Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 104 - Pembalasan Pada Cassey


__ADS_3

Semua orang kebingungan saat akhirnya menyadari hilangnya ketiga orang itu.


Bahkan, Wang Zhu Ming yang sebelumnya telah menahan Brandon Lloyd dengan erat, terkejut saat merasakan jemarinya yang menggenggam erat lengan Brandon di buka dengan paksa dengan kekuatan yang sangat mengerikan.


Andai Wang Zhu Ming tadi memaksa untuk melawannya, ia yakin jari-jarinya akan patah. Untuk itulah dia akhirnya melepaskan genggamannya.


Saat semua orang masih bingung mencari di sekitar mereka untuk menemukan keberadaan Anna, Cassey dan Brandon Lloyd, perhatian mereka akhirnya teralih pada monitor raksasa yang menjadi latar belakang panggung.


Tulisan selamat datang yang sebelumnya mengisi layar, berganti dengan sebuah tayangan video yang mereka tahu adalah hasil tangkapan kamera CCTV.


•••


Cassey dan Brandon Lloyd terkejut saat menemukan diri mereka tiba-tiba berada di sebuah ruangan mewah yang sama sekali berbeda dari aula perjamuan.


Saking terkejutnya, mereka bahkan sempat mengabaikan Anna selama beberapa detik dan baru tersadar saat mendengar Anna berbicara.


“Ini adalah lantai enam di restoran Asian Soul.” Ucap Anna yang berhasil mengembalikan kesadaran Cassey dan Brandon.


“Ini adalah tempat yang sama dengan tempat penyiksaan yang putri Anda lakukan pada putri Anda yang lain,” Anna berbicara sambil menatap tajam pada Brandon Lloyd.


“A-anna… K-kau masih hidup?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Cassey.


Anna mengalihkan tatapannya pada Cassey.


Perasaan sedih mengalir begitu saja di dalam hatinya saat sudah bertatapan langsung dengan benar pada saudari tirinya itu.


Sejak Anna mengingat kembali apa yang Cassey lakukan padanya, dia sebenarnya tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukannya pada Cassey. Untuk itulah Anna hanya menakut-nakuti saudari tirinya itu dengan berpura-pura menjadi hantu.


Namun, Anna berusaha mengeraskan hatinya dan berbicara dengan acuh tak acuh, “Kau lucu. Kenapa kau bertanya dengan suara gemetaran seperti itu setelah sebelumnya kau ingin menyerang ku? Bukannya tadi kau menggunakan semua kekuatan untuk menarik ku?”


Sambil menahan rasa sakit di pundak kanannya. Cassey kembali berbicara, "Bukan begitu…”


“Kau sepertinya ahli bersandiwara.” Sahut Anna cepat, memotong kalimat Cassey.


“Anna!” Bentak Brandon. Ia kemudian berlari menuju Anna.


Saat pria paruh baya itu sudah berada dekat dengan Anna, ia langsung berusaha menangkap kedua pundak gadis itu. Namun, sebuah tendangan mendahului sergapan Brandon dan melayang ke dadanya.


Bukkkk!!!


Brandon Lloyd terpental sejauh jarak ruangan yang memiliki panjang 12 meter.


Tubuhnya menghantam keras dinding ruangan lalu terhempas dengan sama kerasnya ke lantai.


Cassey terbelalak melihat kejadian itu. Ia tak menyangka seorang Hunter lemah peringkat F seperti Anna dapat melontarkan tubuh seorang Hunter peringkat A dengan begitu mudah.


Bahkan, bukan hanya dengan mudah. Tubuh Brandon terbang dengan sangat cepat. Seandainya tidak ada dinding yang menghalangi, mungkin tubuh ayahnya akan terbang lebih jauh lagi.


Selain itu, suara hantaman keras pada dinding ruangan, membuktikan seberapa keras tendangan yang Anna lontarkan.


Anna berusaha untuk tidak memerdulikan wajah takut yang menghiasi wajah Cassey, dan terus berusaha untuk mengeraskan hatinya.


Anna mengambil salah satu kursi dari bawah meja lalu melemparkannya pada Cassey yang dengan sigap menangkap hanya dengan satu tangannya.


Anna kemudian mengambil kursi lain lalu duduk di atasnya.


“Duduklah.” Pinta Anna dengan nada acuh tak acuh.


Cassey ingin saja melemparkan kembali kursi itu dengan keras pada Anna, jika sebelumnya ia tak melihat kekuatan Anna yang dapat dengan mudah menerbangkan Brandon Lloyd.


Dengan terpaksa, Cassey menurutinya dan mereka duduk berhadapan dengan jarak yang agak jauh.

__ADS_1


“Waktu itu, aku bertanya. Kenapa kau melakukan hal itu pada ku, tapi kau sama sekali tak menjawabnya dan terus menyiksa ku,” Anna berbicara sambil menatap tajam kedua mata Cassey. “Sekarang, aku ingin mengetahuinya.”


Cassey diam. Dia tak mengerti kenapa Anna harus repot-repot untuk menanyakan pertanyaan itu lagi padanya. Padahal, jika dia ingin balas dendam, harusnya Anna bisa langsung memukulinya saja.


Sementara itu, Anna juga diam sambil terus memerhatikan Cassey. Dia sebenarnya tidak memerlukan jawaban itu karena sudah tahu Cassey melakukannya karena rasa cemburu, juga telah menahan rasa bencinya sejak lama sebagai seorang saudari tiri.


Anna hanya ingin mengulur waktu untuk tetap berada di tempat ini sampai beberapa menit kedepan. Ia membutuhkan waktu agar semua orang di aula perjamuan selesai menonton rekaman CCTV yang Miyuki siarkan.


Karena Cassey tak kunjung menjawab pertanyaannya, Anna kembali berbicara. “Kalau kau tak mau menjawabnya, aku akan mengganti pertanyaannya. Jadi, apakah sikap baik dan perhatian yang kau berikan pada ku sejak kecil hanyalah sebuah sandiwara?”


Pertanyaan yang kedua membuat Cassey merasa tak nyaman saat ia berusaha mengingat perasaannya saat tumbuh besar bersama dengan saudari tirinya itu.


Merasa perasaannya seperti sedang dipermainkan, Cassey berdiri. Ingin rasanya untuk menyerang adik tirinya itu, namun sendi tangan yang terlepas dan tubuh ayahnya yang sedang merangkak berusaha bangun dari lantai, telah memberikan kejelasan betapa jauh perbedaan kekuatan mereka saat ini. Hal itu membuat Cassey mengurungkan niatnya.


“Anna!” Brandon kembali membentak seraya berusaha untuk bangkit berdiri.


Kedua lututnya bergetar hebat. Yang baru diterimanya hanya sebuah tendangan. Namun, ada energi sihir kuat yang tertinggal di tubuhnya hingga membuat seluruh tulang di tubuhnya terasa sangat ngilu.


Tanpa Brandon sadari, energi sihir yang Anna tinggalkan padanya melalui tendangan tadi, membuat energi Mana milik Brandon menguap dari tubuhnya. Energi Mana yang berupa asap tipis itu secara perlahan menguap meninggalkan tubuh pria paruh baya itu.


Dengan langkah gemetar, Brandon berjalan perlahan untuk menghampiri Anna yang menatapnya dengan tatapan jijik.


“Kau anak brengsek! Apa yang berani kau lakukan pada ayah mu?!” sambil berjalan, Brandon mengumpat.


“Tuan Lloyd, jangan coba-coba berbicara kasar pada ku. Sekarang, aku sama sekali tidak memiliki rasa hormat apapun pada mu.” Sahut Anna dengan tanpa emosi apapun yang terdengar dari nada suaranya, berbeda dengan saat ia berbicara pada Cassey.


“Bajingan tak tahu terima kasih! Aku ayah mu!”


“Hah? Oh… kau benar. Kau yang membuat ku ada di dunia. Tapi kau hanya membuat dan tak pernah ingat bahwa aku ada setelah itu.” Sahut Anna yang kemudian tersenyum sinis.


Anna kembali berbicara, “Kau ingat kapan pernah berbicara seperti seorang ayah dan anak pada ku?”


Brandon hendak membentak lagi, namun ia tiba-tiba merasakan tenggorokkannya seakan seperti dicengkeram sebuah kekuatan tak berwujud.


Tubuhnya melayang perlahan meninggalkan lantai ruangan dan terbang menuju Anna.


Setelah jarak mereka tersisa sekitar 2 meter, tubuh Barandon terhempas dengan sangat keras ke lantai hingga membuat kedua tempurung lututnya retak.


Brandon bahkan tak bisa menggunakan energi Mana nya untuk melindungi diri.


“Anda jangan terlalu banyak bicara. Saya sudah tidak memiliki respek pada Anda sedikit pun. Saya membawa Anda kesini hanya untuk memberikan waktu pada orang-orang di aula untuk menonton rekaman CCTV penganiayaan yang putri tersayang Anda lakukan pada saya.”


Anna kemudian berdiri dan menghampiri Brandon Lloyd, “Tuan Lloyd. Sekarang saya baru menyadari, ternyata Anda tidak seberharga seperti yang dulu saya pikirkan.”


“Anna…!”


Bukkkk!!!


Anna menyepak paha Brandon Lloyd yang mengakibatkan tulang pahanya patah seketika.


“Arghhh… kau kepar…”


Bukkk!!! Kraakkkk!!!


Anna kembali menendang, kali ini pada rahang Brandon, hingga membuatnya patah dan bagian bawah mulutnya jatuh terbuka.


“A-anna… apa yang kau lakukan pada ayah kita?”


“Dia ayah mu. Mungkin. Yang pasti, setelah ku pikirkan selama beberapa minggu ini, dia tidak terasa sebagai seorang ayah.” Sahut Anna dengan acuh tak acuh.


“Anna…," Cassey mulai menangis. Dalam hidupnya, baru kali ini ia merasa takut pada seseorang.

__ADS_1


"Kau tahu kenapa aku memukulinya?" tanya Anna sambil menunjuk pada Brandon Lloyd yang terkapar di lantai dan merintih kesakitan.


Kedua mata Brandon terbelalak, menatap Anna dengan tatapan kebencian bercampur marah.


Dia hendak membentak dan berteriak, namun tak kuasa melakukannya akibat mulutnya yang terbuka lebar dan tak bisa mengatup.


Karena Cassey tak kunjung menyahut, Anna kembali berbicara, "Hari itu, aku melihat mu seperti seorang psikopat yang terus menyiksa ku bahkan tanpa menjelaskan penyebabnya. Atau... Apa kau sudah mengatakan alasannya? Aku lupa. Kau memukuli kepala ku berkali-kali saat itu."


Anna memaksakan sebuah senyum, sebelum kembali berbicara.


"Sekarang, bagaimana menurut mu? Aku hanya menunjukkan hal yang mirip seperti yang kau lakukan. Apakah ini terlihat sangat buruk? Kalau pun iya, kenapa kau dulu melakukannya pada ku?"


Cassey menangis lebih keras, lalu jatuh terduduk di lantai.


Kalimat yang Anna ucapkan dilengkapi dengan nada bicaranya yang dingin, membuat tubuh Cassey menjadi gemetar hebat dan akhirnya tersungkur lemas.


Pemandangan di hadapannya, memberikan serangan mental pada gadis itu.


Cassey menyadari, jika Anna dapat menyiksa seorang Hunter peringkat A semudah itu, Anna juga dapat melakukan hal yang sama padanya dengan jauh lebih mudah.


Jika Anna memiliki dendam padanya, mengapa dia tidak akan melakukannya?


Itulah pikiran yang terlintas dalam benak Cassey hingga membuatnya kehilangan kepercayaan diri untuk bisa lari dari tempat ini.


Anna menghampiri Cassey dan duduk di kursi yang sebelumnya Cassey duduki, sementara Cassey duduk berlutut di lantai sambil memandangi Brandon dengan kengerian di hatinya.


"Aku mungkin tak akan memukulinya seperti itu jika dia tadi diam dan tidak membuat ku kesal sampai waktu penayangan rekaman CCTV telah selesai."


Anna mendengus.


“Tapi, sebenarnya aku juga bersyukur karena sudah memukulinya. Apa kau tahu kenapa harus kakek dan bukan dia yang membawa aku dan ibu ku ke kediam keluarga Lloyd?"


Anna diam sejenak sambil terus menatap Brandon Lloyd yang masih menatapnya dengan marah. Pria itu bahkan mulai menangis. Bukan karena takut ataupun karena mendengar apa yang Anna katakan, pria paruh baya itu menangis akibat tak bisa melampiaskan rasa murkanya pada Anna akibat tak berdaya untuk bangun dan menghajar gadis itu.


Anna tahu Cassey tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaannya karena ketakutan dan terus menangis. Jadi, dia kembali berbicara, "Ibu ku dulu diperkosa olehnya. Jadi, aku adalah anak hasil perbuatan hina pria ini. Kakek yang malu memiliki anak sepertinya, akhirnya membawa kami untuk tinggal di kediaman Lloyd dan menikahkan ibu ku padanya,"


"Apa kau sudah tahu itu? Apa paman mu yang playboy itu tidak pernah menceritakannya pada mu?"


Cassey tak berani menyahutinya. Dia belum pernah tahu hal itu sebelumnya. Ia hanya terus menangis sesenggukan sambil menatap lantai marmer dibawah kedua lututnya.


“Hal yang sangat ku ingat adalah saat ibu ku meninggal. Pria ini bahkan tak ada saat pemakaman dan beralasan bahwa dia harus pergi ke Dungeon, karena itu lebih penting untuk menjaga keamanan warga. Bukankah itu terdengar seperti sebuah lelucon konyol? Itu demi bisnisnya, bukan untuk warga."


Cassey terus saja menangis tanpa berani mengangkat kepalanya sedikitpun. Walaupun dia tidak mengingat kejadian itu, namun Cassey tahu apa yang Anna katakan adalah hal yang sebenarnya. Ia tahu, ayahnya mengedepankan bisnis dan martabatnya dibandingkan apapun.


Mendengar suara tangis Cassey yang terdengar semakin nyaring, Anna akhirnya berdiri lalu menghampirinya dengan berjongkok tepat di hadapannya.


Anna memegang bagian sendi Cassey yang terlepas, lalu dengan satu gerakan, Anna menyambungkannya kembali.


Anna kemudian memegang wajah Cassey dengan kedua tangannya, di pipi gadis itu lalu berbicara dengan lembut padanya, “Sejak aku terbangun dari koma, aku selalu memikirkan hal apa yang harus ku lakukan pada mu. Kau tahu, kau sangat baik dan menyayangi ku sejak kita masih kecil, walaupun kau dulu pernah mengatakan bahwa kau sebenarnya terpaksa melakukannya."


"Sebenarnya perasaan sayang yang kau tinggalkan pada ku sejak kita masih kecil itu telah memberatkan ku untuk membalas satu-satunya perbuatan jahat yang kau lakukan pada ku, walaupun tindakan jahat mu itu menyebabkan...," Anna memikirkan lagi apa yang hendak ia katakan. Dia hampir saja mengatakan bahwa dia sebenarnya sudah mati dan hidup kembali dalam tubuh orang lain yang sangat mirip dengannya, namun Anna mengurungkannya dan mengganti kalimatnya, "Kau menyebabkan aku hampir saja mati."


"Kau meninggalkan banyak kenangan baik pada ku. Andai saja kau jahat pada ku sejak kita masih kecil, aku mungkin tidak akan tumbuh besar dengan memiliki rasa percaya diri seperti aku yang sekarang."


Anna menghela nafasnya dengan pelan, lalu melanjutkan kalimatnya, "Sejak aku memutuskan untuk menghadapi kalian secara langsung, aku tak pernah berpikir untuk membalas apa yang kau lakukan dengan hal yang sama. Aku hanya memiliki dendam pada orang itu."


Anna merangkul Cassey dan menariknya untuk bangkit berdiri.


"Sekarang, kau sebaiknya menyerahkan diri mu dan renungkan lagi perbuatan mu. Anggap kali ini aku membalas perbuatan baik yang kau berikan pada ku sejak kecil. Jika aku tahu kau mengulangi apa yang kau lakukan pada ku lagi pada orang lain, aku akan mengumpankan mu pada monster di Dungeon."


•••••••

__ADS_1


__ADS_2