Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 149 - Robin & Andrew Lloyd


__ADS_3

"Anna, apa yang kau pikirkan?" Andrew Lloyd menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Anna saat ia melihat gadis itu tampak sedang melamun.


Anna melirik dan menatap wajah Andrew dengan bingung. Ia otomatis tidak terlalu akrab dengan adik tirinya ini karena mereka tidak tinggal di bangunan rumah yang sama sejak mereka masih kecil.


Dan lagi, seingat Anna, Andrew bukan orang yang seceria ini. Ia sangat berbeda dengan gambaran ingatan yang Anna miliki tentangnya.


"Sejak dulu dia mengagumi mu," Robin Lloyd mengatakan fakta yang semakin membuat Anna bingung.


Andrew meninju lengan kakaknya yang sedang menyetir mobil di sampingnya. Wajahnya memerah, ia merasa malu saat kakaknya mengatakan hal yang ia minta untuk dirahasiakan dari Anna.


Anna menatap belakang kepala Andrew yang tadi langsung berpaling setelah ia meninju lengan Robin dan menatap ke luar jendela di samping kursinya, untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Apa itu benar, Andrew?" tanya Anna. Dia kemudian memajukan tubuhnya hingga dapat melihat profil samping wajah Andrew.


Andrew menganggukkan kepalanya tanpa menoleh.


"Kenapa kau tidak duduk saja di belakang bersama ku? Masih ada ruang untuk satu orang disini." Ucap Anna seraya menepuk pelan tempat kosong di sampingnya.


Andrew menoleh dengan cepat untuk menatap Anna kembali, namun sangat terkejut ketika melihat wajah Anna sudah berada di dekatnya, hingga ia buru-buru memundurkan tubuhnya.


Melihat adik tirinya tampak salah tingkah, Anna memundurkan tubuhnya lagi dan bersandar di kursinya. "Kau tinggal meminta Robin menepi sebentar." Ucap Anna lagi yang kemudian tertawa kecil.


Andrew menatap Robin dengan wajah ceria. "Apakah kau bisa..."


"Aku bukan supir kalian." Robin yang sebenarnya tidak keberatan dan hanya malas menepikan mobilnya, menyahut terlebih dulu memotong ucapan Andrew.


Sigh...


"Kenapa kau baru mau berbicara pada ku sekarang?" tanya Anna yang penasaran mengapa adik tirinya itu ternyata tidak seperti yang di bayangkannya. "Kau memiliki banyak kesempatan sejak dulu untuk melakukannya, kan?"


Robin melirik pada Andrew yang terdiam sambil memainkan jemarinya sendiri di antara kedua lututnya dengan wajah yang tersipu.


"Dia malu," sahut Robin lagi, saat Andrew tidak menjawab pertanyaan itu. "Kau tahu, dia bahkan mencetak besar foto kalian saat berada di taman bermain dan memajang di kamarnya."


"Hah?!" Mengetahui hal itu membuat Anna terkejut. Anna kemudian mengingat satu-satunya kenangan saat ia dan Andrew pergi ke taman bermain saat mereka masih berusia 9 dan 10 tahun.


Sementara itu, Andrew memukul lengan Robin lagi dengan lebih keras dari sebelumnya. Andrew tahu kakaknya tidak akan terganggu dengan pukulan seorang Hunter pemula sepertinya, jadi ia melakukannya tanpa ragu.


"Kau pengkhianat...!" umpat Andrew.


Robin Lloyd melirik Andrew. Kedua alisnya mengernyit. Sesaat kemudian ia melirik ke spion di dekat kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Anna.


Andrew menyadari kesalahannya, lalu ia menunduk lagi karena merasa bersalah.


Kata 'pengkhianat' itu mungkin akan sangat menyakitkan bagi Anna yang sudah dikecewakan oleh ayah dan ibu mereka, terutama Cassey yang sangat dekat dengannya.


Andrew akhirnya berbalik dan menatap Anna untuk meminta maaf pada kakak tirinya itu, namun senyum lembut Anna membuatnya terdiam dan kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.


"Tidak masalah. Aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi."


Suasana menjadi hening setelahnya. Masing-masing dari mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, namun tidak dengan Anna.

__ADS_1


Anna benar-benar sudah tidak memerdulikan Brandon, Joana dan Cassey Lloyd lagi. Ia malah sibuk mengirimkan pesan pada Miyuki untuk mencari rekaman CCTV di lokasi yang Joana Nankins katakan padanya, yang merupakan lokasi tempat Joana di jemput untuk pergi dan melakukan pertemuan dengan organisasi rahasianya.


Sayangnya, Joana hanya tahu lokasi penjemputan yang berada di dekat pelabuhan Kota C yang berada di daerah pinggiran Kota C.


Setelah mereka bertemu disana, Joana dan beberapa rekannya akan diberikan sebuah helm khusus yang membuat mereka tidak bisa melihat dan tahu ke mana mereka akan di bawa.


Yang pasti, seingat Joana, mereka pada akhirnya akan melakukan pertemuan rahasia di ruang bawah tanah yang lembab dan dingin.


Jika Miyuki dapat menemukan rekaman CCTV nya, Miyuki mungkin bisa menelusuri rute perjalanan orang-orang dari organisasi rahasia tersebut. Hanya itulah satu-satunya cara agar Anna bisa menemukan tempat persembunyian mereka, lalu mengungkap keberadaan makhluk-makhluk yang ia duga berasal dari bangsa iblis yang adalah penyebab dari kemunculan gerbang-gerbang Dungeon di seluruh dunia.


Yang membuat Anna yakin bahwa iblis tersebut pasti terhubung dengan orang yang memberikan pil sesat pada Joana adalah karena energi Mana jahat yang berada di dalam pil yang Joana dan Cassey kosumsi.


Energi Mana sesat itu sama dengan energi Mana yang Anna rasakan dari Damballa dan dua rekannya, juga dari 3 iblis yang berada di Dungeon tim raid ketiga.


Anna curiga, organisasi rahasia yang disebut Joana adalah bawahan para iblis. Joana juga mengatakan bahwa mereka memiliki rencana besar yang wanita itu belum ketahui secara detail.


Jika Anna dapat menemukan mereka, ia mungkin bisa tahu dimana tempat persembunyian para iblis sekaligus mencegah rencana organisasi rahasia yang sudah bisa ia tebak, pasti akan menyebabkan kekacauan di dunia Hunter.


Saat Anna masih berkirim pesan dengan Miyuki dan beberapa teman lainnya, Robin berbicara kembali padanya.


"Anna. Aku benar-benar menyesali karena tidak melaporkan kejadian itu langsung pada Asosiasi. Aku..."


"Tidak apa-apa. Kau bisa melupakannya dari sekarang," sahut Anna, memotong kalimat Robin.


Anna tahu Robin memiliki pilihan yang sangat sulit. Jika saat itu Robin melaporkannya, sudah pasti reputasi keluarga Lloyd akan langsung hancur saat itu juga.


Ada banyak pihak yang dirugikan jika keluarga dengan banyak cabang bisnis itu hancur. Hal itu terbukti pada saat Anna mengungkap kejahatan yang ayah dan saudari tirinya lakukan padanya. Saham semua bisnis keluarga Lloyd langsung menurun tajam bahkan jauh lebih parah dibandingkan saat mereka kehilangan 25% asset yang terkubur di dalam sebuah Dungeon.


"Apa ada yang ingin kau katakan pada ku Andrew?" Anna mencoba mengalihkan pembicaraan untuk memecahkan suasana canggung yang terjadi, sejak Andrew mengatakan kalimat yang salah secara tidak ia sengaja.


Andrew menegakkan posisi duduknya dengan buru-buru. Dengan agak tergagap ia menjawab pertanyaan saudari tirinya, "A-aku akan pergi ke Akademi juga tahun depan."


Anna mengernyitkan alisnya, itu bukan hal penting yang harus Andrew katakan padanya. "Hanya itu?" tanya Anna lagi, saat Andrew tidak mengatakan hal lain setelahnya.


"A-apa boleh aku minta kontak mu?"


"Hah?" Anna terkejut saat tidak menduga akan mendengar pertanyaan yang konyol itu dan membuatnya hampir tertawa. Ia akhirnya meminta ponsel Andrew saat Andrew kembali tampak salah tingkah, yang cepat Andrew berikan, lalu Anna memasukkan nomornya.


"Apa aku juga boleh meminta kontak mu?" tanya Robin setelah Anna mengembalikan ponsel Andrew.


Kali ini Anna tidak bisa menahan tawanya lagi. Seraya menyodorkan tangannya ke depan dada Robin, Anna menggodanya, "Aku tahu kau menyukai ku sejak dulu. Kau selalu memberi ku kado ulang tahun paling awal di banding siapa pun." Anna kemudian menatap mereka berdua bergantian, "Kenapa kalian tidak meminta nomor ku dari dulu?"


Mendengar pertanyaan itu, Robin dan Andrew tampak lebih salah tingkah lagi.


°°°


Mobil sedan yang mereka kendarai berhenti di sebuah kawasan apartemen di pinggiran Kota C dan Anna turun di sana.


Robin dan Andrew keluar untuk mengantarkan Anna, namun Anna meminta mereka untuk tidak melakukannya karena ia masih harus menunggu temannya di dekat gerbang.


"Kau mau pergi dengan teman mu lagi?" tanya Robin sambil melihat jam di lengannya. "Ini sudah jam dua dini hari."

__ADS_1


"Kami ada jadwal raid."


Robin menatap Anna dengan tatapan takjub. Ia tahu Anna kini berbeda dari adik tirinya dua bulan yang lalu. Walaupun ia sebenarnya penasaran bagaimana Anna bisa menjadi sangat kuat hanya dalam dua bulan, namun ia tidak ingin menanyakan hal tersebut. Robin merasa tidak memiliki hak untuk bertanya hal yang Anna sendiri sepertinya tidak ingin ceritakan.


Ia hanya cukup tahu bahwa kekuatan yang Anna miliki bahkan jauh lebih kuat lagi dibandingkan Kevin Jung, salah satu rekan di guild baru adik tirinya itu, yang bahkan berperingkat sangat tinggi.


Dari berita yang selalu Robin ikuti, dia juga sudah tahu seberapa kuat Hunter-hunter di dalam guild Nine Bears yang berhasil mengatasi 3 dungeon break tanpa bantuan dari pihak mana pun, termasuk Wang Zhu Ming dan Ronald Stewart yang tidak bisa membantu banyak walaupun mereka juga berada di lokasi kejadian.


"Hati-hati." Ucap Robin. Hanya itu yang bisa ia katakan pada Anna.


"Tentu."


"Apakah aku juga boleh bergabung di guild Nine Bears jika aku sudah lulus dari Akademi?" tanya Andrew dengan mata berbinar.


Anna tertawa selama beberapa saat. Namun, wajahnya mendadak berubah serius tak lama kemudian.


"Kami berencana untuk mengakhiri semua ini dalam waktu dekat. Mungkin sebelum kau lulus dari Akademi."


Mendengar itu, Robin juga menatap Anna dengan wajah serius. Andrew yang sebelumnya terlihat ceria juga tiba-tiba menanggapinya dengan serius.


Pada saat itu, beberapa orang menghampiri mereka secara perlahan, seakan tidak ingin mengejutkan atau mengganggu mereka.


Anna menoleh pada tiga orang itu, yang tak lain adalah Ren, Lucy dan Yola. "Tolong tunggu sebentar."


Ketiganya menganggukkan kepala mereka dan kemudian menunggu di tempat yang agak jauh.


Robin menatap ketiga remaja itu dengan takjub. Ia dapat merasakan seberapa besar energi Mana pada 3 anak muda itu, yang bahkan jauh lebih besar dari yang ia miliki.


Robin kemudian menatap Anna dan ia menjadi jauh lebih kagum lagi pada adik tirinya itu. Ia tahu bahwa Anna lah yang sudah membuat remaja-remaja itu memiliki kekuatan yang sangat besar di usia mereka yang masih sangat muda.


"Nah, aku harus pergi sekarang. Mereka sudah menunggu ku." Ucap Anna.


"Apa aku boleh berkunjung ke tempat tinggal mu?" Andrew menanyakannnya dengan cepat.


"Tentu. Aku tinggal di tower tiga, unit seratus enam puluh delapan. Kau bisa menghubungi ku jika ingin berkunjung," sahut Anna yang kemudian menoleh ke bagian belakang mobil di kursi penumpang, menatap seorang lelaki tua yang tadi ia buat 'tertidur' saat langsung berbicara kasar padanya begitu mereka semua berada di dalam mobil. "Katakan pada kakek untuk tidak menemui ku lagi. Aku akan mengirimkan seseorang padanya untuk mengembalikan semua uang dan saham yang diberikannya pada ku."


Anna kemudian menatap Robin. Pewaris bisnis keluarga Lloyd, setelah Brandon mau tak mau menyerahkan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga setelah ia tersandung kasus hukum. "Kau juga, jangan terlalu terpengaruh oleh diskriminasinya."


"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik." Sahut Robin.


Robin kemudian menoleh pada Andrew yang masih terus menatap Anna seakan tidak ingin cepat berpisah darinya.


"Baiklah kalau begitu, kami pergi sekarang." Ucap Robin seraya menepuk pundak Andrew yang langsung terkejut karenanya.


Robin dan Andrew berbalik lalu pergi menuju mobil sambil sesekali menoleh pada Anna yang terus melambaikan tangannya.


Kedua pria itu tampak melangkahkan kaki mereka dengan sangat berat seakan ada hal yang masih ingin mereka katakan, namun mereka tidak berani mengucapkannya.


Saat keduanya sudah membuka pintu mobil dan menatap Anna untuk terakhir kalinya, Anna berteriak pada mereka, yang membuat wajah kedua bersaudara itu ceria seketika.


"Robin, Andrew..., senang masih memiliki kalian sebagai anggota keluarga."

__ADS_1


•••••••


__ADS_2