
Anna dan ketiga rekannya telah berhasil membunuh semua jendral perang dari kerajaan Eclovar.
Namun demikian, mereka tidak menghabisi seluruh prajurit yang ingin menyerah dan menyatakan takluk.
Ada sekitar 460.000 prajurit yang menyerah dan ingin dipulangkan kembali ke kerajaan Eclovar, namun mereka tidak mau dan malah menyatakan ingin takluk dan mengikuti Anna sebagai pemimpin baru mereka.
°°°
"Ini benar-benar gila. Kenapa tidak Anda saja yang menjadi pemimpin mereka, nenek guru?"
Lorelei tertawa. "Kau lebih cocok untuk itu, Anna. Cara mu bertarung benar-benar membuat mereka ketakutan dan kau juga lihat sendiri? Mereka kini tidak berani menatapmu dengan sembarangan."
Anna mendengus pelan.
Ia kemudian teringat akan sesuatu saat Lorelei membicarakan tentang caranya bertarung.
Anna juga melihat cara Lorelei bertarung. Ia melihat kemiripan teknik bertarung Lorelei dengan teknik bertarung Miyuki saat menggunakan avatar hunter.
Gerakan-gerakan terukur mereka, yang tidak membutuhkan banyak langkah gerak yang tidak perlu, juga sama persis.
"Ada apa?" tanya Lorelei saat melihat Anna seperti sedang melamun sambil menatapnya.
"Apa saya boleh bertanya?"
"Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Anda mengatakan bahwa Anda pernah bertemu seseorang saat pergi ke Bumi. Apa Anda mengajarinya teknik bertarung?"
Senyum Lorelei menghilang. Pertanyaan itu membuatnya teringat pada gadis malang yang kehilangan orangtuanya dengan sangat tragis. Ia kemudian menarik nafas panjang sembari duduk di salah satu akar pohon yang mencuat dari dalam tanah.
"Ya. Aku mengajarinya banyak hal, juga memberikannya bagian dari inti sihir ku sama seperti yang kau terima dari dewi Ann."
Anna mengangguk pelan.
"Apa Anda tahu nama nya?"
"Miyuki. Dia seorang gadis berwajah lurus yang manis." Kesedihan Lorelei tiba-tiba hilang dan di ganti suara tawanya saat mengingat tampang Miyuki yang selalu tanpa ekspresi.
"Ah..., kalau begitu dugaan ku benar."
Lorelei secara tiba-tiba juga menghentikan tawanya dan menatap Anna dengan kedua alis mengernyit, "Apa kau kebetulan pernah bertemu dengannya?"
"Dia teman ku. Sangat kebetulan, kan?"
"Benarkah?"
"Ya. Kami kebetulan bertemu saat aku melihatnya beriklan."
__ADS_1
"Beriklan?"
Anna tersenyum cangung. Ia tahu Lorelei tidak akan mengerti.
"Aku sangat merindukannya. Miyu, Gina, Bimo, Kevin, Ren...," Anna tiba-tiba terdiam saat menyadari telah menyebutkan nama orang yang sudah mati.
Lorelei tersenyum lembut padanya. Dari wajahnya saja, ia tahu bahwa Anna pasti merindukan orang-orang yang namanya baru ia sebutkan.
"Kau akan bertemu mereka lagi saat berhasil menemukan dewi Lyn. Dan lagi, apa yang kau lakukan disini adalah demi menyelamatkan semua penduduk Bumi."
Anna tahu itu. Tapi, ia juga tahu bagaimana susahnya untuk menemukan dewi Lyn tanpa ada jejak dan perunjuk sama sekali.
"Tapi apa kau tidak merasa aneh? Kenapa dewi Lyn bisa menghilang begitu saja?" tanya Anna.
Itu adalah pertanyaan yang sudah ditanyakannya baik pada dewa Ogun, dewi Ezili maupun Lorelei berulang kali.
"Sudah kami katakan berulang kali, kan? Dewi Lyn seharusnya mudah ditemukan jika dia mengaktifkan energi Mana nya. Itu yang menjadi masalah..."
Lorelei tiba-tiba terdiam.
Red panda dan otter yang tadinya sedang bermain-main dengan bergulat diantara akar pohon, malah sudah terdiam sejak tadi.
Baik Lorelei, dewa Ogun dan dewi Ezili, kini saling bertukar pandang, saat mereka ingat mungkin ada satu cara yang bisa memberikan mereka petunjuk keberadaan dewi Lyn.
"Ada apa?" tanya Anna pada Lorelei, sambil menatap pada red panda dan otter juga. Ia tahu bahwa mereka sepertinya sedang memikirkan suatu hal yang sama, dari gelagat mereka.
"Sepertinya kita bisa menemukan petunjuk," sahut dewi Ezili.
"Ada sekelompok suku penyihir kuno yang bermukim di sekitar laut yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat ini. Mereka memiliki sebuah metode untuk melacak keberadaan seseorang dengan sihir kunonya."
"Kenapa kalian baru mengingatnya sekarang?!"
Lorelei dan dewi Ezili saling bertatapan.
Dewi Ezili akhirnya menatap Anna, "Jika kau tadi tidak menyebut nama Miyu, kita mungkin tidak akan ingat karena sudah ratusan ribu tahun tidak ke planet ini," ucap dewi Ezili pada Anna.
Lorelei mengangguk. Ia juga baru mengingat keberadaan suku itu setelah Anna mengingatkan pada muridnya, Miyu.
•••
Mereka berempat akhirnya berangkat ke selatan dengan diiringi oleh 460.000 prajurit berkuda dengan persenjataan tempur lengkap. Siapapun yang melihat mereka, pasti mengira mereka akan pergi berperang.
Anna sudah meminta para prajurit itu untuk kembali saja ke kerajaan Eclovar juga pada keluarga mereka, namun para prajurit yang gemar bertempur itu dengan kukuh ingin mengikutinya.
Karena tidak bisa menolak permintaan mereka, Anna akhirnya mengizinkan para prajurit untuk mengikuti mereka.
"Kita terpaksa harus mengambil jalan memutar yang agak jauh karena para mata-mata dari kerajaan di sekitar sini mungkin akan mengira kita ingin menyerang mereka." Ucap dewa Ogun yang selalu bertengger di pundak sebelah kanan Anna, sementara dewi Ezili selalu mengambil posisi di pundak sebelah kirinya.
__ADS_1
"Yang ku khawatirkan sebenarnya para suku penyihir kuno lah yang akan mengira kita ingin menyerang mereka." Sahut Anna. Wajahnya terlihat sangat stres.
"Saat kita sudah mendekati daerah mereka, kau sebaiknya meminta para prajuritmu untuk tinggal agak jauh."
"Mereka bukan prajuritku," sahut Anna cepat. Ia tiba-tiba merindukan pasukan Orc dan Elf yang sangat patuh padanya.
"Jangan berbicara seperti itu di depan mereka. Mereka akan merasa tidak di anggap. Mereka akan bersedih."
Anna menatap dewa Ogun, yang tertawa di pundaknya. Ia kemudian mengebaskan tangannya dan membuat dewa Ogun jatuh terpental.
Untung saja Lorelei yang berkuda di belakang mereka segera menangkapnya.
"Hei, kau brengsek! Kau berani memukul seorang dewa?!"
"Apa dia selalu mengesalkan seperti itu?" tanya Anna pada dewi Ezili.
•••
Anna dan pasukannya baru tiba di perbatasan antara tanah milik suku Miyu dan wilayah daratan setelah melakukan perjalanan berkuda selama 10 hari 10 malam.
Walaupun sangat susah untuk membujuk mereka, Anna akhirnya berhasil meminta pasukannya untuk tinggal di luar perbatasan suku Miyu, sementara mereka terus masuk ke wilayah keberadaan suku Miyu.
Anna dan Lorelei terus berkuda sampai mereka memasuki daerah dengan banyak kuil-kuil yang sangat besar dan tinggi, barulah mereka meninggalkan kuda yang mereka tunggangi di sana dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Saat mereka akhirnya tiba di daerah pantai, 10 pria berjubah merah menghadang dan menghentikan perjalanan mereka.
"Apa kalian memiliki izin untuk memasuki wilayah kami?"
Tanya salah satu pria pada mereka.
Takut memberikan jawaban yang salah seperti sebelum-sebelumnya, Anna langsung menoleh pada Lorelei dan berharap nenek gurunya itu yang akan menjawabnya.
Lorelei tersenyum pada mereka sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Apa tuan Nordic kebetulan tidak sedang dalam pertapaannya?" Lorelei bertanya balik.
Kesepuluh pria berjubah merah saling bertatapan saat mendengar Lorelei menyebut nama kepala suku mereka.
"Siapa Anda? Bagaimana Anda tahu nama kepala suku kami?"
"Anda belum menjawab pertanyaan saya, tuan."
Pria itu mengangguk pelan.
"Kepala suku sedang tidak dalam pertapaan." Sahut pria itu pada akhirnya.
Lorelei tersenyum lebar saat mengetahuinya.
__ADS_1
"Tolong sampaikan padanya, sabit merah ingin bertemu."
•••