
Merasa terancam dengan kekuatan para Elf yang baru saja kembali ke planet mereka, semua utusan klan akhirnya mengizinkan Anna untuk ikut bersama mereka menuju kuil suci yang berada di zona netral.
Begitu rombongan itu berada di perbatasan antara Klan Api dan zona netral, perjalanan mereka di hadang oleh parit lebar dan dalam yang memisahkan dataran tempat mereka berada dari hutan suci di balik tembok tinggi.
Melihat kedatangan tamunya, enam Elf betubuh tinggi, yang hampir menyamai tinggi Nobara, berbicara pada mereka dari atas tembok gerbang.
"Mengapa Anda semua kembali dengan jumlah yang sangat banyak?" tanya sang penjaga sambil menatap Legalos yang ia anggap sebagai Elf tertua di antara semua anggota rombongan.
"Mereka mungkin akan membantu kita jika bangsa penjajah datang." Sahut Legalos, seraya menoleh dan menatap Nobara dengan sopan.
Menyadari Nobara, ketua Klan Angin, berada di antara para rombongan, para penjaga gerbang terkejut. Setahu mereka, Nobara dan klan nya telah tewas dalam zona perang.
"Tuan Nobara?" Ucap penjaga tidak percaya.
Para penjaga kemudian membungkuk untuk menghormati Nobara.
"Maafkan kami. Silahkan masuk." Ucap salah satu penjaga, seraya memberikan tanda pada penjaga lain untuk menurunkan jembatan dan membuka gerbang.
Penjaga sebenarnya merasa sedikit curiga pada Anna, yang mengenakan jubah panjang dan menutupi kepalanya dengan tudung. Namun, saat mereka melihat wajahnya yang sangat cantik serta aura anggun yang dimilikinya, rasa curiga itu menguap seketika.
'Sangat cantik dan anggun. Apakah semua wanita dari Klan Api secantik dia?'
Penjaga gerbang kemudian melihat Eleanor yang berjalan di samping Anna, dalam rombongan Klan Api. Melihat kecantikan Eleanor, ia pun merasa sangat yakin dengan pemikirannya tadi.
"Apa mereka memiliki klan sendiri?" tanya Anna pada Eleanor. Anna berpikir, jika 4 klan di empat arah mata angin memiliki nama klan, Elf di zona netral juga mungkin memiliki nama klan mereka sendiri.
"Tidak, dewi agung. Mereka adalah para Elf penjaga hutan suci ini."
Anna mengangguk pelan.
"Tapi, siapa bangsa penjajah yang kalian maksud itu? Apa mereka iblis yang sama seperti yang memberi pil iblis pada Klan Angin?
Eleanor mengerutkan keningnya, seperti sedang memikirkan dengan matang informasi yang hendak dikatakannya.
"Mereka berbeda. Tapi sepertinya mereka telah bekerja sama."
"Mungkinkah mereka juga makhluk yang berada di balik kemunculan gerbang di Bumi?"
"Mengenai itu, kami belum mengetahuinya, dewi agung."
"Ele...,"
"Ya dewi agung?"
"Bisa kah kau memanggil ku Anna saja?"
"Saya tidak berani, dewi agung."
"..."
•••
Saat rombongan sudah berjalan sejauh 10 mil, Anna dapat merasakan energi Mana yang agak sejuk di sekitarnya.
__ADS_1
Selain itu, Anna juga merasa bahwa semua pohon besar yang berada di sepanjang jalur jalan yang mereka lalui itu terasa seperti memiliki mata dan sedang memerhatikannya.
Merasa tidak nyaman karena merasa seakan sedang di awasi, Anna akhirnya mendongak dan menatap ke arah salah satu pohon dengan gerakan yang sangat cepat.
Anna kemudian tersenyum saat melihat 7 mata yang terlihat jelas olehnya langsung melotot karena terkejut, sebelum seluruh mata itu menutup.
Walaupun demikian, Anna tidak langsung menghancurkan pohon yang ia rasa sangat mengganggu itu, karena ia tidak merasakan adanya aura jahat yang berniat untuk mencelakainya. Tapi, Anna sebenarnya bisa merasakan bahwa pohon-pohon itu sepertinya memiliki tatapan marah padanya.
'Mungkinkah mereka menatap marah pada ku karena tahu aku telah menghancurkan hutan milik Klan Api?'
Sebenarnya, dugaan Anna itu sangat tepat. Pohon-pohon itu membencinya karena Anna telah membunuh banyak ras mereka tanpa alasan.
"Apa semua pohon disini memiliki mata?" tanya Anna pada Eleanor.
"A-apa?"
"Pohon-pohon itu," Anna menunjuk pada salah satu pohon.
Eleanor mengikuti arah telunjuk Anna sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dewi agung."
Anna mengernyitkan alis.
'Jadi mereka tidak tahu?'
"Mereka semua memiliki mata." Ucap Anna.
"Apa?!"
Zinggg... Zingg... Ziiiinngg...
Mendengar itu, Nobara, Fael dan Nyrna, langsung menghunuskan belati dan pedang mereka.
Hanya Cirdan yang tampak kebingungan saat merogoh ke pahanya, namun tidak menemukan belatinya. Ia pun tersipu malu saat ingat telah meninggalkan belatinya di rumah pohon kediamannya.
"Hei, ada apa dengan kalian. Tidak bisakah kalian bersikap tenang?!"
Merasa tidak nyaman dengan rasa hormat berlebih para pengikutnya, Anna menegur mereka dengan keras.
Para Elf itu akhirnya menyarungkan kembali senjata mereka dan berlutut di hadapan Anna.
"Ampuni kami, dewi agung," Ucap mereka bersamaan.
'Astaga, aku memelihara sekelompok maniak.'
•••
Setelah memakan waktu berjalan kaki selama sehari penuh dari depan gerbang tadi, rombongan akhirnya tiba di sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi.
Saking tingginya pohon itu, saat Anna mendongak, ia hampir tidak bisa melihat ujungnya.
'Gila, tinggi pohon ini hampir sama dengan jarak antara Bumi dan Bulan!'
__ADS_1
Anna kemudian menoleh pada Eleanor. "Pohon ini sangat tinggi."
Eleanor tersenyum cerah seraya menganggukkan kepalanya.
"Ini adalah pohon suci, dewi agung. Pohonnya mencapai kuil suci di pelataran surga."
"A-apa?!"
Senyum Eleanor semakin merekah. Ia senang saat melihat Anna tampak kaget. Semua bangsa Elf memang sangat bangga dengan pohon suci tersebut.
Anna kemudian mengerutkan keningnya saat menyadari hal yang sangat janggal.
"Tapi, kenapa kita tidak bisa melihat pohon ini saat masih berada di luar hutan?"
"Pohon suci dilindungi sihir dewi hingga letaknya tidak bisa di temukan bangsa manapun yang datang dan ingin menjajah planet kami." Nyrna menjelaskan.
"Hutan suci ini bahkan dilindungi sihir dewi, yang membuatnya tidak bisa masuk ke dalam zona perang," Glynka menambahkan.
Masih dengan senyum cerah, Eleanor menunjuk pada jalan yang tadi mereka lalui.
"Jalan ini juga tidak bisa membawa orang luar masuk dengan sembarangan, jika mereka tidak memiliki plat khusus yang di miliki oleh masing-masing klan," setelah memberi jeda sesaat, Eleanor kemudian melanjutkan, "Kami juga tidak bisa masuk seorang diri. Keempat plat harus berdekatan, barulah rombongan akan diarahkan ke pohon suci dengan benar."
"Jadi, kalau seseorang masuk secara sembarangan, mereka akan tersesat?" tanya Anna, wajahnya terlihat sangat antusias.
"Ya. Dewi agung."
"B-begitu...," gumam Anna, seraya menatap jalan kedatangan mereka dengan takjub.
Salah satu Elf kemudian berbicara. "Bagaimana kalau kita pergi ke kuil suci sekarang?"
"Oh..., maaf. Ayo kita pergi." Sahut Anna.
Empat Elf dari klan berbeda kemudian mengambil plat mereka masing-masing dan meletakkannya pada kulit pohon suci itu.
Plat kayu itu kemudian memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata.
Tak lama kemudian, sebagian kulit kayu terbuka dan pintu gerbang tiba-tiba muncul di sana.
Dari tempatnya berdiri, Anna dapat melihat anak tangga berada di dalam pohon itu.
"Apa kuilnya ada di dalam sana?" tanya Anna penasaran.
"Ya, dewi agung. Kuilnya berada tepat di ujung pohon suci, di atas sana."
"Apa?!" Anna memekik saking kagetnya. "Maksud mu, kita harus menaiki tangga sampai ke atas sana?"
"Y-ya..."
Anna terdiam dan menatap Eleanor dengan rasa putus asa.
'Berapa tahun perjalanan hingga kami bisa sampai di sana?'
"Bisakah kita terbang saja?"
__ADS_1
Semua Elf : "..."
•••