GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 56


__ADS_3

Di dalam sebuah gedung kosong seorang gadis cantik tengah berdiri dan di ikat pada sebuah tiang penyangga disana. Gadis itu tak lain adalah Aurora. Aurora membuka matanya dengan perlahan.


"Gue dimana?" Aurora melihat disekelilingnya.


"Kok gue diikat gini sih." Aurora memberontak ingin melepas tali yang mengikatnya.


"Woy lepasin gue!" teriak Aurora. Teriakan gadis bar-bar itu membuat atensi keempat pria yang menculik Aurora segera menghampirinya.


"Ada apa teriak-teriak?" ucap pria berkepala plontos dengan suara tegasnya.


"Lepasin gue bang sat!" bentak Aurora sambil mengumpat keempat pria di hadapannya itu.


"Wah mulut ni cewek perlu di kasi pelajaran bos," ucap pria bertubuh kurus, ia yang membekap mulut Aurora tadi. Ia pun mencoba mendekati Aurora.


"Mau apa lo hah?" sentak Aurora. Pria itu mengelus pipi Aurora. Aurora langsung menyampingkan wajahnya, ia tak suka jika di pegang-pegang seperti itu oleh laki-laki lain.


"Jangan pegang-pegang gue pake tangan bau azab lo!" sarkas Aurora.


"Cantik-cantik mulutnya kayak cabe ya," ucap pria bertubuh kurus itu dan ingin kembali memegang pipi Aurora, namun dengan cepat Aurora menendang 'burung masa depan' milik pria tersebut.


"Arrgghh sakit brengs*k!" teriak pria bertubuh kurus itu meringis kesakitan sambil memegang burungnya.


"Mampus lo!" ejek Aurora.


"Ikat kakinya sekalian!" titah pria berkepala plontos itu ke pria berambut gondrong.


"Baik Bos." Setelah itu kaki Aurora pun di ikat oleh pria berambut gondrong itu.


Pria berkepala plontos mendekati dan mencengkram dagu Aurora.


"Kamu jangan macam-macam, kalau kamu mau selamat!" ancamnya dengan menatap tajam Aurora.


"Kalau gue mau macam-macam gimana hah?" tantang Aurora. Pria berkepala plontos mengeram emosi, tangan besar dan kasarnya melayang ke pipi mulus Aurora yang sebelah kanan.


"Awww sstt." Tamparan pria itu cukup membuat sudut bibir Aurora mengeluarkan darah segar.


"Saya bilang jangan macam-macam, kalau tidak kamu akan kami perkosa!" ancam pria berkepala plontos itu.


Aurora bergidik ngeri mendengar ancaman pria itu, jika saja tangan dan kakinya tidak terikat sudah di pastikan ia akan menghabisi pria-pria di hadapannya ini. Ingin teriak meminta pertolongan, tapi Aurora yakin tempat ini cukup jauh dari pemukiman warga.


Tiba-tiba suara derap langkah heels menggema di dalam gedung tersebut, menandakan jika ada seseorang yang datang.


"Hai cewek sok cantik," sapa seorang gadis dengan wajah yang meledek.


"Susuk!" pekik Aurora. Yah, dalang dari penculikan Aurora itu adalah rencana dari Sukma, gadis yang terobsesi dengan Irsyan.


"Gimana rasanya di culik, enak nggak?"


"Bang sat, lepasin gue!" bentak Aurora emosi. Sukma yang tak terima diumpat dan dibentak langsung melayangkan tamparannya pada pipi Aurora. Luka yang tadinya sedikit sekarang tambah melebar.


"Jangan pernah lo mengumpat dan membentak gue pake mulut murahan lo!" sentak Sukma.


"Apa alasan lo culik gue hah?" tanya Aurora ketus.


Sukma tersenyum sinis, "Itu karena lo udah merebut mas Irsyan dari gue!"

__ADS_1


"Ya gimana mas Irsyan mau sama lo, orang sifat lo aja jelek banget. Yang ada nih mas Irsyan bakalan malu punya cewek kayak lo yang biang masalah," balas Aurora dengan nada mengejek.


"Lo!" Karena geram Sukma menarik rambut Aurora dengan kasar.


"Arrgghh sakit babi! Lepasin gue!" teriak Aurora kesakitan, bahkan ia merasakan jika kulit kepalanya seperti akan terlepas.


"Gue nggak bakal lepasin lo begitu aja ja-lang!" sinis Sukma.


"Mau apa sih lo setan?" teriak Aurora lagi.


"Mau gue ya?" Sukma mendekatkan wajahnya ke telinga Aurora.


"Lo tinggalin mas Irsyan, baru lo gue lepasin," bisiknya membuat mata Aurora membulat sempurna.


Bagaimana bisa Aurora meninggalkan seseorang yang ia cintai tanpa ada alasan yang mendasar? It's impossible, Aurora tak akan pernah melakukannya.


"Enak aja kalau ngomong. Ingat ya gue nggak akan pernah melakukan hal bodoh seperti yang lo suruh itu!" sarkas Aurora.


Sukma tersenyum sinis, "Berarti lo lebih seneng ya gue siksa?"


Cuih!


Aurora meludahi wajah Sukma.


"Wanita iblis memang lo!" teriak Aurora emosi. Wajah Sukma seketika memerah dan menatap tajam Aurora. Ia kembali melayangkan tamparannya pada kedua pipi Aurora dengan bertubi-tubi.


"Aawww ssstttt." Pipi Aurora kembali memanas saat karena tamparan Sukma. Mungkin saja sudut bibir Aurora yang sebelah juga mengeluarkan darah.


"Berani ya lo meludahi gue?!" ucap Sukma emosi yang meluap-luap. Ia mengeluarkan pisau lipat dari dalam tasnya. Lalu menaruh pisau tersebut di samping pipi Aurora.


"Mau gue itu merusak wajah sok cantik lo ini, supaya mas Irsyan pergi ninggalin lo," ucap Sukma dan diiringi tawa jahat di akhir ucapannya.


"Jangan macam-macam lo wanita iblis!"


"Kalau gue nggak mau gimana?" Sukma mulai menggores pisau tersebut pada wajah Aurora. Aurora semakin meringis kesakitan.


BRAKKK!


"Hentikan!" teriak seseorang dari ambang pintu. Membuat semua terkejut dan menoleh.


"Mas Irsyan!" pekik Sukma.


'Kok mas Irsyan tau tempat keberadaan cewek sok cantik ini,' batin Sukma yang gusar. Irsyan tidak sendiri, ia datang bersama Satria dan Beni, sedangkan polisi lainnya berada di depan gedung atas suruhan Satria.


'Alhamdulillah ya Allah, untung aja mas Irsyan, bang sat sama bang tembok berjalan datang diwaktu yang tepat,' batin Aurora merasa lega.


"Lo!" Irsyan menunjuk sambil menatap tajam Sukma.


Aurora menggigit tangan Sukma ketika gadis itu tengah lengah.


"Arrgghh sakit!" teriak Sukma dengan spontan ia melempar pisau yang dipegangnya. Irsyan menghampiri Sukma dengan tatapan mematikannya. Sukma bergidik ngeri sampai gemetaran melihatnya.


"Kalian berempat serang dia!" titah Sukma pada keempat anak buahnya.


Mereka mengangguk, segera berlari untuk menghajar Irsyan, Satria dan Beni. Tentu saja dengan senang hati mereka bertiga meladeni anak buah dari Sukma itu. Terjadilah aksi baku hantam disana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, aksi baku hantam tersebut dimenangkan oleh Irsyan, Satria dan Beni. Keempat anak buah Sukma jatuh terkapar. Satria langsung memanggil rekan sesama polisi menggunakan Handy Talky (HT) untuk mengamankan keempat anak buah Sukma.


Irsyan menghampiri Sukma dengan tatapan yang mematikan seperti tadi. Gadis itu berangsur mundur, ia sangat ketakutan saat ini.


"Mau kemana lo?" Irsyan semakin mendekati Sukma. Tangannya mencekik leher Sukma cukup kencang.


"Apa maksud lo culik calon istri gue hah?" teriak Irsyan emosi.


"Lep-pasin." Sukma berusaha menyingkirkan tangan Irsyan dari lehernya.


"Gue nggak bakal lepasin lo, kalau bisa gue bakal bunuh lo sekarang!" ucap Irsyan menggebu dan terus mencekik leher Sukma hingga membuat gadis itu hampir kehabisan napas.


Dua tangan putih dan mungil tiba-tiba memeluk tubuh Irsyan dari belakang.


"Lepasin dia Mas, jangan sampai Mas jadi seorang pembunuh," lirih Aurora. Tubuhnya yang terikat tadi dilepaskan oleh Satria dan Beni.


Emosi Irsyan yang tadinya menggebu-gebu kini sedikit mereda karena pelukan calon istrinya, dengan perlahan tangan Irsyan terlepas dari leher Sukma. Tubuh Sukma langsung merosot ke bawah sambil terbatuk-batuk.


Tubuh Irsyan menghadap dan memegang kedua bahu Aurora.


"Kamu gapapa kan, sayang?" tanya Irsyan khawatir seraya menelisik wajah Aurora.


"Aku gapapa kok Mas," jawab Aurora mencoba untuk tersenyum.


"Tapi wajah kamu babak belur gini, apalagi pipi kamu berdarah sayang. Kita ke rumah sakit ya?"


"Tapi aku beneran gapapa Mas," ucap Aurora agar meyakinkan Irsyan.


"Pokoknya kamu harus ke rumah sakit, aku takut luka kamu terinfeksi atau gimana!"


"Tapi--"


"Nggak ada bantahan, Aurora!" Ucapan Aurora langsung disela oleh Irsyan. Mau tak mau Aurora pun menuruti perintah dari calon suaminya.


"Sat, tangkap dia!" titah Irsyan pada Satria untuk menangkap Sukma. Satria mengangguk, ia pun menyuruh 2 rekannya untuk segera mengamankan Sukma.


"Tunggu sebentar," ucap Aurora, membuat 2 polisi itu menghentikan langkahnya.


Aurora menghampiri Sukma yang kini kedua tangannya telah diborgol. Tanpa basa-basi lagi Aurora meninju wajah Sukma. Tubuh Sukma hampir limbung jika tidak dijaga oleh kedua polisi disampingnya, bibir gadis itu pun sampai sobek dan mengeluarkan darah. Semua orang disana melongo melihat pukulan Aurora yang tidak main-main.


"Itu belum seberapa dibandingkan luka yang lo dan anak buah lo berikan ke gue. Kalau saja di dalam agama tidak dilarang membunuh orang, udah bunuh lo dari tadi!" sarkas Aurora. Sukma menatap Aurora dengan penuh kebencian, ia berjanji akan membalaskan dendamnya kepada gadis itu jika nanti dirinya bebas.


"Sayang udah." Irsyan menarik tangan Aurora dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Kalian bawa saja perempuan itu!" Kedua polisi itu mengangguk, mereka membawa dan memasukan Sukma menuju ke mobil patroli.


"Makasih ya bang Satria, bang Beni udah nolongin gue," ucap Aurora.


"Iya Rora lo santai aja, toh ini juga kewajiban gue buat menolong warga sipil," balas Satria, sedangkan Beni hanya mengangguk saja.


"Ayo kita pergi dari sini sayang," ucap Irsyan sambil menggenggam tangan Aurora.


"Iya Mas."


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2