Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 182 - Perasaan Kehilangan (2)


__ADS_3

Hari itu, hujan yang sangat lebat mengguyur seluruh Kota C dengan sangat deras. Hujan deras yang bahkan belum pernah terjadi selama beberapa bulan belakangan itu, bahkan membuat seluruh warga Kota C menghentikan segala aktifitas luar ruangan mereka.


Di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dan di penuhi dengan bunga, seorang gadis berparas imut tampak sangat gelisah, berjalan mondar-mandir di antara banyaknya pengunjung yang sedang melihat-lihat cantiknya bunga, atau hanya sekedar berteduh dari lebatnya hujan yang terjadi di luar sana.


Sesekali, Miyuki yang tampak sangat gelisah itu, menatap pada seorang gadis manis yang sedang menceritakan arti sebuah bunga pada calon pembeli yang tertarik pada suatu bunga.


Gadis itu tampak sangat ramah, ceria dan bersemangat tiap kali ia berbicara mengenai suatu jenis bunga pada pelanggannya.


Tidak ingin mengganggu gadis pemilik toko bunga dan para pelanggannya, Miyuki akhirnya memutuskan untuk keluar dari toko tersebut dan duduk di sebuah bangku kayu yang berada di depan toko bunga tersebut, untuk menenangkan diri sambil melihat air hujan yang jatuh mengalir berjejer dengan rapi dari tepi balkon yang menjadi tempat berteduhnya.


°°°


Beberapa jam yang lalu, setelah Miyuki berhasil meretas satelit Kepulauan Fiji, ia akhirnya melihat bagaimana Ren dikeroyok dua agen rahasia Asosiasi Amerika sampai akhirnya tewas dengan sangat mengenaskan.


Sialnya, Anna juga menghilang setelah masuk ke dalam sebuah hutan, hingga membuat Miyuki menjadi satu-satunya orang yang tahu nasib naas yang menimpa Ren.


°°°


"Nona Miyu...," sapa Rin dengan suara lembut, takut mengagetkan Miyuki yang terlihat sangat gelisah.


Sebenarnya, sejak tadi Rin merasa bingung dengan sikap Miyuki yang tidak biasanya keluar dari ruang bawah tanah, bahkan berada di toko bunganya dengan berlama-lama.


Rin juga dapat merasakan kegelisahan yang terlihat sangat jelas dari wajah Miyuki saat gadis berparas imut itu berjalan mondar-mandir di dalam toko bunga nya.


"Oh... H-halo, Rin...," sahut Miyuki tergagap. Walaupun Rin sudah menyapanya dengan hati-hati, namun tetap saja ia terkejut saat melihat Rin tiba-tiba berada di hadapannya.


Sebenarnya bukan terkejut karena Rin tiba-tiba menyusulnya keluar dari toko bunga dan berdiri di dekatnya, namun ia terkejut karena belum siap menyampaikan kabar buruk yang dimilikinya.


Rin duduk di bangku panjang, di sebelah Miyuki. Kemudian, dengan sopan, ia berbicara kembali.


"Apakah ada yang ingin Anda sampaikan pada saya, nona Miyu?"


"T-tidak... Tidak ada...," sahut Miyuki dengan cepat seraya mengangkat kedua tangan ke depan tubuhnya.


Namun, sikap kikuk Miyuki justru membuat Rin menjadi sangat curiga padanya.


Rin tahu, Miyuki adalah gadis yang sangat dingin dan tenang setiap kali ia sedang berbicara pada seseorang.


Biasanya, Miyuki bahkan kurang memerdulikan lawan bicaranya apabila ia tidak memiliki kepentingan apa pun pada orang tersebut.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pada adik ku?" tanya Rin dengan suara pelan, hingga suaranya hampir kalah keras oleh suara derasnya hujan di sekitar mereka.


Miyuki terkejut saat mendengar pertanyaan itu, yang sebenarnya mengenai tepat pada sasaran.


Miyuki tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya menatap kedua mata Rin dengan mulutnya yang sedikit terbuka, saat ia tidak bisa mengucapkan kata-kata yang tersangkut di ujung lidahnya.


Tidak mendapatkan jawaban dari Miyuki, Rin memalingkan tubuhnya, menghadap ke depan dan menatap pada hujan yang jatuh membasahi aspal di depan mereka.


"Sejak pagi, saya merasa sangat gelisah. Saya juga memecahkan beberapa pot bunga yang entah mengapa terjatuh dari tangan saya begitu saja," ucap Rin.

__ADS_1


Miyuki yang masih duduk menyerong menghadap Rin, menundukkan kepalanya saat ia melihat ada butiran air mata terbentuk di sudut mata gadis manis itu.


Ia akhirnya ingat bahwa Rin dan Ren adalah saudara kembar. Dari yang ia tahu, saudara kembar seperti mereka biasanya memiliki ikatan batin yang sangat kuat hingga bisa mendapatkan firasat yang lebih kuat dibandingkan orang biasa, apabila suatu hal buruk terjadi pada kembaran mereka.


"Ren... Dia...,"


"Saya harap dia melakukan sesuatu yang baik saat hal buruk menimpanya," ucap Rin lagi, memotong kalimat Miyuki.


Miyuki menatap Rin dalam diam. Kini, ia benar-benar memercayai adanya ikatan batin kuat yang di miliki saudara kembar, saat merasa Rin sepertinya sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada saudaranya.


Pada saat itu, Gina dan Bimo terlihat berlari dengan terburu-buru menembus lebatnya hujan, dari arah area parkir yang berjarak dua bangunan dari toko bunga tersebut berada.


Gina yang sebelumnya sedang mengadakan rapat penting dengan seluruh anggota guild Nine Bears, langsung pergi meninggalkan rapat tersebut dan meminta Gus Stevin serta Kevin Jung sebagai penanggung jawab menggantikan dirinya, setelah mendapatkan kabar buruk mengenai kematian Ren dari Miyuki.


Gina tahu, dengan karakter dingin yang dimilikinya, Miyuki mungkin akan kesulitan menyampaikan kabar tersebut pada Rin, hingga ia memutuskan akan menjadi orang yang akan memberitahukan berita duka itu.


Selain karena ia sudah sangat dekat dengan saudara kembar itu, ia juga memiliki tanggung jawab penuh atas apa pun yang terjadi pada semua anggota guild nya.


°°°


Gina dan Bimo, yang ikut karena merasa memiliki kedekatan khusus pada Ren dan Rin yang merupakan penduduk asli Kota C sama sepertinya, memelankan langkah kaki mereka saat melihat Rin dan Miyuki sedang duduk di satu-satunya bangku yang berada di depan toko bunga.


Melihat keduanya duduk dengan canggung dalam diam dan tanpa semangat, Gina tahu bahwa Rin mungkin sudah mengetahui kabar buruk mengenai tewasnya Ren dari Miyuki.


Gina juga memerhatikan Rin sedang berusaha keras untuk menahan tangisnya agar tidak meledak begitu saja.


Barulah, saat Gina sudah mendekap tubuh Rin dan meletakkan wajah gadis itu di dadanya, saat itu juga tangis Rin akhirnya meledak.


Tidak tega melihat pemandangan itu, Miyuki akhirnya berdiri dan pergi untuk kembali ke ruang bawah tanahnya.


Tempat kosong yang ditinggalkan Miyuki akhirnya diisi oleh Bimo yang kemudian menepuk-nepuk pelan punggung Rin, berusaha untuk menghibur gadis itu. Hanya itu yang bisa Bimo lakukan, saat ia tidak memiliki kalimat apa pun yang ia rasa bisa menghiburnya.


•••


"Minum lah...," ucap Miyuki, seraya menyerahkan sebotol air mineral dingin pada Rin, yang baru saja berhenti menangis setelah gadis itu menangis selama 3 jam penuh.


Gina membawa Rin untuk turun ke ruang bawah tanah setelah ia tidak bisa menghentikan tangis Rin, sementara Bimo membantu untuk menutup toko bunga nya.


"T-terima kasih...," sahut Rin seraya menerima minuman tersebut dari tangan Miyuki.


Rin tidak langsung meminumnya. Ia memerhatikan ruangan kerja yang memiliki cahaya redup tersebut dengan penuh perhatian.


Ini adalah kali pertama Rin turun ke ruang bawah tanah, walaupun ia sudah mengenal Miyuki selama satu setengah tahun lamanya dan walaupun toko bunganya sendiri menjadi satu-satunya pintu masuk ke tempat tersebut.


"Jadi, ini tempat kerja Anda, Miyu-San?"


"Huh?" Miyuki terkejut saat mendengar pertanyaan tidak terduga dari Rin, terutama dari cara Rin menyebut nama nya.


"Saya mempelajari cara menyebut nama orang-orang dari negara Anda..."

__ADS_1


"Tidak perlu memakai kata 'san' di belakang nama ku. Aku sudah terbiasa dengan cara memanggil nama orang-orang di Asia Tenggara." Sahut Miyuki.


"Maafkan saya...,"


"K-kau juga tidak perlu meminta maaf," sahut Miyuki dengan cepat.


Sebenarnya, karena Rin selalu bersikap lembut dan sopan seperti inilah yang membuat Miyuki selama ini menjadi agak canggung untuk berbicara banyak padanya.


Miyuki lebih suka berbicara dengan santai seperti saat berbicara pada Anna dan yang lainnya.


"Sepertinya ruang bawah tanah ini sangat besar," ucap Rin lagi.


"Y-ya... Ruang bawah tanah ini seluas satu blok komplek bangunan kita."


"Jadi, toko bunga cuma sepuluh persen dari luas ruang bawah tanah ini?"


"Ya." Sahut Miyuki, seraya melirik pada Gina, Bimo, juga pada Lucy dan Yola yang baru saja tiba di tempat itu.


Gina, Bimo, Lucy dan Yola hanya diam, mendengarian pembicaraan yang terjadi antara Rin dan Miyuki.


Mereka tahu, Rin sedang berusaha agar terlihat baik-baik saja, walaupun gadis itu pasti memiliki perasaan hancur di dalam hatinya setelah di tinggal pergi oleh satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya.


Sangat banyak pertanyaan yang Rin ajukan pada Miyuki. Namun semuanya sama sekali tidak berhubungan dengan kematian adiknya, Ren.


Rin menanyakan mengenai pekerjaan apa yang Miyuki lakukan di ruang bawah tanah selama 1 tahun lebih, bagaimana perasaannya berada lama di bawah tanah, juga bagaimana ia bisa betah di sana.


Tidak seperti biasanya, Miyuki yang paling malas membicarakan hal yang tidak penting dan berlidah tajam, menjawab semua pertanyaan Rin dengan sangat sabar, hingga membuat semua orang yang selama ini mengenal baik sifat Miyuki, merasa bahwa Miyuki tampak seperti orang asing.


Miyuki bahkan membawa Rin jalan-jalan ke hampir seluruh ruangan yang berada di bangunan bawah tanah itu.


Ia juga menunjukkan laboratorium tempatnya melakukan pengujian atas temuannya, juga ruangan tempat anggota inti Nine Bears dan 9 AM biasanya berkumpul.


Sampai akhirnya, tibalah mereka di ruangan terakhir, yakni ruangan tempat Miyuki memiloti avatar hunter nya.


"Apakah orang biasa tanpa kebangkitan seperti saya juga bisa menjadi pilot avatar, nona Miyu?" tanya Rin, sambil memerhatikan helm yang biasa Miyuki kenakan.


Miyuki mengangguk.


"Kau hanya harus berlatih bela diri dan rajin berolah raga untuk memiliki stamina yang baik." Sahut Miyuki.


"Apa Anda rasa orang seperti saya bisa melakukannya?"


"Tentu. Bahkan ada salah satu pilot avatar yang sebelumnya sangat lemah dan kini memiliki kemampuan yang sangat baik."


Rin diam beberapa saat, sebelum menoleh dan menatap Miyuki dengan kedua matanya yang mulai basah lagi dengan air mata.


"Bisakah Anda melatih saya untuk menjadi seorang pilot avatar?"


•••••••

__ADS_1


__ADS_2