Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 51 - Penghuni Baru


__ADS_3

Anna masih mempertahankan senyumnya saat Nobara mengajukan pertanyaan balik.


Anna kemudian menanggapinya dengan mengangkat tangan kirinya dan mengarahkan telapak tangannya pada hutan di sampingnya.


Pada saat itu, Nobara dan 5 Elf di belakang Anna dapat merasakan energi Mana yang sangat besar dan kuat, bahkan yang tidak pernah mereka bayangkan untuk dapat memilikinya, terbentuk di telapak tangan makhluk di hadapan mereka.


Beberapa saat kemudian, ledakan energi sihir terlontar dari telapak tangan Anna dan memusnahkan seluruh pepohonan raksasa yang dilaluinya.


Hutan di bagian kiri Anna menghilang sepenuhnya.


Kedua mata Nobara terbuka lebar, hampir sama besarnya dengan mulutnya yang menganga.


Saat Nobara menoleh kembali pada makhluk yang menyebabkan musnahnya hutan di sebagian wilayahnya klan nya itu, tubuh Nobara gemetar.


‘Jadi, dia bukan sedang bernegosiasi. Dia hanya sedang mempertimbangkan untuk mengampuni kami atau tidak, dari pilihan yang akan ku ambil.’


Lalu, dengan segera, Nobara berlutut di hadapan Anna.


“T-tolong terima hamba jadi pengikut Anda…” Ucap Nobara sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.


Melihat Elf itu mengerti dengan jawaban yang ia berikan atas pertanyaannya tadi, senyum Anna makin mengembang.


“Ini tidak sesulit yang ku kira.” Pikir Anna, senang.


Melihat pemimpin mereka berlutut dihadapan makhluk asing itu, pasukan Nobara mengikutinya.



Saat semua Elf dari Klan Angin sudah menyatakan takluk padanya, Anna akhirnya berbalik dan untuk pertama kalinya bertatap muka dengan benar pada 5 Elf yang tadi diselamatkannya.


Selain dengan kekuatan sihir dan skill bertarung yang mereka miliki, Elf juga memiliki rasa percaya diri pada penampilan fisik mereka


Namun, Eleanor yang sangat cantik, merasa berkecil hati saat melihat wajah makhluk anggun di hadapannya.


Jika Eleanor saja menganggap wajah Anna cantik, apalagi 3 Elf pria yang kini tampak tak bisa menguasai diri dan menatap Anna dengan terpukau tanpa malu-malu.


Menurut mereka, belum pernah mereka melihat makhluk secantik dan seanggun yang berada dihadapan mereka sekarang.


“Fael, apa yang akan kita lakukan?” Eleanor yang tersadar lebih dulu dari rasa takjubnya setelah melihat tatapan tajam Anna, berbisik pada saudaranya.


“Fael…”


“Tuk!”


Fael akhirnya tersadar saat Eleanor menyikut lengannya setelah 2 kali memanggil namanya namun tak di sahuti.


Dengan sedikit malu, Fael akhirnya berlutut tanpa menjawab pertanyaan saudarinya.


“Ikuti aku.” Ucap Fael pelan, namun ada penegasan dari suaranya.


Walaupun agak ragu, Eleanor dan Glynka akhirnya mengikuti apa yang saudara mereka lakukan setelah diam beberapa detik dan saling menatap.


Sementara itu Nyrna yang akhirnya sadar jika hanya dia dan Cirdan yang masih belum berlutut di hadapan makhluk itu, akhirnya memutuskan untuk berlutut juga.


Cirdan akhirnya mengikuti apa yang barusan Nyrna lakukan.


Tapi makhluk di hadapan kelima Elf itu malah menatap mereka dengan tatapan tidak senang.


“Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian berlutut?” Tanya Anna dengan acuh tak acuh.


Bingung dengan maksud pertanyaan itu, kelima Elf saling pandang.


Fael akhirnya berbicara mewakili mereka.


“Kami menyatakan takluk.”


“Hanya takluk? Aku ingin kalian semua juga menjadi pengikut ku.”


Fael melirik pada Eleanor dan Glynka sebelum memberikan jawabannya. “Kami akan menjadi pengikut Anda.”


“Yang terpenting sekarang adalah tetap hidup sampai zona perang ini terbuka.” Pikir Fael.


“Bagus!” Sahut Anna yang kemudian berjalan menghampiri kelima Elf.


Anna yakin dengan ucapan Elf bertubuh ungu, tapi tidak dengan 5 Elf berparas anggun dan berkulit merah muda pastel.


Saat sudah berada di dekat Fael, Anna mengarahkan tangannya pada sebuah pedang pendek yang berada jauh di bawah sana.


Seakan ada kekuatan yang menariknya, pedang tersebut bertolak dari tempatnya dan melesat cepat hingga kini sudah berada di genggaman Anna.


“Untuk melihat kesetiaan kalian, kita akan melakukan tradisi yang biasanya dilakukan di dunia kami.” Ucap Anna sambil menatap kelima Elf secara bergantian.


“Angkat tangan kalian.” Anna mengatakannya sambil memberikan contoh. Ia menyodorkan tangannya dengan telapak tangannya menghadap ke atas.

__ADS_1


Saat melihat mereka ragu dan saling melirik, Anna kembali berbicara.


“Aku tidak akan memotong tangan kalian, Aku hanya akan menggores jari kalian sedikit untuk mengambil setetes darah.”


Walaupun masih belum mengerti dengan maksud di balik ucapan Anna, mereka akhirnya menurutinya.


Anna kemudian menggores ujung-ujung jari masing-masing dari mereka.


Darah yang menetes dari jari yang tersayat itu mengambang di udara.


Ada 5 tetesan darah yang melayang di dekat tangan Elf yang masih terjulur. Kemudian, darah itu melayang menuju ke satu titik dan bercampur disana. Lalu, saat Anna menjentikkan jarinya, darah itu menguap.


Tidak mengerti maksud dari pertunjukan itu, mereka hanya diam tanpa berani bertanya.


Apa yang Anna lakukan barusan bukanlah hal yang luar biasa bagi mereka. Eleanor pun bisa melakukannya dengan mudah.


Anna kemudian memberikan pedang digenggamannya pada Fael. Itu adalah pedang milik Fael yang tadi terlepas dari genggamannya saat ia terjebak skill Nobara.


Fael menerima pedang itu.


“Ini adalah ritual untuk sumpah kesetiaan yang biasanya para pemburu dari dunia ku lakukan. Aku telah mengambil darah mu. Dan sekarang giliran kalian untuk mengambil darah ku seperti yang baru saja ku lakukan.”


Setelah mengatakannya, Anna menyodorkan tangannya.


Fael mendongak dan melirik Anna. Saat tatapan mereka bertemu, Fael dengan cepat mengalihkan pandangannya ke jemari ramping Anna.


Ia mengangkat pedangnya lalu dengan gerakan pelan menggoreskan ujung pedangnya yang lancip dan tajam pada salah satu jari Anna.


Fael mengedip-ngedipkan matanya. Ia kemudian melirik lagi pada Anna. Gadis itu mengangguk.


Fael yang seakan baru mendapat persetujuan, menambahkan kekuatannya dan mengulangi apa yang barusan ia lakukan.


Melihat apa yang Fael lakukan, Nyrna meliriknya.


“Apa yang kau lakukan?”


Nyrna kini menoleh pada Fael. Keningnya berkerut karena ia melihat hal konyol yang dilakukan oleh salah satu petarung terkuat itu.


Fael yang tidak senang dengan tuduhan yang dikirimkan Nyrna melalui tatapan mata Elf wanita itu yang seakan meremehkannya, kini mengerahkan energi Mana-nya lebih banyak. Ia kemudian mengulangi gerakannya untuk menggores ujung jari Anna.


Namun, bukannya jari pucat itu yang tergores. Fael dapat melihat, ujung pedangnya yang lancip kini terkikis hingga menumpul.


Kedua mata Nyrna melotot saat tak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Demikian juga dengan 3 Elf lainnya.


Bukannya Fael tidak melakukan perintah itu dengan benar. Namun, makhluk di hadapan mereka itu sepertinya sangat kuat.


Kelima Elf itu akhirnya mendongak dan menatap pada Anna, yang tersenyum bangga.


“Kalian sudah melihat, kan? Itu adalah ritualnya. Yang tidak bisa dilukai, adalah yang harus di ikuti.” Ucap Anna yang kemudian tertawa.


Ritual yang dikatakannya tadi sebenarnya hanya lelucon konyol yang dibuat-buatnya. Ia hanya ingin menunjukkan jika dirinya terlalu kuat bagi mereka, yang bahkan tak bisa mereka gores, apalagi membunuhnya.


Anna tadi bisa melihat ketakutan dengan jelas dari mata Nobara, namun tidak dengan 5 Elf itu.


Jadi, dia hanya ingin menakut-nakuti mereka.


“Jika kalian tidak setia, kalian akan mati.” Ucap Anna dengan nada suaranya yang tegas.


Kelima Elf sudah takut saat mendengar suara tawa Anna yang sepertinya sengaja dilakukannya dengan menambahkan kekuatan sihir hingga tubuh mereka gemetar. Saat Anna mengancam mereka, rasa takut yang mereka rasakan bahkan sampai membuat tulang-tulang mereka ngilu.


"Ritual apa? Bukankah dia hanya pamer kekuatan?" Pikir Fael kesal.


•••


Setelah mengumpulkan semua Elf, Anna memberikan sedikit pidato pada mereka.


Entah kenapa, Anna belakangan sangat menyukai saat memberikan kuliah singkat seperti itu.


Setelah selesai dengan pidatonya, Anna meminta semua pasukan milik Nobara untuk mengambil semua kristal sihir yang mereka miliki dan mengumpulkannya di hadapannya.


Ia juga sebenarnya ingin mengumpulkan mayat Elf yang ada, namun mengurungkannya saat tau tubuh-tubuh itu mengandung racun.


Gunungan kristal sihir terbentuk di hadapan Anna setelah seluruh pasukan Elf kembali.


Setelah semua Elf bertubuh ungu telah berkumpul kembali, Anna kemudian melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya di Dungeon para Orc dulu, Anna juga membuka gerbang di tempat itu.


“Bawa semua batu-batu sihir itu dan ikuti aku.” Perintah Anna yang kemudian masuk kedalam gerbang.


•••


Setelah dua hari tidak datang ke tempat itu, Anna melihat banyak perubahan disana. Anna melihat bangunan-bangunan rumah Orc kini jauh lebih baik dari sebelumnya.


Tzullu, Tzaca dan Drucalla segera menghadap padanya setelah beberapa Orc memberikan laporan bahwa 'Dewi' mereka telah datang.

__ADS_1


Seperti biasa, ketiga Orc itu langsung berlutut di hadapan Anna.


“Dari mana kalian mendapatkan batu-batu besar itu?” Tanya Anna yang mengingat bahwa ia tidak membuat gunung batu dalam imajinasinya.


“Dari dalam laut, Dewi Agung.” Sahut Tzullu.


"Oh..."


“Mereka benar-benar pekerja keras.”


Keadaan kembali hening setelah Tzullu berbicara.


Ketiga Orc diam dan menatap 6 makhluk lain yang datang bersama Anna. Lalu, mereka menoleh pada makhluk-makhluk betubuh gelap yang baru saja muncul dari gerbang yang masing-masing memeluk bongkahan kristal sihir di depan tubuh mereka.


“Mereka adalah penghuni baru.” Anna memperkenalkan 6 Elf dibelakangnya pada ketiga Orc.


Anna kemudian memandang ke arah hutan yang jauh, lalu bertanya pada Tzullu.


“Apakah hutan disana tidak kalian huni?”


“Tidak, Dewi Agung. Kami lebih suka tinggal di sekitar pantai.”


“Bagus.”


Anna kemudian berbalik untuk berbicara pada kelompok Elf.


Saat Anna berbalik, Nobara langsung berlutut.


Melihat 3 makhluk kuat itu berlutut pada Anna saat berbicara, Nobara tau jika dia harus melakukan hal yang sama juga.


Melihat Nobara berlutut, 5 Elf lain juga mengikutinya.


Yang merasa tidak nyaman disini adalah Anna. Ia sebenarnya tidak suka melihat makhluk-makhluk itu berlutut padanya, karena dia ingin berteman dan berbicara dengan santai pada mereka.


Namun, karena tidak ingin membuang waktu untuk meminta mereka melakukan seperti yang dia mau, Anna hanya membiarkannya saja.


“Karena kalian sepertinya suka hidup di hutan, kalian bisa membangun rumah disana.” Ucap Anna sambil menunjuk ke arah hutan.


Keenam Elf itu menoleh ke hutan, lalu Nobara menyahut mewakili mereka.


“Terima kasih. Kami akan senang tinggal disana.”


Anna mengangguk, puas dengan jawaban itu.


“Kalian semua bertemanlah dengan baik. Dan saling berdiskusi jika ada hal-hal yang sepertinya akan membuat keinginan kalian menjadi bertentangan.” Ucap Anna sambil bergantian menatap Tzullu dan Nobara yang ia anggap pemimpin dari masing-masing bangsa mereka.


"Jika kalian saling bermusuhan dan bertengkar, aku akan memusnahkan kalian semua. Mengerti?"


"Ya, kami mengerti." Sahut Nobara dengan cepat.


Tzullu melirik pada Anna sebelum akhirnya menatap Nobara. Nobara juga melakukan hal serupa.


Anna yang terlambat menyadari, menepuk pelan keningnya.


“Sial, bahasa mereka berbeda.”


“Tapi, bukankah kalian dari dunia yang sama?” Tanya Anna pada Tzullu. Ia kemudian mengulangi pertanyaan yang sama pada Nobara menggunakan bahasa Elf.


“Tidak, Dewi Agung.” Sahut Tzullu.


Nobara juga memberikan jawaban serupa.


“Bukankah cerita-cerita yang sering ku baca mengatakan bahwa mereka berasal dari dunia yang sama?” Pikir Anna saat mengingat novel-novel fantasi yang sering ia baca saat masih sekolah.


Karena hanya dia yang bisa mengerti bahasa mereka, Anna akhirnya menjelaskan ulang mengenai pembagian wilayah tinggal dengan dua bahasa berbeda pada Orc dan Elf.


Setelah selesai dengan penjelasannya, Anna menyuruh bangsa Elf untuk pergi ke hutan.


Saat semua bangsa Elf telah pergi, Anna yang sejak tadi merasa tidak ada kemajuan pada energi Mana para Orc, akhirnya berbicara pada Tzaca, Orc Penyihir.


“Apakah kalian membutuhkan mayat monster untuk meningkatkan energi Mana?”


Terkejut dengan pertanyaan itu, Tzaca membungkukkan tubuhnya lebih dalam. Ia memang sedang memikirkan cara untuk berbicara pada Anna untuk bertanya apakah mereka tidak diberikan mayat monster lagi agar ia bisa mengekstrak energi Mana-nya seperti dulu, untuk meningkatkan kekuatan mereka.


“Ya, Dewi Agung.” Sahut Tzaca.


Anna mengangguk pelan.


“Sepertinya aku harus melakukan raid lebih sering.”


Anna lalu berbicara pada 3 Orc itu dan berjanji akan kembali lagi nanti. Ia kemudian menunjuk pada kristal sihir yang baru saja bangsa Elf bawa.


“Biarkan batu-batu itu disana. Aku akan mengambilnya nanti.” Ucap Anna.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Anna menutup gerbang yang membawanya dan bangsa Elf tadi, lalu membuka gerbang baru dan pergi masuk kedalamnya.


•••••••


__ADS_2