
Rin menggelengkan kepalanya saat mendengar umpatan yang keluar dari mulut Anna. Dia tidak ingin penolongnya menjadi salah paham pada situasi yang terjadi padanya.
“Ya?”
“M-mereka b-belum sempat memperkosa saya...” ucap Rin. “M-maafkan saya... saya masih terkejut dengan penampilan Anda, nona Anna… D-dan Anda tadi tiba-tiba menghilang dan muncul kembali. Itu seperti…”
“Ah... maafkan aku...” Sahut Anna yang kemudian tersenyum canggung. Rin tadi pasti mengira dia adalah hantu.
“Kalau kedua kakimu sudah tidak gemetaran, aku akan mengantarkanmu pulang.”
Tak lama kemudian, mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Anna Lloyd berjalan tanpa menginjakkan kakinya di tanah. Dia menjelaskan pada Rin bahwa dia tak ingin kedua telapak kakinya yang tidak memakai alas kaki menjadi kotor dan nanti mengotori lantai rumanya saat dia pulang.
Itu adalah kesalahannya, pikir Anna, ia berteleportasi saat sedang tiduran di ranjangnya sebelumnya.
Walaupun tindakannya itu membuat Rin sedikit takut pada awalnya, namun setelah berjalan bersama beberapa lama kemudian, Rin yang polos akhirnya bisa bersikap normal kembali seperti yang dia lakukan biasanya saat sedang berbicara dengan Anna, pemilik toko bunganya.
Mereka berpapasan dengan beberapa orang di sepanjang perjalanan. Orang-orang yang melihat mereka dari jauh awalnya memperlambat langkah kaki mereka dan ragu-ragu dengan apa yang mereka lihat.
Saat kedua gadis itu sudah mendekat, mereka dapat melihat dengan jelas bahwa gadis yang mengenakan gaun tidur selutut dan memiliki ‘wajah rambut’ itu berjalan dengan tidak menyentuh tanah.
Sedangkan gadis di sebelahnya, yang seluruh tubuhnya diselimuti kain panjang hingga menyentuh tanah, juga seperti melayang-layang di atas tanah karena mereka tidak bisa melihat kedua kakinya secara langsung.
Orang-orang itu akhirnya berteriak histeris dan berlari ketakutan.
Ada seorang pria yang nekad untuk mengambil foto kedua gadis itu.
Anna yang mengetahui maksud pria tersebut terpaksa membuat dirinya dan Rin menghilang saat pria itu menekan tombol untuk mengambil gambar.
Saat pria itu melihat hasil fotonya, dia langsung gemetar saat mengetahui obyek yang diambilnya sama sekali tak tertangkap kamera smartphonenya.
Tubuh pria itu menggigil, lalu bagian tubuhnya yang berada di antara selangkangannya bereaksi dan dia dapat merasakan air mengalir di antara kedua pahanya. Dengan sisa kekuatan pada kedua kakinya yang lemas, ia pun berlari ketakutan sambil berteriak histeris menyebut nama anggota keluarganya satu per satu. Ia berharap, salah satu dari mereka dapat menolongnya.
Anna tertawa saat melihat pria itu berlari ketakutan sambil terkencing-kencing.
“Maafkan aku.” Gumamnya.
Rin menatap Anna dengan rasa tak percaya. Dia baru dua minggu lebih tidak bertemu dengannya, namun sifatnya tampak banyak berubah, seperti bukan Anna yang dia kenal.
Selain itu, Anna yang memang memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi darinya, kini tampak lebih tinggi lagi. Juga, Rin sedikit terganggu dengan payudara Anna yang tampak lebih besar. Pinggulnya pun terlihat lebih montok dari sebelumnya. Tubuh ramping Anna, makin memperjelas dua bagian tersebut.
"Ada apa?" Anna menoleh pada Rin yang sedari tadi terlihat jelas sedang memperhatikannya dari bagian kepala hingga...
"Bukankah dia terlalu lama menatap bokong ku?" Pikir Anna, heran.
"T-tidak... Maaf..." Sahut Rin yang langsung menunduk malu.
•••
Setelah mengobrol lama dengan Rin dan melihat gadis itu tampak baik-baik saja, Anna akhirnya menanyakan mengapa Rin tadi berakhir di antara para berandalan itu.
Rin mengatakan bahwa ia disergap saat pulang dari toko bunga dan dibawa ketempat Anna tadi menemukannya.
“Tapi, bagaimana Anda bisa tiba-tiba muncul dan menghilang, nona Anna?” Tanya Rin dengan penasaran.
Mata bulatnya yang indah itu kini tampak berbinar-binar atas rasa kagumnya dengan kemampuan yang Anna tunjukkan tadi.
Rin tahu bahwa seseorang yang disebut sebagai Hunter adalah manusia super. Namun, dia tidak pernah mendengar ada di antara mereka yang memiliki kemampuan menghilang, apalagi berteleportasi.
"Bukankah dia tadi menghilang untuk membawakan ku sprei ini? Dia pasti berteleportasi ke suatu tempat." Pikir Rin. Wajahnya jelas menunjukkan rasa takjubnya.
Mendengar pertanyaan itu Anna tertawa canggung.
"Itu kemampuan spesial ku, tolong jangan ceritakan pada orang lain, ok?”
Rin mengangguk. Dia pernah mendengar dari adiknya bahwa ada Hunter yang memiliki kemampuan spesial. Dan itu tidak umum. Hanya Hunter yang berperingkat tinggi yang biasanya memilikinya.
__ADS_1
“Baik. Percayakan pada saya, nona Anna.” Sahut Rin. Dia berpikir bahwa Anna adalah Hunter berperingkat tinggi, mengingatnya yang berasal dari keluarga Hunter yang kaya raya.
Rin sudah pernah mendengar dari adiknya, bahwa Hunter-hunter kaya bisa membeli experience point untuk meningkatkan peringkat mereka.
‘Kau benar-benar polos.’
Anna menatap Rin, lalu ia tersenyum lembut. Dia sangat menyukai bagian polos dari sifat Rin.
•••
Di kejauhan, tampak seorang pria yang terlihat gelisah dan berjalan mondar-mandir di depan pagar sebuah rumah.
Saat dia melihat kedua gadis itu dari kejauhan, pria itu menghentikan langkah kakinya, lalu memperhatikan mereka dengan seksama.
Rin yang mengenali pria itu langsung melambaikan tangannya dan pria itu segera berlari menghampirinya.
Saat melihat pria itu berlari mendekat, dengan cepat Anna mendaratkan kakinya di trotoar.
Pria itu langsung memeluk Rin dan berbicara dengan nada yang terdengar sedikit marah. “Kemana saja kau?!"
Rin tidak menjawab pertanyaannya, ia mendekap sprei yang menyelimutinya dengan lebih erat.
Pria itu tampak menyadari bahwa Rin sepertinya tidak mengenakan pakaiannya di balik sprei tersebut.
"A-ada apa? Apa yang terjadi?"
Pria itu bertanya dengan gelisah.
“Ada orang-orang yang ingin mencelakai ku, tapi nona Anna menolong ku.” Ucap Rin yang kemudian menoleh pada Anna.
Pria itu kemudian menatap Anna dan mengucapkan terima kasih sampai beberapa kali sebelum kembali menatap Rin.
“Tidak apa-apa, akan ku ceritakan nanti.” Ucap Rin. Dia dapat melihat kekhawatiran dari mata pria itu.
Rin menoleh ke Anna lagi.
“Yeah..., kalian terlihat mirip.” Sahut Anna singkat. Ia sudah dapat menebak karena wajah mereka terlihat sangat mirip.
Pria itu kemudian mengajak Anna untuk berjabat tangan dan dia memperkenalkan dirinya. “Saya… Ren...”
“Hah? Oh… Nama yang bagus.” Puji Anna. “Apa orang tua mereka malas memberi nama?” Pikirnya.
“Terima kasih sudah menjaga kakak saya, Anda pasti pemilik toko yang sudah banyak membantu kami.”
“Tidak masalah, jangan dipikirkan.”
Anna menatap kedua bersaudara itu bergantian dari balik rambutnya. Dia kemudian pamit pada mereka untuk kembali ke rumahnya.
“Tapi… Apakah Anda hanya jalan kaki, nona Anna?” tanya Rin yang baru menyadari bahwa Anna tidak mengendarai mobilnya kali ini.
‘Kalau aku bawa mobil, untuk apa kita jalan kaki?’
“Ya. Aku sedang berolahraga.”
Saudara kembar itu menatap penampilan Anna saat dia mengatakannya, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa.
“Anda bisa memakai sepatu saya.” Ucap Ren menawarkan sepatunya saat menyadari Anna tidak mengenakan alas kaki.
“Oh, tidak masalah, ini bagus untuk aliran darah.” Anna menolaknya. “Baiklah, selamat tinggal...” Anna melambaikan tangannya, berbalik dan melangkah pergi dengan hati sedikit mendongkol karena dia terpaksa harus berjalan dengan menginjak tanah di depan pria itu.
Berbeda dengan Rin yang tampak penurut dan polos, mungkin saja adiknya itu akan bercerita kesana kemari. Dan lagi, Anna dapat merasakan energi sihir dari pria itu yang sudah bisa dipastikan bahwa dia juga adalah seorang Hunter pemula.
“N-nona Anna…” Rin yang baru saja teringat akan suatu hal memanggil Anna kembali.
Anna berbalik dan menatap Rin. “Ya?”
“Apakah besok Anda akan pergi ke toko? Saya tidak melihat…” Rin hendak menyebut nama Miyuki namun dia ingat bahwa keberadaan Miyuki adalah sebuah rahasia dan dia tidak bisa mengungkapkannya walaupun di depan adiknya sendiri. “Saya tidak melihat teman Anda akhir-akhir ini. Sudah hampir selama dua minggu dia tidak berkunjung ke toko.”
__ADS_1
Anna dapat memahami apa yang ingin Rin katakan dan gadis itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Aku akan datang besok.” Sahut Anna yang kemudian berbalik pergi.
•••
“Orang yang aneh…” Gumam Ren setelah Anna sudah berada jauh dari mereka.
“Apa yang kau katakan? Dia adalah penolong ku, orang yang selalu menolong ku." Sahut Rin kesal. Dia benar-benar memiliki rasa hormat yang tinggi pada Anna hingga tidak suka mendengar adiknya yang, dia tebak, tampak akan mengkritik penampilan Anna.
“Y-ya, aku tahu... Tapi apa dia selalu seperti itu?” Tanya Ren sambil masih menatap punggung Anna yang sudah berada di kejauhan. “Maksud ku, kenapa dia menutupi wajahnya? Dia terlihat seperti hantu. Dan kalau tidak salah, aku tadi sempat melihatnya berjalan tanpa menyentuh tanah.”
Mendengar kalimat terakhir yang adiknya ucapkan, Rin tertawa.
"Kau mungkin salah lihat?”
Ren mengangguk. “Mungkin... Tapi, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
“Aku akan bercerita di dalam, ayo kita masuk...”
“Oh... maaf, ayo masuk...”
Rin dan Ren menatap Anna yang sudah menjauh sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik untuk pulang ke rumah mereka.
Sementara itu, Anna Lloyd berbelok ke jalanan yang agak gelap dan menghilang dikegelapan.
Dia kembali ke kamarnya dan menemukan Gina Stewart masih menunggu di dalam kamar tidurnya.
Mereka kembali bertatapan, dalam diam.
Saat melihat Anna akhirnya tidak kembali menghilang dari hadapannya, Gina langsung berdiri dari tempat duduk dan berlari lalu melompat ke atas tempat tidur dan memeluk gadis itu.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Gina yang sangat khawatir.
“Y-ya...” Anna merasa bingung saat tiba-tiba dipeluk. Dia mengira Gina akan langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.
“Kau tampak berantakan. Apa yang terjadi?” Tanya Gina lagi sambil menyibakkan rambut dari wajah Anna.
“Y-ya... sebenarnya...”
“Ya?”
“Aku tadi seperti tersedot kedalam kegelapan.”
"..."
Gina menatap wajah Anna dengan penuh kekhawatiran.
“Aku berusaha untuk kembali berkali-kali tapi kegelapan itu terus menghisap ku. Dan akhirnya aku menyerah.” Anna menambah bumbu kebohongan yang tak mendasar dengan ekspresi wajahnya yang tampak seperti orang yang baru saja mendapat musibah besar.
Gina meraih pundak Anna di bagian kanan dan kirinya lalu memeluk gadis itu.
"Tidak apa-apa… Yang pasti sekarang kau sudah kembali dan baik-baik saja…” Ucap Gina, ingin menenangkan Anna.
Anna terdiam saat merasakan kehangatan yang Gina berikan padanya. Kehangatan yang sangat berbeda dengan kehangatan kosong yang ibu dan saudara tirinya berikan padanya selama ini.
Perasaan yang Anna rasakan saat itu, terasa seperti saat ia sedang bersama ibunya sendiri saat ia masih kecil. Anna membalas dekapan Gina dengan kedua tangannya dengan perasaan haru.
“Aku tidak akan membohonginya lagi." Janji Anna dalam hatinya. “Terima kasih… Gina…” Gumam Anna yang merasa terharu untuk pertama kalinya setelah 15.000 tahun.
“Tidak apa-apa… Apa kau mau makan pizza? Teman ku membeli banyak pizza dan berbagi untuk ku tadi."
“Ya!"
“Tapi kau harus mencuci kaki mu dulu, ok… Kaki mu sangat kotor.”
Anna “…”
•••••••
__ADS_1