
Tepat setelah Anna menyelesaikan kalimatnya, puluhan ribu benda terbang berbentuk oval sudah memenuhi langit dan mengepung mereka dari udara.
Dengan adanya ribuan kendaraan tempur terbang itu, daratan yang tertutup dengan kehadiran mereka menjadi gelap seakan awan mendung hadir di sana.
Di darat, bangsa penjajah yang sebelumnya terjatuh dari langit, langsung berbaris kembali sebelum akhirnya berlarian menghampiri pasukan kecil Anna dengan senjata lembing dan pedang di tangan.
Melihat puluhan ribu kendaraan terbang dan ratusan ribu pasukan pejalan kaki yang mengepung mereka, Anna sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ini benar-benar bukan rencana hidup yang ku inginkan,” gumam Anna.
“Ya, dewi agung?” sahut Tzullu, Nobara dan Fael bersamaan.
“Tidak apa-apa. Ini hanya sedikit menjengkelkan.” Sahut Anna, yang sebenarnya hanya memiliki tujuan hidup sebagai pebisnis komoditi hasil Dungeon. Tapi, iamalah terlibat terlalu jauh dalam pertempuran melawan para monster dan iblis.
Anna akhirnya menyadari bahwa ia bisa sampai ke tempat ini bermula dari mengejar iblis dan dua pengikutnya yang telah membunuh Ren.
'Harusnya aku tidak gegabah dan mencari mereka di Bumi saja...'
Plak...
"Dan sekarang aku harus berjibaku dengan makhluk dari dimensi lain," pikir Anna, sembari memukul kening dengan satu tangannya.
Melihat tuannya seperti dalam keadaan frustasi, Nobara memberi pendapat, “Apa kita tidak memanggil pasukan kita saja, dewi agung?” tanya Nobara, merasa pertempuran ini akan lebih cepat dimenangkan dengan adanya pasukan Elf dan Orc.
Anna menghela nafas panjang, lalu memaksakan senyumnya pada semua pengikutnya itu.
“Kali ini biar aku yang menanganinya,” sahut Anna yang setelahnya menengadahkan kedua tangannya ke langit.
'Sihir ini tidak menggunakan terlalu banyak energi Mana. Kebetulan, aku juga masih belum pernah menggunakannya.'
"Conqueror of Darkness part 3, Thousand Hands of the Goddess!"
Wush… Wush… Wush…
Sebanyak apa jumlah pasukan lawan, sebanyak itu juga kilatan telapak tangan emas, yang berasal dari tubuh Anna, terbang menyebar menuju mereka.
Setelah Anna mengucapkan mantra sihirnya tadi, pasukan kecil itu dapat mendengar suara dentuman bersahut-sahutan, bersamaan dengan meledaknya kendaraan perang dan tubuh-tubuh bangsa penjajah itu.
Sementara proses 'menghabisi' pasukan lawan itu terus terjadi, Anna tiba-tiba menghilang dari hadapan pasukan kecilnya.
__ADS_1
Kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Anna akhirnya muncul kembali di hadapan pasukannya dengan membawa sebuah kendaraan perang berbentuk oval, yang besarnya hanya seukuran sebuah mobil sedan, bersamanya.
Anna kemudian membuka gerbang ke dunia buatan lalu memasukkan benda itu ke dalam sana, bersama dengan kostum yang tadi ia kenakan.
“Apakah energi Mana nya bisa di ekstrak dewi agung?” tanya Nobara.
“Benda itu tidak untuk di ekstrak. Itu untuk teman ku,” sahut Anna.
Ia takjub dengan teknologi yang dimiliki bangsa penjajah ini, karena itu ia ingin memberikan sampel teknologi mereka untuk Miyuki nanti, siapa tahu Miyuki bisa meneliti dan membuat benda-benda serupa.
"Kami akan membuka bisnis baru dengan benda-benda itu jika semua masalah gerbang Dungeon berakhir," pikir Anna.
Walaupun sebenarnya hal itu hanya rencana dadakan yang secara tidak sengaja terpikirkan olehnya, Anna tidak tahu bahwa apa yang dipikirkannya saat ini benar-benar akan menjadi kenyataan di masa depan.
°°°
Sembari mereka berbicara, mereka juga menyaksikan ledakan-ledakan yang terjadi di udara saat ribuan telapak tangan keemasan menghancurkan seluruh kendaraan perang musuh yang berada di udara, seperti sedang menonton kembang api.
Tapi, sebelum semua kendaraan dan pasukan musuh di habisi oleh sihir Anna, tiba-tiba sesosok makhluk bertubuh hitam dengan enam tangan, muncul di langit.
Di salah satu tangannya, ia menggam sebuah pedang pendek berwarna biru tua, sementara di tangannya yang lain, masing-masing menggenggam dua bola metal biru-metalik berukuran kecil.
Ia kemudian memainkan dua bola kecil di lima tangannya. Lalu dari sana, munculah cahaya biru-metalik menyerupai bola yang terbang menyebar ke segala arah, menuju semua telapak tangan emas milik Anna. Bola-bola itu akhirnya menahan dan melenyapkan semua serangan sihir gadis itu.
Apalagi saat ia merasakan energi Mana dewa pada makhluk yang baru saja menampakkan dirinya itu.
“Dia salah satu dewa.” pikir Anna.
Anna kemudian berpaling pada semua bawahannya dan menatap mereka dengan khawatir.
"Jangan ikut campur. Dia mungkin dewa penguasa planet ini," ucap Anna, memberi peringatan pada mereka.
•••
Makhluk yang sedang berada di langit itu kemudian menuding pada Anna dengan tangan yang memegang pedang.
Ia kemudian berbicara dengan suara lantang dan sangat nyaring, namun sayangnya Anna sama sekali tidak bisa menerejemahkan kata-katanya seperti yang biasa dilakukan otaknya secara instan.
“Bicara apa dia?” tanya Anna pada Nobara, yang langsung menggelengkan kepalanya, tak mengerti.
__ADS_1
Namun, tak lama kemudian, makhluk bertubuh hitam itu muncul di hadapan Anna dan pasukannya.
“Astaga!” Pekik Anna, ketika makhluk itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya, hingga membuat Anna, juga seluruh anggota pasukan kecilnya, mundur secara refleks.
Tahu bahwa ia tidak bisa mendeteksi kecepatan makhluk itu saat berpindah dari langit ke hadapannya, Anna semakin bersikap waspada. Dari situ ia tahu, makhluk di hadapannya adalah dewa yang mungkin saja lebih kuat darinya.
Status dewa makhluk itu juga dapat terlihat dari puluhan ribu pasukan pejalan kaki yang tersisa, yang langsung berlutut saat melihat kedatangan makhluk tersebut, sembari mengucapkan dua kata yang sudah pasti di tujukan untuk menyembah makhluk agung itu.
"Igigi yang agung!" seru mereka semua.
Kendaraan-kendaraan terbang yang sebelumnya berada di langit juga langsung mendarat ke tanah, seakan tidak berani berada di tempat yang lebih tinggi dari makhluk tersebut.
"Igigi?" Hanya satu kata itu yang Anna kenal dan pernah baca dalam catatan sejarah di Bumi.
Catatan-catatan sejarah itu bermunculan di situs Asosiasi sejak gerbang Dungeon bermunculan di Bumi. Catatan itu juga di buat kembali agar para Hunter lebih mengenal makhluk-makhluk mitos di alam semesta yang entah bagaimana telah menjadi penghuni Dungeon.
"Kalau dia Igigi, apakah ini planet Nibiru? Mereka ini bangsa Anunnaki?" pikir Anna, yang tiba-tiba saja merinding.
•••
Igigi menatap Anna lekat-lekat ke kedalaman matanya, sementara Anna yang di tatap dengan tatapan seakan sedang menyelidikinya itu diam tak bergerak. Selain ngeri, ia juga merasa risih.
‘Jangan bilang dia juga kagum dengan kecantikan ku?’
“Kau!” Ucap makhluk itu tiba-tiba seraya menudinggkan tangan yang memegang pedang pada Anna.
Ucapan dan gerakannya yang sangat cepat dan tiba-tiba itu, membuat Anna dan pasukannya terkejut lagi hingga mereka secara tidak sadar kembali melangkah mundur menjauh.
'Astaga, makhluk ini suka sekali membuat orang kaget!'
“Apa dia teman Anda, dewi agung?” tanya Nobara dengan suara pelan.
Ia sebenarnya sangat marah dengan sikap makhluk itu yang sepertinya meremehkan mereka. Namun, Nobara sama sekali tidak bisa merasakan adanya energi Mana dari makhluk yang tampak sangat kuat tersebut, hingga ia berinisiatif untuk tidak menyerangnya langsung.
Bukan karena takut, namun karena ia mengira bahwa makhluk kuat itu mungkin saja teman tuannya, Anna.
"Aku sama sekali tidak bisa merasakan adanya energi Mana dari makhluk ini, sama seperti dari dewi agung. Mungkin dia kenalan dewi agung," pikir Nobara dengan polosnya.
Hal itu juga dipikirkan dengan sama persis oleh para Elf dan Orc yang berdiri di belakang Anna.
__ADS_1
“Aku tidak mengenalnya. Tapi, tolong jangan menyerangnya dan tetaplah berada di belakang ku,” sahut Anna, menjawab pertanyaan Nobara tadi, sekaligus pertanyaan yang ada di dalam benak semua pengikutnya.
°°°