
Bagian 3 : Awal Pertempuran
☆ ☆ ☆
Di sebuah dojo pribadi di Kyoto, Jepang.
Seorang wanita muda berjalan dengan sangat hati-hati menghampiri seorang pria paruh baya yang baru saja menyelesaikan latihannya.
Sudah 6 bulan lamanya pria paruh baya tersebut menutup diri untuk melakukan latihan rutin demi meningkatkan teknik berpedangnya.
Sejak ia merasakan kekalahan pahit dalam pertarungan adu kekuatan 11 tahun lalu, Kenichiro Tanaka mulai melatih ilmu berpedangnya lagi dengan menutup diri selama 6 bulan dalam setiap tahun, selama 9 tahun belakangan.
Hanya dengan itulah dia dapat sedikit melupakan kenangan pahit tersebut.
°°°
Kenichiro menyerahkan katana nya pada wanita muda yang duduk di hadapannya. Ia kemudian mengambil handuk putih yang wanita itu bawa juga bersamanya.
Setelah mengembalikan katana itu ke dalam selongsongnya, wanita muda menghampiri sebuah meja kecil, lalu membawanya ke hadapan Kenichiro yang masih dalam posisi seiza setelah menyelesaikan latihannya.
Setelah meletakan meja kecil di hadapan ayahnya, Eiko Tanaka menuangkan arak hangat ke dalam cawan kecil dan mendekatkannya pada pria paruh baya tersebut.
Kenichiro mengambil cawan itu dengan perlahan. Ia kemudian mengangkat cawan di tangannya dan mengarahkannya pada sebuah lukisan besar di salah satu dinding ruangan, seakan ingin mengajak sosok di dalam lukisan tersebut untuk bersulang.
Setelah Kenichiro membungkuk dalam seraya mengangkat cawan arak dengan kedua tangan sampai ke posisi lebih tinggi dari kepalanya, ia kemudian menghabiskan isi cawan tersebut hanya dalam satu tegukan.
Dojo pribadi yang cukup luas itu begitu hening.
Kedua orang yang berada di dalamnya terlihat melakukan beberapa aktifitas, namun mereka melakukannya tanpa berbicara sama sekali.
Eiko sibuk mengemasi katana ayahnya ke dalam sebuah kotak kayu besar, sementara Kenichiro mengosongkan guci arak nya.
Setelah diam beberapa lama lagi di posisinya semula, Kenichiro akhirnya bangkit berdiri dan pergi ke sebuah bangunan yang berada tepat di belakang dojo pribadinya, untuk membersihkan diri di dalam sebuah onsen.
Sementara itu, setelah melihat ayahnya pergi ke pemandian pribadinya, Eiko memanggil 6 pelayan yang sejak tadi menunggu di luar dojo untuk masuk dan membersihkan seluruh lantai ruang latihan.
Lokasi dojo pribadi itu terletak di tengah-tengah hutan bambu Arashiyama, yang pada zaman dahulu merupakan salah satu objek wisata terkenal di Kyoto.
Sejak gerbang-gerbang Dungeon bermunculan dan monster-monster menginvasi manusia, hutan bambu ini merupakan salah satu tempat para penduduk Kyoto untuk bersembunyi.
Namun, saat monster-monster dapat mengendus keberadaan mereka, banyak juga penduduk yang pada akhirnya tewas di tempat ini sebelum akhirnya para Hunter yang baru saja mendapatkan kekuatan mereka bahu membahu membersihkan seluruh hutan dari monster.
Karena banyak kematian yang terjadi di hutan bambu ini, akhirnya tempat ini dijadikan tempat keramat oleh warga Kyoto.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, 10 tahun yang lalu, Kenichiro membeli seluruh kawasan hutan bambu yang sudah di tutup dari para wisatawan, lalu ia membangun sebuah dojo besar di tengah area hutan bambu untuk tempatnya melakukan latihan rutin dan menutup diri dari dunia luar.
°°°
Kenichiro baru keluar dari tempat pemandiannya 1 jam kemudian.
Dua orang pelayan langsung menghampiri Kenichiro dan membawanya pergi ke sebuah limosin yang sudah menunggu di depan dojo.
Setelah berada di dalam kendaran dan mereka sudah bertolak dari tempat itu, Kenichiro untuk pertama kalinya membuka mulut dan berbicara pada putrinya.
“Apakah ada berita baru?”
“Keisuke Sato-San mengirimkan pesan berulang kali untuk mengundang kita pergi ke Tokyo,” sahut Eiko dengan suara yang lembut.
Eiko adalah anak tunggal dari Kenichiro dan merupakan seorang putri cantik dengan sikap lemah lembut dan juga sangat ramah pada semua orang, tanpa terkecuali.
Setiap Kenichiro melakukan penutupan diri untuk berlatih, Eiko akan menggantikannya sebagai kepala keluarga dan mengurus seluruh bisnis keluarga Tanaka yang dapat ia lakukan dengan sangat baik.
"Berulang kali?"
"Ya, ayah. Keisuke Sato-San sudah mengirimkan pesan sejak dua bulan yang lalu. Keisuke Sato-San bahkan sudah menelepon saya sebanyak tiga kali."
“Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Keisuke Sato-San tidak memberi tahu, beliau mengatakan pada saya akan memberitahu saat ayah keluar dari pelatihan tertutup."
“Ya, ayah. Akan saya hubungi sekarang.”
Kenichiro mengangguk-anggukan kepalanya, lalu ia membuka jendela di sampingnya untuk membiarkan udara segar yang di hasilkan dari aroma hutan bambu masuk dan memenuhi ruang belakang limosin yang sedang membawa mereka untuk kembali ke kediaman Tanaka.
Setelah mengirimkan pesan pada Keisuke Sato, Eiko mengembalikan ponsel ke dalam tas tangan, lalu ia berbicara lagi pada ayahnya dengan pelan.
“Ayah, boleh saya bertanya?”
Kenichiro menoleh kembali pada putrinya, “Tentu, apa yang ingin kamu tanyakan?”
Eiko menganggukan kepalanya sekali sebelum berbicara, “Kalau saya boleh tahu, lukisan siapakan yang berada di ruang latihan ayah?”
Kenichiro tersenyum lembut pada putrinya. Ini adalah kali pertama Eiko menanyakan siapa wanita cantik yang berada di dalam lukisan besar yang terpajang di ruang latihan Kenichiro.
Lukisan itu adalah lukisan yang di lukis oleh seniman nomor satu Jepang, yang hanya di lukis dari ingatan yang Kenichiro sampaikan padanya.
Eiko sendiri sebenarnya sudah sejak lama memiliki rasa penasaran tentang siapa wanita yang menjadi objek lukisan tersebut.
Walaupun lukisan itu hanya berada di ruang latihan ayahnya dan tampak selalu di kagumi dan disukai Kenichiro, namun mendiang ibunya juga tampak sangat tidak keberatan dengan pemujaan ayahnya pada sosok wanita dalam lukisan tersebut.
__ADS_1
“Dia adalah seorang dewi yang menyelamatkan ayah dan dunia.” Sahut Kenichiro setelah diam agak lama, mengenang penyelamatnya tersebut.
Eiko menganggukkan kepalanya lagi dengan gerakan pelan. Ibu nya juga pernah memberitahu bahwa jika bukan karena wanita itu, ayahnya mungkin tidak akan pernah kembali dari dungeon break yang menghancurkan hampir seluruh wilayah Asia, terutama wilayah Asia Tenggara, 11 tahun yang lalu.
“Apakah beliau masih hidup, ayah?”
Wajah rileks Kenichiro tiba-tiba berubah. Eiko dapat melihat kesedihan di kedua mata ayahnya.
Kenichiro menatap Eiko lekat-lekat seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Ayah tidak tahu. Saat kami tersadar, kami semua berada di dalam reruntuhan bangunan yang sepertinya telah mereka susun dengan sangat baik, untuk melindungi kami.” Kenichiro menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, "Sejak saat itu, ayah tidak pernah bertemu atau melihatnya lagi."
Kenichiro kembali terkenang pada kejadian tersebut. Walaupun ia pada akhirnya pingsan saat wanita itu sedang bertarung dengan sosok-sosok monster yang sangat mengerikan itu, namun ia sempat melihat bagaimana wanita itu dan rekannya mengakhiri pertempuran mereka.
Pada saat itu, sang wanita terlihat menggunakan kekuatannya untuk meledakkan seluruh area dimana semua monster pengeroyoknya berada, sementara sang pria membuat dinding perlindungan kokoh yang melindungi seluruh daratan dari kehancuran total yang akan wanita itu bawa bersamanya.
Pada saat itulah Kenichiro kehilangan kesadarannya dan saat ia terbangun, ia melihat seluruh bagian sebuah negara rata dengan tanah. Pelindung yang sang pria buat ternyata hanya bisa menahan agar pulau tersebut tidak menghilang dari muka Bumi, namun tidak dengan seluruh bangunan dan benda apa pun di atasnya.
Hanya puing-puing bangunan yang melindungi dirinya dan rekan-rekannyalah satu-satunya penggalan properti yang tersisa di negara tersebut.
°°°
Limosin yang mereka kendarai akhirnya memasuki kawasan wilayah keluarga Tanaka, saat ponsel di dalam tas tangan Eiko berbunyi.
Melihat siapa yang telah memanggilnya, Eiko langsung menerima panggilan tersebut setelah dering kedua.
Kenichiro kembali menatap kearah luar jendela saat putrinya menerima panggilan telepon. Pria paruh baya itu menghirup dalam-dalam aroma bunga sakura yang baru saja bermekaran di sepanjang jalan yang akan membawa mereka ke gerbang besar kediaman keluarga Tanaka.
Namun, Kenichiro tiba-tiba terbatuk saat ia menarik nafas dengan salah ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan yang sedang dilakukan putrinya di telepon.
Bahkan, Kenichiro yang biasanya berpembawaan tenang, langsung meminta telepon dari tangan putrinya.
"Keisuke. Ini aku."
《"Tanaka-San...,"》
"Siapa yang menculik Sato-San?"
Ada jeda beberapa detik sebelum Keisuke yang berada di sisi lain panggilan berbicara kembali.
《"Ayah sudah menghilang sejak lima bulan yang lalu dan kami belum tahu siapa yang menculik ayah. Kami juga tidak menemukan jejaknya sama sekali selain sebuah surat yang di tulis dengan menggunakan darah ayah, Tanaka-San."》
Kenichiro diam agak lama. Kedua kelopak matanya berkedut beberapa kali, saat ia mengingat sahabat baiknya itu.
"Kami akan segera pergi menemui mu!"
__ADS_1
•••••••