GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 46


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya Andre pergi menemani Kiran shopping di Mall, kemana pun gadis itu pergi Andre selalu mengikutinya.


"Sayang, yang mana yang lebih bagus?" tanya Kiran pada Andre sambil mengangkat dua dress yang menurutnya bagus.


"Dua-duanya bagus kok," jawab Andre. Sebenarnya dia paling tidak suka di ajak berbelanja seperti ini, tapi demi kebahagiaan Kiran, dia mau melakukan segalanya.


"Ih pilih salah satunya!" ucap Kiran kesal.


Andre menghela napas, "Yang warna hitam aja, sepertinya itu yang lebih cocok sama kamu."


"Oke aku ambil yang warna hitam, ayo kita pergi bayar" ajak Kiran. Andre hanya mengangguk. Lalu mereka berdua pergi menuju ke kasir.


"Totalnya satu juta tiga ratus ribu rupiah, mbak," ucap seorang kasir perempuan.


"Oh iya, sebentar." Kiran mengeluarkan dompet dari dalam tas jinjing miliknya.


Pada saat Kiran akan mengeluarkan kredit card-nya, namun malah keduluan Andre yang memberikan kredit card miliknya pada kasir.


"Eh."


"Pakai kartu saya aja Mbak bayarnya," ucap Andre.


"Baik Mas," ucap kasir itu dan langsung memproses pembayarannya.


"Kok jadi kamu sih yang bayar? Itu kan belanjaan aku sayang," ucap Kiran tak enak karena Andre membayar belanjaannya.


"Gapapa sayang, biar aku aja yang bayar."


"Tapi-" Ucapan Kiran disela oleh Andre.


"Udah gapapa sayang, sekarang simpan lagi kartu dan dompet kamu ke dalam tas." Kiran hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ini kartu dan belanjaannya, terima kasih sudah berbelanja disini," ucap kasir itu sopan sambil memberikan kredit card dan paper bag berisi dress tersebut pada Andre.


"Sama-sama Mbak," ucap Kiran dan Andre serempak.


Mereka berdua keluar dari toko tersebut dan tak sengaja berpapasan dengan Kevin dan Shafira, tunangannya.


"Eh itu kan mantan kamu sayang," ucap Shafira sambil bergelayut manja di lengan Kevin.


"Kiran," lirih Kevin menatap sendu Kiran, rasa cintanya pada gadis itu masih ada di hatinya.


"Cowok itu pacar baru kamu ya?" tanya Shafira menatap remeh Andre. Kiran hanya diam, malas untuk menanggapi perempuan ular yang licik itu.


"Cih, aku kira kamu bakalan cari pengganti Kevin yang lebih tampan dan kaya. Eh ini malah sebaliknya, mana cowoknya urakan kayak gitu pasti miskin juga," cibir Shafira setelah menelisik penampilan Andre dari atas sampai bawah.


"Lo!" geram Kiran yang ingin menjambak rambut Shafira, namun di halangi oleh Andre. Kiran menatap Andre, laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan artian Kiran nggak perlu membalas perbuatan Shafira.

__ADS_1


"Heh Kevin, tolong ya lo ajar tuh sopan santun yang baik buat calon istri lo! Katanya anak bangsawan tapi kok kelakuannya seperti cewek murahan yang haus belaian sih." Kini Kiran yang mencibir Shafira.


"Kamu!" Shafira ingin melayangkan tamparannya pada Kiran, dengan cepat Kiran mencengkeram kuat tangan Shafira.


"Jangan pernah sekali-kali sentuh gue pake tangan bau azab lo," ucap Kiran menatap tajam Shafira.


"Aduh Kevin tangan aku sakit," adu Shafira pada Kevin dengan merengek.


"Cih tukang adu!" Kiran langsung menghempaskan tangan Shafira dengan kasar.


"Awwww."


"Ayo sayang kita pergi, soalnya panas banget disini pasti banyak setannya deh makanya panas," ucap Kiran sambil menatap Shafira dan Kevin dengan tatapan mengejek. Shafira melotot kan matanya, ia tak terima dengan ucapan Kiran.


"Iya ayo sayang." Andre merangkul pinggang Kiran, lalu pergi dari hadapan Kevin dan Shafira. Kevin hanya menatap sendu punggung mantan kekasihnya itu.


"Kamu gapapa kan sayang?" tanya Kiran pada Andre.


"Emangnya aku kenapa sayang?" tanya Andre balik.


"Kamu nggak sakit kan dengar ucapan Shafira tadi?


"Ya nggak lah, ngapain juga sakit hati sama ucapan dia. Toh ucapan dia kan nggak benar."


"Syukurlah kalau kamu nggak sakit hati," ucap Kiran lega.


"Iya sayang. Sekarang kamu mau kemana?" tanya Andre.


"Makan. Aku udah laper banget," jawab Kiran.


"Oke," balas Kiran dengan antusias.


...****************...


Aurora masih di tahan di rumah Irsyan oleh Jihan, ia tak boleh pulang terlebih dahulu padahal sekarang sudah menunjukkan jam 8 malam.


Sekarang Aurora tengah duduk bersama dengan Irsyan di gazebo belakang rumah laki-laki itu sambil menatap langit malam yang dihiasi dengan bintang-bintang bertaburan.


"Mas."


"Ya Dek?" tanya Irsyan menatap Aurora.


"Aku boleh nanya nggak?" ucap Aurora sedikit ragu.


"Mau nanya apaan? Tanya saja jangan ragu."


"Em, apa Mas masih cinta sama mantan pacar Mas yang dulu?" tanya Aurora. Irsyan cukup terkejut dengan pertanyaan dari gadis itu.


"Ya sejujurnya Mas memang masih cinta sama dia, tapi itu dulu sebelum Mas mengenal gadis yang membuat Mas jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya," jelas Irsyan.


"Memangnya siapa gadis itu Mas?" tanya Aurora penasaran.


"Kamu pasti tau kok orangnya."

__ADS_1


"Apa dia mbak Susuk?"


Irsyan mengerutkan keningnya, "Siapa mbak Susuk?" tanyanya bingung.


"Itu loh suster yang suka sama Mas, si Sukma," jawab Aurora. Irsyan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Aurora.


"Yang pastinya bukan dia lah, Dek."


"Ih makanya terus siapa Mas?" desak Aurora.


"Ada deh kamu kepo banget deh," jawab Irsyan dengan nada meledek.


"Ih ya udah kalau nggak mau di kasi tau," ucap Aurora cemberut dengan memanyunkan bibirnya. Irsyan terkekeh geli melihat ekspresi Aurora.


"Lambat laun kamu pasti tau kok, karena secepatnya Mas bakal ngelamar dia sebagai calon istri Mas."


Aurora langsung terdiam. Entah kenapa hatinya merasa seperti tertusuk ribuan duri setelah mendengar ucapan Irsyan. Apa dia boleh berharap jika dia adalah gadis yang dibicarakan oleh Irsyan tadi?


"Kok malah diem Dek?" tanya Irsyan.


"Nggak kok Mas," ucap Aurora sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Pasti gadis itu sangat cantik ya Mas?" tanya Aurora basa-basi.


"Cantik itu relatif, Dek. Kamu tau alasan kenapa Mas memilih dia?" Aurora hanya menggeleng sebagai jawabannya.


"Itu karena dia memiliki hati yang sangat cantik melebihi cantik wajahnya, sebab itu juga Mas jatuh hati dengannya," ucap Irsyan tersenyum.


"Pasti gadis itu akaan sangat beruntung memiliki suami seperti Mas."


"Malah Mas yang sangat beruntung jika memilikinya," ucap Irsyan menatap dalam mata Aurora. Sesak di hati Aurora semakin menjadi-jadi setelah mendengar ucapan Irsyan. Mungkin mulai sekarang dia akan berhenti berharap, Aurora tak ingin jatuh cinta kepada orang yang salah lagi untuk kedua kalinya.


"Mas aku mau pulang dulu ya?" pamit Aurora tiba-tiba.


"Kok cepet banget? Belum aja jam 10," ucap Irsyan.


"Iya soalnya takut nanti di cari Ibu, karena seharian belum pulang," elak Aurora, padahal tadi dia sudah izin dengan ibunya dan ibunya pun dengan senang hati mengizinkan Aurora.


"Ya sudah, kalau gitu Mas antar ya?" tawar Irsyan.


"Nggak usah, Mas. Toh aku juga bawa motor," tolak Aurora.


"Gapapa, biar besok pagi motor kamu di anterin sama pak Deden atau kang Ujang," Irsyan terus kukuh ingin mengantarkan Aurora untuk pulang.


"Nggak perlu Mas, aku nggak mau ngerepotin Mas dan yang lain. Ya sudah aku pulang dulu ya Mas? Titip salam sama tante Jihan dan om Harun," ucap Aurora dengan nada yang terburu-buru. Irsyan menghela napas, lalu mengangguk.


"Kamu hati-hati ya di jalan." Irsyan mengelus rambut Aurora. Namun dengan cepat Aurora menghindar.


"Iya Mas, jangan anterin aku ke depan, Mas diem aja disini. Assalamualaikum Mas," ucap Aurora.


"Waalaikumsalam," balas Irsyan, hatinya berkata jika gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Setelah itu Aurora pergi dari hadapan Irsyan.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2