GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 39


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua minggu kemudian . . .


Pagi harinya, Aurora tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantornya, baru saja ia akan keluar dari kamar tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nama Irsyan lah yang tertera di disana. Tak perlu berpikir panjang, Aurora langsung mengangkat telpon dari Irsyan tersebut.


"Halo assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam," balas Irsyan dengan suara lemas.


"Kok lemas banget suaranya Mas, lagi sakit?" tanya Aurora.


"Iya Dek, apa kamu bisa ke rumahnya Mas sekarang? Badan Mas lemes banget."


"Kayaknya nggak bisa Mas, aku mau ke kantor. Memangnya tante Jihan sama bibi Aci mana?"


"Mama lagi pergi temenin papa perjalanan bisnis ke Singapura selama seminggu dan bibi Aci lagi cuti pulang kampung 3 hari. Jadinya Mas hanya bertiga dirumah sama kang Ujang dan pak Deden," jelas Irsyan.


Bi Aci merupakan seorang asisten rumah tangga di rumah keluarga pak Harun. Kang Ujang tukang kebun yang mengurus taman disana. Sedangkan pak Deden merupakan satpam yang bertugas menjaga rumah.


"Em gimana ya?"


Aurora sangat bimbang saat ini, disisi lain ia sangat khawatir dengan keadaan Irsyan yang sedang sakit, namun disisi lain ia harus berangkat bekerja.


"Please kesini, Mas lagi butuh kamu banget," ucap Irsyan memelas. Aurora menghela napas.


"Oke, aku ke rumahnya Mas."


Akhirnya Aurora lebih memilih untuk pergi ke rumah Irsyan, karena dia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan laki-laki itu. Untuk masalah bekerja, sepertinya hari ini dia akan izin untuk tidak masuk.


"Mas tunggu kamu di rumah, nanti kamu langsung aja masuk. Oh ya kamar Mas ada di lantai 2, nanti bakalan ada 3 kamar dan kamar Mas yang di tengah."


"Iya Mas, aku sekarang kesana. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aurora segera memasukan handphonenya ke dalam tas, ia pergi ke lemari untuk mengambil pakaian. Kemudian Aurora mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian biasa yang ia ambil tadi.


Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar menuju ke ruang makan untuk izin dengan kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu. Sepertinya Aurora hari ini nggak pergi bekerja," ucap Aurora.


"Kenapa nak? Kamu sakit?" tanya Nuri khawatir.


"Nggak kok Bu, tapi mas Irsyan yang sakit dan Aurora harus kerumahnya sekarang, soalnya dia sendirian disana. Mama dan papanya sedang pergi keluar negeri," jelas Aurora. Nuri, Alfian dan Aril pun ikut khawatir mendengar keadaan Irsyan.


"Ya sudah kalau gitu kamu ke rumahnya, kasian dia nggak ada yang rawat," ucap Nuri.


"Iya Bu."


"Tapi kamu udah izin sama atasan kamu?" tanya Nuri.

__ADS_1


"Sudah kok Bu, kalau gitu Aurora pergi dulu ya?" Aurora menyalami kedua orang tuanya secara bergantian.


"Ya nak," ucap Alfian.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kamu jangan lupa sarapan!" teriak Nuri.


"Iya Ibu," balas Aurora.


Aurora mempercepat langkahnya menuju ke arah garasi. Setelah sampai di garasi, ia segera menaiki dan segera melajukan motornya menuju ke rumah Irsyan.


Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di rumah Irsyan. Aurora mengetuk pintu rumah terlebih dahulu walaupun dia tau tidak akan ada orang yang membukakannya pintu.


Aurora membuka pintu secara perlahan, kemudian masuk ke dalam. Lalu melangkah kan kakinya menuju ke lantai 2.


"Tadi mas Irsyan bilang kamarnya yang di tengah kan?" Aurora pun menuju ke depan kamar yang berada di tengah seperti yang di katakan oleh Irsyan di telpon tadi.


TOK!


TOK!


TOK!


"Mas ini aku," ucap Aurora. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Aurora kembali mengetuk pintu tersebut, namun lagi-lagi tidak ada sahutan.


Aurora pun mencoba membuka pintu kamar tersebut dan ternyata pintu kamar itu tidak terkunci. Aroma maskulin milik Irsyan menyeruak masuk ke indra penciumannya.


"Mas aku datang," ucap Aurora sambil duduk di samping ranjang Irsyan. Dengan perlahan Irsyan membuka matanya.


"Aurora," ucap Irsyan sangat pelan. Tangan kanan Aurora terulur ke kening Irsyan. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika kening laki-laki itu sangat lah panas.


"Astaghfirullah Mas demam?" pekik Aurora. Irsyan hanya mengangguk pelan.


"Mas punya termometer nggak?"


"Ada, kamu cari aja di laci meja itu." Irsyan menunjuk meja kecil samping ranjangnya. Aurora pun mencari termometer tersebut, setelah ketemu ia langsung menaruhnya di ketiak Irsyan. Beberapa saat kemudian, Aurora mengambil kembali termometer tersebut.


"38,5° Celcius, panas banget," ucap Aurora terkejut melihat hasil suhu tubuh Irsyan di termometer.


"Mas punya plester penurun demam nggak?" tanya Aurora.


"Ada di laci meja itu juga, tapi paling bawah," jawab Irsyan. Aurora kembali mencari plester penurun demam tersebut, setelah itu ia memasangkannya di kening Irsyan.


"Kalau gitu aku buatin bubur dulu ya untuk Mas? Biar nanti bisa minum obat."


Irsyan mengangguk, "Tapi cepetan ya?" pintanya.


"Iya Mas."


Aurora keluar dari kamar Irsyan dan menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, Aurora berjalan ke arah kulkas untuk mencari bahan membuat bubur.


"Kata tante Jihan, mas Irsyan itu suka banget makan seafood. Bagaimana kalau gue buat bubur seafood aja? Mumpung ada udang sama cumi di dalam kulkas."

__ADS_1


"Oke kita buat bubur seafood," ucap Aurora antusias.


Setelah mendapatkan semua bahan yang dibutuhkan, Aurora pun mulai berperang dengan alat-alat dapur dan bahan masakan.


Kurang lebih 30 menit akhirnya bubur seafood buatan Aurora pun telah siap.


"Akhirnya jadi juga. Sekarang tinggal bawa bubur ini ke kamar mas Irsyan," ucap Aurora sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Lalu Aurora berjalan menuju ke kamar Irsyan.


CEKLEK!


Aurora masuk ke dalam kamar Irsyan. Laki-laki itu kembali tertidur. Aurora menaruh nampan yang dibawanya tersebut di atas meja samping tempat tidur Irsyan.


"Mas bangun, sarapan dulu." Aurora duduk di samping ranjang seraya membangunkan Irsyan.


"Eeummm ..." Irsyan kembali membuka matanya.


"Sarapan dulu Mas terus minum obat," ucap Aurora. Irsyan mengangguk, lalu merubah posisinya menjadi duduk itu pun dibantu oleh Aurora, karena badan Irsyan benar-benar sangat lah lemas.


Aurora menaruh nampan berisi bubur tersebut di atas pangkuan Irsyan. Sebelum itu ia memisahkan gelas yang berisi air putih terlebih dulu dan menaruhnya di atas meja.


"Di makan ya Mas. Tadi aku buatin bubur seafood."


"Kamu tau kan badan Mas lemes banget, mau pegang handphone pun tangan Mas sampai gemetaran," ucap Irsyan.


"Ya sudah sini biar aku suapi, Mas." Aurora mengambil lagi nampan tersebut dari pangkuan Irsyan lalu menaruhnya di ranjang. Kemudian ia memegang mangkuk berisi bubur itu di tangannya.


"Nih aaaaa ..." Aurora menyodorkan sesendok bubur ke arah Irsyan. Dengan senang hati Irsyan menerima suapan dari Aurora.


"Rasanya hambar," ucap Irsyan.


"Iya iyalah kan Mas lagi sakit, pasti lah makanan terasa hambar semua," balas Aurora. Irsyan langsung nyengir kuda.


"Iya sih."


"Ayo makan lagi." Irsyan hanya mengangguk, Aurora kembali menyuapi Irsyan hingga bubur itu habis tak bersisa.


"Ini minum dulu Mas," ucap Aurora sambil menyodorkan segelas air putih pada Irsyan.


"Sekarang Mas minum obatnya." Aurora memberikan sebutir obat penurun panas pada Irsyan. Obat itu langsung diambil dan di telan oleh Irsyan.


"Makasih ya Dek, udah mau ngerawat Mas," ucap Irsyan tersenyum.


"Iya sama-sama, sekarang mas Irsyan istirahat lagi aja, biar cepat pulih kondisinya," titah Aurora.


"Tapi kamu temani Mas ya?" pinta Irsyan.


"Hah maksudnya gimana Mas?" tanya Aurora bingung. Pikirannya sudah mulai traveling.


"Temani Mas disini, Mas janji deh nggak bakal apa-apakan kamu," ucap Irsyan seraya mengangkat kedua jarinya.


Aurora mengangguk, "Iya aku temani Mas, ayo Mas tidur aja." Irsyan hanya mengangguk, matanya pun kembali terpejam dan menuju ke dunia mimpi. Dengan setia Aurora menemani dan menjaganya.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2