
Anna sudah tahu bahwa ibunya adalah saudari dari dewi Ann, tapi ia tidak menyangka jika mereka adalah saudari kembar.
"Pantas saja wajah mereka tampak mirip," Anna bergumam.
"Dan kami akhirnya tahu kenapa dewi Ann mengirimkan duplikatnya ke dunia," ucap dewa Ogun.
"Dewi Ann memang sangat menyayangi Ana. Mereka dulunya tidak terpisahkan sebelum Ana terkena hasutan dan pergi dari dunia para dewa," ucap dewi Ezili dengan suara sedih.
"K-kau tahu ceritanya, dewi Ezili?" tanya Anna.
"Tentu saja. Kami sudah mengikuti dewi Ann sebelum Ana pergi meninggalkan dunia para dewa," sahut dewi Ezili.
"Tapi, kesalahan apa yang ibu ku lakukan hingga dia harus dibinasakan?"
Baik dewi Ezili yang ditanya, dewa Ogun yang biasanya ceplas-ceplos dan Lorelei yang memiliki derajat lebih rendah dari kedua dewa itu, tidak ada yang menjawabnya.
Namun, setelah diam agak lama, dewi Ezili akhirnya berbicara kembali.
"Kami tidak memiliki hak untuk menceritakannya. Kau bisa bertanya hal itu nanti pada dewi Ann." Ucap dewi Ezili sembari mengusap lembut rambut lembut di dekat telinga Anna dangan tangan mungilnya.
•••
Kelimanya akhirnya tiba di perbatasan wilayah suku Miyu, dimana ratusan ribu tentara berkuda sedang menunggu dengan sangat setia di tempat itu.
Nordic agak terkejut saat melihat ada ratusan ribu tentara disana, terutama saat pemimpin mereka memberikan hormat pada Anna.
Nordic menoleh pada Anna dan menatapnya dengan wajah kaku.
"Apakah Anda bermaksud menyerang suku Miyu jika saya tidak membantu Anda untuk menunjukkan keberadaan dewi Lyn?" tanya Nordic penasaran, namun tetap dengan nada bicara sopan.
'Nah. Dia salah paham, kan?'
"Tidak. Saya tidak pernah bermaksud seperti itu," sahut Anna yang kemudian menghela nafas panjang sembari menatap pemimpin prajurit dengan tatapan malas.
"Dia tidak bermaksud menyerang mu dengan pasukan. Dia bermaksud menyerang mu seorang diri," sahut dewa Ogun, meluruskan.
"Hei...! Kapan aku...," Anna tiba-tiba terdiam.
"Tsk..., bukankah kau berniat mengajak kami untuk menyerang mereka?" dewa Ogun mengingatkan Anna pada ucapannya.
Plaakkk...!
Anna langsung memukul keras dewa Ogun dari pundaknya, hingga membuat dewa berwujud red panda itu terpental jauh.
Melihat bagaimana Anna memperlakukan dewa nya dengan seenaknya seperti itu, Nordic jadi salah tingkah. Ia sebenarnya ingin membela dewa Ogun, namun ia merasakan respek berlebih juga pada Anna, yang ia tahu adalah duplikat dewi Ann, dewi perang yang sangat ia kagumi.
•••
Anna, bersama 4 rekannya juga 460.000 prajurit berkuda itu akhirnya pergi ke wilayah selatan, dimana gerbang menuju inti planet berada.
Selama perjalanan itu, mereka terpaksa harus berputar-putar melewati jalan yang tidak dalam wilayah kekuasaan kerajaan manapun, hanya untuk menghindari konflik.
Sampai akhirnya, mereka menemui jalan buntu saat satu-satunya jalan yang harus mereka lewati berada di wilayah sebuah kerajaan.
°°°
Melihat ada ratusan ribu pasukan perang berada di luar tembok perbatasan, jendral perang kerajaan itu akhirnya keluar dengan membawa ratusan ribu pasukan juga.
"Dari kerajaan manakah kalian ini?!" seru jenderal perang itu, dari tempat yang agak jauh.
__ADS_1
Anna menoleh ke kanan kirinya, berharap Lorelei atau Nordic menyahuti pertanyaan itu.
"Jawab saja, Anna. Kau lah pemimpin kami," ucap Lorelei.
"Bisakah kalian saja yang menjawabnya? Aku tidak suka berteriak-teriak." Sahut Anna malu-malu.
"'Sudah terlambat untuk lari...', bukankah kau pernah berteriak seperti itu? Aku yang saat itu berada di pohon saja sampai... Akhhhh...! Hei! Kenapa kau selalu memukul ku?!" protes dewa Ogun setelah kepalanya dipukul Anna. Padahal, dia hanya ingin mengingatkan Anna bahwa gadis itu pernah berteriak dengan sangat lantang mengerikan saat berada di dekat hutan suku Trovan.
"Kami hanya ingin melewati wilayah Anda untuk pergi ke sana!" Sahut Anna akhirnya, sembari menunjuk ke arah perbukitan jauh yang ada di belakang tembok besar kerajaan.
"Kami tidak bisa mengizinkan Anda dan pasukan untuk melewati wilayah kami! Berputarlah dan cari jalan lain!" sahut sang jendral.
Anna mendengus kesal.
'Kau menyuruh kami memutari sepersepuluh planet yang sangat besar ini?'
"Menurut kalian, apa yang harus ku lakukan?" tanya Anna pada rekan-rekannya.
"Kami akan mengikuti apa pun keputusan mu," sahut Lorelei.
Anna mengangguk pelan sebelum berteriak lagi.
"Jika kalian tidak mengizinkan kami lewat, kami terpaksa akan menggunakan kekerasan!"
Anna dapat melihat jendral itu tertawa.
Ia pun mulai kesal dan langsung mengancam.
"Kami memiliki 460.000 pasukan berkuda! Jika Anda memaksa, kami akan..."
"Kami masih memiliki 400.000 tentara di dalam benteng dan 22.000.000 tentara di luar benteng!" sahut jendral itu.
Anna : "..."
Namun, Nordic langsung terdiam saat melihat Lorelei sudah mencabut belatinya. Ia juga melihat dewa Ogun dan dewi Ezili tampak bersiap untuk berperang.
"Dia tidak akan mau melakukan hal seperti itu," sahut dewa Ogun.
"Aku mau. Kapan aku bilang tidak mau?" tanya Anna, dengan kening berkerut. Ia sejak awal juga sudah menyarankan untuk berkeliling mencari dewi Lyn dengan terbang saja, namun dewa Ogun dan dewi Ezili menolaknya.
"Kita bertempur saja," ucap dewa Ogun, mengabaikan apa yang Anna katakan.
"Ayo kita beri mereka pelajaran, Anna," ucap dewi Ezili.
"Mereka belum tahu siapa kita," Lorelei menambahkan.
Mendengar ketiganya tampak sepakat, Anna tercengang.
'Mereka ini sebenarnya suka peperangan, kan?'
Apa yang Anna pikirkan memang sangat tepat. Kedua dewa dan malaikat tertinggi itu, hidup di zaman peperangan antar dewa. Saat itu mereka sangat menikmatinya dan mereka kini merindukan masa-masa itu.
°°°
"Kau tidak ingin ikut bertempur?" tanya dewa Ogun pada Nordic.
Nordic menatapnya dalam diam.
'Bagaimana bisa saya membunuh makhluk ciptaan dari planet sendiri? Anda lupa? Saya dulu malaikat planet ini.'
__ADS_1
"Aku tahu. Kami juga dulunya dewa perang dari planet ini. Tapi, kami akan membasmi semua makhluk yang hendak menghalangi jalan kami," ucap dewa Ogun seakan tahu apa yang Nordic pikirkan.
Mendengar itu, Nordic mengunci mulut dan pikirannya dengan sangat rapat.
"Tunggu, bukannya kalian akan mengikuti keinginan ku?" Anna akhirnya memprotes niat mereka bertiga.
"Anna, kau bunuh pria keparat itu dan serang pasukan dibelakangnya dari arah depan. Aku dan Ezili akan mendesak dari kanan dan Lorelei dari kiri." ucap dewa Ogun, tidak memerdulikan protes yang Anna lakukan.
Dewa Ogun kemudian menoleh pada 460.000 prajurit berkuda di belakang mereka, yang sudah tidak bingung lagi pada dua hewan imut yang bisa berbicara itu, lalu berteriak lantang.
"Kalian siap bertarung demi dewi perang kita?!"
"Kami siap mempertaruhkan nyawa!!!" teriak para prajurit bersamaan.
Anna : "..."
°°°
"Bagaimana dengan saya, dewa Ogun?" tanya Nordic dengan wajah linglung, setelah melihat semua orang, kecuali dirinya, sudah bersemangat untuk berperang.
Nordic bukan takut pada peperangan. Ia juga sangat menyukainya. Tapi, bukan berarti dia suka berperang melawan makhluk ciptaan di planetnya sendiri.
"22.000.000 tentara itu, jika mereka datang, kau uruslah mereka," sahut dewa Ogun.
"A-apa?!"
"Kau bisa menggunakan energi Mana sedangkan kami tidak. Akan melelahkan membunuh orang sebanyak itu tanpa sihir."
"Seharusnya aku menggambarkan peta jalannya saja," sesal Nordic dalam hatinya.
Jendral perang di seberang sana sudah bersiap dengan tombak panjangnya.
Anna melihat gerak-gerik jendral itu dan ia tidak menyukainya. Ia tahu akan terjadi pembunuhan besar-besaran jika mereka saling berperang.
Jendral itu kemudian mengangkat tombaknya tinggi-tinggi untuk memberi perintah pada pasukannya agar maju menyerang.
Tapi, itu hanya niatnya saja. Ia belum sempat melakukannya.
"Aku akan mengampuni kalian semua jika kalian membukakan jalan untuk kami!" seru Anna dari atas kuda jendral perang lawan, sembari mengangkat kepala jendral lawan yang kini berada di ujung tombak hitamnya tinggi-tinggi.
Melihat itu, Nordic merinding.
"K-kapan dia... pergi kesana?" ucap Nordic dengan suara terbata-bata.
"Tsk..., ku harap mereka akan keras kepala hingga kau bisa melihat bagaimana buasnya bocah itu," ucap dewa Ogun sambil menyeringai.
"A-apa? T-tapi... Bukankah dia mengunci energi Mana nya?"
"Kau belum pernah melihat dewi Ann bertarung tanpa energi Mana, kan? Kau bisa melihatnya dari bocah itu dan kau akan tahu alasan kenapa aku dan Ezili sampai mau mengikutinya."
Glup...
"S-saya mengerti..."
•••
Si seberang sana, ratusan ribu prajurit yang sudah kehilangan pemimpin mereka, terdiam untuk beberapa saat.
Namun, mereka kemudian maju menyerang sambil berteriak-teriak mengutuki Anna.
__ADS_1
Melihat ratusan ribu tentara itu bergerak bersamaan ke arahnya, Anna hanya bisa menepuk pelan keningnya.
"Aneh, makhluk-makhluk di planet ini malah semakin marah saat melihat pemimpin mereka sudah terbunuh," keluhnya.