
Setelah mengetahui hal itu, Nordic bersikap lebih sopan pada Anna.
Pada dasarnya, Nordic yang sangat kuat itu sebenarnya memiliki sikap yang sangat angkuh. Itu terbukti dari sikapnya yang tidak suka berbasa-basi bahkan tidak menganggap hewan yang sejak tadi diam bertengger di pundak Anna itu ada.
Tapi, Nordic sangat menghargai kekuatan dalam bertarung. Karena itulah dia yang seorang petarung sejati itu juga sangat menghormati dewi Ann, dewa perang terkuat di antara para dewa.
"Kalau begitu, kita bisa mencoba melacak keberadaan dewi Lyn. Tolong tunggu sebentar," pinta Nordic yang kemudian pergi masuk ke dalam ruangannya di balik sebuah pintu batu geser.
Ia baru kembali lagi beberapa menit kemudian dan meminta Lorelei beserta Anna untuk duduk di lantai dingin goa, di hadapannya.
"Duduklah di hadapan ku," pinta Nordic.
Setelah kedua wanita itu duduk, Nordic mulai menjelaskan cara kerja sihir kuno miliknya.
"Karena saya tidak merasakan adanya energi Mana Anda, bisakah Anda membuka kunci energi Mana sedikit saja? Hanya sedikit yang saya perlukan untuk menelusuri jejak dewi Lyn." Ucap Nordic pada Anna dengan sangat sopan.
Anna kemudian menoleh pada Lorelei, "Apakah tidak apa-apa?"
"Tidak masalah. Kau bisa membuka sangat sedikit sekali, lalu menutupnya langsung. Para dewa perang planet ini tidak akan bisa mendeteksinya."
"Baiklah," sahut Anna yang kemudian menatap Nordic lagi. "Tolong beritahu kapan saya harus melakukannya."
Nordic kemudian meletakkan telapak tangannya di atas bola kristal yang tadi ia bawa dari dalam ruangan pribadinya.
"Letakkan tangan Anda berdua di sini. Karena kita menggunakan Anda sebagai penghubung, kita akan melihat awal dari pertemuan Anda dan dewi Ann yang memiliki energi Mana Anda. Setelah itu, kita akan melihat sedikit perjalanan kehidupan dewi Ann, sampai akhirnya terpisah dari dewi Lyn,"
"Dari situ, barulah kita mengikuti kemana dewi Lyn pergi. Jadi, saya harap Anda tidak terpengaruh pada situasi apa pun dari pengelihatan yang nanti akan Anda lihat, atau hubungan kita dan pengelihatan itu akan terputus. Anda mengerti, nona?"
Anna melirik pada Lorelei yang mengangguk pelan padanya.
"Kau harus mengikuti apa yang ia katakan. Apa pun yang kau lihat, jangan sampai terganggu dengan hal itu," ucap Lorelei pelan.
Anna akhirnya mengangguk dan menatap kembali pada Nordic, "Saya mengerti."
Setelah Nordic mendapatkan kesepakatan itu, ia ingin memulai ritualnya. Namun, kedua hewan di pundak Anna tiba-tiba turun lalu ikut memegang bola kristal.
Nordic menatap dua makhluk berbulu itu dengan tidak senang.
Namun, saat Lorelei berbicara, sikap Nordic tiba-tiba berubah.
"Mereka dewa Ogun dan dewi Ezili," ucap Lorelei.
"Apa?!"
__ADS_1
Nordic sangat-sangat terkejut. Ia sampai melompat mundur beberapa langkah saat mengetahui hal itu.
"Tidak usah terlalu kaget. Tolong lanjutkan sa..."
"Maafkan hamba, dewa Ogun, dewi Ezili!" seru Nordic tiba-tiba. Ia mengucapkan permohonan maaf itu sambil berlutut dengan membenturkan kepalanya pada lantai goa.
"Maafkan hamba. Hamba tidak mengenali *maha*dewa sekalian!"
Di antara semua orang yang berada di situ, tentu hanya Anna saja yang merasa terkejut melihat sikap Nordic yang sampai begitu merasa menyesal hingga membentur-benturkan kepalanya dengan keras.
"A-apa yang terjadi?" tanya Anna dengan perasaan tidak nyaman pada Lorelei.
Bukan Lorelei yang menjawabnya. Namun Nordic malah bertanya pada Anna.
"Siapa Anda sebenarnya? Mengapa dua mahadewa pengikut dewi Ann ada bersama Anda?" ucap Nordic dengan suara bergetar. Ia kini merasa takut pada Anna.
Anna terdiam.
'Jika aku tahu itu, aku mungkin akan tidur nyenyak di rumah.'
"Sudahlah. Ayo cepat mulai saja ritualnya," ucap dewa Ogun yang tampak tidak sabar.
Ia sudah bosan menunggu pembicaraan yang berputar-putar itu sejak tadi dan hampir saja memperkenalkan diri jika Nordic menolak.
Kelimanya akhirnya meletakkan salah satu telapak tangan mereka pada bola kristal.
Nordic merapalkan mantranya, sambil masih dalam posisi berlutut dan meletakkan dagunya yang berjanggut panjang itu di lantai goa. Ia tidak berani mengangkat kepalanya lebih tinggi dari kepala dewa Ogun dan dewi Ezili.
"Kau sebaiknya tegakkan saja tubuhmu. Lebih nyaman bagiku melihat kepala mu berada di posisi lebih tinggi di bandingkan bokong mu," ucap dewa Ogun yang kemudian mendecak kesal.
Nordic mengikuti permintaan itu.
Tak lama kemudian, kedua mata Nordic berkilat saat ia selesai membaca mantra sihirnya.
Semua yang berada di dalam goa itu, tiba-tiba berpindah ke suatu tempat yang sangat asing bagi mereka.
Kecuali Anna. Ia sangat mengenal tempat dimana mereka saat ini berada.
Mereka saat ini sedang berada di rumah kakek dan nenek dari ibunya, Jessica Lee.
Melihat ibunya yang masih muda sedang duduk sendiri di teras rumah sambil menangis, Anna juga mulai ikut menangis.
Beberapa saat kemudian, seorang pria berusia akhir 30an datang menghampiri.
__ADS_1
Dia adalah Brandon Lloyd, yang mencoba memberikan pengertian pada Jessica.
Dari apa yang mereka bicarakan, Anna akhirnya tahu bahwa itu adalah pertemuan terakhir kedua orang tuanya sebelum Brandon meninggalkan Jessica yang sedang dalam keadaan hamil muda.
Jessica yang merasa malu karena dirinya telah dinodai Brandon dengan rayuannya lalu ditinggalkan begitu saja, akhirnya memilih untuk bunuh diri dengan melompat dari sebuah bangunan tua di pinggiran Kota C.
Namun, saat tubuhnya hampir terhempas ke tanah, sosok wanita cantik dengan rambut pirang-platinum datang menangkapnya.
Sosok wanita cantik itu kemudian menurunkan Jessica dari gendongannya perlahan, sebelum akhirnya menatapnya dengan marah.
"Apa yang kau lakukan?"
Jessica terkejut saat melihat orang yang sudah lama tidak ditemuinya itu tiba-tiba berada di hadapannya.
"Ann?"
"Kenapa kau ingin bunuh diri?"
Jessica tertunduk malu, sembari memegang perut dengan kedua tangannya.
"Aku...," Jessica diam agak lama sebelum kembali berbicara, "Bisakah kau pinjamkan aku sedikit saja kekuatan mu? Aku hanya ingin membunuh pria itu!"
"Kau benar-benar bodoh. Aku tidak akan memberikan kekuatan ku hanya untuk melakukan hal bodoh!"
"Aku berjanji. Aku akan membantu mu dan Lyn untuk mengejar semua malaikat tersesat itu setelahnya!"
"Kau gila! Kau sudah melakukan masalah yang sangat besar saat masih hidup di dunia para dewa dan kau masih ingin melakukannya lagi saat kau sudah menjadi manusia? Kau tidak akan bisa menemukan mereka dengan cara berpikirmu yang dangkal."
"Tapi kau sudah berjanji akan membantu ku jika aku mengalami kesulitan!"
"Cukup!" dewi Ann menarik nafas panjang. Ia terlihat berusaha keras untuk menahan kemarahannya.
Setelah lama berdiam diri, dewi Ann kembali berbicara dengan lebih tenang, "Aku bukan tidak ingin memberikan sebagian dari inti Mana ku pada mu. Kau tidak cocok sebagai seorang petarung. Para malaikat tersesat itu sangat kuat. Mereka juga penuh tipu muslihat. Kau bahkan tidak bisa melewati cobaan hidup atas kesalahan mu sendiri. Bagaimana kau bisa bertahan melawan mereka?"
Jessica tertunduk malu.
"Aku bahkan sudah berlutut memohon pada Lyn agar kau diampuni dan tidak dibinasakan. Kenapa kau mengulangi kebodohan mu dan kembali jatuh dalam rayuan laki-laki di dunia makhluk ciptaan ini?"
Jessica hanya tertunduk tanpa berani menatap wajah dewi Ann.
"Hiduplah dengan baik, Ana. Kau tahu aku sangat menyayangi mu. Tapi, peraturan Absolut tidak bisa kita langgar," ucap dewi Ann.
Dewi Ann kemudian menatap perut Ana dengan mata yang berkaca-kaca, sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Ana, saudari kembarnya.
__ADS_1