
"Apa Anda yakin disini lokasinya, tuan Tanaka?" tanya Gina sekali lagi, untuk memastikan kembali bahwa Kenichiro Tanaka tidak salah mengingatnya.
"Ya, Stewart-San. Saya ingat kami selalu menaiki kapal dari tempat ini menuju Kepulauan Seribu," sahut Kenichiro dengan yakin.
Gina mengangguk-angguk pelan sebelum akhirnya menoleh pada Davina.
"Bisa kau kirimkan lokasi ini pada Miyu? Minta dia memantau citra satelit di tempat ini selama periode yang tuan Tanaka katakan."
"Aku akan menghubunginya," sahut Davina cepat.
"Sebenarnya, untuk apa kita mengejar penjahat kecil itu? Dia tidak akan pernah berani muncul kembali saat semua pemimpinnya sudah mati." Kevin Jung berkomentar.
"Pil iblis itu. Aku dan Miyuki tidak menemukan tempat pembuatannya baik itu di Asosiasi pusat ataupun di kediaman Li Wen Xia. Aku yakin Chris Meyers tahu sesuatu tentang itu." Sahut Gina, mengatakan rahasia yang selama ini ia dan Miyuki simpan.
"Pil iblis?" tanya Kenichiro, memotong Kevin yang sebenarnya ingin menanggapi ucapan Gina.
"Ya. Apa Anda mengingat sesuatu seperti itu, tuan Tanaka?"
Kenichiro kemudian menoleh pada Eiko, yang langsung merogoh kedalam kimono nya untuk mengeluarkan sebuah botol kecil transparan dengan pil iblis di dalamnya.
"Apa ini yang Anda maksud, Stewart-San?"
"Ya. Ini dia!"
"Li Wen Xia memberikannya pada saya untuk dikosumsi setiap malam hari," ucap Kenichiro pelan. "Saya menyimpan pil itu untuk nantinya diberikan pada Jirou agar dia bisa menelitinya. Pil itu bisa menambah energi Mana dengan instan. Ini pasti akan membantu banyak Hunter di seluruh dunia jika Jirou bisa menemukan formulanya."
"Siapa Jirou ini, tuan Tanaka?"
"Dia putra bungsu dari Taka..., maksud saya Takayoshi Sato. Dia juga ilmuwan."
Gina mengangguk pelan.
"Apa Anda tidak tahu kalau pil ini sangat berbahaya?"
"Apa?"
"Pil ini akan memberikan Anda kekuatan berkali lipat tapi dengan efek yang tidak baik juga. Apa Anda tidak merasa energi Mana di dalam tubuh Anda jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya?"
Kenichiro terdiam. Apa yang Gina katakan memang ia rasakan selama ini. Ia juga merasakan energi Mana di dalam tubuhnya bergejolak seakan memintanya untuk menghunus pedangnya dan membunuh seseorang. Itu juga salah satu alasan yang membuat Kenichiro tidak membawa katana nya belakangan ini. Ia merasa seperti haus akan membunuh.
"Dari ekspresi Anda, apa yang saya katakan sepertinya memang Anda rasakan." Gina kemudian menoleh pada Eiko sembari menyodorkan tangannya. "Bisa saya minta pil itu?"
Eiko tampak ragu. Ia kemudian melirik pada Kenichiro yang langsung mengangguk padanya. Mendapat persetujuan dari ayahnya, Eiko akhirnya menyerahkan pil itu pada Gina.
Gina menyerahkan pil itu pada Kevin, yang langsung melemparnya tinggi dan membakarnya dengan bola api.
__ADS_1
Blashhhh...!
Aura dari energi sihir yang sangat terasa buruk langsung menyebar saat bola api Kevin bertabrakan dengan energi sihir dari dalam botol kecil tersebut.
Eiko yang bisa merasakan aura aneh tersebut langsung melebarkan kedua matanya.
Mereka bahkan melihat ledakan-ledakan kecil terjadi sebelum akhirnya seluruh pil itu menguap terbakar sihir api Kevin.
"Anda bisa merasakannya, kan?" tanya Gina pada Eiko yang langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.
•••
Mereka masih menunggu balasan Miyuki di tempat itu sampai 30 menit kemudian.
Saat tak kunjung ada balasan dari Miyuki, Kevin yang sudah bosan, memberikan saran, "Apa kita menyeberang dulu selagi menunggu informasi dari Miyu?" tanya Kevin pada Gina. Ia merasa mereka telah membuang waktu terlalu banyak di pelabuhan tua itu jika tidak mendapatkan hasil apa pun.
"Aku juga sepemikiran denganmu. Ayo kita menyeberang dulu," sahut Gina.
Gina meminta Gus ikut di perahunya sementara Eiko dan Kenichiro pergi bersama diperahu yang lain.
"Bagaimana dengan ku?" tanya Kevin. Ia menoleh pada Davina, tapi Davina langsung menolak karena salah satu dari mereka harus berjaga di pelabuhan itu.
"Bimo?" tanya Kevin pada Bimo. Ia berharap ada seseorang menemaninya.
"Kau terlalu kuat untuk dikalahkan mereka. Pergilah sendiri, bung." Ucap Gus Stevin dengan setengah mengejek.
Gina, Gus, Kevin, Kenichiro dan Eiko akhirnya pergi menyeberang ke Kepulauan Seribu, sementara Bimo dan Davina menunggu di pelabuhan tua itu.
•••
Saat Gina dan Gus tiba di salah satu pulau, mereka berpencar untuk memeriksa pulau itu agar lebih cepat.
Gina baru saja berjalan beberapa ratus meter dan ia langsung bertemu dengan beberapa puluh orang yang memiliki energi Mana iblis di dalam tubuh mereka.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka semua memiliki energi Mana iblis?" gumam Gina yang kini sudah berada di dalam kepungan puluhan Hunter itu.
Walaupun jumlah pengepung itu ada puluhan orang dan mereka semua memiliki energi Mana iblis yang cukup kuat, namun lawan mereka adalah seorang Hunter berperingkat SSS yang juga sangat ahli dalam bertarung. Jadi, Gina dapat merobohkan mereka semua hanya dalam waktu 10 menit saja.
"Apa mereka ini orang-orangnya Chris Meyers?"
Saat Gina masih memeriksa tubuh mereka satu per satu, ia mendapatlan panggilan telepon dari Miyuki.
"Miyu?"
《"Gina, apa kau membawa earphone dan pisau kecil yang kuberikan?"》
__ADS_1
"Ya. Aku selalu membawanya."
《"Bagus. Pakai earphone mu dan gores pisau itu di tubuhmu sampai kau memiliki sedikit luka berdarah. Jika sesuatu terjadi padamu, kabari aku lewat earphone yang akan terhubung ke Rin. Aku akan datang membantu."》
"Baiklah. Terima kasih, Miyu."
Baru saja Gina menutup panggilan dari Miyuki, giliran Gus Stevin yang kini menghubunginya.
"Ya, Gus?"
《"Apa sesuatu terjadi? Kau lama sekali menerima panggilanku"》
Gina menatap puluhan Hunter yang sudah pingsan dan sebagian tewas disekelilingnya.
"Ada banyak Hunter non-Asosiasi disini yang juga mengosumsi pil iblis."
《"Kau baik-baik saja?"》
"Ya. Apa ada yang kau temukan?"
《"Aku tidak yakin. Bisakah kau kesini? Aku sudah mengirimkan lokasinya padamu."》
"Baiklah. Tinggu saja."
•••
Gina menatap gerbang hitam yang hanya seukuran sebuah pintu rumah itu dengan kedua alis mengernyit.
Gerbang itu memang gerbang sihir, namun ia tidak merasakan adanya energi sihir yang besar dari sana.
"Menurutmu, apa ini gerbang Dungeon?" tanya Gus pada Gina.
"Aku tidak merasakan seperti ada monster di dalamnya. Kekuatan sihirnya pun jauh lebih kecil dibandingkan gerbang Dungeon peringkat E."
"Kupikir juga begitu." Gus mengangguk pelan, kemudian menanyakan pendapat Gina lagi, "Apa kita coba masuk saja?"
"Aku akan menghubungi Vina dulu untuk memberitahukan lokasi kita," ucap Gina.
Gina kemudian menghubungi Davina dan memberitahukan lokasi keberadaan gerbang itu. Ia khawatir seandainya ia dan Gus tidak kembali, teman-temannya mungkin akan bingung mencari mereka.
Gina sudah punya pengetahuan bahwa sebuah gerbang sebenarnya terhubung ke suatu planet yang mereka tak tahu ada di tata surya mana atau bahkan di galaksi mana.
Tapi, yang ia tahu, Anna suatu saat mungkin bisa mencari mereka jika dia tahu lokasi tempatnya menghilang.
"Ayo, kita masuk sekarang," ajak Gina, setelah ia menerima balasan pesan dari Davina.
__ADS_1