Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 208 - 7 Dewa Penghakim


__ADS_3

Dewa Igigi berbicara kembali. Kali ini dengan bahasa Bumi yang Anna mengerti.


“Kau ingin menyembunyikan diri mu dengan mengubah warna rambut dan warna mata mu?” Kau benar-benar hina, dewi Ann!” Ucap dewa Igigi dengan nada kasar seraya menudingkan pedangnya pada Anna.


“Kau sudah melanggar hukum para dewa dan ikut campur dalam peperangan yang terjadi di antara bangsa ku dan bangsa Elf,” tambahnya.


Anna mengernyitkan kedua alisnya sebelum menyahut, “Kau salah paham. Aku bukan dewi Ann.”


“Omong kosong!” Bentak dewa Igigi, yang kemudian menghentakkan masing-masing tangan ke samping tubuhnya.


Bersamaan dengan itu, enam makhluk lain yang memiliki wujud sama dengannya, berpencar dari dalam tubuhnya.


Masing-masing makhluk bertubuh hitam yang sama gelapnya dengan warna kulit tubuh dewa Igigi. Mereka juga memegang sebuah pedang dan sebuah bola metal yang sama di tangan mereka.


Dewa Igigi sendiri, setelah makhluk-makhluk itu berpisah dari tubuhnya, empat lengannya yang lain menghilang, menyisakan dua tangan yang kini juga menggenggam pedang dan dua bola metal.


Melihat lawan di hadapannya kini ada 7, tentu saja Anna semakin merasa ngeri. Lagi pula, walaupun dewa Igigi sudah memecah tubuhnya sendiri menjadi 7, ia merasakan tiap makhluk itu memiliki kekuatan yang hampir sama kuatnya seperti yang dewa Igigi miliki.


"Sekarang, kau akan mendapatkan penghakiman dari tujuh dewa bangsa Anunnaki! Kau pikir karena memiliki julukan yang terkuat di antara para dewa perang, maka kau bisa lolos dari kami?!" Umpat dewa Igigi.


"Tidak. Tunggu, kau salah..."


"Ayo habisi dia!" Perintah dewa Igigi pada 6 rekannya, tanpa memerdulikan ucapan Anna.


"... Paham..." ucap Anna, menyelesaikan kalimatnya yang terputus. Ia kemudian mulai menggunakan energi Mana lebih banyak untuk menghadapi para penyerangnya itu.


Enam dewa lain, langsung menyerang Anna dengan pedang yang berada di salah satu tangan mereka.


Sementara itu, Anna langsung melontarkan para pengikutnya, yang masih berada di dalam bola transparan keemasan pelindung miliknya, jauh ke belakang agar terhindar dari serangan lawan.


Anna melakukan hal itu bukan karena ia tidak ingin di bantu atau tidak percaya dengan kekuatan para pengikutnya. Ia hanya tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka.


Bertarung melawan para dewa sangat berbeda dengan bertarung melawan makhluk lain. Anna merasa, pasukannya akan kesulitan karena para dewa tidak memancarkan aura energi Mana sama sekali dari tubuh mereka. Para Elf dan Orc akan kesulitan jika para dewa menyerang dengan kecepatan penuh. Mereka akan kesulitan menebak dari arah mana serangan datang.


°°°

__ADS_1


Anna melompat ke udara dan terbang maju menuju pasukan bangsa penjajah yang masih berlutut di sana. Ia bermaksud ingin mengamuk di sana, untuk memecah konsentrasi para dewa itu.


Namun, dewa Igigi yang tadi tidak ikut menyerang, mencegatnya di udara dengan melemparkan dua bola metal di tangannya.


Saat kedua bola itu berada tepat di hadapan Anna, ia merasa tubuhnya tersedot ke arah bola.


Tidak ingin bertabrakan dengan bola yang wujudnya telah berubah menjadi lebih besar, Anna mengayunkan kakinya ke arah bola dan menendangnya dengan sangat keras.


Namun, apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Kedua kaki Anna tiba-tiba menempel dan melekat pada masing-masing bola yang kemudian menyeretnya untuk pergi menghampiri enam dewa lain, yang baru saja kehilangan dirinya.


Keenam dewa itu langsung menusukkan pedang mereka pada Anna, yang dengan kelabakan berusaha menangkis enam pedang tersebut dengan kedua tangannya.


Keenam dewa itu terus menyerang Anna dengan gerakan yang semakin cepat, juga dengan sihir yang semakin kuat yang mereka kerahkan pada pedang.


Walaupun Anna bisa menangkis semua serangan dengan kedua tangannya, namun semakin lama ia di serang, pelindung tipis yang berada di kedua tangannya semakin lama semakin melemah.


Semakin lama mereka menyerang, tidak sedikit juga serangan-serangan itu yang mulai menusuk bagian-bagian tubuhnya. Anna juga mulai kehilangan konsentrasi saat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi hingga membuat pandangannya menjadi semakin kabur.


Melihat lawan mereka bukan hanya memiliki energi Mana yang sangat banyak hingga mereka kesusahan menghancurkan pelindung di sekujur tubuhnya, salah satu dewa, dewa Enlil, melemparkan dua bola di salah satu tangannya pada gadis itu.


Karena pergerakan kedua tangan dan kakinya kini di batasi, tidak ada pilihan lain selain menggunakan energi Mana nya hanya untuk memperkuat pertahanannya saja.


Anna membuat lapisan pelindung di sekujur tubuhnya semakin tebal dan ia hanya bisa melihat enam makhluk itu terus menebas dan menusuknya dengan brutal.


'Tidak bisa seperti ini. Aku bisa mati kalau begini terus.'


Di bawah serangan mematikan dari seluruh lawan, Anna akhirnya mengonsentrasikan pikirannya lagi.


Dengan posisi kedua tangan dan kakinya yang direntangkan oleh empat bola itu, Anna akhirnya berusaha untuk menggunakan sihirnya, bermaksud untuk menghancurkan semua lawannya sekaligus.


Walaupun ia tahu, resikonya mungkin akan sangat berbahaya bagi dirinya yang terlalu banyak menggunakan energi Mana. Bisa saja rasa sakit di kepalanya akan bertambah parah dan menyebabkan kematian padanya.


Tapi, dia harus mengambil resiko itu dibandingkan harus pasrah menerima serangan yang tiada henti.


"Conqueror of Darkness, part 2. Light in the Darkness!"

__ADS_1


Keenam dewa yang mendengar kalimat itu di sela-sela serangan mereka, terkejut.


Mereka, yang juga adalah dewa pelindung dan penghakim dari bangsa Anunnaki, tahu seberapa terkenalnya sihir dari kitab dewa keluarga Arnix tersebut.


Secara bersamaan, keenam penyerang itu mundur, lalu memperkuat tubuh mereka dengan sihir pelindung yang mereka gunakan dengan maksimal.


Namun, dewa Igigi yang adalah pemimpin mereka, pada saat yang bersamaan juga menggunakan sihir pelindung terkuat miliknya dengan perantara bola-bola yang melekat di telapak tangan dan kaki Anna.


Karena kekuatan itu, cahaya keemasan yang sebelumnya berpendar dari tubuh Anna, tiba-tiba terhisap oleh keempat bola yang berada di telapak tangan dan kaki gadis itu.


Usaha serangan Anna gagal.


Melihat salah satu sihir terkuatnya gagal, tentu saja Anna merasa sangat frustasi. Dengan membelalakkan kedua mata, ia menatap marah pada dewa Igigi yang sedang tertawa girang, menghina.


Serangannya hanya sampai di situ.


Dewa Igigi bersama 6 dewa lain kemudian mengejeknya sekali lagi dengan menyebut Anna sebagai ‘dewa hina’, sebelum beberapa dari mereka yang masih memiliki dua bola metal di tangan, melemparkan bola-bola itu ke tubuh Anna.


Mereka tahu, dengan adanya bola yang melekat pada tubuh gadis itu, bola-bola tersebut dapat memperlemah pertahanan lawan.


Dewa Igigi kemudian menghampiri Anna, yang terengah-engah saat merasakan energi Mana nya banyak terkuras habis dan rasa sakit di kepalanya semakin kuat menyiksa.


“Sebagai dewa perang dari galaksi ini, aku akan menghukum mu, Ann Arnix!” Ucapnya dengan suara lantang, di antara mulutnya yang menyeringai lebar.


Setelah ia mengucapkan kalimat itu, enam dewa lain mulai menyerang Anna. Kali ini, mereka sama sekali tidak ragu-ragu untuk menggunakan banyak energi Mana untuk menghancurkan pelindung yang menyelimuti seluruh tubuh Anna dengan sangat solid.


Crannkkk... Crannnkkk... Crannnnkkk...!


Bersamaan dengan bertemunya pedang-pedang para dewa dengan pelindung keras di atas kulit tubuh Anna, suara benda keras yang saling beradu terdengar nyaring menusuk telinga.


Hanya bisa menyaksikan tuan mereka di serang secara sepihak seperti itu, membuat para Elf dan Orc yang sebelumnya diminta untuk tidak ikut campur menjadi marah.


Karena itu, untuk pertama kalinya, mereka mau tidak mau melanggar perintah tuannya dan maju menyerang lawan dengan sangat marah.


•••

__ADS_1


__ADS_2