
"Tapi, ini Dungeon peringkat B, kan?"
Gina menggelengkan kepalanya. "Tidak lagi sejak Dinosaurus dan makhluk di atas bukit itu menjadi penghuni Dungeon,"
“Monster-monster berkulit merah muda yang memegang busur dan tombak itu memiliki energi sihir yang sangat kuat. Aku tidak tahu dengan yang menunggangi Ty-Rex, tapi ketiga makhluk berkulit merah tua itu jauh lebih kuat lagi.” Sahut Gina.
“Sial..., apakah kita akan mati disini?”
“Padahal kita baru saja memulai karir...”
Terdengar kalimat-kalimat keputusasaan terucap dari mulut-mulut para Hunter setelah mendengar penjelasan dari ketua guild mereka barusan.
"Tenanglah. Aku mengatakannya bukan untuk menakut-nakuti. Aku hanya ingin kita berhati-hati," ucap Gina saat melihat rekan-rekannya salah mengartikan kata-katanya tadi.
“T-tapi... Apa alasan monster-monster itu memantau kita? Kenapa mereka tidak langsung menembakkan panah saat melihat kita diam seperti ini? Harusnya posisi mereka sangat bagus untuk menembak dari atas sana.”
"Ya. Apakah mereka juga memiliki kecerdasan seperti manusia? Apakah mereka memang akan berpikir untuk memantau kita?"
Gina menatap dua orang yang baru berbicara sambil mendesah pelan. "Kalian berdua belum melihat bagaimana Orc penyihir bahkan sangat cerdas dan sebenarnya bisa di ajak berbicara," sahut Gina dalam hatinya. Ia tentu tak akan memberitahukan rahasia itu pada mereka.
Namun, jika ia tidak mengatakan alasannya, mereka pasti akan terus mempertanyakan mengenai penjelasannya tadi. Tapi, Gina lebih memilih tidak ingin mengatakan alasan bahwa monster-monster itu mungkin hendak mempermainkan mereka, karena takut akan menjatuhkan mental rekan-rekannya.
'Yah, inilah tantangan ku sebagai ketua guild.'
"Kita tiarap dulu. Raptor dan monster terbang akan datang," ucap Gina, tanpa menjawab pertanyaan tadi.
Semua anggota tim menuruti perintah itu dan tiarap.
Gus Stevin menatap Gina dengan kagum saat ia tahu Gina dapat merasakan energi sihir monster dari jarak yang masih jauh, tidak seperti dia tadi yang hanya memperkirakan waktu kedatangan para monster.
'Hunter peringkat SS memang memiliki status sense yang luar biasa.'
“Mungkinkah mereka ingin menyandera kita?”
Semua orang menoleh pada Hunter yang baru saja mengatakan kalimat itu.
Gina terkejut dengan pertanyaan tersebut. 'Menyadera' adalah jenis pilihan kata yang mirip dengan kata 'mempermainkan' yang bisa saja menjatuhkan mental tim.
“Kalau memang seperti itu...," Philip mulai berbicara, memberikan idenya, "Kita harus diam dan menahan mereka di sini sementara salah satu di antara kita pergi keluar untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Hunter di luar sana. Mereka bisa meminta bantuan dari kota-kota lain.” Ucap Philip yang kemudian menoleh ke kanan kiri seakan mencari persetujuan rekan-rekannya.
"Kau benar. Kita juga masih memiliki tuan Jung dan avatar hunter, kan? Mereka pasti bisa membantu. Setahu ku, mereka juga tidak memiliki jadwal raid." Sahut salah seorang Hunter.
__ADS_1
"Ya. Hanya tuan Bimo yang sedang melakukan raid." Sahut Hunter lain.
Pada saat itu, Raptor dan Pterodactyl kembali melintas di kejauhan dan keluar dari Dungeon.
Setelah melihat monster-monster tersebut, para Hunter akhirnya berdiskusi untuk membahas ide yang telah Philip berikan tadi.
"Gina, kau masih tidak memiliki ide?" tanya Gus.
Gina menggelengkan kepalanya, "Kita hanya harus menunggu."
"Menunggu apa? Tuan Jung dan avatar hunter datang menyelamatkan? Apakah kita memiliki waktu untuk itu?"
"Gus, kau tidak tahu. Kita tidak punya pilihan."
"Gina, kenapa kita tidak mencobanya saja? Kita bisa berlari sambil saling melindungi." Davina yang berada di dekat mereka juga ikut memberi saran.
Gina menundukan kepalanya, membenturkan pelan keningnya yang berada di balik helm ke tanah di hadapannya.
"Aku juga akan berpikir seperti itu jika aku belum pernah masuk ke Dungeon peringkat A." Ucap Gina pelan.
"Apa? Kau pernah..."
Pada saat itu, dua Hunter tiba-tiba berdiri. Mereka adalah dua kawan yang kebetulan diterima sebagai anggota guild.
Dua Hunter itu langsung berlari dengan cepat, menggunakan seluruh sisa energi Mana yang mereka miliki.
Namun, baru beberapa langkah saja mereka meninggalkan anggota tim, kepala mereka hancur bahkan tanpa mereka sadari.
Crassshhhh!!! Bannnnggg!!!
Anak panah menghancurkan kepala kedua Hunter tersebut dan menembus jauh sampai menghancurkan batu karang di kejauhan.
Semua Hunter yang melihat kejadian itu memiliki reaksi sama. Mereka hanya bisa ternganga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Semua orang terdiam, kecuali Gina.
"Itu yang ku maksud dengan kita harus menunggu." Gumam Gina yang kembali membenturkan kepalanya ke tanah, kali ini dengan lebih keras.
Gina bahkan terlambat menyadari serangan tadi dan tidak bisa melindungi kedua Hunter malang itu. Ia tidak bisa membantu apapun saat seorang Hunter sudah kehilangan kepala seperti itu.
Monster yang memiliki kekuatan setara dengan Hunter peringkat S tahu bahwa seorang yang memiliki sihir penyembuh akan bisa menyelamatkan orang yang terkena sebuah serangan walaupun serangan tersebut menembus jantung.
__ADS_1
Namun, tidak jika jantung dan kepalanya hancur seketika terkena sebuah serangan.
Karena itu juga Gina akhirnya menyadari mengapa Anna selalu menghancurkan kepala lawan-lawannya. Bukan karena dia kejam, namun itu dilakukannya agar lawannya tidak bisa disembukan lagi oleh kawanan mereka.
"Ketua... Apa yang harus kita lakukan?"
"Ketua, apa Anda tidak memiliki sebuah ide?"
"Ketua..."
"Tenanglah." Gina tiba-tiba bangkit dan duduk berjongkok dengan salah satu lutut kakinya bertumpu di tanah, "Kita hanya harus menunggu. Mari kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya. Jika mereka tiba-tiba menyerang, barulah kita lari sambil saling melindungi. Tapi, jika mereka masih memantau kita dalam keadaan seperti ini, akan lebih baik jika kita diam dulu sambil menunggu bantuan.” Sahut Gina, mengatakan pendapatnya.
"Ternyata inilah alasan kenapa Anna meminta kami untuk lebih banyak berlatih sebelum pergi ke seluruh Dungeon di luar kota. Kalau kami tidak bisa lolos dari sini, kami memang tidak layak untuk bertempur bersama dengan dia dan para bangsa Orc dan Elf." Pikir Gina, menyadari mengapa Anna selalu meminta mereka berlatih di raid ilegal tanpa campur tangan dirinya.
'Tapi, dari mana sebenarnya gadis semuda dia bisa memiliki semua ide dan pengalaman bertarung itu?'
Sementara Gina masih memikirkan ide-ide untuk meloloskan diri dari ancaman monster di atas bukit, ia akhirnya tersadar saat merasakan pergerakan mereka.
Monster berkulit merah muda yang tidak memegang busur mulai bergerak menuruni bukit.
“K-ketua..., m-mereka... m-mereka bergerak...” ucap salah seorang Hunter sambil menunjuk ke arah bukit.
"Ya. Aku melihatnya," sahut Gina yang kemudian mendesah pelan sambil mengutuk di dalam hatinya, “Sial! Aku bahkan belum memiliki ide agar kami bisa lolos tanpa ada korban.”
Karena tidak ada pilihan lain, Gina akhirnya memberikan satu cara yang sempat ia pikirkan, walaupun dia yakin mungkin akan ada korban jiwa karenanya.
"Tanker, ambil posisi di sebelah kanan," Gina memerintahkan tiga Hunter tipe Tank untuk berdiri di tempat terdekat dari para monster. Setelah ketiga Tanker berada di tempat yang dia minta, Gina berdiri di sebelah mereka.
Gina kemudian menunjuk ke sebelah kirinya, "Yang lain ambil posisi di sebelah kiri ku."
Setelah semua orang berada di posisi mereka, Gina kembali memberikan perintah. "Sekarang, kita akan bergerak ke gerbang dengan berlari kecil. Tanker, lindungi tim jika pasukan pejalan kaki mereka menyerang. Aku akan melindungi kita semua dari panah,"
"Ingat, jangan ada yang mendahului hingga berada di luar jangkauan sihir pelindung ku."
Semua Hunter diam, menyimak strategi yang sedang Gina berikan.
"Energi Mana ku mungkin tidak akan cukup untuk melindungi kita semua sampai ke gerbang, walaupun jarak gerbang sebenarnya sudah kurang dari dua ratus meter. Tapi...," Gina menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ku harap akan ada banyak orang yang selamat."
Mendengar kalimat terakhir, semua orang menjadi lebih tegang. Mereka akhirnya berusaha untuk fokus agar bisa mengikuti strategi yang baru saja Gina berikan.
"Ayo bergerak sekarang."
__ADS_1
•••••••