
Saat pasukan kecil Anna, Elf dan Orc, ingin bergerak untuk menyerang, anehnya, mereka sama sekali tidak bisa beranjak dari tempat mereka berada.
Sihir pelindung yang Anna berikan pada mereka, menahan tubuh para Elf dan Orc agar mereka tetap berada di sana.
Mengetahui hal itu, para Elf dan Orc seketika lemas. Mereka tahu, Anna sedang berusaha untuk melindungi mereka agar tidak menjadi korban para dewa tersebut.
•••
Di tempat Anna di keroyok, dewa Igigi yang hanya diam menyaksikan penyiksaan itu, terus mengejeknya.
"Tsk... Aku mungkin akan di kenal di antara para dewa perang mulai sekarang." Ucap dewa Igigi seraya menyengir lebar pada Anna, yang menatapnya dengan marah.
Anna sebenarnya tidak diam saja selama ia terus di serang oleh enam dewa. Di sela rasa sakit kepalanya, ia sudah berusaha menggunakan kekuatan sihirnya lagi untuk membebaskan diri dari empat bola metal yang membelenggunya.
Namun, usaha nya sia-sia. Bola metal itu bukan hanya sebuah belenggu biasa. Bola-bola itu kini mulai menyerap energi Mana di tubuhnya juga.
'Sekarang, apa yang harus ku lakukan?'
Sementara Anna sedang memikirkan cara untuk menyelamatkan diri, dewa Igigi terus saja berbicara padanya dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Kau tahu, kau selama ini di takuti bahkan sampai ke dimensi kami. Semua dewa perang menilai mu sangat tinggi. Jika mereka tahu ternyata kau selemah ini, mereka semua pasti akan mati karena sakit hati!" Ucap dewa Igigi, yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
Setelah puas tertawa, ia berbicara lagi, “Dimana kedua pedang mu yang terkenal itu? Jangan berharap kau bisa menyerang ku dengan sihir dari kitab dewa yang ternyata hanya sihir lemah! Coba, keluarkan kedua pedang mu itu. Aku ingin melihat kau bisa apa dengan mereka,” Ejek dewa Igigi dengan menyeringai lebar.
Ia benar-benar puas karena mengira telah berhasil mempermalukan dewi Ann yang sangat terkenal.
°°°
Dewa Igigi tidak tahu bahwa dirinya sedang melakukan kesalahan. Sosok yang sedang dipermainkannya itu, sebenarnya bukanlah dewa seperti yang ia kira. Jika tahu itu, ia pasti akan sangat menyesal karena di anggap telah ikut campur pertempuran antar makhluk ciptaan dewa.
Dengan dirinya mencampuri urusan para makhluk ciptaan, hukuman dari dewan pengawas para dewa, sudah pasti menantinya.
°°°
Namun, karena hinaan itu juga, Anna akhirnya ingat bahwa dia masih memiliki sebuah cara untuk lolos dari belenggu dan serangan-serangan enam dewa yang masih terus berusaha menghancurkan sihir pelindungnya.
'Dengan cara itu aku pasti akan terlepas dari belenggu ini!'
Anna kemudian menatap dewa Igigi lagi. Kemarahan di matanya menghilang, digantikan dengan tatapan tenang seakan ia baik-baik saja.
“Terima kasih sudah mengingatkan ku. Karena kebiasaan bertarung dengan tangan kosong, aku hampir lupa jika aku memiliki pedang,” gumam Anna yang akhirnya menyeringai seraya menatap dewa Igigi dengan pandangannya yang mulai kabur akibat sakit di kepalanya.
“Apa? Kau sedang mengigau sesuatu?” ejek dewa Igigi yang tidak bisa mendengar jelas gumaman Anna, akibat nyaringnya suara pedang dan sihir pelindung yang saling beradu.
“Kau tahu? Aku tidak akan sungkan-sungkan mengobrak abrik planet mu ini.” Ucap Anna yang kemudian menggunakan banyak energi Mana untuk melawan kekangan di kedua tangannya.
Walaupun energi Mana nya pada akhirnya terserap ke dalam bola metal, namun karena banyak energi Mana yang kini ia kerahkan untuk mengangkat tinggi kedua tangannya, pada akhirnya kedua bola metal yang berada di tiap telapak tangannya itu terangkat juga.
__ADS_1
Saat Anna berhasil merapalkan mantra ritualnya, bola-bola metal tiba-tiba kehilangan daya hisap.
Keempat bola yang mengekang kaki dan tangan Anna akhirnya terlepas dan jatuh ke tanah, pun dengan bola metal lain yang tadinya juga melekat di bagian punggung dan perutnya.
Tak lama kemudian, tubuhnya terbang semakin tinggi, melayang-layang di langit lalu menari-nari mengikuti irama angin yang bersiul dengan sangat nyaring dan menghasilkan gelombang badai yang kian lama kian membesar.
Melihat lawan sepertinya akan menggunakan sihir, enam dewa sama sekali tidak ingin memberikan peluang. Mereka langsung melompat dan melesat terbang menuju Anna dengan mengarahkan senjata mereka, untuk menembus angin badai yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Namun, energi sihir berkekuatan besar yang tiba-tiba muncul di sekitar tubuh Anna, menghalangi enam dewa untuk datang mendekat.
Semakin kuat mereka berusaha, energi sihir yang sangat besar tersebut semakin mendorong mereka menjauh, bahkan mementalkan beberapa dewa yang memiliki energi Mana paling lemah.
•••
Anna yang di dalam benaknya sedang fokus membayangkan visi yang pernah ia latih dulu, kini mulai menari-nari dengan penuh semangat.
Bersamaan dengan gerakan tari nya, seluruh permukaan daratan mulai beriak. Bersama itu pula, tubuhnya terbang semakin tinggi ke langit.
Energi sihir dengan cahaya merah bercampur biru mulai berpendar dari tubuhnya.
Badai yang sudah terjadi juga mulai beranak pinak dan pergi menggulung dan menelan segala sesuatu yang berada di daratan.
Puluhan tornado dari energi sihir dengan cahaya kemerahan itu membakar semua kendaraan tempur bangsa Anunnaki yang berada di darat.
Sementara energi sihir yang membentuk puluhan tornado berwarna biru, membekukan semua pasukan pejalan kaki yang masih berlutut.
Selain itu, gempa juga mulai terjadi.
°°°
Di darat, gempa yang meretakkan seluruh dataran itu mulai menenggelamkan semua makhluk dan benda apapun yang berada di permukaan planet Nibiru. Sementara itu, badai besar yang berpusat pada tarian Anna di langit, mengamuk dan menelan atmosfer hitam yang berada di atasnya.
Namun, walaupun gempa dan badai terjadi dengan begitu mengerikan, para pengikut Anna yang sebelumnya sudah terlindungi oleh cahaya keemasan sihir pelindung, terlihat baik-baik saja. Bahkan, tubuh mereka sama sekali tidak goyah walaupun sedang berada di dalam badai dan gempa besar trsebut.
•••
Dewa Igigi dan enam dewa lain yang akhirnya menyadari bahwa lawannya sedang melakukan sebuah ritual berbahaya, mulai menggunakan sihir terkuat mereka untuk mengatasi kekuatan lawan.
Namun, saat mereka baru setengah jalan merapalkan mantra sihir, badai besar dan gempa tersebut tiba-tiba lenyap secara mendadak seolah mereka tidak pernah ada sebelumnya.
Dewa Igigi yang sebelumnya memiliki raut wajah bahagia penuh kemenangan, menatap ke langit, ke arah dimana pusat badai sebelumnya berada. Namun, ia tidak bisa menemukan keberadaan lawan yang telah lenyap entah kemana.
Mendapati hal itu, raut wajah dewa Igigi mendadak berubah pucat. Kulit wajahnya yang hitam legam terlihat sedikit memutih.
"A-apa yang terjadi? Di mana dia?" gumam dewa Igigi sambil terus menoleh ke berbagai arah, mencari-cari keberadaan lawan.
Ia bahkan kehilangan aura keberadaan lawannya itu.
__ADS_1
“Aku di belakang mu.” Ucap sebuah suara, dari belakang tubuh dewa Igigi.
Dewa Igigi yang tidak menyangka musuh bisa pindah kebelakang tubuhnya tanpa ia sadari, terkejut lalu berputar balik sembari melontarkan kedua kakinya di udara untuk terbang menjauh.
Tapi, ia sama sekali tidak dapat melihat sosok yang tadi berbicara seolah berada di belakangnya itu.
Saat ia masih melayang di udara, tiba-tiba saja sosok lawannya muncul tepat di hadapannya, lalu menghujam pedang berbilah merah tepat ke dadanya.
Crakkkk!!!
Pedang berbilah merah itu menembus tubuh dewa Igigi hingga tubuhnya lengket di sana.
Setelah menusuk dada lawannya, Anna kemudian menendang tubuh dewa Igigi hingga terlepas dari pedang tersebut dan terpental jatuh menghancurkan daratan.
°°°
[“Sekarang, kunci lah energi Mana mu, manusia.”] Ucap suara seorang wanita yang terdengar sangat anggun yang berasal dari pedang berbilah biru di tangan kiri Anna.
[“Kau hanya tinggal menggunakan kemampuan bertarung mu. Kami akan mengurus bagian energi sihirnya,”] ucap suara pria yang memiliki suara berwibawa yang berasal dari pedang berbilah merah di tangan kanannya.
"Kalian... Bisa berbicara?" tanya Anna dengan wajah takjub.
Ia kemudian mengingat dua suara pria dan wanita yang berbicara saat dirinya dalam perjalanan antar galaksi dulu. Juga suara pria yang ia dengar saat pertama kali berada di apartemen Gina dulu.
"Jadi itu suara mereka," pikir Anna.
["Cepat kunci energi Mana mu sebelum kau tenggelam ke dalam hukuman para dewa!"] suara sang pria mengingatkannya sekali lagi dengan keras, saat ia merasakan Anna masih belum juga mengunci energi Mana nya.
"Hukuman para dewa?"
["Dewa tidak diperbolehkan berada di planet lain yang bukan wilayah kekuasaannya. Karena itulah kau selalu merasakan sakit kepala saat berada di planet asing."] Sang wanita menjelaskan.
"Tapi..., aku manusia, kan?"
["Kau memiliki energi Mana dewi Ann. Karena itu kau juga termasuk makhluk semesta yang terjerat ke dalam hukum itu."] Sang pria menjelaskan.
“Tapi, aku merasa kekuatan kita akan sangat besar jika kita menggabungkan energi Mana,” protes Anna, seraya menatap enam dewa yang sudah menerjang ke arahnya.
[“Kita bisa menggabungkan kekuatan jika lawan benar-benar kuat. Melawan dewa rendahan seperti mereka ini, hal itu tidak diperlukan sama sekali.”] Sahut sang pria lagi.
'Dewa rendahan? What the...'
“... Baiklah.”
Mendengar keangkuhan dan rasa percaya diri dari pedang merah, Anna pun mengunci kembali energi Mana nya.
•••
__ADS_1