Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 80 - Pertemuan Kembali (2)


__ADS_3

Ren, yang baru saja kehilangan makan siangnya, buru-buru memunguti kembali kotak makan siang dan isinya yang kini berhamburan di atas meja dan lantai.


Dia agak sedikit terkejut saat melihat Anna meletakkan kembali gelas yang tadi hilang entah kemana, ke atas meja.


Dia ingat, Anna tadi meletakkan gelasnya di dekat gelas minumannya dan belum mengambilnya lagi.


Ren melirik pada Anna dan gelas itu bergantian selama beberapa kali.


‘Kapan dia mengambilnya?’


Anna akhirnya menoleh pada Ren dan tersenyum saat melihat pria itu membersihkan makan siangnya yang berhamburan.


"Maaf, salah ku." ucap Anna dengan tatapan menyesal.


"Tidak apa-apa." sahut Ren dengan tersenyum canggung. Ia kemudian melanjutkan membersihkan sisa makanan yang berhamburan.


Setelah mengembalikan semua isi makanan yang terhambur ke dalam kotak, Ren meletakkan kembali kotak makan siang dan juga gelas miliknya yang sudah kosong, di atas meja.


“Kau bisa membelinya lagi di kafe. Aku akan mentraktir mu.” Ucap Anna.


Anna kemudian menyodorkan tangannya dengan posisi telapak tangan yang menengadah ke atas, pada Ren.


Ren agak bingung melihat gerakan dan posisi tangan Anna.


‘Apa dia mengajak ku bersalaman? Tapi kenapa arah tangannya...’


“Uang bagian ku.”


“Ya?”


“...”


“Oh, maaf. Uang nya ada pada ku. Aku membawanya.”


Dengan buru-buru Ren merogoh kedalam saku seragamnya dan mengambil sebuah amplop dari sana. Dia kemudian meletakkannya di telapak tangan Anna.


Anna membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ada 10 kartu dengan pecahan 500 Dollar. Anna agak terkejut melihat nilainya.


“Apa memang sebanyak ini?”


Anna menebak, harusnya nilai penjualan raid ilegal tidak akan sebanyak itu karena penjualan hasil raid di dapatkan dari pasar gelap.


Apalagi uang hasil penjualan harus di bagi untuk 20 orang dan juga di potong dengan penyewaan perlengkapan dan biaya ransum.


Ren tersipu sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.


“Kami menyisihkan sebagian yang kami dapatkan untuk rasa terima...”


“Ok. Aku terima,” potong Anna, tidak nyaman dengan gelagat Ren yang tampak ingin berterima kasih padanya. Padahal, dia sedang memanfaatkan mereka pada saat itu.


Anna mengembalikan uang elektronik itu ke dalam amplop dan memasukkannya ke saku seragamnya, lalu menatap kembali pada Ren. “Terima kasih,” ucapnya.

__ADS_1


"T-tidak, kami tidak melakukan..."


"Kenapa tidak kau titipkan pada Rin saja?" Anna kembali memotong kalimatnya.


“Ah..., maaf karena terlambat menyerahkannya. Aku mau menitipkannya pada Rin, tapi khawatir kalau Rin curiga. Dia pasti sangat khawatir kalau tahu dari mana aku mendapatkan uang untuk biaya Akademi.”


"Kau... Jangan-jangan kau berbohong padanya tentang biaya masuk dan biaya tahunan Akademi?"


Ren agak malu mengakuinya dan hanya mengangguk pelan.


Anna menatap Ren dan diam selama beberapa detik, lalu mendesah pelan.


“Aku mengerti.”


'Jadi untuk itu dia melakukan raid ilegal.'


Anna kemudian menatap ke sekitar mereka, melihat siswa-siswi yang masih memerhatikan mereka berdua, sambil berbisik-bisik.


Anna bisa memaklumi hal itu karena dia tahu orang-orang memang sangat suka bergosip.


“Apakah dia benar-benar arogan? Sayang sekali.”


“Kau lihat? Apa siswi itu memeras siswa dari pinggiran kota itu? Malang sekali nasibnya.”


“Sayang sekali sifatnya tidak baik, padahal dia sangat berbakat.”


"Pantas saja Luke marah padanya. Dia ternyata wanita yang seperti itu."


'Memiliki pendengaran seperti ini kadang membuat ku merasa tidak nyaman.'


"A-apa ada yang salah?" tanya Ren saat melihat Anna tampak kecewa.


"Oh, tidak ada."


Ren mengangguk pelan. Dia diam agak lama saat mengingat pesan dari kenalannya. Namun, saat ingin menyampaikan pesan itu pada Anna, dia agak ragu.


Ren merasa bahwa dia tidak dekat dengan gadis itu sampai harus menyampaikan permintaan kenalan-kenalannya di pertemuan ini.


Walaupun Ren ingin menyembunyikannya, namun di mata Anna, wajah pria itu tampak jelas seperti seseorang yang sedang ragu untuk berbicara atau bertanya.


Anna yang dapat menangkap gerak-gerik itu, bertanya, "Ada hal lain yang ingin kau katakan?"


Ren sedikit terkejut saat mendapat pertanyaan itu dan menatap Anna sebentar sebelum mengalihkan matanya yang tidak sanggup berlama-lama beradu pandang dengan kedua mata indah Anna.


'Apa dia bisa membaca pikiran?'


"Wajah mu terlihat jelas ingin menyampaikan hal lain," ucap Anna.


Justru kalimat terakhir itu yang membuat Ren yakin bahwa Anna dapat membaca pikirannya. Dia terdiam lama sebelum akhirnya berbicara dengan sedikit tergagap.


"Mereka... maksud ku..., tim raid itu ingin meminta bantuan mu jika kau tidak masalah untuk melakukan raid lagi.” ucap Ren. Dia sudah terlanjur berjanji pada mereka untuk menyampaikannya pada Anna.

__ADS_1


"Kenapa mereka harus meminta bantuan ku? Bukankah biasanya mereka melakukannya begitu saja?"


"Yah, itu... Kau dulu mengatakan... Demi keamanan, mereka harus membawa mu lain kali jika ingin melakukan raid."


"Ah... Kau benar." Anna akhirnya ingat saat dia memarahi sekelompok orang tua itu. “Mana ponsel mu?”


“Ya?” Ren agak bingung dengan pertanyaan itu, namun dia mengeluarkan smartphonenya.


Anna mengambilnya dari tangan Ren, lalu mengusap layarnya.


Saat melihat layarnya terkunci, Anna memiringkan layarnya sedikit, menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya memasukkan pola kunci dan membuka kunci layar sambil melirik pada Ren dan bercanda padanya.


"Apa yang sedang kau sembunyikan sampai-sampai harus menguncinya?"


Ren terkejut. Bukan hanya pada pertanyaan itu, tapi juga pada layar smartphonenya yang kini terbuka hanya dengan 1 kali percobaan memasukkan pola sandi.


"Dari mana kau tahu pola sandi ku?"


"Oh... Ternyata ada yang kau rahasiakan."


Ren menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang sedang ku rahasiakan." Sahut Ren, protes pada tuduhan itu.


"Tsk... Aku hanya bercanda. Kau bersemangat sekali," sahut Anna. Dia kemudian melirik ke arah siswa-siswi yang masih menatap pada mereka berdua. "Mereka mungkin akan salah paham dan mengira aku sedang memergoki mu yang berselingkuh."


"Apa?!"


Ren akhirnya menatap sekeliling dan menyadari banyak siswa yang sedang mengamati mereka.


Anna mengetikkan beberapa angka, kemudian melakukan panggilan sekitar beberapa detik sebelum memutusnya. Setelah itu, Anna mengembalikan smartphone pada Ren.


“Aku sudah menyimpan nomor ku. Hubungi aku jika mereka ingin melakukan raid. Tapi jangan berikan nomor ku pada mereka.”


Ren menerima kembali smartphoene dengan kedua tangannya. Dia agak sedikit gugup saat itu.


“Ada apa? Jangan katakan ini adalah pertama kalinya seorang wanita memberikan nomornya pada mu.” Ucap Anna. Dia ingin tertawa saat melihat Ren menatapnya dengan wajahnya yang tampak tersipu. “Astaga, apakah itu benar?”


Setelah itu, Anna mengambil kembali gelasnya dari atas meja. Dia kemudian meraih tangan Ren dengan tangannya yang lain, lalu berdiri.


“Ayo pindah ke kafe. Aku akan mentraktir mu.” Ajak Anna, yang kemudian tersenyum pada Ren.


Senyuman itu dapat terlihat dari kedua mata indahnya, hingga membuat Ren seakan terhipnotis dan langsung berdiri lalu ikut pergi saat Anna menariknya pelan.


Sepanjang perjalanan, Anna mendengarkan kembali obrolan-obrolan berbisik disekitarnya.


"Lihat, dia bahkan tahu sandi ponsel pria itu. Dia benar-benar akan memerasnya."


"Apa mereka berpacaran? Mereka bahkan tidak malu bergandengan tangan di Akademi!"


"Gadis itu sangat agresif, kasihan pria malang itu."


Anna tidak memerdulikan pandangan mereka, dan terus ‘menyeret’ Ren menuju kafe.

__ADS_1


•••••••


__ADS_2