Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 308 - Dua Dewan Pengawas Para Dewa


__ADS_3

Ledakan sihir menghancurkan sebagian besar pusat kota Beijing, tempat di mana Anna dan dewan Ge kini berada, setelah dewan Ge melontarkan sihir penghancur pada Anna.


Sihir yang dewan Ge tembakkan itu memang memengaruhi daratan yang langsung terguncang hebat karenanya. Tapi, serangan itu masih belum cukup untuk bisa membuat Anna bergeser dari tempatnya sama sekali.


•••


"Lumayan," gumam Anna.


Anna memang bisa menahan serangan dewan Ge dengan sihir pelindung yang dipelajarinya dari dewi Lyn. Namun, salah satu tangan yang baru saja menahan serangan terasa sedikit kebas karenanya.


Anna hendak membalas serangan. Tapi serangan lain yang datang dari arah belakang, membuatnya mengurungkan niat itu.


Wussssshhhh...


Anna membungkukkan tubuhnya, menghindari tebasan sebuah sabit besar yang mengarah ke tengkuknya dengan kecepatan yang sangat mengerikan.


Ia kemudian menginjak udara yang mengeras di ujung sepatu Igigi, melontarkan tubuhnya untuk menjauhi lawan yang baru saja bergabung dalam pertarungan.


Tapi, lawan yang bersenjatakan tombak bermata sabit itu tidak memberinya ruang untuk menghidar.


Dewan pengawas para dewa Ra, yang baru saja bergabung dalam pertarungan, mengayunkan mata tombaknya dengan ganas dan pada Anna berkali-kali, tanpa memberinya waktu untuk bisa mendaratkan kedua kakinya dengan benar di udara.


°°°


Walaupun senjata yang digunakannya memiliki ukuran gagang sangat panjang dan terlihat berat, dewan Ra bisa menggunakannya dengan sangat mudah dan lincah.


Namun, Anna bisa menghindari semua serangan dewan Ra dengan mudah.


Tahu jika penyerangnya kali ini bukan hanya sekedar ingin menguji kemampuan bertarungnya seperti dewan Ge tadi, Anna mengeluarkan tombak Igigi untuk bisa mengadu kekuatan dari senjata mereka.


Craaaaannnnngggg!!!


Booooooooommmmm...!!!


Ledakan dahsyat terjadi setelah Anna pada akhirnya menangkis tebasan senjata dewan Ra dengan tombak Igigi.


Ledakan yang sangat dahsyat itu menghancurkan 90% dari wilayah kota Beijing, membuat semua bangunan dan jalanan menghilang dalam sekejap.


•••


Tidak ada pergerakan lagi setelah itu.


Dua kubu masih saling mengamati lawan di antara kabut debu tebal yang dihasilkan dari meledaknya seluruh bangunan di sekitar tempat pertarungan mereka.


Anna juga tidak menyingkirkan kabut tebal itu seperti yang biasa dilakukannya.


Ia membiarkan kabut tebal berada di sana sambil terus mengawasi apabila ada pergerakan dari dua lawan yang sedang melayang-layang di bagian depan dan belakangnya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Anna membiarkan debu tebal tetap berada di sana. Lawan yang dihadapinya kali ini sangatlah kuat, juga memiliki pergerakan yang sangat cepat.


Satu gerakan tidak berarti dilakukan, walaupun hanya untuk mengebaskan salah satu tangan menyingkirkan debu tebal, akan bisa dimanfaatkan lawan untuk menyerangnya.


Bahkan, dewa Ogun dan dewi Ezili pun tidak berani mengajak Anna berbicara. Mereka tahu, konsentrasi yang sangat tinggi diperlukan untuk menghadapi lawan sekelas dewan pengawas para dewa.


•••


Sebelum kabut tebal menghilang, dewan Ra menyerang lagi.


Ia melesakkan sabit, memisahkan sabit besar itu dari ujung tongkat dan melemparkannya lurus ke leher Anna, sementara ia sendiri bergerak memutar, menyerang Anna dengan tongkat yang baru saja terpisah dari sabit tersebut.


Anna memiringkan tubuhnya, sejajar garis horizontal, menghindari sabit yang mengarah ke lehernya, sekaligus menghindari tebasan tongkat yang mengarah ke kedua kakinya.


Dewan Ra menyapukan lagi tongkatnya ke atas, bermaksud menyerang tubuh Anna, yang juga masih bisa dihindari Anna dengan memutar tubuhnya di udara.


Anna menghentakkan salah satu kakinya, menginjak udara untuk pergi menjauh.


Ia terbang melesat menuju dewan Ge yang masih mengawasi, lalu menyerangnya dengan brutal menggunakan tombak Igigi.


Anna tahu jika dewan Ge sedang lengah. Karena itulah ia lebih memilih menyerang dewan Ge yang sebenarnya berada di tempat yang lebih jauh dibandingkan menyerang dewan Ra yang berada di dekatnya.


Wushhh... Wushhh...


Buakkkkkk...!!!


Namun, karena tidak siap menerima serangan, gerakan menghindar dewan Ge tidak terarah dengan baik hingga ia harus terkena sapuan ketiga yang mengarah telak ke kepalanya.


°°°


Hantaman batang tombak itu sangat keras.


Dewan Ge terpental jauh sampai puluhan kilometer sebelum bisa menahan laju tubuhnya di udara secara perlahan.


Tapi, Anna sudah muncul lagi di sampingnya dan nenyerangnya lagi bertubi-tubi, memukuli, menendang dan menusuk dengan mata tombak sebanyak puluhan kali, dalam waktu kurang dari satu detik.


Stab... Stab... Stab... Stab...!


Puluhan serangan itu berhasil meruntuhkan shield sihir tak terlihat yang sejak awal sudah membungkus tubuh dewan Ge.


Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat, Anna mengaragkan salah satu telapak tangannya pada dewan Ge.


"Conqueror of Darkness, part 1... Punishing Hand!"


Baaaaaaaaaaaaaaaaang!!!


Bukan hanya dewan Ge yang terpental akibat dari ledakan sihir skill Anna.

__ADS_1


Dewan Ra yang masih dalam perjalanan untuk membantu dewan Ge pun ikut terkena dampak ledakan sihir.


Ia terdorong mundur puluhan kilometer sebelum bisa menghentikan laju tubuhnya yang terseret arus energi sihir hasil dari ledakan tersebut.


•••


Anna terbang lebih tinggi, meninggalkan lokasi ledakan untuk memerhatikan apa yang baru saja terjadi dari hasil ledakan kekuatan sihirnya.


"Agak sia-sia memiliki kekuatan yang sangat besar jika membuatku takut untuk menggunakannya," ucap Anna pelan, setelah melihat kehancuran daratan Tiongkok, padahal tidak terkena langsung serangan sihirnya.


Lubang yang sangat besar terbentuk di darat. Lubang berdiameter ribuan kilometer itu, secara perlahan mulai terisi air laut yang turun ke dalam kawah yang terbentuk di daratan, yang kini sudah terkikis dalam hingga berada jauh lebih rendah dari permukaan air laut.


["Jenis sihir dewi Ann memang bukan untuk digunakan bertarung di tempat yang rapuh seperti alam semesta ini. Cuma dunia para dewa yang sudah dilapisi pelindung keabadian milik Absolut yang sanggup menahannya,"] ucap dewa Ogun.


["Kekuatan dewi Ann memang dikhususkan untuk pertarungan antar dewa di dunia para dewa. Sekarang kau tahu kan kenapa dewi Ann tidak bisa langsung bertindak?"] tambah dewi Ezili.


Anna menghela nafas panjang.


Membutuhkan dewa Erv, adik dewi Ann, untuk bisa meredam kekuatannya jika harus digunakan di luar dunia para dewa.


Kedua bersaudara itu pernah bekerjasama memusnahkan 13 malaikat tersesat yang secara kebetulan bertemu mereka di Bumi saat dewi Ann dan dewa Erv sedang mencari dewi Lyn.


Namun demikian, dewa Erv yang bisa meredam untuk mengurangi daya hancur sihir dewi Ann juga harus mengalami cidera parah dan pada akhirnya harus masuk ke pertapaan panjang untuk memulihkan diri.


"Padahal aku cuma menggunakan 10% energi Mana."


Glup...


Bulu kuduk Anna berdiri saat mengingat visi dari dewi Lyn yang dilihatnya, saat dewi Ann yang marah menghancurkan banyak galaksi padahal hanya menggunakan 5% dari energi Mananya saja.


•••


Di kejauhan, di daratan Mongolia, tempat tubuh dewan Ge mendarat setelah terkena serangan Anna, dewan Ge terbatuk-batuk darah segar dan hampir tidak bisa bangkit berdiri seandainya dewan Ra tidak datang untuk membantunya.


Cough...


"Keparat itu..."


Cough...


Sementara dewan Ge masih terus terbatuk darah setelah inti Mananya hampir rusak akibat serangan Anna, dewan Ra berusaha membantu memperbaiki inti Mana saudara kembarnya itu.


"Dimana Re? Kenapa... Uhuk... Dia tidak datang bersamamu? Keparat ini... kita harus... menghadapinya bersama... Uhuk...!"


Dewan Ge berbicara dengan susah payah. Luka dalamnya sangat parah hingga ia harus terbatuk berulang kali di sela kalimatnya.


"Aku sudah mengirimkan pesan telepati padanya."

__ADS_1


__ADS_2