
Seluruh siswa kelas A dan B masih melakukan pemanasan sambil menunggu wali kelas mereka tiba untuk memberikan arahan dan strategi demi memenangkan pertandingan hari ini.
Wang Liu Gong dan Riko Sebastian yang seharusnya sudah ada bersama tim, tiba-tiba memiliki urusan hingga harus membuat pertandingan sedikit terlambat.
Biasanya dalam kelas siang seperti ini, siswa-siswa dari masing-masing kelas hunter akan di bimbing oleh beberapa instruktur untuk melakukan latihan fisik sesuai kelas mereka.
Namun, pada hari ini akan ada pertandingan praktek yang biasanya dilakukan selama 1 kali dalam 1 minggu.
Oleh karena itulah para siswa kini berada di gedung praktek yang biasanya digunakan untuk pertandingan antar kelas.
Walaupun tidak seluas arena olahraga yang di gunakan untuk ujian penerimaan siswa, namun ukuran luas gedung praktek ini juga cukup luas hingga bisa menampung seluruh siswa senior Akademi dan juga instruktur Akademi yang kini berada di bangku penonton.
Davina, wali kelas C yang sudah berada di sana, mengambil kesempatan untuk mengatur formasi siswa kelasnya yang sudah siap melakukan pelajaran praktek yang akan dilakukan secara bersama-sama antara kelas A, kelas B dan kelas C.
Pelajaran praktek gabungan ketiga kelas hari ini adalah pertandingan memperebutkan 1 bendera di masing-masing benteng.
Tim yang berhasil mengambil satu bendera dari masing-masing benteng lawan akan menjadi pemenang.
Pelatihan gabungan mingguan ini digunakan untuk melihat sejauh mana kemajuan masing-masing kelas dalam menyerap pembelajaran tiap minggunya.
Sebagai kelas unggulan, kelas A biasanya akan selalu menjadi pemenang di 1 sampai dengan 2 bulan pertama, karena disanalah siswa-siswi terbaik dari ujian penerimaan Akademi berkumpul pada awalnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, kerja keras para siswa pasti akan selalu memberikan bukti dengan hasil yang akan mereka capai.
Biasanya, kelas yang memiliki siswa yang ulet dalam belajar dan berlatih, akan selalu menjadi pemenang di akhir.
Jadi, walaupun kelas A pada awalnya akan selalu unggul, tapi kelas yang paling ulet dalam berjuang dan belajar dengan bekerja keras dan disiplinlah yang pada akhirnya akan selalu memenangkan pertandingan tahunan yang akan menjadi ujian final kenaikan kelas nanti.
°°°
Saat ada pelatihan gabungan seperti ini, siswa-siswa senior pun berada di sana untuk menyaksikan pelatihan yang sudah terjamin akan berlangsung seru.
Siswa-siswa senior tentu saja mengunggulkan kelas A sebagai pemenang.
Minggu lalu saja, saat hanya ada Luke, kelas A dapat mendominasi jalannya pertandingan dengan mudah.
Apalagi hari ini. Kelas A yang sudah diketahui akan ditambah dengan kehadiran siswa peserta ujian masuk terbaik yang akhirnya hadir bersama mereka, di prediksi akan memenangkan pertandingan dengan lebih mudah lagi dibandingkan dengan minggu lalu.
°°°
Luke yang di anggap sebagai andalan kelas A, berdiri dengan tatapan mata dan wajahnya yang angkuh, menatap siswa-siswa dari kelas C yang sedang mendapat arahan dari wali kelas mereka.
Dia sangat menyayangkan karena harus berada satu tim dengan Anna, gadis arogan, yang sangat ingin diberinya pelajaran.
Sehebat apapun Anna dalam ujian penerimaan, dia hanyalah Warrior dengan peringkat F. Sedangkan Luke yang juga Hunter dengan kelas Warrior, memiliki peringkat 4 tingkat di atas Anna, yakni peringkat C.
"Mau berbuat apa peringkat F di hadapan seorang peringkat C?" Pikir Luke.
'Sayang sekali dia harus berada di tim yang sama dengan ku!'
Pada saat itu, seseorang mendekati Luke dan berbicara padanya.
“Luke, apa kau bisa ikut dengan ku sebentar?” pinta Gina yang sudah berada di samping Luke.
Luke terkejut saat melihat Gina berdiri di sampingnya. Dia bahkan tidak bisa merasakan kehadiran kakaknya tadi.
‘Apa dia memiliki skill untuk menyamarkan energi Mana? Apa dia sudah mendekati peringkat S?’
Namun Luke hanya menoleh sebentar pada Gina lalu ia memalingkan wajahnya ke tempat lain.
“Aku sedang sibuk.” Sahut Luke ketus.
__ADS_1
Gina mendesah pelan.
"Baiklah. Ayo kita bicara nanti. Aku akan menunggu mu." Ucap Gina pelan.
"Menunggu ku? Bukankah kau hanya ingin menyemangati adik sepupu mu itu?"
"Luke!"
Gina menatap tajam pada Luke, yang tidak mau menatap ke arahnya.
Dengan berusaha menjaga emosinya sebaik mungkin, Gina kembali berbicara, “Kau salah paham. Dan...,” Gina menatap adiknya lekat-lekat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kau bisa kan menghubungi ku langsung kalau ingin bertemu? Kau tahu aku tidak pernah mengabaikan mu."
"Kau sudah tahu aku datang, tapi kau bahkan tidak pernah berkunjung. Kau bahkan sudah tidak pulang ke rumah cukup lama!" Umpat Luke dengan suara tertahan. Dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak meledak karena banyak teman sekelasnya di sana.
Mendengar itu, Gina hampir tertawa. Dia tidak menyangka setelah 3 tahun tinggal jauh dari keluarga, adiknya bahkan tidak berubah menjadi lebih baik, justru malah sebaliknya.
“Kau benar-benar berubah. Pergaulan mu di sana sepertinya membuat mu menjadi seorang yang angkuh.” ucap Gina. Suaranya lembut, namun kalimat yang di ucapkannya sangat tajam hingga menusuk hati adiknya.
Tidak terima dengan tuduhan itu, Luke menoleh dan menatap Gina dengan marah. “Apa yang kau tahu tentang teman-teman ku?!”
“Ok, aku memang tidak tahu teman-teman mu. Yang aku tahu hanyalah kau, dan aku tahu, kau sudah berubah. Bukan menjadi lebih dewasa, kau malah berubah ke arah sebaliknya.” Ucap Gina, seraya menatap tajam pada kedua mata adiknya.
"Cih, kau tahu apa tentang ku!" Umpat Luke tak terima dengan ucapan kakaknya.
"Aku akan menunggu mu selesai pertandingan hari ini. Ayo pulang ke rumah kita bersama dan kita bicara." pinta Gina. Dia memelankan suaranya dan berusaha berbicara dengan nada selembut mungkin.
Setelah mengatakan kalimat itu, Gina berbalik dan pergi ke pinggir arena tanpa menunggu jawaban dari adiknya.
"Sekarang aku mengerti apa maksud dari kata-kata Gus dulu." pikir Gina sambil berjalan menuju pinggir arena.
Gina memilih salah satu kursi kosong yang berada di antara para instruktur. Selain karena ingin menunggu adiknya, dia memang hendak menonton pertandiangan antar kelas para siswa baru.
Semua instruktur ingin melihat apa yang bisa dilakukan siswa baru, yang mendapatkan predikat terbaik dalam ujian penerimaan siswa, dalam pertandingan antar kelas hari ini.
"Minggu lalu saja, kelas A dapat memenangkan pertandingan dengan mudah. Hari ini sudah pasti akan lebih mudah lagi, kan?" Ucap salah satu instruktur pada rekan yang duduk di sampingnya.
"Seperti biasanya. Kelas A pasti akan mendominasi di dua bulan awal. Mari kita lihat lima sampai enam bulan kedepan." sahut rekannya.
"Mari kita lihat saja hari ini, sepertinya akan sangat menarik." Ucap seseorang yang baru tiba.
Kehadiaran orang itu mengejutkan semua instruktur dan siswa senior yang berada di bangku penonton.
"Pak kepala?! Anda juga menonton?"
Semua penonton akhirnya terkejut saat melihat kepala Akademi yang juga ikut hadir di tempat itu.
Sudah bertahun-tahun lamanya, kepala Akademi tidak pernah ikut menyaksikan pertandingan antar kelas seperti ini, sejak Gina lulus beberapa tahun yang lalu.
Hampir tidak ada siswa yang menarik perhatian kepala Akademi setelah Gina. Bahkan, Reinhard Bern yang terkenal di kalangan para siswa dan instruktur saja, tidak menarik minat kepala Akademi.
Tak lama kemudian, Wang Liu Gong dan Riko Sebastian masuk dari pintu utama arena dan langsung pergi menuju tempat siswa-siswi mereka berkumpul.
Ada sedikit kegemparan di sana ketika Liu Gong dan Riko bertukar posisi.
Liu Gong berdiri di hadapan barisan siswa kelas B, sementara Riko berada di hadapan siswa kelas A.
Masing-masing dari mereka akhirnya memberikan pengumuman kecil bahwa mereka akan bertukar sebagai wali kelas mulai saat itu.
Para siswa tidak terlalu keberatan mengenai pertukaran wali kelas mereka. Karena wali kelas itu sama-sama memiliki peringkat A, walaupun dengan kelas Hunter yang berbeda.
Liu Gong adalah seorang Warrior, sementara Riko Sebastian seorang Mage.
__ADS_1
Yang membuat para siswa terkejut, akan ada pertukaran siswa yang juga terjadi antara kelas A dan kelas B.
Namun, untuk hari ini, pertukaran itu hanya bersifat sementara karena Akademi harus menunggu izin wali siswa yang juga berhak menentukan perpindahan kelas.
Liu Gong meminta 2 siswa dari kelas B untuk pindah ke kelas A.
Karena khusus hari ini perpindahan akan bersifat sementara, maka Liu Gong hanya meminta kesukarelaan siswa saja.
Gordon Clarke dan Belinda Claes dengan cepat mengangkat tangan mereka dan mengajukan diri untuk pindah ke kelas A.
Wang Liu Gong langsung mengizinkan mereka.
Sementara itu, Yola Silvia yang diminta Riko untuk bergabung ke kelas B, tampak keberatan. Hal itu bisa terlihat dari wajahnya yang tampak tidak senang dengan permintaan sepihak tersebut.
Yola akhirnya bertanya, "Instruktur, kenapa harus saya? Bukankah di kelas B diminta berdasarkan sukarela?"
Riko meminta Yola Silvia untuk mendekat sebelum memberikan jawaban.
Dengan wajah simpatik, Riko berbicara, "Siswi Yola, khusus untuk mu, perpindahannya bukan bersifat sementara. Kau akan pindah secara permanen." ucap Riko pelan.
"Apa?! Kenapa saya dipindahkan?" tanya Yola dengan suaranya yang setengah berteriak saking kagetnya mendengar apa yang baru saja Riko katakan.
Riko mendesah pelan sebelum akhirnya memberi penjelasan, "Wali mu sudah memberikan izin pada kami untuk memindahkan mu ke kelas B."
Kedua mata Yola melebar mendengarnya. Dia terkejut. Yola bahkan tidak bisa menghubungi saudaranya dalam 1 bulan belakangan dan tiba-tiba Akademi bisa menghubungi kakaknya dan menurunkannya ke kelas B?
"Kebohongan macam apa ini?" pikir Yola.
Saat itu yang ada di pikiran Yola hanyalah kecurigaan atas adanya permainan orang kaya yang telah mengorbankan dirinya yang berasal dari keluarga menengah untuk di lempar ke kelas B, sementara keluarga mereka akan dinaikkan ke kelas A.
"Kau tenang dulu." Ucap Liu Gong, sambil menepuk pelan pundak Yola.
Karena Yola tak kunjung beranjak pergi ke barisan kelas B, Liu Gong akhirnya menjemputnya.
"Tapi, instruktur... Saya sudah bekerja keras untuk bisa masuk ke kelas A." Ucap Yola. Kedua matanya sudah tampak berkaca-kaca.
"Siswi Yola, tenang dulu. Mari nilai situasinya nanti dan kita bicarakan lagi setelah pertandingan ini selesai." Ucap Liu Gong yang ingin menenangkan Yola yang tampak hendak menangis.
Di saat yang bersamaan, seorang siswi yang adalah ketua kelas B, melakukan protes.
“Instruktur, kenapa Anda mengambil dua orang dari kelas kami dan hanya memberi satu pengganti?” Lucy Logan melakukan protes pada wali kelas barunya, Liu Gong.
“Kita mengambil dua juga dari mereka. Tidak usah khawatir.” Sahut Liu Gong sambil menatap malas pada siswi yang tampak galak itu.
Pada saat itu, seorang siswi masuk ke dalam gedung praktek melalui salah satu pintu.
Tubuh rampingnya yang dibaluti seragam praktek ketat meliuk-liuk indah saat dia berjalan menghampiri barisan.
Semua mata tertuju padanya. Selain karena tubuh indahnya, wajahnya yang sangat cantik itu mengundang decak kagum seluruh siswa bahkan instruktur yang hadir di sana.
"Hei, siapa dia? Apakah dia aktris atau model?"
"Apakah Akademi akan syuting iklan hari ini?"
"Dia siswi Akademi, lihat seragamnya!"
Obrolan-obrolan kecil terdengar, baik itu dari bangku penonton, maupun dari barisan yang akan menjadi peserta pertandingan.
Di salah satu barisan, seorang pria menatap wajah cantik itu dengan wajahnya yang merona. Namun saat siswi itu menatap tepat ke arahnya, Ren dengan segera mengalihkan pandangannya.
•••
__ADS_1