
Sudah banyak kejutan yang Kevin Jung lihat sejak ia pergi bersama Anna. Namun, kejutan lain dilihatnya lagi setelah Anna kembali dari menghancurkan pilar sihir lalu membuat gerbang Dungeon di depan matanya.
Bahkan bukan hanya Kevin yang kaget saat Anna membuat sebuah gerbang, Gina yang juga belum mengetahui kemampuan tersebut juga terkejut.
Kevin dan Gina saling bertatapan dalam diam tanpa berbicara sepatah katapun.
“Tunggu sebentar.” Pinta Anna sebelum ia masuk ke dalam gerbang, meninggalkan dua Hunter itu dengan wajah linglung mereka.
Kevin dan Gina merasakan jantung mereka berdebar lebih cepat dari biasanya. Mereka tahu, setelah gadis itu mengatakan kalimat ‘tunggu sebentar’, kejutan lain pasti akan ditunjukan lagi pada mereka.
Benar saja, tak lama kemudian Anna keluar dari gerbang buatannya itu dengan membawa pasukan Orc dan Elf bersamanya.
°°°
"Dia bisa menghilang, terbang, menetralkan energi sihir Hunter lain, memiliki kecepatan yang tak kasat mata, membuka gerbang Dungeon dan memiliki pasukan monster," pikir Kevin Jung mengingat-ingat kembali kemampuan apa saja yang Anna miliki.
Umumnya, seorang Hunter peringkat tinggi saja hanya memiliki 4 skill. Dan Anna mungkin memiliki lebih dari itu. Kevin bergidik.
Glup...
Kevin Jung menelan ludahnya saat melihat ratusan Orc dan Dark Elf keluar dari gerbang. Terutama saat semua makhluk itu bersujud di hadapan Anna.
Kevin kini hampir meyakini bahwa Anna mungkin bukanlah seorang manusia seperti dirinya.
Pria itu menatap lekat-lekat pada lima Elf yang sedang bersujud di barisan depan. Seumur hidupnya bertarung di dalam Dungeon, Kevin belum pernah bertemu dengan Elf apalagi Dark Elf.
Menurut Hunter senior yang memiliki pengalaman bertarung dengan makhluk itu, Dark Elf sangat kejam dan kuat. Kevin kini akhirnya bertemu dengan makhluk tersebut dan benar saja, ia merasakan energi sihir Dark Elf memang sangat kuat, terutama satu Dark Elf yang sedang belutut di barisan depan. Ia merasakan energi Mana yang sama besarnya seperti miliknya sendiri dari makhluk itu.
Anna menepuk pelan pundak Kevin hingga membuat pria itu terkejut setengah mati karena ia masih larut dalam lamunannya.
“Kenapa kau kaget begitu?” tanya Anna seraya mengerutkan keningnya.
Namun, dalam hatinya Anna berkata “Oh apakah rencana ku untuk menakut-nakutinya sudah berhasil?”
“T-tidak apa-apa…,” tanpa disadarinya, Kevin mundur beberapa langkah. Tubuhnya gemetar dan Anna dapat melihat itu.
Melihat gesture itu, Anna yakin bahwa ia telah berhasil.
“Gila, aku malah yakin kalau Dark Elf itu mungkin lebih kuat dari ku,” pikir Kevin. Ia masih tak bisa mengalihkan matanya dari Nobara yang sedang berlutut di belakang Anna bersama lima Elf lain dan juga tiga Orc.
"Jangan terlalu terkejut," ucap Anna yang kemudian tersenyum pada kedua Hunter ternama di hadapannya.
Anna kemudian menunjuk ke langit dan baru berbicara lagi setelah Kevin dan Gina mendongak dan terlihat jelas terkejut saat melihat langit berubah menjadi semakin cerah, mirip warna langit di luar Dungeon. “Apa kalian melihatnya?”
Kevin kembali menurunkan tatapannya dan menatap Anna, “Ya… langit gelapnya menjadi cerah.”
Anna menggelengkan kepalanya, “Bukan itu. Fokuskan pengelihatan mu, lihat Bulan nya ada dua.”
__ADS_1
Kevin terperanjat lalu cepat-cepat menatap ke langit dan benar, dia melihat ada dua Bulan di atas sana.
“Bulan? Apa itu benar-benar Bulan? Jangan-jangan…”
“Ya… setelah pilar sihir dihancurkan dan gerbang yang menghubungkan Dungeon dan Bumi tertutup, penghalang sihir Dungeon juga terbuka. Lalu, lokasi Dungeon ini tadi telah menyatu kembali dengan tempat asalnya, planet bangsa Orc.”
“A-apa?”
“Sebenarnya, setiap monster memiliki planet mereka sendiri. Kalian juga pasti pernah bertanya-tanya dari mana asal monster-monster itu kan? Tidak mungkin monster-monster bisa begitu saja ada. Jadi itulah jawabannya. Mereka...," Anna tiba-tiba menghentikan kalimatnya saat merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada seluruh tubuh terutama pada kepalanya yang tiba-tiba saja sakit, "Mereka memiliki planet mereka sendiri.” Lanjut Anna pada akhirnya sebelum dia diam agak lama.
Kevin Jung terdiam mengetahui informasi itu. Apa yang baru di dengarnya adalah sebuah informasi besar dan harus di laporkannya ke Asosiasi secepat mungkin.
Tapi, Kevin memiliki pertanyaan lain yang mengganjal hatinya, “Tapi…, bagaimana caranya monster-monster itu mengetahui lokasi Bumi? Dan apa tujuan mereka pergi ke Bumi?”
Sambil menahan rasa sakit kepalanya, Anna menjawab, “Aku belum tahu dengan monster lainnya. Karena sejauh ini, hanya bangsa Orc dan Elf yang bisa ku ajak berkomunikasi. Tapi, tujuan kedua bangsa itu sama, mereka diperintahkan seseorang untuk membunuh semua umat manusia.”
“S-siapa?”
“Aku juga masih mencari tahu siapa dalangnya.” Anna menghentikan penjelasannya sampai di situ dan mengganti topik pembicaraan, “Tujuan ku memberitahukan ini pada kalian berdua karena aku ingin mengajak kalian untuk ikut membantu kami menutup semua gerbang Dungeon di seluruh dunia dan mencari siapa yang telah membuka gerbang-gerbang itu.”
“Kami? Apa kau memiliki teman lain?”
Anna menoleh dan menunjuk pasukan Orc dan Elf yang sedang memindahkan mayat-mayat dan kristal sihir ke dalam gerbang.
“Mereka adalah rekan-rekan yang akan bekerja sama dengan kita.”
Glup...
Kevin Jung diam agak lama untuk memikirkan reaksi apa yang akan ketua Asosiasi Australia berikan jika mengetahui hal itu.
Sementara itu, Anna yang merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam gerbang buatannya.
Setelah berada di dunia buatannya, sakit kepala dan perasaan tidak nyaman yang Anna rasakan langsung berkurang bahkan tak lama kemudian menghilang dengan sendirinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Setiap pilar sihir hancur dan pembatas Dungeon terbuka, aku selalu merasa tidak enak badan dan sakit kepala." Pikir Anna. Dia sudah mengalami kejadian yang sama sebanyak dua kali, tentu saja ia berpikir bahwa itu bukanlah sebuah kebetulan.
"Anna... Apa ini... Dungeon?" tanya Gina, membuyarkan lamunan Anna.
"Oh..., ini dunia buatan ku. Yah, jika semua bangsa Orc dan Elf kembali ke sini, memang terlihat seperti sebuah Dungeon sih," sahut Anna yang kemudian tertawa.
"Kau membuat tempat ini?!" Tanya Kevin Jung dengan suara nyaring.
"Y-ya... Ada apa?"
Kevin Jung terdiam. Dia hanya membalas pertanyaan Anna dengan tatapan tak senang.
'Dia mengatakan itu seolah-olah apa yang di lakukannya hanyalah hal biasa...'
__ADS_1
"Kevin," Anna menatap Kevin dengan wajah serius, "Kami membutuhkan bantuan mu."
"Bantuan?"
Anna mengangguk, "Ya. Untuk bisa melakukan raid di semua Dungeon tingkat tinggi, kami memerlukan seorang kapten tim yang sudah memiliki reputasi seperti mu."
"Apa? Kau meminta ku untuk bergabung bersama dengan tim mu?"
"Aku sudah mengatakannya tadi."
"Untuk apa? Kau..., kau memiliki kekuatan untuk melakukan raid seorang diri." Sahut Kevin.
"Legalitas. Kau tahu kan, berurusan dengan legalitas sangat rumit."
Kevin mendesah pelan. Dia akhirnya mengerti apa yang Anna inginkan. Anna membutuhkan seseorang yang bisa mendapatkan izin melakukan raid kapan saja dan dimanapun tanpa adanya 'gangguan' izin resmi.
Seseorang yang memiliki wewenang untuk masuk ke dalam sebuah Dungeon tanpa harus memerhatikan tingkat kesulitan Dungeon, juga memiliki wewenang untuk masuk ke gerbang yang sudah memiliki status terbeli oleh sebuah guild.
Orang itu adalah seorang agen rahasia seperti dirinya. Kevin memiliki izin untuk masuk ke semua gerbang Dungeon yang berada di wilayah Australia dan Asia Tenggara tanpa terkecuali.
Kevin Jung menggelengkan kepalanya, "Nona, jika Anda ingin memanfaatkan ku, ku rasa itu hal yang tidak mungkin bisa Anda lakukan."
"Memanfaatkan mu?" Anna tertawa sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kau salah. Justru aku yang ingin agar kalian memanfaatkan kekuatan kami."
Mendengar itu, membuat Kevin Jung mengerutkan keningnya.
"Mau sampai kapan kita hidup berdampingan dengan para monster? Apa kau tidak memikirkan kelangsungan hidup umat manusia?"
"Kau mungkin tidak pernah memikirkannya. Apa kau pikir para Hunter berperingkat rendah, terutama manusia biasa bisa tidur dengan nyenyak selama masih ada gerbang Dungeon yang terus bermunculan?"
Anna memasang ekspresi marah di wajahnya dan bertolak pinggang. Dia kemudian mendesah marah, sebelum kembali berbicara, "Mungkin yang kalian pikirkan hanyalah bisnisnya. Karena itulah kalian tidak pernah memikirkan apa yang sudah ku katakan tadi, kan?" Anna melirik pada Kevin dan tersenyum tipis saat melihat keraguan di wajah pria itu.
"Terlalu banyak prosedur yang harus dilewati untuk bisa melakukan raid. Kau tahu, aku bisa saja menentang semuanya. Tapi, sebagai sesama manusia, aku tidak mau menciptakan kekacauan lain dan selalu berusaha mengikuti aturan,"
"Lihat, bahkan Asosiasi Australia mengirimkan mu untuk menangkap ku karena sudah menyusup di belasan Dungeon. Alasannya? Karena aku telah mencuri hak raid orang lain. Bukankah itu lucu?"
"Padahal aku hanya ingin membantu kita semua untuk mengatasi monster-monster di Dungeon. Apa aku salah? Kenapa kalian malah ingin menangkap ku?"
Kevin Jung tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang Anna lontarkan. Dia juga tahu bahwa aturan memang penting. Tapi, mengatasi semua Dungeon yang ada dengan sangat baik juga sangatlah penting.
Saat Kevin masih bimbang dengan pemikirannya, Anna kembali berbicara.
"Kevin. Aku ingin bertanya satu hal pada mu. Mana yang lebih penting? Mengikuti prosedur atau menemukan dalang dari terciptanya semua gerbang Dungeon yang saat ini membanjiri seluruh dunia?"
"..."
•••••••
__ADS_1