
Terkejut dengan apa yang baru saja Anna katakan, Gina sampai berdiri dari duduknya dan menatap wajah Anna lekat-lekat.
Anna berjalan kembali ke sofa dan duduk kembali di tempatnya semula. Dia kemudian menatap layar televisi yang sedang menayangkan siaran berita tentang tim peneliti yang memantau sebuah danau yang masih membeku.
Anna kemudian mendongak dan menoleh pada Gina yang masih berdiri sambil menatapnya dengan kebingungan. Ia kemudian tersenyum seraya menepuk-nepuk pelan sofa bulu, meminta Gina untuk duduk di sebelahnya.
Gina duduk kembali, sambil masih terus menatap Anna.
“Aku merasa aneh dengan tubuh ini," ucap Anna setelah Gina duduk. "Kau juga bercerita kalau aku kembali dengan rambut dan retina mata ku yang memiliki warna berbeda. Padahal, aku tidak pernah merasa kembali sendiri ke sini.”
Gina hanya diam dan masih terus menatap Anna dengan khawatir.
Anna kembali melanjutkan, “Aku sudah pingsan saat berada di luar angkasa dalam perjalanan ku kembali ke Bumi.”
“A-apa? Luar angkasa?”
Kalimat 'luar angkasa' itu tak bisa diabaikan Gina. Dia langsung meresponnya tanpa ia sengaja.
“Ya. Gerbang Dungeon itu, terhubung dengan planet bangsa Orc.”
Gina diam. Namun wajahnya terlihat jelas seperti wajah seorang yang takjub. Seperti wajah takjub seseorang yang telah melihat sebuah trik sulap memukau.
Normalnya, mungkin orang akan tertawa karena tidak memercayai apa yang baru saja dikatakan Anna. Tapi, Gina memercayainya.
Dia merasa, bisa berada di luar angkasa itu hal yang sangat menakjubkan. Jadi dia diam dan membayangkannya.
Anna melihat wajah Gina yang terlihat jelas sedang takjub dengan apa yang baru dikatakannya.
“Kau percaya dengan yang baru saja ku katakan?” tanya Anna. Kedua alisnya berkerut saat dia menatap Gina, seraya menunggu jawabannya.
Anna sendiri sudah memikirkannya berulang kali sampai dia akhirnya memercayai pengalamannya itu.
Saat dia sudah siuman, dia mengingat kembali pengalamannya. Walaupun dia tidak ingin memercayainya, tapi perjalanan luar angkasanya itu nyata.
Dari situ juga, Anna menebak bahwa teleportasi akan berbahaya jika dilakukan antar planet.
Dia akhirnya tahu, teleportasi hanya bisa dilakukan saat dia sedang berada di satu planet yang sama.
Ketika dia melakukannya antar planet, teleportasi itu hanyalah sebuah perjalanan dengan kecepatan cahaya.
°°°
Kening Gina berkerut dan dia menatap Anna dengan kesal, merasa dipermainkan. “Kau sedang bercanda?”
‘Dia memercayai apa pun yang ku katakan?’
“Tidak. Aku tidak sedang bercanda.”
Gina mendesah, lalu mengangguk pelan. Kemudian dia berbicara.
“Jadi maksud mu..., gerbang-gerbang itu sebenarnya terhubung ke sebuah planet?”
“Ya. Planet Orc memang terhubung ke Bumi melalui gerbang Dungeon. Walaupun aku tidak tahu dengan yang lainnya, tapi aku juga menebak seperti itu. Setiap monster berbeda, memiliki planetnya sendiri.”
Gina mengambil cangkir minumannya dan menyesap beberapa teguk isinya sambil memikirkan dan membayangkan apa yang baru saja Anna katakan. Itu membuatnya takjub.
“Itu adalah informasi yang pernah ku baca juga, tapi itu hanyalah perkiraan dan tidak ada siapapun yang menganggapnya sebagai sebuah kebenaran karena belum ada yang bisa memastikannya.” Ucap Gina, sambil mengembalikan cangkir ke atas meja.
“Planet Orc memang ada. Aku sudah membuktikannya. Dan aku hampir mati saat kembali ke Bumi dengan kecepatan cahaya.” Anna mengusap-usap dagunya sebelum melanjutkan, “Atau mungkin lebih cepat dari itu. Aku sampai kehabisan energi Mana.”
Gina tiba-tiba menoleh untuk menatap Anna kembali dan bertanya dengan wajah serius, “Ngomong-ngomong, seberapa besar energi Mana mu? Maksud ku, jika dibandingkan dengan sebuah peringkat Hunter...”
Anna tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu...”
“Tapi..., aku hanya merasakan energi Mana mu berada di sekitaran peringkat F. Apa kau menyamarkannya?” tanya Gina penasaran.
“Ya.”
__ADS_1
“Begitu... Pantas saja...,” ucap Gina seraya mengangguk pelan. Ia kemudian kembali bertanya. "Tapi, apakah planet mereka kecil? Dan jumlah mereka juga hanya ada kisaran tiga ratus sampai lima ratus, kan?"
Anna menggelengkan kepalanya.
"Ada sihir pembatas yang membuat mereka terkurung di wilayah itu. Karena itulah jumlah mereka tidak banyak, saat tim raid masuk ke dalam Dungeon yang sebenarnya adalah sebuah wilayah yang sedang dibatasi,"
"Aku tidak tahu siapa yang membuat pembatas wilayah itu. Tapi, dugaan ku, makhluk itu melakukannya di banyak planet, lalu menghubungkannya ke Bumi."
Gina sampai terdiam saat mengetahui informasi baru itu. Sebuah informasi penting yang akhirnya dapat menjawab pertanyaan semua umat manusia tentang fenomena Dungeon yang tidak ditemukan jawabannya selama 25 tahun sejak gerbang-gerbang Dungeon bermunculan.
Keduanya kemudian diam untuk beberapa saat. Masing-masing dari mereka sedang larut dalam pikirannya sendiri.
Setelah agak lama diam, Gina kembali bertanya, “Jadi, apa maksud perkataan mu tadi? Kau bilang kalau tubuh mu ini, bukan tubuh mu yang asli?”
“Ya. Ku rasa ini bukan tubuh asli ku,” ucap Anna sambil memegang *********** dengan kedua tangan. “Dada ini dan bokong ku... awalnya aku sedikit curiga. Mereka seharusnya tidak sebesar ini...” ucap Anna yang kemudian tersenyum canggung.
Gina tertawa.
“Yah..., itu memang terdengar aneh. Tapi tinggi badan ku juga sedikit lebih tinggi dari yang ku ingat.”
“Ku rasa memang begitu,” sahut Gina tiba-tiba.
“Hah? Apa kau pernah bertemu dengan ku sebelumnya?”
Anna berpikir, tidak mungkin Gina tahu bentuk tubuh atau tinggi badannya sebelumnya. Karena dia sedang terluka parah saat mereka pertama kali bertemu dulu. Tidak mungkin Gina sempat memerhatikannya.
“Tidak. Kita pertama kali bertemu saat aku melihat mu jatuh dari gedung Asian Soul. Tapi, suara wanita yang berbicara pada ku seminggu yang lalu, berbeda dengan suara mu.”
Gina melanjutkan, “Kalau ku ingat-ingat, suara yang dulu meminta ku untuk membawa tubuh mu juga terdengar sama. Selain karena suaranya, aku yakin kalau yang kau katakan itu benar, karena tubuh ku terasa seperti sedikit gemetar ketika dia sedang berbicara, berbeda dengan saat kau sedang berbicara.”
Anna mendesah pelan.
Gina mendekatinya, lalu mengusap-usap rambut gadis itu.
“Tapi wajahnya ini sangat cantik. Rambutnya juga sangat halus.” Gina memaksakan senyumnya. Dia memang mengagumi wajah cantik itu, sekaligus merasakan simpati pada Anna yang mungkin kehilangan tubuh aslinya.
Anna melirik pada Gina lalu menatapnya dengan tatapan malas.
Dia kemudian mengangkat salah satu tangannya. Tak lama kemudian, smartphone yang dia tinggalkan di atas meja kamarnya sebelum pergi ke dungeon break, mendarat di tangannya.
Gina terkejut saat melihat kemampuan itu.
“W-wow... kau bisa melakukan hal seperti itu?”
Anna mengabaikan pertanyaan itu. Dia sibuk menggulir layar smartphone, lalu menunjukkan layar smartphone itu pada Gina setelah menemukan foto yang dia cari.
Gina menatap foto itu dengan bingung, tidak mengerti maksud dari tujuan Anna menunjukkan foto itu padanya.
Anna menunjukkan fotonya saat dia masih berada di bangku SMA.
Anna kemudian mendekatkan smarphone ke wajahnya.
“Ini adalah dia,” ucap Anna sambil menunjuk pada wajahnya. “Dan ini aku.” Ucapnya kemudian sambil menunjuk layar smartphone di tangannya yang lain.
Gina menatap lekat-lekat foto itu sambil sesekali melirik ke wajah Anna.
“Kalian sangat mirip... maksud ku... wajah kalian sama!”
“Tepat. Andai kami hanya mirip, aku pasti sudah menyadarinya sejak lama. Karena kami memiliki wajah yang sama, maka aku tidak menyadarinya. Hanya saja, sejak aku sadar beberapa minggu yang lalu, aku agak sedikit bingung dengan pertumbuhan tinggi badan, dada dan bokong ku yang bertambah hanya dalam dua minggu ketika aku tidak sadarkan diri.”
Gina mengangguk saat mengerti maksud perkataan Anna. "Jadi kau memang secantik ini...," gumam Gina.
Anna mengangguk. Dia cukup percaya diri dengan wajahnya. Melihat itu, Gina tertawa.
°°°
“Lalu..., dimana tubuh asli mu? Dan... Kemana perginya roh pemilik tubuh ini?”
Anna diam sejenak. Dia ingat saat dia tersadar hanya beberapa detik setelah kehabisan energi Mana.
__ADS_1
Saat itu Anna menemukan tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dia seperti sedang dibekukan di suatu tempat, karena ia bisa merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya.
Dia juga tidak mendengar suara pria dan wanita yang sebelumnya didengarnya.
Sayangnya, karena tubuhnya terhimpit rapat dalam es, dia jadi tidak bisa menggerakkan mulutnya untuk memanggil mereka.
Anna akhirnya berusaha menghancurkan es yang tampak seperti ingin mengawetkannya itu, namun dia sama sekali tidak dapat melakukannya karena dia sudah kehabisan energi Mana.
Dia bisa hidup tanpa bernafas di dalam es yang menghimpit tubuhnya itu karena ada energi Mana lain yang sepertinya berusaha melindunginya.
Saat itu, Anna akhirnya memutuskan untuk bersemedi demi mengembalikan seluruh energi Mana miliknya yang sudah terkuras habis.
Dia tidak tahu berapa lama dirinya berada di dalam es itu, namun setelah menghabiskan waktu yang sangat lama, dia akhirnya terbangun dan terkejut saat menemukan dirinya sudah berada di kamarnya.
Anna kemudian menoleh lagi pada layar televisi.
“Ada hal yang aneh. Aku merasa kalau benda luar angkasa yang jatuh di danau itu dan membekukannya, adalah tubuh ku. Karena aku merasa dingin seperti sedang terkubur di dalam es.” Ucap Anna.
Dia juga ingat cerita Gina yang mengatakan tubuh wanita berambut pirang platinum itu tampak baru saja keluar dari sebuah pembekuan.
Anna menoleh lagi pada Gina dan melanjutkan kalimatnya, “Tapi, aku benar-benar tidak merasa pernah kembali ke sini sendiri. Aku yakin, pemilik tubuh ini yang membawa tubuhnya kesini.”
Anna tiba-tiba berdiri dan tindakannya itu membuat Gina terkejut. “A-ada apa?”
Anna menatap kedua mata Gina dengan tajam. Dia agak takut saat memikirkan apa yang kini menjadi dugaannya.
Anna kemudian duduk kembali dengan menghempaskan pantatnya di sofa.
“Apakah ada dua roh di dalam tubuh ini? Saat aku sedang tidak sadarkan diri, roh pemilik tubuh ini yang hidup menggantikan ku?” Pikir Anna. Dia menjadi gelisah saat membayangkan jika hal itu adalah kenyataannya.
“Anna? Ada apa?”
Gina mengusap-usap punggung tangan Anna saat melihat kekalutan dari wajah gadis itu. Gina menduga bahwa Anna mungkin baru saja mengingat atau menyadari sebuah hal penting yang mungkin mengganggu pikirannya selama ini.
Namun, seperti sebuah deja vu, Anna akhirnya minta izin pada Gina untuk diberikan waktu untuk merenungkan kembali apa yang saat ini sedang mengganggu pikirannya.
Anna kembali ke kamarnya dan mengunci dirinya disana.
°°°
Anna bahkan masuk ke kamar mandi.
Di sana, dia berbicara dan berusaha memanggil-manggil roh yang diduganya, bersembunyi juga di dalam tubuh itu.
Namun, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Sial, aku bisa gila!"
°°°
Anna memikirkan kemungkinan itu sampai 3 hari lamanya. Dia bahkan tidak bersemangat untuk makan, minum, dan melakukan hal apapun.
Membayangkan ada 2 roh di dalam 1 tubuh, sama saja dengan tahu bahwa di dalam tubuhnya saat ini, ada 2 kepribadian.
Anna merasa khawatir jika dia kehilangan kesadarannya, pemilik tubuh itu akan melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan.
Anna tidak tahu apakah pemilik tubuh itu ada di pihak umat manusia, atau dia juga salah satu makhluk asing dari sebuah planet yang berada di luar sana.
Pemikiran itulah yang membuatnya sangat khawatir.
Namun, saat dia akhirnya menyadari kalau dia tidak akan kehilangan kesadaran asalkan tidak kehabisan energi Mana, Anna dapat merasa sedikit lega karenanya.
•••••••
Goddess Of War
Bagian 1 : Anna Lloyd
- Selesai -
__ADS_1