
Setelah mengamati pertempuran 5 tim sebelumnya, Anna menilai bahwa perisai adalah senjata yang sangat tepat untuk anggota timnya.
“Percayalah pada ku. Semuanya gunakan perisai untuk perlindungan.” Anna bersikeras.
“Kita hanya akan bersembunyi?”
"..."
“Apakah kau punya strategi?”
“Ya, aku punya strategi khusus.” Sahut Anna tegas.
Sementara rekan-rekannya masih ragu, Lucy Logan yang sebelumnya melakukan protes dan tak setuju saat Anna di tunjuk sebagai ketua tim, malah menjadi orang pertama yang menuruti kemauan kapten tim mereka. Dia meletakkan pedangnya dan mengambil perisai.
Melihat Lucy yang sebelumnya tampak sombong itu malah menuruti permintaan ketua tim, seluruh anggota tim menatapnya dengan heran.
“Yah, sebenarnya aku juga tidak tau apa yang harus dilakukan saat melihat lima tim sebelumnya tampak kacau balau.” Ucap Lucy Logan. “Mari kita ikuti kapten tim kita… Kalau gagal, kita tinggal mencoba lagi di hari terakhir penerimaan besok.”
Setelah mengatakan itu, Lucy berjalan menuju ke tengah arena dimana posisi awal mereka untuk bersiap telah ditentukan.
Dengan agak ragu-ragu akhirnya mereka semua menuruti permintaan Anna dan memilih perisai yang merupakan senjata untuk bertahan.
Melihat seluruh anggota tim akhirnya memilih perisai sebagai senjata mereka, Anna tersenyum. “Pilihan yang tepat.” Ucap Anna sambil menepuk lembut pundak salah satu anggota timnya.
Anna kemudian mengambil senjatanya. Berbeda dengan apa yang dipikirkan anggota timnya yang mengira dia juga akan mengambil perisai, Anna memilih tombak panjang yang sama seperti yang dia gunakan sebelumnya.
Saat melihat kapten tim mereka malah memilih tombak, rekan-rekannya menjadi bingung dan ragu dengan rencana apa yang gadis itu miliki.
•••
Saat seluruh anggota tim sudah berkumpul di tengah arena, mereka mulai bertanya pada Anna.
“Mengapa kau membawa tombak?”
“Ya, bukankah kita hanya akan bersembunyi sampai akhir?”
Mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu, Anna mengangkat satu tangannya yang bebas untuk mengentikan mereka berbicara lagi.
“Mulai sekarang dengarkan aku.” Auranya tiba-tiba berubah saat dia mulai berbicara serius.
"Kalian semua ambil posisi melingkar di sekeliling ku dengan berjongkok di tanah.”
“Berusahalah sebaik mungkin untuk menangkis serangan monster jika mereka menyerang kalian, ok?”
“Jangan ada yang berdiri, hanya berjongkok diposisi kalian.”
__ADS_1
Terkejut melihat aura gadis itu yang tampak seperti seorang jendral perang di film-film laga, mereka semua mengangguk dan kemudian berjongkok dengan satu lutut mereka menjadi tumpuan di tanah.
Pada saat itu, entah kenapa mereka semua merasa yakin dengan rencana yang kapten mereka miliki, walaupun Anna belum mengungkapkan rencananya pada mereka.
Melihat posisi mereka sudah benar, Anna tersenyum. Dia kemudian menoleh pada tim penguji dan mengangkat satu tangannya.
“Kami siap!” Serunya.
•••
Seluruh anggota tim memasang kacamata virtual mereka dan beberapa saat kemudian, dalam pandangan mereka, keadaan sekitar berubah menjadi padang rumput yang luas.
Dengan 9 orang mengelilinginya dalam posisi siap untuk bertahan, Anna berdiri tegap di tengah-tengah dengan sangat gagah.
Melihat itu, penonton yang sebenarnya bingung dan tidak yakin dengan rencana apa yang sedang tim itu jalankan, bertepuk tangan memberikan semangat.
Namun saat monster-monster mulai bermunculan, penonton-penonton kembali diam dan dengan tegang, mereka menatap fokus pada layar monitor raksasa.
Saat monster-monster itu mulai bermunculan, Anna memutar-mutar tombaknya di atas kepala dengan kedua tangannya, lalu mengambil kuda-kuda bersiap untuk menyambut lawan saat melihat monster-monster, yang juga melihat mereka yang tidak bersembunyi itu kini berlarian ke arah mereka.
“Bukankah posisi kita sangat terbuka untuk diserang?” Ucap salah seorang anggota tim yang tiba-tiba menyesali apa yang mereka lakukan.
“Rileks ok, jangan khawatir. Kita akan lulus.” Ucap Anna saat melihat beberapa orang anggota timnya gemetar.
Monster pertama melompat dan menerjang ke arah tim itu.
Suara tusukan tombak yang Anna arahkan pada tubuh monster itu menggema melalui speaker besar yang menggantung di sekeliling tribun.
Anna mencabut tombaknya dan dengan gerakan memutar menghantam monster yang datang dari arah belakangnya dengan batang tombak.
Gadis itu kemudian dengan cepat mengalihkan serangannya ke samping dan menusuk kepala monster yang berada disana.
Sementara itu, monster yang datang dari arah lain terkena ciuman keras dari kaki Anna yang tepat bersarang di mulutnya.
Setiap kali tombak dan kakinya bergerak, satu monster terbelah atau hancur lalu menghilang dari layar. Tak ada satu serangan pun yang gagal mengenai monster itu.
Sementara itu, anggota tim yang diminta untuk bersiap menangkis serangan monster, terkesima saat menyaksikan gerakan indah dan lincah Anna yang tampak seperti sedang menari-nari di tengah-tengah mereka.
"Oh..."
"W-wow..."
Di tribun, para penonton menahan napas mereka sambil menyaksikan aksi memukau dari Anna yang berada di monitor besar di bagian atas tribun.
Gerakan lincahnya yang seperti sedang menari-nari membuat semua mata bergetar akibat semangat yang gadis itu tularkan melalui aksinya.
__ADS_1
Mereka merasa seperti sedang menyaksikan film aksi di bioskop alih-alih menonton ujian penerimaan Akademi.
Saat terdengar satu orang bertepuk tangan, maka seluruh penonton mengikutinya. Tribun itu menjadi ramai akibat riuh tepuk tangan penonton.
Kembali ke arena pertempuran, Anna terus melancarkan aksinya. Menusuk, membelah, dan menghantamkan tombaknya pada monster-monster virtual yang berdatangan menyerang mereka.
Beberapa monster memilih untuk menyerang orang-orang yang sedang berjongkok ditanah namun mereka juga sudah bersiap untuk menangkis serangan monster-monster itu.
‘Cranggg!’
Pukulan monster itu berhasil ditangkis salah satu anggota tim yang tiba-tiba sangat fokus dan bersemangat saat melihat aksi ketua tim mereka.
‘Crakkkk...!’
Detik berikutnya, monster itu kehilangan kepalanya saat tombak Anna menghantam dan menghancurkan kepalanya.
Anna terus menyerang dan menghancurkan kepala-kepala monster yang menerjang ke arah mereka sampai akhirnya tak tersisa satupun monster di area pertempuran itu.
Suara riuh tepuk tangan penonton kembali terdengar saat tim itu akhirnya berhasil menghabisi seluruh monster di babak pertama.
Saat Anna mengalahkan monster terakhir tadi, waktu menunjukkan 3 menit 12 detik. Itu adalah rekor, tidak, bahkan belum ada calon siswa dan tim yang pernah berhasil menghabisi seluruh monster di babak pertama ujian final itu sejak Akademi Hunter didirikan di kota C.
“Mana bossnya? Bukankah mereka semua sudah kalah?” Tanya Anna sambil melihat sekeliling.
Seluruh anggota tim menengok ke arahnya, mereka sibuk mengatur napas karena kelelahan menghalau serangan beberapa monster yang mencoba menyerang mereka.
“Waktu babak pertama adalah 10 menit. Walaupun mereka semua telah kalah, bossnya tetap akan muncul 10 menit kemudian.” Lucy Logan menjelaskan.
“Apakah kau tidak membaca buku panduan juga?” Tanya salah satu anggota tim.
“Oh... aku tidak pernah melihat hal seperti itu.” Sahut Anna dengan menyesal.
Karena kacamata virtual itu juga terhubung dengan speaker monitor raksasa, maka penonton juga dapat mendengar percakapan mereka.
Penonton yang berada di samping Gina Stewart, menoleh pada gadis itu.
“Bukankah dia kakaknya?” Mereka berbisik-bisik.
“Oh... hahaha... a-aku tahu kalau dia akan berhasil jadi aku tidak memberi tahu hal itu...” Ucap Gina Stewart malu-malu saat mengetahui arti tatapan orang-orang di sekitarnya.
Tapi, Gina juga sebenarnya sangat terkejut dengan aksi yang telah ditunjukkan Anna. Dia tidak mengira jika Anna bisa mengalahkan semua monster itu seorang diri.
Bahkan dia tadi mengira bahwa Anna tidak akan lolos ujian kedua.
Gina pada awalnya hanya mau mengantarkan dan menemani Anna, hanya untuk membuat gadis itu mengerti bahwa untuk dapat diterima di Akademi akan sangat berat.
__ADS_1
Tapi kini ia tampak sangat terkejut dengan kemampuan bertarung Anna yang memukau. Bukan hanya dirinya, tapi juga semua penonton yang berada di tribun benar-benar terkejut dibuatnya.
•••••••