama rujak mangga muda, aku pengen banget makan itu," pesan Aurora.
"Tapi nanti kamu bisa sakit perut sayang, karena mangganya pasti asam sekali."
"Tapi aku pengen makan yang asam-asam Mas," pinta Aurora dengan suara memelas. Kalau sudah membuat suara seperti itu hati Irsyan pasti akan luluh seketika.
"Ya sudah, ini sekarang Mas pergi beli."
"Oke Mas. Oh ya, aku juga pengen makan aakhh!"
Suara jeritan Aurora membuat Irsyan kaget, "Halo sayang? Aurora jawab Mas, kamu gapapa kan? Sayang, Mas langsung pulang sekarang!"
Irsyan segera mematikan sambungan telepon, menaruh handphonenya di saku celana. Lalu menyalakan mesin motor dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli jika nanti ia akan kecelakaan di jalan yang penting sekarang segera sampai dirumah dan menemui istrinya, Irsyan benar-benar khawatir dengan Aurora setelah mendengar jerit kesakitan dari istrinya tadi.
Motor Irsyan pun telah memasuki area pekarangan rumah setelah 10 menit di perjalanan, mungkin kalau tidak mengebut Irsyan sampai rumah itu sekitar 15 menitan. Irsyan tergesa-gesa turun dari motor dan berlari menuju ke dalam rumah, ia tak memikirkan motornya yang jatuh begitu saja karena Irsyan tidak menurunkan standar motornya.
Sepi, itulah yang disematkan pada suasana rumah saat ini, Harun dan Jihan tengah pergi ke rumah Fani dan Adit karena mereka merindukan cucu pertama mereka yakni, Alvaro. Sedangkan bi Aci pergi ke ke pasar untuk belanja bahan masakan.
Langkah lebarnya kini menuju ke lantai 2 dengan cepat ia membuka pintu kamar, namun tak menemukan keberadaan istrinya disana, ia mencari ke dapur, tapi tetap tidak ada Aurora. Pikiran Irsyan kacau, ia mengacak rambutnya frustrasi keringat dingin mengucur dari keningnya, ia sangat menyesal tidak mengajak Aurora untuk ikut dengannya tadi.
"Mas?" suara lembut dari seorang wanita yang mengangetkan Irsyan, dengan cepat Irsyan membalikan badannya.
Disana, Aurora berdiri dengan satu pot bunga yang berisi bunga mawar di tangan kirinya.
"Sayang!"
Irsyan langsung berlari menerjang tubuh kecil istrinya itu walaupun sedikit terhalang oleh pot bunga yang dibawa Aurora. Aurora sampai terhuyung ke belakang untung saja ia bisa menyeimbangi bobot tubuh Irsyan.
"Mas takut!"
"Mas takut kenapa?" tanya Aurora bingung.
"Takut kehilangan kamu, sayang," jawab Irsyan lirih. Wajahnya ia sembunyikan di ceruk leher Aurora.
"Aku nggak kemana-mana kok, Mas," balas Aurora.
"Tadi kamu menjerit kesakitan gitu, kamu gapapa kan?" Irsyan menguraikan pelukannya dan meneliti seluruh tubuh Aurora dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Aurora langsung terkekeh, ternyata karena hal itu yang membuat Irsyan khawatir padanya.
"Tadi aku tuh lagi nanam bunga mawar di pot ini, tapi jari aku malah tertusuk durinya, karena sakit makanya aku teriak, maaf ya udah buat Mas khawatir," ucap Aurora.
Irsyan bernapas lega, lalu memeriksa jari Aurora yang terkena tusukan duri.
"Sakit banget ya sayang?"
"Udah nggak kok, Mas."
"Beneran?" tanya Irsyan memastikan.
"Iya benar Masku, sayang. Oh ya, pesanan aku mana Mas?" tagih Aurora membuat Irsyan cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Tadi Mas buru-buru, jadinya nggak sempat beli pesanan kamu."
"Ih ya udah sana Mas pergi beliin pesanan aku tadi," ucap Aurora sambil mendorong tubuh Irsyan untuk segera membelikan pesanannya tadi.
"Sekarang banget nih sayang? Padahal tadi Mas mau mesra-mesraan sama kamu, sebelum besok Mas pergi," balas Irsyan mengerucutkan bibirnya.
"Iya SEKARANG!" ucap Aurora penuh penekanan.
Irsyan menghela napas panjang, ia segera keluar dari rumah untuk pergi membelikan pesanan kanjeng ratunya. Sebelum pergi tadi Irsyan mengecup singkat bibir Aurora sebagai bekalnya.
Aurora hanya geleng-geleng kepala dan kembali ke halaman belakang rumah untuk melanjutkan kegiatan tanam-menanamnya. Entah kenapa sejak hamil Aurora sangat suka menanam bunga.
"Ya Pak, tunggu sebentar, saya mau cuci tangan dulu," ucap Aurora pergi ke keran yang memang ada disana untuk mencuci tangan.
"Ada apa ya Pak?" tanya Aurora pada pak Deden setelah selesai mencuci tangannya.
"Ini ada kiriman bunga untuk Nyonya," papar pak Deden sambil menyerahkan buket bunga tersebut pada Aurora.
"Ini dari siapa ya Pak?" tanya Aurora.
"Maaf saya tidak tau, Nyonya. Seperti biasa, kurirnya itu tidak kasi tau siapa nama pengirimnya," jelas pak Deden.
"Oh gitu Pak, terima kasih."
"Sama-sama, kalau gitu saya permisi mau balik ke pos Nyonya," izin pak Deden.
"Silahkan Pak," balas Aurora tersenyum. Setelah kepergian pak Deden, Aurora membaca kartu ucapan yang ada di buket bunga tersebut.
'Semoga kamu suka dengan bunganya, cantik.'
Itulah isi dari kartu ucapan tersebut, membuat Aurora bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang yang mengirim bunga tersebut? Karena ini kelima kalinya Aurora menerima bunga dari orang tak dikenalnya, semoga saja orang tersebut tidak mempunyai tabiat untuk merusak hubungan Aurora dan Irsyan.
"Gue udah kayak artis aja punya penggemar," gumam Aurora sambil menaruh buket bunga tersebut di meja tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Raffi!"
Raffi dengan langkah yang tergesa-gesa menuju ke ruang kerja atasannya, membuka pintu dan segera menghampiri tuannya yang sedang duduk di sofa.
"Ya Tuan?"
"Kamu sudah kirim bunga yang saya minta ke wanita itu?" tanya pria itu kepada Raffi.
"Sudah Tuan."
"Siapa yang menerima?"
"Security di rumahnya Tuan," jawab Raffi.
"Ya sudah kamu boleh kembali ke ruangan mu," perintah pria itu. Raffi mengangguk, berjalan keluar dari ruangan atasannya. Di hatinya pun bertanya-tanya dan penasaran, siapa wanita yang suka dikirimi bunga oleh tuannya itu? Ia yakin wanita itu bukan wanita sembarangan.
"Gimana cara gue dapetin lo, Ra?" gumam pria itu sambil membayangkan wajah cantik Aurora. Yah, dia adalah orang yang suka mengirimi Aurora bunga selama ini.
"Selamanya lo hanya milik gue, gue nggak rela lo sama perawat jadi-jadian itu!" geram pria itu.
"Karena cara yang baik dan halus gue nggak bisa dapetin lo, mungkin dengan cara yang licik dan jahat gue bisa miliki," ucap pria itu tersenyum miring.
Seorang wanita seksi masuk ke dalam ruangan pria itu tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, lalu berjalan berlenggak lenggok menuju ke pria itu.
"Hai sayang."
"Mau apa kamu kesini?" tanya pria itu menatap tajam wanita yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Tentu saja untuk memuaskan," ujar wanita itu sambil mengelus dada bidang pria itu dengan sensual. Pria itu langsung mengeram, elusan wanita itu membuat hasrat binatangnya menjadi naik seketika.
"Jangan salahkan aku kalau kamu tidak bisa berjalan Viona."
"Tidak apa-apa sayang, lakukan saja sepuas kamu, aku siap melayani kamu," balas wanita itu sambil membuka resleting celana milik pria itu dan wanita itu pun tanpa ada rasa malunya membuka Cd-nya di depan pria itu.
Tanpa berlama-lama, pria itu langsung menyerang tubuh wanita itu tanpa foreplay atau pemanasan terlebih dulu, ia menarik wanita itu ke pangkuannya lalu memasukkan miliknya yang sudah menegang ke lubang surgawi milik sang wanita dan melakukannya dengan kasar.
Wanita itu langsung menjerit keras, antara sakit dan nikmat itulah yang dia rasakan, "Awwww pelan-pelanhhh."
"Sssttt diam kau jal*nghh!" desis pria itu sambil memukul bok*ng milik wanita yang
"Akhhh Aurorahhh."
Gila memang! Saking terobsesinya terhadap Aurora, setiap bercinta dengan wanita bayarannya, pria itu selalu menghayal jika dirinya tengah bercinta dengan Aurora.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1