Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 217 - Penyergapan


__ADS_3

Miyuki masih diam di depan pintu ruang bawah tanah setelah ia mengunci pintunya.


Ia kemudian menarik nafas panjang saat merasakan aura sihir mengerikan, yang baru dapat dirasakannya setelah ia keluar dari ruang bawah tanah. Karena selama ia berada di ruang bawah tanah tersebut, ia tidak akan bisa merasakan energi sihir dari luar karena ia telah memasang alat penangkal hawa dari energi sihir. Jadi, hawa dari energi sihir apa pun tidak bisa masuk atau keluar dari ruangan tersebut.


"Mereka cepat sekali. Aku bahkan tidak sempat membawa Rin pergi," gumam Miyuki, menyesali keadaan yang akan terjadi. "Yah, kalau sudah begini, apa boleh buat."


Miyuki akhirnya menyeberangi ruangan kecil itu menuju pintu lain yang akan membawanya masuk ke toko bunga milik Rin.


•••


Apa yang kau cemaskan?" tanya Miyuki saat ia melihat tatapan khawatir Rin pada bunga-bunga yang memenuhi ruangan tempat mereka berada, sembari menutup pintu di belakangnya.


Rin hampir tidak pernah absen untuk menyiram dan mengajak bunga-bunga kesayangannya berbicara setiap pagi saat ia baru membuka toko dan malam hari sebelum dia menutup toko.


Walaupun Rin telah menitipkan bunga-bunga itu pada para pekerja di toko, tetap saja tidak akan ada yang mengajak bunga-bunga itu berbicara seperti yang dilakukannya.


Mengingat itu, tentu saja Rin merasa sangat berat untuk meninggalkan 'mereka'.


"Kau sedih karena tidak ada yang akan mengajak mereka berbicara?"


Rin menoleh lalu menatap Miyuki dengan raut wajah terkejut.


Miyuki hampir tertawa melihat ekspresi lucu Rin yang tampak seperti wajah anak kecil saat sedang terpergok ketika membuat sebuah kekacauan saat di tinggalkan orang tua mereka sendirian di rumah.


"Aku beberapa kali melihat mu berbicara pada mereka," ucap Miyuki, seraya menatap 6 pot bunga yang tergantung di dekat dinding toko bunga tersebut.


Dengan wajah merona, Rin tertunduk malu.


"K-kau melihatnya?"


"Kau tidak harus malu. Aku pernah mendengar bahwa bunga-bunga akan tumbuh lebih cantik saat ada yang berbicara baik pada mereka. Kau melakukan hal yang baik." Ucap Miyuki, memaklumi apa yang menjadi kebiasaan Rin.


Berbeda dengan perlakuannya pada orang lain, termasuk pada Anna yang menjadi teman pertamanya di 'geng' mereka, juga pada Gina yang selalu memasakkannya makanan enak, Miyuki selalu bersikap ramah dan lembut pada Rin.


Miyuki juga bukan memperlakukan Rin secara berbeda karena gadis itu baru saja kehilangan adiknya. Ia hanya merasa bahwa orang dengan aura lembut dan polos seperti Rin memang harus di perlakukan dengan lembut juga.


Miyuki sudah merasakan hal itu dari Rin, sejak mereka pertama kali bertemu. Hanya saja, ia sendiri memang agak tertutup hingga saat itu tidak terlalu mau berbicara pada Rin.


°°°


"Kau juga tahu itu Miyu?"


"Sedikit. Mendiang ibu ku juga sangat menyukai bunga."


"B-begitu..."


Miyuki meletakkan kotak kayu yang memiliki panjang hampir seukuran lengannya di atas meja kasir, di dekat tempat Rin berdiri, lalu menurunkan kotak kayu berukuran lebih panjang dari punggungnya dan meletakkannya juga di sana.


"Apa kita akan berangkat sekarang, Miyu?"


Miyuki menatap Rin sebentar, sebelum mengalihkan tatapannya ke arah pintu keluar masuk toko. "Tunggu sebentar lagi," sahut Miyuki kemudian.


Melihat Miyuki tampak enggan untuk segera berangkat, Rin menghela nafas dengan hati-hati, seraya tersenyum lembut menatap wajah Miyuki.


"Sudah dua tahun, kan?" ucap Rin pelan.

__ADS_1


"Ya?"


"Kau sudah hampir dua tahun berada di sini. Kau mungkin agak berat meninggalkan tempat ini untuk waktu perjalanan kita selama dua minggu nanti, sama seperti aku yang agak berat meninggalkan mereka," ucap Rin, seraya menatap pada 6 pot bunga nya.


Miyuki tersenyum kaku. Rin sepertinya sangat peka dengan tingkah laku nya yang agak gelisah saat ini, namun Rin salah mengartikannya.


"Kau juga pasti merindukan kampung halaman mu, kan? Tidak apa-apa jika kau harus meninggalkan dulu tempat mu bekerja untuk sementara waktu."


'Dia semakin salah paham."


Tidak seperti yang Rin harapkan, Miyuki malah menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak terlalu merindukannya. Aku mengajak mu ke negara ku untuk pergi ke Kyoto, bukan ke kampung halaman ku."


Rin mengangguk pelan, tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Ia tahu, ada tipe orang yang malu saat membahas hal-hal seperti itu. Jadi dia hanya diam sambil tersenyum lembut pada Miyuki.


"Astaga. Senyumannya semakin aneh," pikir Miyuki, sembari membalas tatapan Rin dengan tatapan malas.


Pada saat itu, salah satu karyawan toko bunga menghampiri Rin.


"Nona Rin, coba lihat ini." Ucapnya, seraya menyodorkan smartphone nya pada Rin. "Sepertinya ada pasukan Asosiasi yang menutup area komplek pertokoan kita berada. Pantas saja toko kita sepi sejak pagi tadi."


Rin menereima smartphone itu, lalu melihat sebuah tayangan siaran langsung disana.


Bersamaan dengan itu, Miyuki mendapat panggilan telepon juga. Namun, saat ia melihat Gina yang memanggilnya, ia mengabaikannya.


°°°


Siaran langsung yang di prakarsai oleh stasiun berita terbesar di dunia WABC itu bahkan disiarkan juga oleh hampir seluruh televisi nasional Asia Tenggara.


Siaran tersebut bahkan ramai di bicarakan di media sosial hingga karyawan itu secara tidak sengaja melihatnya saat sedang mengunggah foto-foto bunga di akun sosial media toko bunga mereka.


Namun, saat mereka baru masuk ke dalam toko dan melihat Miyuki ada di dekat meja kasir, Lucy Logan, salah satu dari mereka, langsung terdiam.


Ada hal penting yang ingin disampaikannya. Namun, Lucy tiba-tiba saja melupakan apa yang sejak tadi ingin dikatakannya karena ia sangat panik.


"Ada apa dengan wajah mu?" tanya Miyuki, sembari menatap wajah pucat Lucy dan Yola yang masih berdiri diam di dekat pintu.


Lucy akhirnya berlari pergi menghampiri Miyuki dan tampak hendak langsung menariknya pergi.


"Miyu, ayo kita pergi dulu!"


"Kenapa kita harus pergi?" tanya Miyuki dengan santai sembari menghindari tangan Lucy yang hendak meraih pergelangan tangannya.


"Mereka sedang mencari mu! Ayo pergi dulu. Kau tidak tahu Gina memanggil mu berkali-kali?"


"Mereka sudah memblokade area ini, kita hampir tidak memiliki waktu!" tambah Yola, juga dengan berbicara panik.


"Kalau mereka memblokade area ini, bagaimana kalian bisa masuk?"


"Mereka membiarkan kami untuk masuk, jadi...," Lucy menghentikan kalimatnya, lalu bertatapan dengan Yola dalam diam.


"Mereka juga ingin meringkus kalian bersama ku di sini. Karena itulah mereka membiarkan kalian untuk memasuki area ini." Ucap Miyuki yang tampak sangat tenang seperti biasanya.


"Kau sudah tahu?" tanya Lucy.

__ADS_1


"Mereka bahkan tidak menyembunyikan hawa kehadiran mereka. Bagaimana aku tidak tahu?"


"Tapi kenapa mereka bahkan membawa Hunter kelas dunia juga?"


"Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka sebagai sahabat dekat Takayoshi Sato dan anak sulung keluarga Sato, ingin menangkap ku secara langsung." Sahut Miyuki.


"A-apa? Kau sudah tahu itu?!"


Miyuki mengangguk. Sebelum ia keluar dari ruang bawah tanah tadi, Miyuki sempat melihat berita melalui smartphonenya saat Gina menghubunginya berulang kali dan di abaikannya.


"Sekarang ayo kita pergi dulu." Lucy memaksa.


"Tidak ada guna nya kita melarikan diri saat mereka sudah mengepung area ini." Sahut Miyuki.


Apa yang Miyuki maksud akhirnya bisa dimengerti oleh kedua gadis itu. Dalam tim yang akan menyergap mereka, ada seorang Hunter peringkat SSSS. Seorang Hunter peringkat SSS, dua orang Hunter berperingkat SS dan seorang Hunter peringkat S.


Jadi, mereka tidak akan bisa kabur kemana-mana kecuali orang-orang itu sengaja melepaskan mereka.


"Kau akan menyerahkan diri?"


"Apa ada pilihan lain?"


Lucy terdiam. Apa yang Miyuki katakan memang benar. Dia dan Yola masih berperingkat S, sedangkan Miyuki sendiri masih berperingkat F. Sudah pasti mereka tidak akan bisa menang jika bertarung melawan mereka. Lari pun mereka pasti akan terkejar.


"Miyu, setidaknya kita coba dulu selagi masih ada kesempatan." Yola yang tidak mau menyerah, berusaha membujuk.


Saat mereka masih kebingungan, dua Hunter lain masuk ke dalam toko tersebut.


Mereka adalah pria berjenggot dan pria bertubuh besar yang biasa mereka panggil sebagai 'tuan brewok' dan 'tuan tank', seperti cara Anna memanggil teman-teman Ren itu.


"Kami di hubungi nona Gina untuk datang ke sini." Ucap pria brewok setelah melihat Miyuki yang harus di lindunginya berada di situ.


"Astaga. Ada dua orang lagi yang masuk dalam perangkap." ucap Miyuki sambil menatap mereka dengan tatapan malas.


Miyuki kemudian berbicara pada para karyawan toko. "Kalian semua masukklah ke dalam ruangan itu," pinta Miyuki, seraya menunjuk ke pintu ruangan tempat ia keluar tadi.


"Nona Miyu, apakah Anda tidak memiliki cadangan avatar di laboratorium?" tanya pria brewok. Ia berharap Miyuki memilikinya, namun Miyuki langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku menginvestasikan semua kristal sihir bagian ku pada avatar Miyu." Sahut Miyuki kemudian.


Tak lama kemudian, orang-orang yang Lucy dan pria brewok khawatirkan akhirnya tiba di sana.


Miyuki langsung menarik lengan Rin, yang sudah gemetaran, untuk bersembunyi di belakangnya dan ia sendiri berdiri di depan Rin dengan tenang.


•••


Jordan Foster yang baru saja membuka pintu, langsung menatap pria brewok dengan tatapan merendahkan, juga dengan senyum mengejek di wajahnya.


"Apa kalian semua sudah berkumpul?" tanya Jordan dengan seringai lebar. Ia tadi adalah orang yang meminta blokade di buka agar pria brewok dan pria bertubuh besar, juga Lucy dan Yola di izinkan masuk.


Karena mereka semua masih berada di peringkat A dan S, mereka tentu bukanlah masalah besar bagi Jordan.


Jordan kemudian mencabut pintu toko yang berbahan kaca, juga memecahkan dinding kaca yang menghalangi pergerakan orang-orang yang datang bersamanya.


Setelah itu, tim kecil dari Asosiasi masuk ke dalam toko, membawa para kru kamera dari WABC. Mereka langsung berhamburan ke tiap sudut toko dengan menabrak dan menghancurkan rak-rak bunga yang tersusun sangat rapi memenuhi toko, secara sengaja.

__ADS_1


Hunter-hunter dari Asosiasi itu juga dengan sengaja menendang dan menyingkirkan rak yang menghalangi tangkapan kamera agar mereka bisa mengambil gambar penyergapan itu dengan sangat baik, tanpa memerdulikan Rin yang mulai menangis saat melihat toko bunganya di obarak-abrik.


Baru setelah mereka semua bersiap di dalam toko tersebut, Fred Watson, sang pemimpin tim, akhirnya masuk ke dalam toko bunga tersebut.


__ADS_2