
Di dalam luasnya hutan belantara.
3 makhluk anggun tampak berjalan dengan mengendap-endap melewati akar-akar pohon besar yang juga menjadi tempat persembunyian mereka selama ini.
Sudah 13 hari berlalu sejak ketiganya berada di wilayah musuh untuk melakukan tugas mereka untuk mengamati perubahan yang terjadi pada suku pesaing mereka.
Mereka sebenarnya ditugaskan untuk memata-matai keadaan lawan dan diminta untuk segera kembali saat sudah memastikan apa yang sedang terjadi disana, karena sudah cukup lama musuh mereka tersebut meninggalkan perbatasan yang harusnya mereka jaga.
Namun, setelah selesai dalam penyelidikannya, 3 makhluk itu tidak bisa pergi dan kembali dari wilayah musuh karena wilayah tersebut kini telah berada dalam situasi yang mereka ketahui sebagai zona perang.
Eleanor, Elf wanita, menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada dua saudara laki-lakinya.
“Kau mendengar sesuatu?” Tanya Fael, saudara tertua, dengan suara pelan.
Eleanor mengangguk dan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya. Dengan kelebihannya yang memiliki pendengaran yang sangat tajam, Eleanor dapat mendengar sebuah gerakan, walaupun berada pada jarak yang lumayan jauh. Eleanor dapat mendengar suara apapun yang berjarak 500 meter darinya.
Fael, Elf yang memiliki keahlian bertarung jarak dekat, dengan refleks merogoh pinggangnya dan mengeluarkan pedang pendek dari selongsongnya.
Sementara itu, saudara bungsu mereka, Glynka, bergegas memanjat salah satu akar besar untuk memantau keadaan sekeliling.
Dari tempatnya tadi, Glynka kembali melompat tinggi dan mendarat di sebuah dahan yang cukup besar.
Setelah mendapatkan posisi yang bagus untuk memantau keadaan di dalam hutan itu, ia kemudian menoleh pada Eleanor yang kemudian menunjukkan jarinya pada sebuah arah.
Glynka mengikuti arah tersebut dan memandang kesana dengan memicingkan kedua matanya.
Glynka memfokuskan energi sihir di kedua matanya. Kelebihan Glynka adalah pengelihatannya, yang biasa melihat dengan jelas hal apapun yang masih berada dalam jarak 500 meter darinya. Namun, dengan menggunakan energi sihir, pengelihatannya dapat meluas sampai dengan jarak kurang lebih 1 kilometer.
Selain memiliki kelebihan dalam jarak pandang, Glynka juga ahli dalam menggunakan panah.
Sambil berbicara pelan untuk memberitahukan keadaan dikejauhan, Glynka mengambil busur dan 3 anak panah dari punggungnya.
“Ada tiga pengintai yang datang ke arah kita dan sebuah pasukan yang sedang menunggu agak jauh dari mereka.”
“Berapa banyak pasukannya?” Tanya Fael.
Glynka diam sejenak untuk menghitung jumlah lawan.
“Dua puluh.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Glynka menarik busurnya, lalu melepaskan 3 anak panahnya.
Glynka masih berada di tempatnya untuk mengamati pasukan musuh. Ia tidak memperhatikan 3 Elf pengintai yang menjadi sasaran ketiga anak panahnya karena ia tau tembakannya pasti mengenai 3 pengintai itu.
Glynka kemudian mendecak saat melihat 20 Elf dikejauhan mulai bergerak.
“Mereka memiliki Elf yang juga punya keahlian seperti Ele.” Ucap Glynka. "Mereka sekarang sedang bergerak ke arah kita." Tambahnya.
Glynka tadi memantau musuh untuk mengetahui apakah mereka akan menyadari bahwa ketiga pengintai itu telah mengalami penyergapan. Sialnya, mereka ternyata menyadarinya karena langsung bergerak saat ketiga pengintai itu jatuh dari dahan pohon saat mati tertembus anak panah yang dilepaskan Glynka.
"Aku akan membakar mereka semua." Ucap Eleanor.
Fael menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak tau seberapa kuat mereka sekarang." Ucap Fael mengingatkan.
Jika musuh yang hanya sekelas prajurit itu masih dalam keadaan normal, sudah tentu Eleanor dapat memusnahkan mereka sendiri hanya dengan beberapa rapalan mantra.
Namun, dari hasil penyelidikan yang mereka dapatkan, Elf musuh dari kelas prajurit hingga kelas pemimpin, nampaknya bertambah kuat setelah tubuh mereka mendapatkan kekuatan yang mereka masih belum tau dari mana datangnya.
“Ayo kita pergi menjauh sekarang.” Ucap Fael lagi.
Glynka masih diam ditempatnya. Ia kemudian menoleh ke arah yang berlawanan dari datangnya rombongan musuh.
“Kita sudah berada di dekat batas wilayah zona perang. Aku tidak bisa melihat apapun di arah yang berlawanan dengan pasukan itu.” Ucap Glynka memberitahu keadaan mereka.
Fael mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan jika perbatasan zona perang yang ia tau tidak bisa dilewati itu, kini membatasi ruang gerak mereka.
“Berapa jauh kita bisa pergi?”
“Mungkin seratus kaki.”
Fael diam sesaat sebelum kembali berbicara.
"Kalau begitu, ayo bertarung. Kebetulan aku ingin menguji kekuatan mereka."
__ADS_1
Walaupun mereka sedang dalam keadaan terdesak, namun Fael dan Glynka berbicara dengan tenang seolah keadaan mereka yang sebenarnya genting itu, bukanlah sebuah masalah berarti.
Mereka juga tidak ragu untuk berbicara dengan suara yang agak nyaring, karena percuma mereka berbicara dengan berbisik saat ada Elf yang memiliki pendengaran tajam juga di pasukan musuh.
Sebenarnya, bukan karena mereka yakin bisa bertarung dan mengalahkan semua lawan yang sedang mendekat, hingga mereka juga bersikap seakan meremehkan pasukan lawan. Namun, karena Elf pada dasarnya sudah memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Apalagi, mereka bertiga adalah Elf petarung yang memiliki kemampuan diatas Elf petarung rata-rata.
Elf selalu berpikir bahwa mereka tidak akan tau hasilnya jika mereka tidak mencobanya. Selama mereka belum bisa menebak hasilnya, mereka selalu memiliki sebuah keyakinan bahwa mereka akan bisa keluar dari sebuah situasi yang mendesak.
“Hanya untuk berjaga-jaga jika hal buruk terjadi. Glyn, kau pergilah menjauh sampai ke batas zona perang. Lakukan serangan jarak jauh dari sana.” Perintah Fael.
“Baiklah. Tapi, aku hanya memiliki 6 anak panah tersisa.”
“Simpan dan hanya gunakan saat keadaan memungkinkan. Aku dan Ele akan berusaha mengurus mereka terlebih dulu.”
“Ya. Hati-hati.” Sahut Glynka dengan tenang. Ia kemudian melompat dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Hati-hati.” Ucap Eleanor setelah ia melihat adiknya menghilang di balik pohon besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kata-katanya tidak ia tujukan pada Glynka, namun pada Fael.
“Tentu. Ayo bertahan sampai sihir pembatas zona perang ini terbuka.” Sahut Fael. Ia kemudian pergi ke arah yang berlawanan dari arah Glynka pergi. Ia bergerak ke arah pasukan musuh yang juga sedang bergerak menuju tempat keberadaan mereka.
Eleanor melompat ke atas akar pohon. Ia kemudian menatap ke atas untuk mencari tempat bersembunyi yang aman baginya.
Pohon-pohon di hutan itu memiliki dahan yang sangat besar dan juga batang yang tinggi.
Ukuran tiap batang pohon yang berada disana mungkin akan sebesar pelukan 20 manusia dewasa.
Fael akhirnya berhenti dan bersembunyi dibalik pohon. Ia mencabut sebuah pisau dari pinggangnya.
Dengan sebuah pedang pendek di tangan kanan dan pisau kecil di tangan kirinya, Fael berdiri diam disana menunggu datangnya musuh.
Sekitar 10 menit kemudian, sosok Elf bertubuh kekar tiba di dekat persembunyian Fael.
Elf yang memiliki kulit tubuh berwarna ungu tua itu memandang sekelilingnya.
Bukan karena telah merasakan kehadiran musuh disana, ia memang selalu berhenti saat sudah berjalan beberapa puluh meter hanya untuk memeriksa keadaan disekitarnya, sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.
Turut bersamanya, ada 4 Elf lain di belakangnya.
Elf sangat ahli dalam menyamarkan energi sihir.
Karena itulah, Elf bertubuh kekar tadi, langsung kehilangan salah satu tangannya saat tidak menyadari serangan tiba-tiba yang dilakukan Fael, saat ia melewati sebuah pohon.
“Argh...!”
Setelah memutuskan salah satu lengan musuh, Fael menikamkan pisaunya ke dada lawan.
Namun, serangannya itu dapat dihindari lawannya yang dengan sigap melompat dan pergi menjauh.
Walaupun sempat melompat mundur karena serangan kejutan tadi, kini 4 Elf yang tadi berjalan di belakang Elf yang baru saja kehilangan salah satu lengan, maju bersama dan menyerang Fael yang tampak bernafsu ingin membunuh salah satu rekan mereka.
Menyadari datangnya serangan dari arah belakangnya, Fael menebaskan pedangnya untuk menjaga jarak dari musuh, sebelum ia akhirnya melompat mundur.
Keempat Elf bertubuh gelap mengejarnya.
Mereka tidak ingin memberikan kesempatan pada Fael untuk menjaga jarak. Mereka tau, ada Elf penyihir bersamanya. Jika jarak mereka terpaut terlalu jauh, tentu saja akan digunakan Elf penyihir untuk melakukan serangan jarak jauh.
Apa yang 4 Elf itu pikirkan sangat tepat. Mereka terhindar dari rencana serangan jarak jauh Eleanor yang sedang bersembunyi di suatu tempat di atas pohon sambil menunggu kesempatannya untuk menyerang.
Namun, tidak demikian dengan Elf yang tadi kehilangan salah satu lengannya. Ia yang berada agak jauh dari rekan-rekannya, terdengar sedang berteriak-teriak kesakitan.
Tubuh Elf itu terbakar akibat serangan jarak jauh yang Eleanor berikan padanya.
Api berwarna biru membakar habis seluruh tubuh Elf malang tersebut dengan sangat cepat.
Namun, seakan tidak terganggu dan tidak memperdulikan apa yang telah menimpa rekannya, 4 Elf terus menyerang Fael.
Fael menggunakan pisau kecil di tangan kirinya untuk menangkis serangan-serangan dari pedang pendek lawan yang datang padanya dengan bertubi-tubi, sementara ia menyimpan tangan kanannya yang memegang pedang pendek di belakang tubuhnya.
Hanya dengan melihat apa yang Fael lakukan, 4 Elf itu tau jika lawan mereka akan sangat berbahaya jika harus dihadapi dengan 1 lawan 1.
Fael dengan mudah dapat menangkis serangan mereka hanya dengan satu tangan yang menggenggam pisau.
Jika mereka berhadapan 1 lawan 1, tentu saja pisau itu tidak digunakan untuk menangkis serangan, namun sudah pasti akan digunakan untuk menyerang mereka.
__ADS_1
Setelah sibuk menangkis serangan lawan-lawannya selama beberapa waktu, akhirnya Fael melihat celah yang salah satu Elf berikan. Pada saat itu, dengan cepat ia melakukan serangan balik.
Pedang di tangan kanannya, yang sejak tadi hanya berada di belakang tubuhnya, bergerak cepat dan menebas leher Elf yang tanpa sengaja memberikan celah untuk diserang.
“Syatttt...”
Apa yang baru saja terjadi pada salah satu Elf itu, membuat sebuah celah besar.
Terkejut saat serangan Fael membinasakan rekan mereka, pada saat itu 3 Elf lain tanpa sengaja memberikan jeda serangan saat menoleh pada kepala rekannya yang melayang jatuh ke tanah.
Kesempatan itu digunakan Fael untuk melompat dan menjauhi mereka.
Pada saat itu, 3 bola api kebiruan melesat cepat dan bersarang tepat pada tubuh ketiga Elf.
“Crass... crasss...”
Bersamaan dengan suara api yang membakar tubuh, ketiga Elf berteriak dengan suara pilu menghadapi kematian mereka.
Fael tidak diam untuk melihat keadaan lawan yang sudah bisa dipastikan akan menemui ajal mereka tak lama lagi.
Ia memandang sekelilingnya dan melihat 15 Elf yang berdiri mengepungnya. Sepertinya, suara dari pertarungannya menghadapi 4 Elf tadi mengundang semua lawannya yang tadi bergerak dengan kelompok kecil, datang ke tempat itu secara bersamaan
Walaupun Fael berdiri dengan jarak yang agak jauh dari musuh, namun Eleanor tidak gegabah dan langsung menyerang dari jarak jauh.
Lawannya terlalu banyak dan berdiri dengan jarak yang terpisah agak jauh. Sangat sulit bagi Eleanor untuk menyerang lawan yang terpisah. Dan lagi, jika serangannya tidak bisa langsung menghabisi semua musuhnya, mereka pasti akan mengetahui posisinya bersembunyi dan langsung menyergapnya.
Karena itulah, Eleanor masih menunggu beberapa saat, sampai akhirnya 6 Elf tumbang dengan masing-masing lubang di tenggorokan mereka akibat serangan jarak jauh yang baru saja Glynka lesakkan.
Eleanor merapalkan mantranya. Sesaat kemudian bola api biru muncul dari kedua telapak tangannya. Ia kemudian mengarahkan telapak tangannya kedepan, lalu dari masing-masing telapak tanganya, 2 bola api biru melesat terbang menjauh.
Pada saat itu, Fael juga sudah bergerak cepat. Memanfaatkan serangan kejutan yang dilakukan Glynka, ia melesat pada salah satu Elf yang konsentrasinya terganggu saat melihat 6 rekannya mendapatkan serangan kejutan.
“Slash...!”
Pedang pendek Fael berhasil memisahkan kepala salah satu Elf dari tubuhnya.
Situasi sangat berpihak pada Fael. Setelah Fael berhasil membunuh salah satu Elf, 4 bola api Eleanor kembali membuat Elf lain kehilangan fokus saat melihat rekan-rekannya yang lain terbakar.
Fael bergerak cepat menyerang Elf yang paling kehilangan fokusnya dan ia berhasil menebas leher 1 Elf lagi.
Hanya ada 3 musuh yang tersisa.
Fael melemparkan pisau di tangan kirinya yang kemudian bersarang di tenggorokan musuhnya. Setelah melemparkan pisaunya, tanpa melihat dan menunggu hasil serangannya, Fael bergerak menuju Elf lain.
“Tangggg!”
Elf itu melihat kedatangan Fael dan dengan cekatan menangkis pedang yang mengarah ke lehernya.
Namun, tangan kiri Fael yang terdistorsi oleh energi sihir sudah bergerak cepat menuju tubuh Elf tersebut.
“Bammmm...!”
Tubuh Elf terpental saat menerima pukulan keras yang menghancurkan tulang di dadanya. Elf yang baru mendapat pukulan dengan energi sihir barusan, sudah bisa dipastikan akan tewas beberapa saat kemudian.
Fael kembali bergerak. Ia kini melesat pergi menuju Elf terakhir yang tersisa.
Namun, Elf terakhir itu tampaknya tidak siap untuk bertarung. Ia lari menjauh saat melihat Fael sedang berlari cepat menghampiri.
Fael terlalu kuat dan terlalu cepat dibandingkan Elf malang tersebut. Hanya beberapa meter kemudian, Fael sudah berlari disamping Elf yang sedang berusaha melarikan diri itu.
Dengan mudah, Fael menebas leher Elf terakhir.
Setelah selesai dengan pekerjaannya. Fael memandang sekeliling.
“Untung mereka tidak memiliki Elf penyihir.” Pikir Fael.
Fael kini tau seberapa bertambah kuatnya Elf musuh yang hanya berkelas prajurit. Mereka memang bertambah kuat, namun masih terlalu lemah untuk menandingi Fael.
Sambil menunggu Eleanor dan Glynka, Fael memeriksa tubuh Elf yang tidak hangus terbakar oleh api Eleanor.
Dia merasakan energi Mana aneh yang berada di tubuh mayat-mayat musuh.
“Apakah energi Mana itu yang membuat tubuh mereka menggelap dan membuat kulit tubuh mereka jadi berwarna ungu?” Pikir Fael sambil mengorek-ngorek mayat di hadapannya dengan ranting di tangannya.
Pada saat itu, Fael mendapatkan sebuah kejutan dan segera melemparkan ranting yang digunakannya untuk memeriksa mayat Elf.
__ADS_1
•••