
Setelah melewati lubang hitam yang di buat oleh makhluk berkulit merah gelap, mereka kini berada di sebuah ladang dengan tanaman gandum terhampar di sekitar tempat mereka berdiri.
Anna melihat pemandangan itu dengan takjub. Ia menyangka akan pergi ke sebuah tempat yang gersang atau tempat yang penuh lautan api atau mungkin goa gelap di dalam sebuah lubang tak berujung seperti cerita yang pernah ia dengar dan baca yang menceritakan mengenai sebuah neraka.
Makhluk berkulit merah gelap itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan sembari meletakkan salah satu tangan di dadanya. Dalam posisi seperti itu, ia kemudian mempersilahkan Anna untuk mengikutunya.
Ia menunjukkan sebuah tembok besar yang berada di kejauhan.
"Jika Anda berkenan, maukah Anda berkunjung ke kediaman saya terlebih dahulu sebelum kita menuju lokasi tanah sebagai bahan pembuat patung?" tanya makhluk itu dengan sopan.
Anna mengangguk. Hal itu memang menjadi hal lain yang diinginkannya. Anna ingin melihat tempat makhluk yang kemungkinan besar akan menjadi musuh-musuhnya di masa depan berada.
Anna ingin mencari tahu tentang calon musuhnya terlebih dulu sebelum menghabisi mereka. Dia tidak memiliki keinginan untuk merekrut makhluk, yang di duganya sebagai iblis itu, sebagai pasukan.
Selain ingin mencari tahu tentang keadaan calon lawan, Anna sebenarnya tertarik untuk mempelajari cara bagaimana cara makhluk itu memberikan sihir kehidupan pada sebuah patung tanah. Anna sudah menghafalkan mantra panjang yang makhluk itu ucapkan tadi. Ia hanya tinggal mencari tahu dimana letak tanah yang digunakan untuk membuat patung.
Ia berpikir untuk mengeruk sebanyak mungkin tanahnya bersama pasukan Orc dan Elf, lalu mengajarkan Tzaca untuk merapalkan mantra sihirnya.
Hanya dua hal itu yang Anna inginkan, hingga ia harus nekat datang ke wilayah musuh.
Energi Mana yang berada pada mereka memiliki aura yang sangat kelam dan jahat, berbeda dengan yang dimiliki oleh bangsa Orc dan Elf. Jadi Anna hanya ingin mengambil dua keuntungan tersebut sebelum membinasakan mereka.
Toh, seperti yang sudah makhluk itu katakan, mungkin dia tidak akan bertemu iblis kuat seperti yang pernah membuatnya kewalahan, sampai harus menggunakan sihir kuat dari kitab Conqueror of Darkness yang telah dipelajarinya selama ribuan tahun.
Anna menatap sekelilingnya sekali lagi, sebelum akhirnya pergi mengikuti makhluk itu.
'Ada yang aneh...'
Anna merasakan suatu hal yang janggal, namun ia belum tahu apa. Jadi, ia memutuskan pergi untuk melihat-lihat keadaan di dalam benteng.
Dua penjaga di depan benteng langsung menundukkan kepalanya saat Anna dan makhluk bertubuh merah gelap mendekat.
Sama seperti makhluk yang pergi bersama Anna, dua penjaga itu memiliki kulit tubuh berwarna merah gelap, namun hanya sedikit energi Mana yang Anna rasakan pada mereka.
Untuk ukuran Hunter di Bumi, dua penjaga itu hanya berada di kisaran Hunter peringkat C.
Tanpa bertanya apapun, dua penjaga gerbang langsung membukakan gerbang setelah mereka memberikan hormat.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju kediaman makhluk itu, semua makhluk yang berpapasan dengan mereka di sepanjang jalan membungkukkan tubuh untuk memberi hormat pada makhluk yang berjalan bersama Anna.
Melihat keramahan mereka, mau tak mau membuat Anna menjadi sedikit heran dengan keadaan neraka itu.
Bahkan, saat mereka baru masuk ke dalam benteng tadi, Anna langsung terheran-heran saat melihat ada banyak perumahan penduduk seperti perumahan di zaman Eropa abad pertengahan. Benar-benar kondisi yang berada di luar bayangannya.
Para penduduknya juga terlihat sangat bermasyarakat seperti penduduk di Bumi. Benar-benar sangat berbeda dari cerita yang pernah didengarnya tentang sebuah neraka.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak makhluk serupa yang berdagang, menawarkan sayur-sayuran, buah-buahan, daging mentah dan segala macam barang dagangan yang mirip dengan di Bumi.
Setelah melewati daerah yang mirip pasar di zaman dahulu tersebut, mereka memasuki wilayah perdagangan barang-barang tekstil.
"Apa di neraka memang kehidupannya seperti ini?" tanya Anna pada makhluk bertubuh merah gelap.
Makhluk itu membungkuk dan menaruh satu tangannya lagi seperti tadi. Lalu dengan sikap yang sopan itu, dibarengi dengan nada bicara yang sopan pula, ia menjawabnya, "Benar. Ini adalah keseharian kami."
Anna merasa sedikit canggung dengan tingkah laku makhluk itu. Jadi, ia mengangguk pelan terlebih dulu saat merasa pertanyaan yang ingin ditanyakan setelahnya, seakan tersangkut di tenggorokan.
"Apakah tidak ada tempat penghukuman seperti api neraka?" tanya Anna kemudian, setelah ia berusaha membiasakan diri dengan sikap lawan bicaranya.
Makhluk itu tampak terkejut. "Api neraka?"
"Lupakan." Sahut Anna, tidak ingin membahas hal yang ia rasa akan membuat pembicaraan mereka menjadi banyak tak berguna. "Kita ke kediaman mu saja."
Mereka berjalan terus sampai lebih dari setengah jam lagi, sebelum akhirnya tiba di kediaman makhluk itu.
Berbeda dengan rumah-rumah warga lainnya, rumah makhluk itu ternyata sangat besar. Kediamannya adalah sebuah kastil yang dikelilingi oleh tembok besar yang tak kalah tinggi dengan tembok yang mengelilingi kota tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju pintu utama kastil, Anna melihat-lihat keadaan di sekelilingnya dengan takjub.
Ada kebun bunga indah yang memiliki beragam jenis warna bunga. Kebun bunga itu terhampar di sepanjang tembok dalam kastil dan juga sepanjang bangunan luar kastil.
Ada sungai buatan juga di sana, beserta perahu-perahu kayu yang dinaiki anak-anak kecil dari bangsa mereka dengan bersorak-sorai riang, seakan itu adalah permainan dan hiburan yang mereka suka.
Yang paling membuat Anna takjub adalah bagaimana cara semua pelayan di kastil saat menyambut kedatangan mereka, atau mungkin lebih tepatnya saat mereka menyambut tuannya, makhluk yang berdiri di samping Anna.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Anna dengan penasaran.
__ADS_1
"Saya Duke di kerajaan ini." Sahut makhluk itu.
"Duke? Kerajaan? Apakah ini sebuah kerajaan?"
"Ya, dewi agung."
Anna menatap makhluk itu dalam diam. Bukan karena jawaban atas pertanyaannya, namun karena kalimat terakhir yang ia ucapkan. Dewi agung.
Itu adalah panggilan yang sama seperti yang bangsa Orc berikan padanya.
"Mari. Silahkan ke ruang perjamuan dulu dewi agung." Pinta makhluk itu seraya menunjukkan sebuah pintu besar di ujung koridor.
Anna akhirnya mengikuti makhluk itu, walaupun sebenarnya ada yang baru ingin ditanyakannya lagi.
Barulah setelah mereka duduk di kursi kayu di sekeliling meja panjang, Anna mulai membuka mulutnya, berencana untuk mengajukan banyak pertanyaan pada makhluk tersebut.
"Kenapa kau memanggil ku..."
"Silahkan, dewi agung. Maaf jika kami hanya bisa menghidangkan hidangan sederhana ini. Jika Anda berkenan untuk menginap di kediaman saya, saya akan menyiapkan jamuan yang layak untuk menyambut Anda." Ucap makhluk itu, memotong kalimat Anna.
Anna terdiam lagi, merasa takjub dan heran dengan penyambutan itu. Padahal, dia tadinya datang hanya untuk mengetahui dua hal yang ia inginkan lalu membunuh makhluk itu setelahnya.
Anna akhirnya menatap semua hidangan yang ada di meja, setelah tadi mengabaikannya. Hidangan tersaji sangat mewah. Mirip dengan hidangan yang disediakan keluarga Lloyd tiap ada jamuan makan malam keluarga besar mereka.
"Apa semua makanan ini bisa di makan?" pikir Anna, meragukan apakah lidahnya akan cocok dengan masakan neraka.
Anna tidak mengkhawatirkan tentang perut dan tubuhnya, seandainya makanan itu beracun. Ia hanya mengkhawatirkan jika rasa masakan itu akan aneh dan membuatnya muntah. Anna hanya tidak ingin memuntahkan makanan di hadapan tuan rumah yang sudah menjamunya dengan ramah.
'Tunggu dulu. Ini aneh. Untuk apa aku memikirkan keramahannya?'
"Silahkan dinikmati, dewi agung." Ucap makhluk itu lagi. Ia kemudian mengambil sebuah botol anggur, lalu menuangkan isinya sendiri ke gelas berbahan emas yang tadi sudah disediakan pelayan di hadapan Anna.
Setelah makhluk itu mengisi gelasnya juga, ia pun mengambil dan mengangkat gelasnya untuk mengajak Anna bersulang.
Anna pun terpaksa mengambil gelas di hadapannya dan bersulang dengan makhluk itu.
Saat Anna ingin mendekatkan gelas ke bibirnya, ia melihat ke dalam gelas untuk melihat isi gelas itu.
__ADS_1
Anna sedikit heran ketika ia melihat keanehan pada anggur yang berada di dalam gelas tersebut.
•••