
“Kenapa kalian masih duduk?” Tanya Anna yang tampak heran saat melihat rekan-rekan satu timnya masih duduk berjongkok ditempat mereka tanpa ada satupun yang berpindah dari posisi mereka semula.
Anggota tim saling memandang, menyadari mereka masih berjongkok dan bersiaga padahal mereka sudah tidak dalam pertempuran.
Perasaan takjub saat melihat aksi kapten tim mereka menghabisi semua monster virtual seorang diri di tambah rasa tegang menghadapi ujian membuat mereka jadi tidak rileks. Itulah yang membuat mereka lupa bahwa monster-monsternya telah dikalahkan.
Anggota tim akhirnya berdiri di sekitar Anna, sambil masih mengatur napas mereka.
“Kau tidak tampak kelelahan.” Ucap Lucy Logan di sela suara napasnya yang tersengal.
“Aku udah sering berolahraga.” Sahut Anna dengan senyum di balik maskernya. Dia tidak membohongi Lucy, Anna sudah melakukannya selama 15.000 tahun lebih.
Namun, jawabannya malah membuat semua rekannya menatapnya dengan kesal.
'Siapa disini yang jarang berolahraga?'
Sebagai calon Hunter tentu mereka berolahraga setiap hari. Namun, menghadapi ujian masuk Akademi, mereka tetap kelelahan.
Padahal, mereka hanya duduk berjongkok sembari terkadang menangkis serangan monster virtual.
“Apa rencana kita untuk menghadapi boss nya?” Tanya salah satu anggota tim.
“Ya, apa rencana mu, ketua?”
Anggota tim bertanya saat mereka mengingat beberapa peserta yang lolos hanya bersembunyi dan berlarian kesana kemari untuk bertahan sampai batas waktu habis, seperti tanpa sebuah strategi dan hanya mengandalkan keberuntungan.
Semua tim memiliki strategi pada awalnya, namun akhirnya kocar-kacir saat sudah berhadapan langsung dengan keganasan monster virtual.
Sebenarnya, hanya ada 3 calon siswa yang berhasil mengalahkan boss nya semenjak Akademi Hunter Kota C berdiri, orang terakhir yang berhasil melakukannya beberapa tahun lalu adalah Gina Stewart yang memiliki kebangkitan awal di peringkat B. Sedangkan dua Hunter lainnya adalah orang yang saat ini menjadi Ketua Asosiasi Hunter Kota C dan ketua Guild Gold Dragon Kota A, Wang Chu Man yang kini berada di ibu kota Asia Tenggara. Dua yang terakhir melakukannya puluhan tahun yang lalu.
“Apakah kita semua akan lolos kalau hanya satu orang yang bertarung melawan boss nya?” Tanya Anna pada mereka.
Mendengar pertanyaan itu mereka semua tampak sangat kesal. Entah berapa kali sudah rekan-rekan setimnya memberikan tatapan kesal padanya.
Mendapat tatapan itu, Anna akhirnya memandang sekelilingnya sambil bersiul pelan dari balik maskernya.
"Salah ku tidak mencari informasi ujian masuk di awal."
“Kita hanya harus bertahan sampai waktunya habis. Tidak perduli bagaimana caranya. Itu ada di buku panduan.” Jawab Lucy Logan sambil menggaruk-garuk kepalanya saat mendengar pertanyaan konyol itu.
“Ujian ini Cuma tentang bertahan hidup.” Sahut yang lain.
“Situasi di pelatihan ini sebenarnya untuk menyelamatkan diri saat ada Dungeon Break. Calon Hunter muda seperti kita diharapkan bisa lolos dari amukan monster jika terjadi Dungeon Break. Dan Hunter profesional yang akan melakukan evakuasi.” Lucy menambahkan.
“Ok…” sahut Anna diikuti anggukannya.
Pada saat mereka masih mengobrol, boss Dungeon virtual itu akhirnya menampakkan diri.
“Hei, apa rencana mu ketua tim? Boss nya sudah muncul!” Seru seseorang.
Anna tidak menjawab pertanyaan itu dan menatap boss Dungeon yang wujudnya makin lama makin terlihat jelas.
Anna berjalan perlahan menuju tempat boss Dungeon virtual berada. Langkah kakinya semakin lama semakin cepat. Lalu, dengan tombak di tangannya Anna berlari ke arah monster yang memiliki tinggi dua kali manusia normal itu.
Dia kemudian melompat sampai tubuhnya berada di atas kepala monster dan menyerang monster itu tepat dikepalanya.
Tombak yang diayunkan dengan gerakan menebas itu melesat dengan cepat dari arah kiri kepala monster dengan hampir tak terlihat dan menghancurkan kepala monster tersebut.
‘Bammmm!’
Kepala monster yang terkena pukulan telak, hancur.
Setelah kehilangan kepalanya, tubuh monster itu pun kemudian menghilang.
Pertempuran yang sebenarnya tidak layak disebut sebagai pertempuran, karena terlihat berat sebelah, itupun selesai.
Anna berjalan kembali ke arah timnya sambil melepaskan kacamata virtualnya.
__ADS_1
Seluruh orang yang berada di tribun dan arena terdiam mematung melihat apa yang baru saja gadis itu lakukan.
Arena itu benar-benar sepi sampai 10 detik kemudian saat seseorang mulai bertepuk tangan menyadarkan orang-orang lainnya yang masih terpana melihat penampilan Anna Lloyd. Akhirnya, suara riuh penonton menggema di seluruh tribun.
Tersadar oleh keributan penonton yang bersorak, anggota tim melepas kacamata virtual mereka dan menatap Anna dengan tubuh gemetar.
“B-bagaimana k-kau bisa sekuat itu?” Lucy Logan menatap Anna dengan wajah takjubnya.
Anna mengambil sesuatu dari kantong hoodienya dan menghampiri Lucy.
“Ini… Makanlah…” Ucap Anna sambil menyerahkan kotak kecil di tangannya pada Lucy yang kemudian menerima dan membuka penutupnya.
“A-apa ini? Doping?”
“Permen, untuk merayakan kelulusan kita.” Ucap Anna sambil berjalan terus ke pinggir arena.
•••
Gina Stewart tidak menyangka jika Anna sekuat itu dan juga hebat dalam melakukan tekhnik bela diri.
Sama seperti yang semua penonton rasakan, melihat kelihaian Anna bertarung, mereka bukan seperti sedang menonton ujian kelulusan dari seorang calon siswa. Mereka semua seperti sedang menonton pertunjukan sebuah film aksi!
Gelisah, cemas dan gugup adalah sebuah hal yang sangat wajar untuk penonton rasakan saat melihat para calon siswa mengikuti ujian penerimaan di Akademi Hunter.
Entah peserta ujian tersebut adalah anak, saudara, teman, atau bahkan orang yang tidak mereka kenal, semua yang hadir di sana selalu memiliki perasaan cemas yang sama dan berharap semua peserta dapat bertarung dengan baik dan sedikit beruntung.
Bukan tanpa alasan. Karena pada merekalah nantinya seluruh masyarakat Kota C berharap untuk menjaga kota tetap aman dari serbuan monster.
Ini adalah pertama kalinya semua penonton merasa takjub. Bahkan beberapa dari mereka merasakan kasihan pada monster yang, walaupun hanya monster virtual, tampak seperti makhluk lemah di hadapan gadis itu. Sebagai penduduk Kota C, mereka tentu akan merasa aman apabila memiliki calon Hunter profesional masa depan seperti Anna Lloyd.
Pada saat itu, smartphone Gina berbunyi. Gina yang masih takjub dan berdiri ditempatnya sambil melihat wajah Anna yang terpampang di layar berukuran besar di atas tribun, terkejut dan segera mengambil smartphone dari dalam tas tangannya.
Gina mengkerutkan keningnya melihat nama orang yang memanggilnya di layar smartphone tersebut.
"Kepala Akademi?"
“Kau masih di tribun kan? Segera datang ke kantor ku.”
“Y-ya…”
Panggilan itu langsung di tutup saat Kepala Akademi mendapatkan respon dari Gina Stewart.
Setelah mengembalikan smartphonenya ke dalam tas, Gina buru-buru pergi dari tempat itu menuju ke pinggir arena untuk menemui Anna yang juga sedang menunggu nya.
Saat mereka berdua sudah bertemu, Gina berdiri diam di tempatnya untuk beberapa saat sambil menatap Anna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi tidak percaya.
“Bagaimana bisa gadis seramping ini memiliki kekuatan seprti itu?” Pikir Gina dengan keningnya yang berkerut.
Walaupun kekuatan monster virtual dari Dungeon peringkat E itu hanya seperempat dari kekuatan monster aslinya, namun untuk meledakkan dan membelah tubuh monster virtual seperti yang Anna lakukan, setidaknya membutuhkan kekuatan seorang kelas Warrior yang setidaknya berperingkat B.
Tubuh monster virtual memang didesain dengan seperempat kekuatan menyerang dan ketahanan tubuh aslinya. Namun tetap membutuhkan energi Mana seorang Hunter berperingkat B dan juga kekuatan fisik seorang Warrior profesional untuk melakukan apa yang tadi Anna lakukan.
“Kau akan pergi sekarang?” Tanya Anna saat melihat Gina masih diam mematung di tempatnya.
“T-tidak. Y-ya… ayo ikut dengan ku.”
Anna tersenyum.
“Ya.” Anna mengikuti Gina dan berjalan di sebelahnya.
Sepanjang perjalanan ke pintu keluar, tepuk tangan para penonton terdengar riuh seperti mengantar kepergian mereka.
Anna melambai-lambaikan tangannya sebagai ucapan terima kasihnya atas dukungan yang mereka berikan.
“Dengan begini aku akan mencolok dan bisa mendapatkan lisensi ku dengan cepat kan?” Pikir Anna di balik senyumnya.
Sementara itu, Gina yang melihat pemandangan sorakan penonton itu, akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya semenjak aksi Anna di ujian kedua tadi yang membuat pikirannya seakan kosong.
__ADS_1
“Kau sepertinya sangat menikmatinya.” Ucap Gina sambil mengelus-elus kepala Anna dari balik tudung hoodie.
"Lumayan" Sahut Anna, sambil menoleh pada Gina.
Dalam perjalanan menuju pintu keluar, mereka berpapasan dengan instruktur penguji yang tadi berduel dengan Anna di ujian kedua.
"Kau, mengingatkan ku dengan kakak mu dulu." Ucap pria itu yang kemudian melirik pada Gina.
"Kakak? Robin? Cassey?" Pikir Anna, ia mengingat kedua kakak tirinya itu.
Namun saat dia melihat lirikan mata instruktur pada Gina, Anna akhirnya mengerti siapa yang pria itu maksud.
"Ah... Aku kan sekarang jadi adik sepupunya."
"Tunggu, jadi yang kau ceritakan itu..."
Gina tersipu lalu tertawa. Ia merangkul pundak Anna dan mendekap gadis itu di sampingnya.
"Yang kau lakukan jauh lebih luar biasa." Puji Gina. Ia kemudian melirik pada instruktur di hadapan mereka. "Kau membuat ku malu, Liu Gong."
Wang Liu Gong tertawa. Ia kemudian menyodorkan tangannya pada Anna lalu mereka berjabat tangan.
"Selamat. Penampilan mu sangat luar biasa. Senang bertemu dengan mu."
"Terima kasih. Senang bertemu Anda juga, tuan."
Setelah mengobrol sedikit lagi, Gina akhirnya pamit untuk menemui Kepala Akademi.
Wang Liu Gong sudah dapat menebak apa yang akan Kepala Akademi bicarakan pada Gina.
"Pasti tentang hasil ujian luar biasa adiknya."
•••
Saat kedua gadis itu sudah berada di dekat pintu keluar, langkah mereka terhenti saat melihat puluhan instruktur tiba-tiba masuk secara berbaris.
Orang terakhir yang baru saja masuk kemudian menutup pintu itu dan dua di antara mereka berjaga di depannya. Hal serupa juga terjadi pada 3 pintu di sisi lain arena.
“Ada apa ini?” Tanya Gina pada Riko yang sedang berdiri di depan pintu.
“Kepala Akademi meminta kami untuk memblokir pintu keluar-masuk untuk sementara waktu.” Sahut Riko. Dia dan Gina juga sudah saling mengenal karena mereka adalah rekan kerja di Akademi itu.
“Aku ingin keluar sekarang, Kepala Akademi memanggil ku.” Ucap Gina.
“Ya, kami sudah diberitahu untuk membiarkan mu keluar.” Sahut Riko sambil membukakan pintu.
“Dia juga ikut dengan ku.”
Riko menatap Anna yang tampak tersenyum padanya dari balik masker. “Mata yang cantik." Pikir Riko.
“Silahkan. Dan selamat, penampilan mu sangat menakjubkan.”
Anna sedikit tersipu. “Terima kasih.”
Setelah keluar dari arena, Gina membawa Anna pergi menuju ruang Kepala Akademi yang berada di bangunan lain.
Mereka singgah sebentar ke mesin penjual minuman otomatis sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di dekat ruangan kantor Kepala Akademi, Gina meminta Anna untuk menunggunya di ruang tunggu yang berada tak jauh dari ruangan Kepala Akademi sementara dia sendiri pergi menuju ruangan tersebut.
Anna sebenarnya sedikit penasaran, saat ia melihat wajah Gina yang tampak gelisah. Demikian juga saat dia melihat para petugas yang memblokir pintu keluar arena tadi.
Mereka tampak sangat terburu-buru pergi ke tribun untuk mendatangi semua orang dan terlihat meminta orang-orang untuk menyerahkan smartphone mereka.
Anna membuka maskernya lalu membuka penutup minuman yang tadi Gina berikan dan meminum beberapa teguk cairan yang terasa segar itu dari dalamnya.
Sambil menikmati minuman itu, dia mulai mendengarkan pembicaraan yang dilakukan Gina dan Kepala Akademi dari tempat duduknya.
__ADS_1
•••