
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Aurora pergi ke balkon kamar Irsyan yang kini juga sudah menjadi kamarnya, mereka memutuskan untuk pulang setelah sarapan sekaligus makan siang tadi. Dua lengan besar nan kokoh memeluknya dari belakang, Aurora tau jika itu adalah suaminya.
"Kok disini sayang?" tanya Irsyan menaruh kepalanya di bahu Aurora.
"Mau cari angin aja Mas," jawab Aurora.
"Dingin loh disini," ucap Irsyan. Aurora berbalik menghadap belakang sambil menatap Irsyan.
"Kan ada Mas yang hangatkan aku," balas Aurora tersenyum genit.
Irsyan terkekeh. "Mulai nakal ya kamu," timpalnya sambil mencubit gemas hidung Aurora.
"Nakal sama suami sendiri gapapa kan?" Aurora mengelus dada bidang Irsyan, membuat libido Irsyan seketika menaik. Kalau saja inti dari sang istri sudah baikan, mungkin saat ini Irsyan sudah membawa dan menggempur istrinya habis-habisan di atas ranjang.
"Jangan goda Mas seperti itu sayang," ucap Irsyan dengan wajahnya yang kini sudah menahan hasratnya.
"Kenapa emangnya?" tanya Aurora polos.
"Mas lagi nahan biar nggak makan kamu malam ini." Aurora merasakan tonjolan di bawah perutnya, seketika ia paham dan langsung beringsut mundur. Takutnya Irsyan nanti meminta jatah padanya, bukannya tidak ingin melayani suaminya, tapi inti miliknya itu benar-benar masih perih dan sakit akibat percintaannya dengan Irsyan tadi pagi.
"Eh maaf Mas." Irsyan menarik tangan Aurora dan membawa sang istri ke dalam dekapannya.
"Maaf ya udah buat itu kamu jadi perih," lirih Irsyan.
"Gapapa kok Mas, ini kan udah jadi tugas dan kewajiban aku untuk melayani kamu," balas Aurora sambil mengeratkan pelukannya. Irsyan tersenyum mendengarnya.
Irsyan masih tidak menyangka jika sekarang perempuan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama kini telah menjadi bagian dari hidupnya yang akan selalu mengisi hari-harinya. Irsyan berharap Aurora adalah jodoh dunia akhiratnya.
"Sekarang lebih baik kita masuk, nanti kamu bisa masuk angin disini." Irsyan membopong tubuh Aurora ala bridal, lalu membaringkan di atas ranjang. Kemudian Irsyan ikut berbaring di samping istrinya. Aurora segera memeluk Irsyan dan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.
"Good night my wife," ucap Irsyan mencium puncak kepala Aurora.
"Night too my hubby," balas Aurora. Mereka pun mulai mengarungi dunia mimpi.
__ADS_1
3 hari kemudian, sudah cukup waktu untuk si pasangan pengantin baru untuk cuti, kini giliran lembaran-lembaran kertas pekerjaan dan para pasien yang tengah menunggu mereka.
Irsyan mengantarkan Aurora ke kantor, sedangkan dia mendapatkan jadwal shift siang di rumah sakit.
Aurora jalan sedikit tertatih-tatih akibat suaminya sehabis sholat subuh tadi menggempur dirinya, walaupun hanya satu jam setengah tapi itu dapat membuat tubuh Aurora terasa remuk redam, mungkin juga ini karena Irsyan melakukannya sedikit kasar dan terlalu bersemangat.
"Waduh pengantin baru, pagi-pagi udah keramasan aja," goda Sam saat melihat rambut Aurora yang sedikit basah.
"Namanya juga masih hangat-hangatnya," sahut Dona terkekeh dan diikuti Zain, pegawai baru disana alias pengganti Rian.
"Apaan pak Sam sama bu Dona ini," balas Aurora tersipu malu sambil duduk di kursi kerjanya.
"Berapa ronde semalam mainnya?" tanya Sam yang lagi-lagi menggoda Aurora.
"Cuma 3 ronde Pak." Aurora membalas godaan Sam.
"Pasti Irsyan mainnya kasar ya sampai jalan kamu beda tadi bapak liat."
"Usttt udah deh, inget ada anak bujang disini. Jangan sampai otaknya ternodai sama omongan kita-kita yang udah nikah," ucap Dona. Anak bujang yang disebut oleh Dona tadi tentunya adalah Zain. Umur Zain 2 tahun lebih muda dari Aurora. Awal bertemu dengan Aurora, Zain langsung terpana dengan kecantikan Aurora. Namun saat ia mengetahui Aurora sudah memiliki calon suami, Zain segera membuang jauh-jauh rasa sukanya itu pada Aurora.
"Nah bener tuh Bu, kan saya jadi pengen nikah juga," timpal Zain.
"Maunya sih mbak, tapi belum nemuin pasangan yang tepat dan juga belum nabung buat jadi uang Panai nya," balas Zain sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sabar Zain, kerja keras aja dulu. Kalau udah banyak uang pasti banyak kok perempuan yang ngantri buat jadi istri kamu," ujar Aurora dan dapat anggukkan oleh Sam serta Dona.
"Iya mbak." Zain tersenyum mendengar perkataan Aurora tadi.
Siang harinya, Irsyan berangkat menuju ke rumah sakit. Di parkiran rumah sakit Irsyan bertemu dengan salah satu rekan kerjanya sesama perawat bernama Budi.
"Syan lo tau kemarin ada pasien perempuan yang dirawat disini banyak banget luka lebam di sekujur tubuhnya karena dapat KDRT dari suaminya," ujar Budi menceritakan seorang pasien yang ia rawat kemarin. Walaupun ia laki-laki tapi Budi salah satu biang gosip di rumah sakit Atma Jaya.
"Astaghfirullah kasian banget. Tapi itu beneran karena KDRT?" tanya Irsyan.
"Iya beneran, kemarin hasil visumnya keluar. Terus dia itu anak dari wakil ketua DPRD sekarang," jelas Budi. Terlintas di benak Irsyan jika pasien yang disebut Budi tadi orang yang ia sangat kenal.
'Semoga aja bukan wanita itu,' batin Irsyan berharap.
"Terus sekarang pasien itu masih dirawat?" tanya Irsyan lagi.
__ADS_1
"Masih Syan, dia dirawat di ruang VIP 1 bangsal cempaka." Irsyan hanya manggut-manggut. Irsyan mengingat jika nanti ia bertugas di bangsal cempaka dan pastinya ia akan memantau kondisi pasien KDRT tersebut.
Irsyan membawa alat tensi dan beberapa jenis cairan infus untuk dibawa ke ruang VIP 1. Saat Irsyan membuka pintu ruangan tersebut, betapa terkejutnya ia melihat pasien tersebut.
"Nina!"
"Mas Irsyan!" Nina tidak terlalu terkejut melihat kedatangan Irsyan, karena ia tau jika mantan kekasihnya itu bekerja di rumah sakit Atma Jaya.
"Nak Irsyan," sapa Zara, ibu dari Nina.
"Halo Tan, apa kabar?" tanya Irsyan sopan. Walaupun Nina telah menyakitinya, tapi ia tidak pernah marah dan benci dengan orang tua dari Nina. Karena sikap orang tua Nina pada Irsyan sangatlah baik.
"Alhamdulillah baik Nak, kalau kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah saya juga baik Tan," balas Irsyan. Irsyan menghampiri ke brankar Nina.
Zara tersenyum. "Alhamdulillah, kok kamu nggak pernah main-main ke rumah Tante dan Om? Tante sama Om kangen loh sama kamu," ucapnya sambil sesekali menatap putrinya yang tengah senyum-senyum melihat Irsyan.
"Iya Tan, soalnya saya sibuk terus di rumah sakit," jawab Irsyan.
"Sini kamu kamu, akan saya ukur tekanan darah kamu." Dengan senang hati Nina menyodorkan tangan kirinya pada Irsyan.
"Nak Irsyan tambah tampan aja Tante liatnya," goda Zara.
"Sama aja kok kayak saya yang dulu Tan," balas Irsyan tersenyum tipis. Irsyan sangat risih saat Nina memandanginya dengan tatapan minat.
"Mas nggak tanya keadaan aku seperti apa?" tanya Nina yang berharap Irsyan menanyakan kabarnya.
Irsyan yang tengah mengganti cairan infus itu langsung menghela napas. "Saya udah tau keadaan kamu, makanya saya tidak nanya," ucapnya datar.
Wajah Nina langsung murung saat Irsyan mengatakan seperti itu, sedangkan Zara menatap iba putrinya yang dulu telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik dan setulus Irsyan.
Setelah selesai mengukur tensi darah dan mengganti cairan infus, Irsyan langsung pamit keluar.
"Kalau gitu saya permisi dulu Tan."
"Iya Nak," balas Zara.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.