Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 58 - Pengorbanan Gus Stevin & Gina Stewart


__ADS_3

Saat mereka masih dalam pertarungan, Gina merasakan bahwa Golem raksasa itu tiba-tiba merubah arah serangannya.


Tanpa melihatpun, dia tahu bahwa monster itu sedang menyerang Hunter lain yang baru saja tiba, karena sebenarnya sejak tadi ia sudah merasakan energi Mana yang berasal dari beberapa Hunter sedang bergerak menuju mereka.


Memanfaatkan kesempatan itu, Gina langsung pergi dari pundak Golem, menuju keenam siswa yang sedang berusaha untuk melarikan diri lagi dari amukan Golem berkaki satu, yang tadi diserang Gina.


Monster raksasa yang baru saja ditinggalkan Gina, kini menyerang Gus Stevin yang sudah menggunakan taunt skill nya untuk mengikat Golem tersebut agar fokus padanya.


Sambil menahan serangan Golem berkaki satu, Gina memandang ke arah lain dan melihat rombongan yang baru saja tiba. Rombongan itu adalah tim penambang yang tampak dikawal ketat oleh Liu Gong, yang membuka jalan mereka untuk pergi menuju gerbang.


Berbeda dengan 10 instruktur yang sudah berada di area itu sejak tadi yang hanya bertarung untuk mempertahankan diri dengan susah payah, Liu Gong hanya membutuhkan 1 ayunan pedang untuk membelah tubuh-tubuh Golem yang mulai menyerangnya.


Kapten tim itu terus menyerang semua Golem di depannya, untuk membuka jalan agar tim penambang yang terlemah diantara mereka dapat segera pergi meninggalkan Dungeon.


Gina merasa sangat bersyukur saat melihat mereka semua baik-baik saja.


Setelah memerintahkan tim penambang untuk pergi ke gerbang dan keluar dari sana untuk menyelamatkan diri dan meminta bantuan dari Asosiasi, Liu Gong pun pergi untuk membantu tim lain yang sudah sangat terdesak.


°°°


"Bagaimana kalian bisa menyusul ku dengan sangat cepat?" tanya Gina pada Gus Stevin yang berada agak jauh darinya.


"Rekan kita dari Asosiasi sudah membawa rombongan dalam perjalanan kembali saat kami hendak menjemput mereka. Untung saja mereka selalu mengecek alat pendeteksi." Sahut Gus Stevin, sambil terus menahan serangan Golem raksasa yang mengamuk saat melihat lawannya tampak meremehkannya.


"Syukurlah... Tapi, kau sanggup bertahan berapa lama menghadapinya?” tanya Gina yang akhirnya menyerang balik Golem berkaki satu dengan pedang di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk mengirimkan healing skill untuk 6 Hunter yang terluka.


“Aku sanggup menahannya. Bawalah mereka dan yang sedang terluka disana,” sahut Gus Stevin sambil mengarahkan dagunya pada Hunter lain yang baru saja berhasil menekan 4 Golem saat Wang Liu Gong bergabung bersama mereka.


Mendengar itu, Gina kembali fokus pada lawannya. Setelah melakukan beberapa serangan yang tak sanggup di atasi lawannya, Gina akhirnya berhasil menghujam tubuh Golem di hadapannya.


Crakkkkk!!!


Pedang itu menembus tubuh Golem dan tertancap di jantungnya.


Gina mencabut pedangnya setelah melihat tak ada tanda-tanda kehidupan lagi dari Golem yang kini berada di bawah kakinya. Ia kemudian pergi untuk membantu rekan lainnya memulihkan diri, lalu menyuruh mereka semua untuk keluar dari Dungeon.


Namun, sepertinya keberuntungan belum berpihak pada mereka.


Seperti memiliki mata yang sedang mengawasi, Dungeon tersebut mengirimkan Golem-golem lain.


Tanah di seluruh area Dungeon bergetar hebat seperti sedang terjadi gempa bumi besar.


Tanah-tanah terbelah dan tak lama kemudian, bukit-bukit batu dan seluruh bebatuan yang berada di seluruh area pertarungan bergerak dan membentuk tubuh-tubuh Golem baru.


Ada puluhan Golem baru yang kini muncul di Dungeon itu. Golem-golem itu secara bersamaan menoleh ke arah dimana Hunter-hunter berada dan berlarian menghampiri untuk menyerang mereka.


Hunter-hunter yang terjatuh akibat kehilangan keseimbangan saat terjadi gempa, berusaha bangkit berdiri kembali. Namun, saat melihat puluhan Golem berlarian menuju ke arah mereka, lutut-lutut mereka terasa lemas dan banyak dari mereka, terutama para siswa Akademi, yang jatuh terduduk kembali.


Melihat keadaan yang sebelumnya sudah mulai membaik sejak Gus Stevin dan Liu Gong bergabung, Gina kembali merasa khawatir saat melihat monster-monster kembali bermunculan.


Bahkan, jumlah monster-monster itu kini beberapa kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.


Dengan bertambahnya pasukan Golem yang ia perkirakan ada di level Hunter berperingkat C dengan jumlah yang sebanyak itu, ia tahu, mungkin akan sulit bagi mereka untuk lolos dan lari dari Dungeon.


“Kenapa monster-monster itu selalu bermunculan?” pikir Gina saat melihat keadaan yang tidak lazim pada Dungeon.


Tapi, sebagai seorang Hunter profesional, Gina berusaha untuk tetap tenang dan terus memutar otaknya, untuk memikirkan cara agar mereka semua bisa lolos dari ancaman maut di depan mata.


Sampai pada akhirnya dia melihat Gus Stevin yang masih menghadapi Golem raksasa yang berada agak jauh darinya.


Satu-satunya cara untuk lolos adalah dengan mengorbankan Gus Stevin yang bisa menggunakan taunt skill nya untuk memancing semua monster padanya.


Karena hanya dengan level Gus Stevin yang lebih tinggi dari Tanker lainnya, monster-monster itu pasti akan terpancing. Itulah satu-satunya ide yang dia miliki saat ini.


‘Gila jika kami harus mengorbankan dia.’


Gina menggelengkan kepalanya untuk menghapus ide gila yang terlintas di benaknya.

__ADS_1


Namun, saat Gina baru saja menghapus pemikiran itu, dia melihat monster-monster tersebut merubah arah lari mereka.


Semua monster itu kini pergi menuju pada satu titik tujuan, yaitu pada Gus Stevin.


Gina melebarkan matanya saat mengetahui hal itu.


“Sialan, dia memang orang yang seperti itu!”


Wang Liu Gong yang sebenarnya juga sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan siswa-siswanya, terkejut saat melihat monster-monster itu berlarian ke arah Gus Stevin.


"Dia memang gila!" umpat Liu Gong.


Walaupun dia sangat menyesali tindakan rekannya itu, namun Liu Gong tahu bahwa mereka tak boleh menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


“Semua siswa, lari menuju gerbang!” perintah Wang Liu Gong pada siswa-siswa yang tampak ketakutan.


Beberapa siswa sudah langsung menuruti perintah itu dan berlarian menuju gerbang dengan sisa kekuatan yang mereka miliki. Sementara yang lain harus diteriaki ulang untuk menyadarkan mereka dari lamunan rasa takut yang mereka miliki.


Para instruktur yang tidak ingin mengorbankan rekan mereka, yang mereka tahu ingin mengorbankan dirinya sendiri agar semua rekannya bisa selamat, masih tetap berada disana.


Mereka juga ingin agar Gus Stevin bisa selamat bersama mereka. Untuk itulah, mereka mulai menyerang monster-monster yang sudah mengerumuni Gus Stevin.


°°°


Gina akhirnya memutuskan untuk pergi ke arah kerumunan monster yang seakan sedang berebut barang diskon di supermarket.


Dia berusaha menerobos kerumunan monster dengan berlompatan di atas tubuh mereka.


Tak lama kemudian, ia akhirnya sampai di pusat kerumunan dan menerobos kedalam kerumunan itu.


Gus Stevin, yang sudah mulai kehilangan banyak energi Mana yang digunakannya untuk menahan serangan-serangan monster, terlihat mulai pucat. Seluruh wajahnya tampak memutih.


Pria bertubuh gempal itu tersenyum getir saat melihat Gina muncul di dekatnya.


Asap hitam yang sebelumnya mengelilingi area dimana Gus Stevin berada, yang terbentuk dari energi sihirnya, kini semakin gelap dan pekat saat Gina Stewart juga membantu Gus Stevin untuk memperkuat skill pertahanan dengan buff yang dia berikan.


Tidak sampai disitu, Gina juga membantu Gus Stevin untuk memulihkan dirinya yang telah terluka dalam parah, akibat menggunakan energi Mana nya secara berlebih.


“Bodoh... kau seharusnya tidak perlu kesini,” sahut Gus Stevin yang tidak mengalihkan konsentrasi pada skill nya agar tidak ada monster yang terlepas dari taunt skill miliknya.


“Kau yang bodoh. Kau akan mati dengan cepat kalau barusan aku tidak segera datang membantu.”


Gus Stevin terkekeh.


“Jadi... dengan adanya kau disini, kita berdua akan mati agak lama.”


“...”


°°°


Sementara itu, di luar kepungan Golem-golem, Cassey Lloyd adalah satu-satunya siswa yang tinggal untuk membantu instruktur-instrukturnya untuk menyerang Golem-golem, yang terikat pada taunt skill Gus Stevin, dari punggung mereka.


Ada 8 instruktur yang saat ini berusaha untuk menembus kerumunan Golem dari satu titik.


Sementara itu, 3 instruktur lain akhirnya pergi mengantarkan siswa yang mengalami syok dan tidak bisa berjalan sendiri untuk segera pergi menuju gerbang Dungeon.


Saat salah satu instruktur menyadari ada seorang siswi yang masih berada disana dan sedang berusaha membantu menyerang monster-monster, instruktur itu tampak sedikit geram.


“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tidak pergi dari sini?!” tanya Hunter Mage yang berdiri di dekat Cassey Lloyd dengan nada yang terdengar sedikit mengumpat, sambil terus memberikan serangan jarak jauh ke arah monster.


“Aku tidak bisa meninggalkan instruktur-instruktur bertaruh nyawa sementara aku lari,” sahut Cassey yang juga terus membantu melakukan serangan jarak jauh.


Hunter itu mengernyitkan dahinya saat melihat bola api Cassey yang langsung menguap bahkan sebelum berhasil menyentuh tubuh Golem.


“Serangan mu bahkan tidak akan menyebabkan dampak apapun. Cepatlah pergi!”


Instruktur berteriak memaksa.

__ADS_1


Entah dia bodoh atau ada hal lain yang sedang direncanakannya, Cassey menggelengkan kepala sambil terus-menerus menembakkan bola api dari kedua telapak tangannya.


Sampai beberapa menit kemudian dia akhirnya kehabisan energi Mana dan terengah-engah dengan wajahnya yang pucat.


°°°


Sementara itu, Wang Liu Gong yang berada di barisan depan serangan, menghancurkan beberapa Golem dan segera menusuk jantung Golem yang berserakan ditanah untuk mencegah Golem-golem tersebut mengumpulkan dan menyatukan ‘tubuh batu’ mereka kembali.


Karena, apabila jantung mereka tidak segera dihancurkan dalam waktu kurang dari 15 menit, maka tubuh-tubuh Golem akan kembali bersatu dan mereka akan pulih sepenuhnya.


Golem memang salah satu jenis monster yang sangat merepotkan.


Wang Liu Gong dan beberapa rekannya kini berdiri di atas tumpukan batu yang berasal dari bagian-bagian tubuh Golem yang berhasil mereka hancurkan.


Sudah setengah jam lebih mereka berusaha menembus kerumunan Golem yang semakin rapat akibat kekuatan penuh taunt skill milik Gus Stevin.


Namun, mereka baru berhasil menembus setengah dari kerumunan monster yang menempel pada Gus Stevin dan Gina Stewart yang berada di tengah-tengah kerumunan.


“Sialan, mereka tidak habis-habis!” umpat Davina setelah dia hampir kehabisan energi Mana.


Berada di lokasi berbeda dengan Hunter lain, Davina kini sedang berada di tengah-tengah kerumunan monster, di bagian atas tubuh mereka.


Dia sedang berusaha untuk menembus monster-monster yang menumpuk menindih Gus Stevin dan Gina Stewart di bawah mereka.


Namun, beberapa saat kemudian, monster yang tadinya seakan tersedot sebuah energi besar dan menumpuk itu, tiba-tiba bangkit berdiri dan membuat Davina hampir saja terjatuh kedalam kerumunan, andai dia tidak sigap dan cepat melompat dan pergi dari area pusat kerumunan.


•••


Saat Wang Liu Gong menyerang salah satu Golem, Golem itu tiba-tiba berbalik dan menangkis serangannya.


Wang Liu Gong dan rekan-rekannya mengumpat dan merasa sangat marah saat melihat Golem-golem yang sebelumnya memunggungi mereka, kini semuanya berbalik dan menyerang mereka.


Hunter-hunter menyerang dengan membabi buta. Mereka menyerang dengan menggunakan seluruh energi Mana yang masih dimiliki, tanpa menghematnya lagi. Hunter-hunter itu bahkan sudah tidak memikirkan keselamatan diri mereka lagi.


Berbeda dengan Hunter-hunter yang berasal dari Guild, Hunter Asosiasi memiliki rasa kedekatan yang erat dengan rekan-rekannya.


Mereka yang awalnya adalah Hunter-hunter peringkat rendah terbuang yang tidak memiliki dukungan finansial dari keluarga kaya, memiliki ikatan kuat karena bernasib sama.


Hanya dengan kebersamaan, Hunter-hunter itu dapat meningkatkan kemampuan dan peringkat mereka, walaupun jauh lebih lambat dibandingkan Hunter yang memiliki Guild. Karena itulah, mereka memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi.


°°°


Saat monster-monster itu terlepas dari taunt skill yang sebelumnya membuat mereka tidak bisa berbalik untuk menahan serangan-serangan, Hunter-hunter itu tahu jika rekannya yang menggunakan skill pasti sudah mati.


Hal itulah yang membuat Hunter-hunter itu kini mengamuk dengan sangat marah.


Sementara itu, Hinter kelas Mage yang berada agak jauh di belakang, mulai berlari mundur menjauhi monster-monster yang kini juga menjadikan mereka sebagai target.


Bukan karena ingin melarikan diri, namun mereka harus menjaga jarak karena mereka adalah Hunter yang memiliki pertahanan lemah pada serangan serangan fisik.


Cassey Lloyd yang sudah lemas karena kehabisan tenaga, akhirnya berusaha lari dengan sisa-sisa tenaganya.


Beberapa Hunter yang berada disekitarnya berusaha untuk melindunginya, namun hal itu tidak berlangsung lama saat akhirnya Golem-golem itu berhasil sampai ke hadapan mereka dan langsung menyerang Hunter-hunter tersebut.


Bukan keahlian Hunter-hunter Mage untuk bertarung jarak dekat. Hunter-hunter itu hanya berusaha untuk menghindari serangan, sambil sesekali menggunakan fire dan ice skill hanya untuk menjaga jarak dari monster-monster yang terus menyerang tanpa ampun.


Seorang Hunter yang baru saja membopong Cassey, kehilangan konsentrasinya dan membuatnya harus menerima pukulan langsung yang sangat keras.


Buggggg...!


Hunter itu terpental jauh dan muntah darah. Tulang-tulang di tubuhnya remuk terkena dampak serangan tersebut.


Sementara itu, Cassey yang jatuh terlentang di tanah, menatap pada telapak kaki besar yang tampak akan menginjaknya.


Wajahnya pucat pasi.


Cassey tadinya ingin terlihat seperti seorang pahlawan yang tidak ingin melarikan diri dari pertempuran, karena ia menebak bahwa bantuan dari luar Dungeon akan datang dengan segera.

__ADS_1


Namun, keadaan tidak berjalan sesuai yang ia inginkan.


Melihat telapak kaki besar yang sudah bergerak untuk menginjak tubuhnya itu, Cassey berteriak nyaring di sela tangisnya.


__ADS_2