
Berbeda dengan anggota tim lainnya, Lucy, Ren dan Yola tampak santai walaupun mereka kini sudah berada di dalam Dungeon. Padahal, hari ini adalah pertama kalinya mereka melakukan raid resmi.
Memang benar ini adalah raid resmi pertama mereka, namun mereka sudah beberapa kali ikut dalam raid ilegal yang Anna lakukan. Karena itulah mereka dapat bersikap santai dan menganggap Dungeon peringkat E ini bukan masalah besar lagi.
Ketiganya bahkan sudah pernah bertarung melawan monster yang berada di Dungeon peringkat C.
Selain itu, mereka bertiga juga sudah terbiasa berlatih bersama pasukan Orc dan Elf yang rata-rata memiliki kekuatan yang setara dengan Hunter berperingkat A, bahkan di atasnya.
°°°
Dalam raid kali ini, Anna dan Bimo berencana untuk tidak melibatkan diri sama sekali. Sebagai dua orang kuat, Asosiasi dan Akademi memercayai keduanya sebagai penanggung jawab jika ada hal buruk terjadi.
Hal itu juga menjadi keuntungan bagi Asosiasi dan Akademi yang dapat menghemat anggaran dengan tidak mengirimkan banyak Hunter untuk menemani siswa-siswi Akademi untuk mengikuti tes yang akan mereka lakukan.
Lucy berdiri di depan barisan dan menatap Hunter-hunter berwajah tegang itu dengan sedikit perasaan canggung.
Lucy juga merasa agak sedikit canggung saat memberikan instruksi pada anggota tim. Selain karena usia mereka yang lebih tua, juga karena ini adalah pertama kalinya ia memimpin sebuah tim resmi.
•••
Sementara itu di luar Dungeon...
Sebelas pria bersetelan jas dan seorang pria dengan setelan seragam Akademi berjalan menghampiri para petugas dari Asosiasi yang sedang menjaga gerbang Dungeon.
Pria-pria berjas hitam itu memiliki aura seram dan masing-masing dari mereka terlihat sangat tidak ramah.
Pria bertubuh kekar dengan tinggi badan dua meter, yang adalah pimpinan dari rombongan, menghampiri salah satu petugas dan berbicara pada petugas itu dengan nada suara dingin.
"Kami dari Asosiasi Amerika," ucap pria kekar. Ia kemudian mengeluarkan kartu pengenal dari balik jas nya dan menunjukan pada petugas jaga. “Kami memiliki keperluan dengan salah seorang Hunter yang baru masuk ke dalam gerbang.”
Petugas Asosiasi menatap sebentar pada kartu identitas yang pria kekar tunjukan padanya, lalu ia beralih kembali menatap pria kekar itu.
“Apakah Anda juga memabawa surat tugasnya?”
“Kami mewakili Asosiasi Dunia untuk menangkap seorang Hunter yang sudah menganiaya Hunter lain. Surat tugas akan segera menyusul.”
Petugas jaga mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan alasan orang di hadapannya.
'Apakah ada penjahat besar di dalam sana? Kenapa Asosiasi Dunia sampai harus mengirimkan orang mereka untuk menangkap seseorang?'
“Maaf, kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk tanpa surat tugas.” Petugas jaga bersikukuh.
Pria bertubuh kekar menatap petugas jaga dengan tatapan tajam, lalu ia mengancamnya. “Apa kau berani melawan perintah Asosiasi Dunia?”
Petugas itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tapi, menerobos masuk sebuah Dungeon tanpa ada surat tugas juga bertentangan dengan peraturan Asosiasi Dunia. Kecuali ada kecelakaan dalam raid.”
Pria bertubuh kekar menoleh pada rekan-rekannya lalu memberikan kode pada mereka.
Mendapatkan kode dari pimpinan mereka, pria-pria bersetelan jas hitam dengan cepat berlari masuk ke dalam gerbang tanpa sempat dicegah petugas penjaga gerbang.
__ADS_1
Dan lagi, saat para petugas tersadar dan hendak mencegah beberapa orang yang masih belum menerobos masuk, pria bertubuh kekar menghadang mereka.
Tak satu pun dari petugas penjaga yang dapat menandingi pria bertubuh kekar yang merupakan Hunter berperingkat A. Apalagi, pria bertubuh kekar adalah seorang Tanker yang sudah bisa menghadang laju serangan monster. Tentu ia dapat dengan mudah menghadang para petugas jaga yang rata-rata masih berperingkat B dan C.
“Saya tidak ingin membuat keributan di sini. Kami terburu-buru, jadi kami masuk dulu.” Ucap pria bertubuh kekar yang kemudian pergi menyusul rekan-rekannya, meninggalkan para petugas jaga yang baru saja ia pukul mundur.
“Apa mereka benar orang-orang dari Asosiasi Amerika?” tanya salah satu petugas yang berada di situ.
“Ya. Kartu pengenalnya asli.” Sahut orang yang tadi berbicara dengan pria bertubuh kekar. “Hubungi kantor sekarang, ceritakan kejadiannya. Dan dua orang dari kalian, ikut bersama ku untuk menyusul mereka."
•••
"Bimo, bisakah kau menggantikan tuan Wang untuk memegang kameranya?" Anna berbicara pada Bimo Gandri.
"Apa Anda akan menyergap mereka, nona?"
"Ya. Dan aku membutuhkan tuan Wang sebagai saksi."
Wang Liu Gong menatap Anna dan Bimo dengan wajah bingung. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang sedang mereka bicarakan. Jadi dia bertanya, "Apa ada hal yang tak ku ketahui?"
"Kami dibuntuti oleh beberapa orang sejak keluar dari gerbang Akademi tadi," sahut Anna.
Walaupun gerbang sudah tidak terlihat dari tempat mereka berada saat ini karena mereka sudah berjalan cukup jauh, Liu Gong tetap menoleh ke arah gerbang.
"Tapi, para pengawas dari Asosiasi tidak akan mengizinkan siapapun masuk ke dalam gerbang selain kita." Ucap Liu Gong.
"Tidak. Entah bagaimana caranya, tapi mereka sudah masuk ke Dungeon ini."
Anna tersenyum padanya.
"Bimo juga tahu itu." Sahut Anna, tanpa ingin meremehkan Liu Gong.
"Ah... Be-begitu ya..."
Liu Gong akhirnya menyerahkan kamera di tangannya pada Bimo.
"Kalau begitu, saya akan pergi mengikuti tim raid." Ucap Bimo setelah menerima kamera dari tangan Liu Gong. Ia kemudian pergi menyusul tim raid yang sudah pergi agak jauh.
"Siswi Anna, apa kau tahu siapa orang-orang itu?"
Anna menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu. Ayo kita datangi mereka."
Liu Gong mendengus pelan lalu pergi menyusul Anna yang sudah berjalan duluan.
Karena jarak mereka yang sebenarnya sudah tidak begitu jauh, mereka akhirnya berpapasan tak lama kemudian.
Orang-orang yang membuntuti Anna terkejut saat melihat Anna dan Liu Gong berjalan dengan santai menuju ke arah mereka, seakan sudah tahu jika mereka sedang diikuti.
__ADS_1
Anna melihat 11 orang asing dan seorang siswa, yang ia kenal, berada di antara mereka.
"Siswa Luke? Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa mendapatkan izin masuk ke dalam Dungeon?" tanya Liu Gong yang agak terkejut mengetahui Luke berada di antara mereka.
Orang yang berada di paling depan tim penguntit melangkah maju hingga berada di jarak 2 meter dari Anna dan Liu Gong.
Tubuhnya tinggi besar, pundaknya lebar hampir dua kali tubuh Anna. Otot-otot besarnya yang menonjol merupakan ciri khas yang dapat ditebak bahwa dia adalah seorang Tanker.
Pria kekar itu menatap Anna yang jauh lebih pendek darinya dengan tatapan curiga.
"Sepertinya kau sudah tahu kami ingin menemui mu? Atau hanya tidak sengaja? Apa kau sedang minta antar instruktur mu untuk keluar dari Dungeon karena ketakutan?"
Sambil mendongak menatap pria tinggi di hadapannya, Anna berbicara, "Luke Stewart. Apa kau yang membawa mereka bersama mu?"
Hahahaha...
Suara tawa nyaring dari pria bertubuh kekar itu menutup suara Anna.
Pria bertubuh kekar itu kemudian menatap Liu Gong dan berbicara padanya, "Anda orang Asosiasi, kan? Kami dari Asosiasi Amerika dan datang kesini untuk membawa nona kecil ini bersama kami."
Liu Gong menatap pria bertinggi badan dua meter itu, lalu menatap rekan-rekannya juga.
"Atas urusan apa hingga Anda ingin membawa siswi Akademi kami?"
Pria bertubuh kekar berbalik lalu memanggil Luke untuk mendekat.
"Dia sudah membuat masalah dengan menganiaya seorang Hunter. Nah, ini saksinya yang juga kebetulan adalah orang yang telah dianiaya."
Walaupun itu hanyalah sebuah alasan, namun Luke tidak senang dengan alasan tersebut. Kata 'dianiaya' itu terdengar sangat tidak nyaman di telinganya.
Luke memang sudah meminta bantuan pada kenalan-kenalannya dari Amerika untuk meringkus dan memberikan pelajaran pada Anna. Luke bahkan sudah membayar mereka dengan biaya yang cukup untuk menaikan experince point seseorang dari peringkat F ke peringkat C. Itu adalah biaya yang sangat mahal.
Luke akhirnya mengalihkan tatapannya ke Anna yang berdiri berhadapan dengannya.
"Kau sudah membuat masalah dengan orang yang salah. Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada mu. Jadi, kalau kau ikut bersama kami dengan tenang, maka mereka mungkin tak akan menyakiti mu." ucap Luke, mengancam Anna.
"Luke, kau sungguh lucu. Aku sudah pernah menunjukan kekuatan ku pada mu supaya kau menyadari betapa bahayanya jika kau melanjutkan kebodohan mu untuk bsrusaha mencelakai ku. Tapi, lihat ini..." Anna menatap orang-orang yang berada di belakang Luke. "Pilihan mu benar-benar bodoh," ucap Anna kemudian, seraya menatap kembali pada Luke dengan tatapan menyesal.
Liu Gong menghela nafas panjang dan ia juga menatap Luke.
"Siswa Luke. Tempo hari, aku sempat memiliki harapan tinggi pada mu. Kau memiliki masa depan yang bagus sebagai seorang Hunter. Tapi lihat sekarang, kau membawa teman-teman mu untuk membuat masalah hanya karena kau dikalahkan seseorang?" Keluh Liu Gong sambil menatap tajam Luke yang juga membalas tatapannya dengan perasaan mendongkol.
Seumur hidupnya, Luke adalah anak yang selalu dimanjakan dengan kasih sayang kedua orang tua dan kakaknya. Ia selalu dipuji atas prestasi-prestasinya saat memenangkan kejuaraan bela diri semenjak ia masih kecil.
Begitu pula saat ia berada di Amerika. Semua teman selalu memujinya yang memiliki kemampuan bertarung di atas rata-rata teman-teman sebaya nya.
Luke juga selalu dipuja dan diperhatikan secara berlebihan oleh semua orang yang mengenalnya.
Sebenarnya, karena itulah Luke menjadi semakin tinggi hati dan menjadi angkuh.
__ADS_1
Jadi, saat ia dipermalukan Anna tempo hari, Luke benar-benar murka dan tak bisa menerimanya.