
Anna dan teman-temannya langsung di tolak oleh sekretaris Akademi saat meminta izin untuk menemui Jo Fizer, kepala Akademi.
Walaupun Anna bersikeras untuk meminta sekretaris itu menghubungi kepala Akademi, ia tetap menolak dengan keras.
"Tuan Meyers, saya benar-benar sudah membuat janji dengan tuan Fizer. Anda bisa menanyakan langsung padanya." Ucap Anna bersikeras.
Sebenarnya Chris Meyers, sekretaris Akademi, tidak terlalu memerdulikan apakah Anna benar sudah membuat janji atau tidak.
Seandainya benar pun, Chris juga tidak terlalu takut pada kepala Akademi yang menurutnya memiliki dukungan yang lebih sedikit di bandingkan dirinya, di hadapan dewan Akademi.
Sebenarnya, Chris memang ingin memanggil Anna ke kantornya terkait masalah yang gadis itu perbuat dengan putri salah satu koleganya, keluarga Williams. Dan kebetulan mereka bertemu di depan ruangan kepala Akademi.
Jadi, alih-alih mempertemukan Anna dengan kepala Akademi, Chris ingin langsung menyeret gadis itu ke kantornya sendiri.
"Siswi Anna, kan? Bagaimana kalau Anda ikut ke kantor saya terlebih dulu?"
Anna mengerutkan keningnya seraya menatap pria bertubuh tambun itu dengan tatapan penuh selidik.
Wajah pria itu menunjukkan ada maksud tersembunyi di balik tawarannya, hingga Anna sedikit mencurigainya.
"Apakah ada hal penting yang ingin Anda bicarakan? Saya memiliki keperluan mendesak dengan kepala Akademi." Sahut Anna.
Mendengar kata-kata, yang menurutnya, kurang sopan dari gadis ingusan di hadapannya, Chris Meyers hendak marah. Namun, untuk menjaga wibawanya, dia akhirnya memaksakan sebuah senyum hambar di bibirnya.
"Apakah menurut mu sopan berbicara seperti itu pada seorang yang jauh lebih tua dari mu, siswi Anna?"
Anna hendak tertawa saat mendapat pertanyaan itu. Kata-kata itu adalah kalimat biasa yang sering didengarnya saat seseorang meminta agar dirinya dihargai sebagai orang dewasa.
"Tuan Meyers. Kita tidak berada dalam sebuah keluarga yang harus menjunjung tinggi usia. Kita berada dalam sebuah masyarakat sosial yang memiliki status sama dalam kepentingannya masing-masing. Jika Anda merasa lebih sopan, mengapa Anda tidak mengatakan langsung tujuan Anda membawa saya ke kantor Anda sementara saya memiliki urusan dengan pihak lain?"
Setelah Anna menyelesaikan kalimatnya, Lucy, Yola dan Ren saling bertatapan. Mereka tak menyangka Anna berani dan bisa mengutarakan pendapatnya pada seorang yang jauh lebih tua dan juga memiliki jabatan tinggi di Akademi.
Berbeda halnya dengan Bimo. Bimo sudah sangat mengenal Anna dan tahu sepedas apa lidah Anna saat sedang beradu argumen.
Di keluarga Lloyd, Anna adalah satu-satunya anak yang memiliki lidah berbahaya di bandingkan ketiga saudara tirinya.
Robin adalah seorang pendiam, Cassey terkenal karena keramahan dan lemah lembut, sementara Andrew adalah anak yang penurut.
Anna terkenal karena bicaranya yang sangat ceplas-ceplos. Walau demikian, Bimo tahu bahwa Anna sebenarnya gadis yang ringan tangan dalam membantu orang lain.
"Siswi Anna!" Chris Meyers membentak.
“Saya memiliki mimpi yang sangat besar untuk masa depan Kota C, bahkan Asia Tenggara. Dan hal itu dimulai dari hari ini, tuan Meyers.” Ucap Anna. Dia mulai berbicara dengan tidak sabar.
“Kau tahu, terkadang penjahat terlahir dari seorang anak baik-baik yang ingin mengurus segala sesuatu dengan cara baik-baik, namun di halangi oleh orang dewasa yang merasa diri mereka bijaksana dan terlalu merasa menjadi orang penting.”
"Siswi Anna, kenapa Anda berbicara melantur? Saya sedang..."
"Anda ingin membawa saya ke ruangan Anda lalu mengintimidasi saya karena permasalahan dengan tuan putri dari keluarga Williams kan? Itu masalah sepele yang tidak saya anggap penting. Karena saya tahu, Anda mendapatkan laporan secara salah. Kenapa Anda tidak menyelidiki kebenarannya terlebih dulu lalu membicarakannya setelah urusan saya dan kepala Akademi selesai?"
__ADS_1
Chris Meyers terkejut saat Anna bisa menebak niatnya dengan benar.
Tanpa Chris ketahui, Anna kemarin dapat mendengar pembicaraan pria itu dan keluarga Williams yang mereka lakukan lewat telepon, saat Anna berada di ruang kepala Akademi.
Anna menatap kedua mata Chris Meyers dengan tajam.
Tidak nyaman dengan tatapan itu, pria bertubuh tambun itu mengalihkan tatapannya lalu melirik pada siswa yang berdiri di belakang Anna sambil tersenyum sinis pada mereka.
Dia kemudian menatap Anna dengan tatapan meremehkan dan tampak tidak memerdulikan perkataan siswi yang hanya dianggapnya sebagai orang yang baru saja mendapatkan ketenaran dan menjadi angkuh setelahnya.
Chris Meyers kemudian tertawa. Tertawa yang terlihat sangat dipaksakan.
“Siswi Anna, saya tahu Anda berbakat. Tapi, menjadi sombong hanya karena kau berhasil menumbangkan seorang peringkat C yang masih pemula, kau menilai diri mu terlalu tinggi.” Ucap Chris Meyers seraya memaksakan senyumnya. Dia sebenarnya sedang menahan amarah yang mulai meluap-luap di hatinya.
Chris menilai keangkuhan seperti yang Anna tunjukan sudah biasa dilihatnya. Keangkuhan seorang remaja yang belum mengenal dunia Hunter sesungguhnya.
Chris kemudian menatap seluruh orang yang berdiri di belakang Anna satu per satu untuk mengingat wajah mereka. Karena dia merasa telah dipermalukan, maka dia berniat untuk membuat perhitungan pada mereka semua di kemudian hari.
Tatapan Chris berhenti sejenak pada Bimo Gandri dan sedikit bingung melihat pria itu menggendong sebuah manekin di punggungnya.
Chris kembali berbicara, “Dan kenapa kalian semua harus membolos pelajaran pagi? Apakah mengikutinya lebih penting dibandingkan mengikuti pelajaran yang sangat berguna untuk masa depan kalian?” ucap Chris, mencoba menasehati mereka semua untuk menyingkirkan rasa malunya.
Anna ingin menyahutinya lagi, namun dia merasa kehadiran seseorang yang sudah ditunggunya berada tak jauh dari mereka. Jadi dia tetap diam.
“Kembalilah ke kelas kalian, masih belum terlambat untuk mengikuti pelajaran.” Perintah Chris dengan berusaha berbicara selembut mungkin.
Namun, 4 orang yang sejak tadi berdiri di belakang Anna sama sekali tak bergeming dari tempat mereka.
Bimo dan Yola, tentu saja lebih memilih untuk menuruti Anna. Selain karena hutang budi mereka pada Anna, Bimo sedari dulu memang sudah loyal pada tuanya itu.
Lucy? Dia hanya tak suka jika harus menuruti orang yang di matanya tampak seperti seorang tamak yang berlagak bijaksana.
Anna sudah mengangkat satu tangannya dan hendak mengarahkannya pada Chris Meyers. Namun bertepatan dengan itu, Jo Fizer akhirnya tiba.
“Siswi Anna! Tahan dulu!” teriak Jo Fizer sambil berlari kecil menghampiri mereka.
Seorang instruktur yang melihat keributan kecil itu sudah menghubungi Jo Fizer sebelumnya. Jadi, Jo Fizer yang sebenarnya sudah tiba di tempat parkir, akhirnya berlari dengan cepat ke kantornya.
Setelah tiba di dekat mereka, Jo Fizer menatap tajam Chris Meyers. Tatapan yang membuat pria itu bergidik saat bertemu pandang dengannya.
‘Ada apa? Kenapa dia menatap ku seperti ini?’
“Jangan macam-macam dengannya!” Bentak Jo dengan menggeram dan menahan nada suaranya agar tidak berteriak keras pada sekretaris Akademi itu.
'Untung saja aku tiba tepat waktu. Kalau tidak, mungkin dia sudah mati karena kebodohannya memancing kemarahan seorang remaja yang tidak tepat.'
Jo kemudian menoleh pada Anna. Raut wajahnya yang sebelumnya tampak marah, langsung berubah 180° ketika dia bertatapan dengan Anna.
Setelah tersenyum, Jo berbicara, “Siswi Anna, ayo ikut saya ke dalam.” Ajak Jo sambil menunjuk ke arah pintu ruangannya.
__ADS_1
Setelah berbicara pada Anna, Jo menoleh kembali pada Chris yang masih berdiri membeku di belakangnya. “Ikutlah ke dalam, kami memerlukan mu untuk menyiapkan monster virtual.”
“Tuan Fizer, kita tidak membutuhkan dia.” Ucap Anna, sebelum Chris sempat menjawab permintaan Jo.
“Tapi, kita membutuhkan tuan Meyers untuk menyiapkan monster virtual dengan kekuatan seperempat monster aslinya.” Ucap Jo Fizer, memberitahukan alasan kenapa mereka membutuhkan pria itu.
“Kami tidak membutuhkannya. Malahan, saya ingin meminta Anda untuk mengatur monster virtualnya supaya setara dengan Dungeon peringkat C atau minimal D.” pinta Anna.
“Apa?”
Jo Fizer terbelalak. Namun, ketika dia ingat bahwa calon siswa yang akan mengikuti ujian adalah Hunter pemula berperingkat S, maka dia menyetujuinya.
“Pak kepala, apa Anda yakin akan membuka ujian penerimaan susulan?” Chris Meyers yang baru menyadari situasinya, mengingatkan Jo Fizer.
Walaupun Jo adalah kepala Akademi, namun untuk membuka ujian penerimaan susulan membutuhkan izin dari semua anggota dewan Akademi.
Chris yakin jika Jo belum mengadakan rapat untuk melakukan voting apakah ujian susulan bisa di lakukan atau tidak, mengingat tak ada satu pun orang-orang dari dewan Akademi yang datang bersamanya.
“Voting dewan tidak diperlukan. Ku rasa mereka akan bisa memahaminya jika sudah tahu siapa calon siswa yang akan mengikuti ujian.” Sahut Jo Fizer dingin.
Sebenarnya, bukan karena sikap Chris pada Anna yang membuat Jo terlihat terang-terangan tidak menyukai Chris Meyers, dia memang tidak menyukai sekretaris Akademi itu sejak awal.
Hanya karena kepentingan politik segelintir orang, maka Chris dulu dipilih sebagai sekretaris Akademi.
“Tuan Fizer. Dari pada Anda mendahulukan kepentingan siswi ini, sebaiknya Anda mengurus laporan keluarga Williams terlebih dulu.”
Jo Fizer akhirnya membalikan tubuhnya dan menatap tajam kedua mata Chris.
“Tuan Meyers. Anda tidak mendengar kabar? Tuan Williams telah di tangkap pihak Asosiasi tadi malam. Jadi, dari pada Anda memikirkan masalah mereka, sebaiknya Anda pikirkan posisi Anda terlebih dulu." Ucap Jo yang kemudian tersenyum sinis. Dia tahu, dengan dipenjaranya Maxim Williams, dukungan pada Chris akan menurun drastis.
Jo lanjut berbicara, "Dan lagi, tampaknya laporan yang Anda terima mengenai tindakan buruk siswi Anna pada putri keluarga Williams adalah kebalikannya. Apakah Anda sudah menyelidikinya dengan benar?"
“A-apa…? Tapi, tuan Fizer kita tidak boleh…”
“Bisa kita bicara nanti? Saya sudah memiliki janji pada Hunter-hunter muda ini.” Potong Jo Fizer.
Jo Fizer akhirnya berbalik kembali dan menatap Anna, lalu memaksakan senyumnya pada gadis itu.
“Siswi Anna, apa dia calon siswa yang akan mengikuti ujiannya?” tanya Jo Fizer seraya melirik pada Bimo Gandri yang datang dengan tidak mengenakan seragam Akademi.
“Ya, tuan Fizer.” Sahut Anna yang kemudian membalas senyumnya dengan tersenyum lembut.
“Kalau begitu, karena tidak perlu melakukan pengaturan penurunan kemampuan monster virtual, kita akan langsung menuju arena olahraga.” Ucap Jo Fizer yang kemudian mengangkat satu tangannya untuk menunjukan jalan dan mempersilahkan anak-anak muda itu mengikutinya.
Sambil mengikuti kepala Akademi ke arena olahraga, Ren, Yola dan Lucy mengingat kembali kejadian yang baru mereka lihat.
Mereka baru tahu sifat asli Anna yang sebelumnya tak pernah ditunjukkannya. Mereka mengira Anna hanyalah seorang yang santai yang tampak tidak terlalu menganggap serius sebuah pembicaraan atau masalah yang sedang dihadapinya.
Karena pengalaman tadi, mereka akhirnya memutuskan untuk berhati-hati saat lain waktu hendak beradu argumen dengan Anna.
__ADS_1
•••••••