Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 213 - Kemampuan Baru Anna


__ADS_3

Setelah dewi Ann mengucapkan mantra sihir itu, udara di sekitar mereka terdistorsi.


Anna dapat melihat baik itu tubuh dewa Anu dan dewi Ki tiba-tiba meliuk-liuk seperti sebuah fatamorgana, demikian juga dengan seluruh daratan yang mereka pijak.


Anna juga melihat seluruh langit yang berada di atas mereka tiba-tiba bergoyang sebelum akhirnya meleleh.


Langit merah yang bercampur menjadi satu dengan lapisan daratan luar, yang merupakan tempat tinggal penduduk atas planet Nibiru itu, pada akhirnya bergerak secara perlahan, tersedot ke satu arah.


Bukan hanya langit, daratan tempat mereka berpijak pun kini terhisap menuju satu arah yang sama seperti tempat langit menuju. Telapak tangan dewi Ann.


Lalu, pergerakan lambat itu tiba-tiba berubah menjadi sangat cepat dan keadaan tiba-tiba menjadi gelap gulita.


"Hah?!" Dengan seluruh bulu halus di sekujur tubuhnya meremang, Anna yang kini melayang-layang di ruang hampa udara, menatap ke sekitarnya yang gelap gulita.


"Di mana planetnya?!" pekik Anna, saat menyadari planet Nibiru beserta seluruh makhluk hidup di dalamnya telah menghilang.


"Ini planetnya," ucap dewi Ann, sembari melemparkan sebuah bola berukuran kelereng pada Anna.


Anna menangkap bola berwarna putih-kuning itu lalu memerhatikannya dengan seksama.


"Apa yang kau cari?" tanya dewi Ann saat melihat Anna memicingkan kedua matanya memerhatikan bola.


"Para Elf dan Orc masih berada di sini. Apa mereka mengecil juga?" tanya Anna dengan polos. Ia tadi berusaha melihat ke permukaan bola dengan pengelihatan supernya, namun tidak menemukan apa pun di sana.


Dewi Ann tertawa.


"Mereka ada di sana," ucapnya, seraya menunjuk ke arah belakang Anna.


Anna segera menoleh dan melihat para pengikutnya itu sedang pingsan di dalam cahaya keemasan berwujud bola transparan.


"Sejak kapan mereka ada di sana?" pikir Anna, yang tadi juga sudah melihat ke arah itu.


Anna kemudian mengingat bagaimana dulu pulau di planet asing yang sebelumnya tidak ada tiba-tiba saja muncul saat mannequin menunjuk ke arah pulau tersebut.


Anna menoleh pada dewi Ann lagi, dan menatapnya dengan perasaan ngeri.


'Mereka bisa menghilangkan dan memunculkan segala sesuatu semaunya saja?'


Ia kemudian menatap kembali pada bola kecil yang berada di antara ujung ibu jari dan jari telunjuknya, "Lalu, untuk apa kau memberi ku planet mini ini?"


"Coba kau tekan dengan sedikit kuat."


Anna menurutinya.


Kresss...


Bola kecil itu tiba-tiba pecah, membentuk asap yang kemudian terserap ke tubuhnya dan menempel dari bagian leher sampai pergelangan kedua kakinya.


Asap itu kemudian membentuk sebuah pakaian mirip catsuit yang mengikuti bentuk bodi tubuhnya

__ADS_1


Kostum itu sangat cantik dengan corak bunga berwarna kuning-putih pastel yang sangat anggun dan indah.


Anna juga merasa ada sesuatu yang melingkar di kepalanya. Saat ia mengambil benda di atas kepalanya tersebut, ia kaget melihat tiara yang terbentuk dari susunan bunga yang juga berwarna kuning dan putih.


"Apa-apaan ini?"


"Itu armor tempur. Hadiah dari ku untuk mu," sahut dewi Ann, dengan senyuman di wajahnya.


"Tapi, ini agak...," ia membayangkan bagaimana Kevin Jung akan mengejeknya saat melihatnya mengenakan kostum aneh tersebut.


"Abaikan rupa nya. Kostum itu bisa menahan energi sihir yang sangat kuat."


"B-begitu..."


"Kau bisa melakukan uji coba dengan bertarung melawannya," ucap dewi Ann, sembari menunjuk pada dewa Igigi yang masih syok dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Seluruh planet beserta kedua orang tuanya lenyap begitu saja, setelah dewi Ann mengucapkan mantra sihir.


Anna melirik sebentar pada dewa Igigi, namun karena ia kurang tertarik pada dewa berlidah ular tersebut, ia pun berbicara kembali pada dewi Ann.


"Bagaimana cara ku mengembalikan wujudnya?"


"Tidak bisa, planet itu sudah hancur."


"Maksud ku, aku agak malu memakai pakaian ini, bisakah aku mengembalikannya ke wujud bola? Aku mungkin akan memakainya nanti."


"Kau tinggal menjentikkan jari mu."


Kresss...


Baru saja menjentikkan jarinya, Anna akhirnya memecahkan bola itu kembali saat melihat pakaian gembel, yang sebenarnya gaun yang ia kenakan untuk pergi ke acara perjodohan dulu, sudah menghilang dari tubuhnya.


Melihat Anna tadi sempat telanjang, dewi Ann tertawa. Sementara dewa Igigi yang sedang diam ketakutan, membelalakkan kedua matanya saat melihat tubuh polos Anna, walaupun hanya sepersekian detik saja.


Anna menatap kesal dewi Ann dengan tatapan ala Miyuki.


•••


Dewi Ann kemudian melemparkan sebatang besi hitam yang hanya sebesar sebuah tusuk gigi pada Anna.


"Apa ini?"


"Itu gabungan dewa Anu dan dewi Ki," sahut dewi Ann dengan santainya.


Ia tak tahu, dewa Igigi hampir menangis saat tahu nasib kedua orang tuanya.


"Apa?! Bagaimana kau bisa membuat mereka menjadi seperti ini?" tanya Anna, penasaran.


"Itu sama seperti senjata pusaka para dewa. Semua senjata yang digunakan para dewa, dulunya adalah dewa atau dewi yang kalah dalam pertarungan. Mereka di ubah menjadi sebuah senjata atau armor, sesuai yang pemenang inginkan."

__ADS_1


"Itu terdengar mengerikan," sahut Anna, seraya menatap tusuk gigi metal di telapak tangannya. "Bagaimana cara menggunakan senjata ini? Apa ini sejenis jarum rahasia?"


Dewi Ann menangkupkan kedua tangannya. "Taruh benda itu kedalam kedua telapak tangan mu dan lakukan gesekan seperti ini," ucapnya.


Anna mengikuti petunjuk itu, lalu benda yang tadinya berwujud seukuran tusuk gigi itu tiba-tiba berubah menjadi tombak panjang berwarna hitam tinta, baik itu batangnya maupun mata tombaknya.


Anna menatap tombak di genggamannya itu dengan tatapan takjub.


"Nah, kau bisa mencobanya. Tombak itu memiliki daya hancur yang luar biasa." Ucap dewi Ann sembari melirik pada dewa Igigi.


Anna kemudian menoleh pada dewa Igigi yang diam mematung.


Saat dewa Igigi sadar bahwa gadis itu ingin menyerangnya, ia sudah sangat terlambat karena Anna baru saja menghujamkan tombaknya ke kepala dewa Igigi dan menancapkan tombaknya disana.


Craaakkkkk!!!


Dewa itu pun menjadi dewa pertama yang mati di tangan seorang manusia.


Anna kemudian menoleh pada dewi Ann. "Kau meninggalkannya untuk ku kan?" tanyanya, sembari melirik pada mayat dewa Igigi yang mengambang di ruang hampa udara.


"Kau benar."


"Lalu, bagaimana cara untuk merubahnya menjadi sebuah senjata?"


"Ah..., aku lupa." Dewi Ann berjalan di ruang hampa udara itu untuk menghampiri Anna. Ia tiba-tiba mengangkat tangannya dan menusuk kedua mata Anna dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Di serang secepat kilat seperti itu, tentu saja membuat Anna kehilangan kewaspadaannya.


Tapi, Anna tidak merasakan sakit apa pun selain merasa retina matanya sedikit gatal.


"Selama aku menyempurnakan tubuh mu, aku juga membuat tubuh mu melatih bab lima dari kitab keluarga Arnix. Nah, aku sudah memberikannya pada mu."


"Apa?"


Tanpa Anna sadari, kedua manik matanya yang sebelumnya berwarna biru, telah berubah warna menjadi keemasan, persis seperti manik mata dewi Ann.


"Sihir dari bab lima kitab keluarga Arnix itu cukup kau ucapkan dalam hati dan kau bisa langsung menggunakannya."


"Baiklah. Tapi, bagaimana cara ku mengubahnya menjadi sebuah senjata setelah aku merapalkan mantra nya?"


"Katakan saja nama senjata atau armor yang kau inginkan."


"Oh..., sesederhana itu...," gumam Anna, yang kemudian merapalkan mantra dalam hatinya, lalu memegang dada dewa Igigi. "Jadilah sebuah separu perang."


Dewi Ann terdiam mendengarnya.


Anna meliriknya dengan ragu-ragu, seraya mengenakan sepatu boots bermotif bunga kuning-putih itu di kedua kakinya.


"Kau memakai sepatu ku," ucap Anna dengan suara datar setelah ia melihat dewi Ann ternganga saat mengetahui benda apa yang ia buat untuk pertama kali dengan sihir barunya.

__ADS_1


'Kau merubahnya menjadi sepatu karena tidak memilikinya atau karena dendam padanya?'


•••••••


__ADS_2