
Mereka langsung menoleh ke atas, ke arah datangnya suara.
Di atas sana, semua orang dapat melihat Miyuki telah berdiri di atas kepala Ular Naga merah dan sudah menusukkan seluruh bilah wakizashi nya pada kepala Ular Naga itu.
Lalu, gadis itu menarik wakizashi nya sejauh panjang tubuh Ular Naga sampai ke ujung ekornya.
Srraaaaaaaaaaaaaaaattt!
Tubuh Ular Naga terbelah dua dengan sangat rapi, mengikuti sayatan wakizashi Miyuki. Bersama sayatan panjang itu, dari dalam tubuh Ular Naga, mengalir darah merah kehitaman yang akhirnya membanjiri hampir semua area halaman Asosiasi
"Tidaaaakkkkk!"
Astareth berteriak nyaring, melihat tubuh hewan mistis kesayangannya itu terbelah, menggelepar dengan dua tubuh yang terpisah lalu mati mengenaskan disana.
Sementara itu, lokasi keberadaan serigala berkepala dua juga akhirnya di temukan.
Tubuh dan dua kepala besarnya yang sudah terpisah, telah menancap di tengah-tengah bangunan gedung Asosiasi tanpa ada yang tahu kapan Miyuki telah 'memaku' mereka di sana.
•••
Melihat hewan-hewan mistis kesayangan mereka mati begitu saja, membuat Astaroth dan Astareth naik pitam. Kedua malaikat tersesat itu akhirnya menyerang Miyuki dengan sihir terkuat yang mereka miliki.
Sembari terbang di atas Miyuki, pasangan malaikat tersesat itu membuat badai sihir dengan kepakan sayap mereka.
Kilatan sihir hitam menyambar keluar dari kepakan sayap Astaroth dan Astareth. Kilatan itu terbang menyambar ke arah Miyuki yang masih berdiri di atas genangan darah Ular Naga merah.
Sementara Astareth sudah mengerahkan sihir terkuatnya menuju Miyuki, Mammon yang sejak tadi sudah bergerak ke arah belakang gadis itu juga menyerangnya dengan sihir jarak jauhnya. Ia menyemburkan lava merah dari mulutnya dan menyerang Miyuki dari arah belakang.
Keduanya makhluk itu terus melakukan serangan tanpa henti.
Badai petir dan suara gemuruh semburan lava berkekuatan sihir bersahut-sahutan dan nyaring terdengar di sekitar area gedung Asosiasi.
Asap-asap kehitaman beterbangan di sekitar area yang menjadi pusat serangan kedua malaikat tersesat itu.
Mereka baru menghentikan serangan, saat mendengar suara teriakan pilu dari arah dalam pusat serangan.
Suara teriakan pria yang sangat mereka kenal.
"Suara ini..."
Saat asap yang menutupi area serangan menghilang, betapa terkejutnya Astareth dan Mammon saat melihat tubuh Astaroth yang perlahan hangus terbakar berdiri terbalik di tengah-tengah area serangan.
Bagian kepala Astaroth berada di dalam portal, di tanah yang hangus terbakar, sementara tubuhnya yang sudah hangus terbakar hingga hanya menyisakan tulang belulang hitam, mencuat dari dalam portal.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dari dalam portal, sosok gadis remaja keluar sembari memegang salah satu tanduk Astaroth di genggamannya.
Sambil tersenyum sinis pada Astareth, Miyuki memenggal leher Astaroth dengan wakizashi nya.
Srattt...!
"Tiiddaaakkk...! Astaroth...!"
Miyuki melemparkan kepala Astaroth dengan sangat kencang menuju Astareth. Sementara ia sendiri melesat dengan sangat cepat menuju Mammon yang kehilangan kewaspadaan karena sedang memerhatikan kepala yang sedang terbang melayang itu.
Srattt... Srattt...!
Mammon yang lengah, terkena dua tebasan wakizashi di perutnya yang buncit.
Malaikat tersesat itu melompat mundur sembari menyemburkan lava merah dari mulutnya untuk menjaga jarak dari Miyuki yang hendak melakukan serangan susulan.
Namun, Miyuki sangat cepat. Ia kini sudah berpindah ke belakang Mammon dan menebaskan wakizashi nya lagi ke tengkuk makhluk bertubuh merah itu.
Srattt...!
Setelah serangan itu, Miyuki mundur menjauh sambil terus menatap Mammon yang juga menatapnya dengan kedua matanya yang melebar. Ia merasa ngeri dengan kecepatan Miyuki baik dalam bergerak maupun menyerang.
"Kulit mu tebal juga ya," ucap Miyuki. Kali ini ia benar-benar memuji Mammon.
Di puji seperti itu tidak membuat Mammon bangga. Ia tahu lawannya masih menyerangnya tanpa menggunakan kekuatan dari kitab malaikat Lorelei. Jika lawan menyerang dengan sihir itu, ia tahu lehernya pasti sudah terpenggal semudah ia membelah tubuh Ular Naga yang berkulit sangat tebal.
Mammon menggunakan sihirnya yang lain. Dengan mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah kedua kaki Miyuki, ia merapalkan mantra sihir.
Detik berikutnya, area dimana Miyuki memijakkan kedua kakinya mulai bergoyang. Aspal hitam yang digenangi darah Ular Naga merah itu tiba-tiba terasa sangat lunak di kakinya.
Tak lama kemudian, uap-uap panas keluar dari sana, dan tanah yang Miyuki pijak berubah menjadi kolam lava.
Miyuki yang harusnya pergi dari kolam lava itu, tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.
Energi sihir yang berasal dari kedua telapak tangan Mammon telah membuat kakinya terasa sangat berat dan terkunci disana.
Tapi anehnya, Miyuki masih berdiri mengambang di permukaan lava dan tidak tenggelam kedalamnya.
"Kalau bisa membuat langkah kaki ku menjadi berat, seharusnya kau menggunakan sihir itu sejak awal," puji Miyuki lagi pada Mammon.
Mammon lagi-lagi tidak memerdulikan pujian itu. Ia menatap ke arah kedua kaki Miyuki yang tidak tenggelam terhisap kedalam kolam lava.
"Apa yang terjadi?" gumam Mammon yang tidak memercayai apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Namun, jawabannya segera ia dapat saat merasa ada sesuatu datang dari atas kepalanya.
Lava-lava itu telah berpindah dan jatuh bagaikan banjir bandang yang meluncur deras dari arah atas kepala Mammon.
Miyuki telah menaruh portal di bawah kakinya, hingga memindahkan semua lava ke portal yang berada di atas kepala Mammon.
Mammon tentu saja langsung melompat mundur dengan tergesa-gesa, menghindari lava yang memiliki panas lebih dari 5.000°C itu.
•••
Saat Miyuki masih berkonsentrasi pada Mammon, Astareth menyerangnya secara diam-diam.
Ia terabang melingkar dan mendarat di belakang Miyuki, lalu dengan cepat membacakan mantra sihir untuk menghipnotis Miyuki.
Miyuki terdiam saat kalimat pertama Astareth masuk ke dalam telinganya.
Astareth terus membacakan mantra itu.
Semakin lama ia membacanya, senyuman semakin mengembang di bibirnya. Sampai akhirnya mantra sihirnya selesai, Astareth tertawa nyaring setelahnya.
"Brengsek, kau akhirnya terkena sihir ku!" umpat Astareth sembari menatap kedua mata Miyuki yang menatap kosong padanya.
Dari tatapannya saja, ia tahu bahwa sihir penghipnotisnya telah berhasil memengaruhi lawan.
Mammon yang sudah pucat ketakutan, akhirnya bernafas lega saat melihat sihir hipnotis Astareth telah berhasil mengenai mangsanya.
"Sialan. Dia benar-benar sangat berbahaya. Untung kau cepat menyerang saat dia lengah." Puji Mammon dengan suara gemetar. Ia masih merasa gugup karena hampir terkena serangan lavanya sendiri.
Astareth hanya tersenyum tipis menanggapi pujian itu.
Dia kemudian berbalik, menatap seluruh jurnalis dan Hunter yang berada di balik tembok pelindung transparan yang Miyuki buat untuk melindungi mereka.
"Karena kau sudah membuat identitas kami terungkap pada seluruh dunia, sekarang kau harus membantai semua orang untuk kami." Ucap Astareth dengan senyum aneh di bibirnya.
Ia memang merasa sangat senang karena telah berhasil memperdaya Miyuki, namun ia juga sangat sedih setelah kehilangan hewan mistis dan kekasihnya, Astaroth.
"Bunuh mereka semua!" perintah Astareth, sembari menunjuk ke arah ratusan orang di balik tembok transparan.
Tahu bahwa mereka semua akan menjadi target pembantaian Miyuki, semua jurnalis dan Hunter itu berputar balik dan mulai berlarian dengan berteriak histeris meninggalkan area gedung Asosiasi.
Namun, di antara orang-orang yang lari ketakutan itu, masih ada para jurnalis yang tetap diam di tempat mereka semula, pasrah pada nasib yang akan menimpa mereka sembari terus merekam momen itu sampai akhir hidupnya.
•••
__ADS_1