GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 120


__ADS_3

"Mas gapapa, kamu pulang aja ya sayang," suruh Irsyan. Bukannya tidak ada senang ada Aurora yang menjaganya namun pria itu khawatir dengan kondisi istrinya apalagi sedang hamil, tampak dari wajah cantik Aurora yang terlihat raut kelelahan.


Sudah tiga hari Irsyan dirawat, beruntungnya ia hanya mengalami cedera yang tidak terlalu parah. Lengan kanannya harus mendapat 17 luka jahit karena terkena serpihan kaca, luka memar di area tulang rusuk, beberapa luka di bagian wajah dan kaki kirinya yang terkilir.


Sebenarnya Irsyan tak ingin di rawat inap tapi Harun dan Jihan sangat kukuh agar ia tetap di rawat.


"Aurora sayang," panggil Irsyan saat sang istri hanya diam saja.


Aurora mendongak bukannya menatap wajah Irsyan, melainkan melihat ke arah luka perban di lengan suaminya.


"Nanti kalau Mama, Papa dan yang lainnya kesini, kamu pulang ya? Nanti Mas suruh kak Adit yang antar kamu pulang," bujuk Irsyan agar istrinya itu pulang. Setelah mengetahui tentang kecelakaan Irsyan, Fani dan Adit serta Alvaro pun langsung ke kota S untuk melihat keadaannya.


"Aku tetap mau disini!" kukuh Aurora yang tidak ingin pulang. Irsyan menghela napas, istrinya itu selalu saja keras kepala.


"Kalau begitu kamu istirahat, kamu jarang tidur selama menjaga Mas disini. Kamu nggak boleh kelelahan, ingat ada anak kita," ujar Irsyan dengan lembutnya.


Selama tiga hari Aurora menjaga Irsyan, wanita itu sangat kukuh tidak ingin pulang. Padahal wajah Aurora terlihat pucat, membuat Irsyan menjadi khawatir dengan keadaannya.


Semalam Aurora ikut begadang saat Irsyan mengeluh nyeri pada luka jahitannya, ternyata ada jahitan yang terlepas karena Irsyan terlalu banyak mengerakkan lengannya. Akhirnya lengan pria itu harus di jahit kembali, untungnya hanya ada 5 jahitan yang terlepas.


"Terima kasih sayang," ucap Irsyan menatap lekat wajah istrinya sedangkan Aurora hanya diam, ia duduk di kursi samping ranjang rawat suaminya.


"Mas bersyukur, walaupun kamu masih marah sama Mas, kamu mau jagain Mas disini. Sekarang kamu tidur ya sayang? Jangan sampai malah kamu yang sakit nantinya."


Aurora hanya mengangguk, tak lama tangan Irsyan terulur untuk memegang tangan istrinya seraya tangan yang satunya menepuk-nepuk ranjangnya.


"Tidur disini mau?" tawar Irsyan. Dengan cepat Aurora menggelengkan kepalanya.


"Aku tidur di sofa aja."


"Di sofa nggak nyaman sayang, tidur bareng disini aja ya bareng sama Mas? Ayo sini." Irsyan menarik pelan tangan istrinya. Aurora menghela napasnya namun detik berikutnya ia naik ke ranjang dan ikut berbaring di samping suaminya. Irsyan sedikit bergeser agar istrinya mendapatkan tempat yang banyak.


"Rasanya pengen banget peluk kamu, tapi Mas belum bisa tidur miring," keluh Irsyan.


"Mas nggak terganggu aku tidur disini?" tanya Aurora sambil menatap langit-langit kamar inap Irsyan.

__ADS_1


"Terganggu kenapa sayang?" tanya Irsyan bingung.


"Aku kan tidur disini, takutnya nanti Mas nggak nyaman karena kesempitan apalagi perut aku besar gini," jelas Aurora.


Irsyan tersenyum kecil, "Ya nggak lah sayang, malah Mas senang karena udah hampir seminggu ini nggak tidur seranjang dengan istrinya Mas," ucapnya terkekeh.


"Kalau Mas nggak nyaman, biar aku pindah ke sofa."


Irsyan memiringkan tubuhnya dengan susah payah lalu menatap lekat wajah istrinya dari samping, "Mas nyaman sayang."


Merasa tak ada balasan dari Aurora, Irsyan kembali merentangkan tubuhnya, berbaring dengan posisi miring membuat area tulang rusuknya terasa nyeri.


"Rasanya lebih nyaman lagi kalau kamu peluk, Mas."


Bohong jika Aurora tidak ingin memeluk pria yang berada disebelahnya ini. Rasanya tangannya ingin melingkar ke perut suaminya itu namun Aurora terlalu gengsi juga takut akan tindakannya akan melukai luka lebam di area tulang rusuk Irsyan.


"Tidur sayang, jangan melamun," ujar Irsyan saat menoleh dan mendapati istrinya tengah melamun.


"Kalau Dokter atau Perawat masuk gimana?" tanya Aurora sedikit gusar.


"Ayo kita tidur sayang, Mas juga udah ngantuk banget."


Setelah sepasang suami-istri itu terlelap tidur dengan posisi terlentang. Selang beberapa menit Jihan datang bersama Harun, mereka berdua cukup kaget melihat pemandangan di depannya.


Pasangan suami-istri paruh baya itu menyunggingkan senyumnya dan memilih untuk keluar dari ruang rawat Irsyan agar tidak menganggu tidur anak serta mantunya itu.


Aurora terbangun saat mendengar suara rintihan kecil dari mulut Irsyan. Wanita itu terperanjat kaget saat menyadari lengannya yang sedang menindih tubuh suaminya, tepat berada di atas area tulang rusuknya yang memar.


"Maaf Mas," cicit Aurora merasa bersalah. Irsyan tersenyum kecil menutupi rasa nyeri yang sedang ditahannya.


"Kamu meluk Mas kuat banget tadi, pasti kangen berat kan sama Mas, iya kan?" goda Irsyan.


"Kan aku lagi tidur, mana tau kalau tadi aku peluk Mas!" elak Aurora.


"Mas terlalu nyaman dan rindu dengan pelukan kamu, makanya Mas biar aja walaupun harus menahan rasa sakitnya."

__ADS_1


"Ya tapi kan--"


"Udah gapapa sayang, sini peluk lagi," sela Irsyan dengan manja. Aurora hanya diam tidak menanggapi permintaan suaminya itu membuat Irsyan menghela napas, bagaimana lagi cara agar istrinya itu mempercayainya?


Sebenarnya ini salah Irsyan juga karena tidak memberitahukan kepada Aurora tentang dirinya yang akan bertemu dengan Marissa karena biasanya sebelum akan bertemu dengan siapapun itu Irsyan akan memberitahukan kepada istrinya terlebih dahulu.


"Sayang udah jangan marah lagi, Mas minta maaf sama kamu karena nggak beritahu kamu dulu siapa klien yang akan bertemu dengan Mas kemarin," ucap Irsyan menatap lekat iris hitam Aurora.


Aurora mengabaikan ucapan suaminya, ia lebih memilih menyibukkan diri dengan mengupas buah apel dan juga pear.


"Mas belum dimaafkan ya?" sambung Irsyan. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya dari istrinya.


"Mas kira kamu udah maafin Mas, ternyata belum," ujar Irsyan dengan suara yang terdengar pelan.


Aurora menoleh, ia mendapati suaminya sedang memejamkan matanya, "Mau makan buah?" tawar Aurora.


Irsyan membuka matanya lalu melirik ke arah Aurora yang tengah duduk di sampingnya dengan sepiring buah yang sudah dikupas.


"Suapi," rengek Irsyan dengan manja membuat Aurora bergidik geli.


"Tangan kanan Mas kan luka." Aurora menatap tangan kanan suaminya yang diperban.


"Kalau banyak gerak takutnya nanti jahitannya terlepas lagi," sambung Irsyan, sebenarnya itu hanya alasan saja agar Aurora menyuapinya.


Irsyan mengubah posisinya menjadi duduk dan membuka mulutnya lebar-lebar. Aurora berdecak, namun tangannya terulur untuk menyuapi sepotong apel ke dalam mulut suaminya.


"Lagi," punya Irsyan. Belum saja lima detik, pria itu sudah kembali membuka mulutnya.


"Kunyah yang lama biar lambungnya nggak kerjanya berat," tegur Aurora. Ia memakan potongan buah pear lebih dulu sebelum tangannya bergerak untuk memasukkan apel ke dalam mulut suaminya.


"Apelnya manis, mungkin karena disuapi sama ayang."


"UHUK!"


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2