Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 187 - Zona Perang


__ADS_3

Peral merasa mendapat kesialan hanya dalam waktu 5 hari setelah kepergian Legalos dan dua pengawal kepercayaannya yang memiliki kekuatan melebihi dirinya.


Kesialan itu dirasakannya tepat saat ia sedang makan siang bersama Sylph. Peral merasakan ada perubahan di lingkungan tenda tempat mereka berada.


Merasa ada suatu hal yang tidak beres, Peral akhirnya keluar, meninggalkan hidangangan makan siang yang baru saja ia santap beberapa suap saja, untuk mengecek keadaan di luar tenda.


Benar saja. Ketika Peral baru tiba di luar tenda, ia sudah bisa merasakan keadaan aneh pada langit yang tiba-tiba saja menggelap secara merata.


Peral sadar, hal itu bisa terjadi karena tempat mereka kini tertutup oleh sihir pembatas wilayah yang menandakan bahwa area tempat keberadaan mereka terisolasi ke dalam zona perang.


"Zona perang." Gumam Peral, sembari menatap ke arah seluruh langit yang kehilangan warna biru cerahnya.


"Tuan Peral, Anda sepertinya harus segera bergegas," ucap Sylph, yang sudah berada di samping Peral dan juga sedang menatap ke arah langit dengan tubuh gemetar.


"Pakai perlengkapan tempur mu. Aku akan pergi ke perkemahan tentara." Perintah Peral, yang langsung berlari pergi meninggalkan Sylph seorang diri.


•••


Di dekat gerbang, Wang Chu Gong dan tim raid nya yang baru saja masuk ke dalam Dungeon menatap seluruh area Dungeon yang dipenuhi tanah datar itu dengan heran.


Selama hidupnya, baru kali ini ia melihat lingkungan Dungeon yang begitu datar dan rata seperti baru saja di pangkas dengan sangat rapi.


Mereka tidak melihat adanya satu pohon pun di sana. Begitu juga dengan bukit batu kecil dan semak belukar yang biasanya para Hunter gunakan untuk bersembunyi atau memeta-matai lawan. Bahkan lingkungan itu terlalu sunyi untuk sebuah Dungeon berperingkat tinggi.


Sejauh mata memandang, mereka hanya bisa melihat tunas-tunas kecil bakal rerumputan yang sepertinya baru saja muncul dari dalam tanah lapang tersebut.


"Dungeon macam apa ini?" Gumam Chu Gong, seraya berputar-putar di tempatnya berdiri untuk memerhatikan keadaan di dalam Dungeon.


Tim yang Chu Gong ketuai saat ini adalah tim muda yang kini menjadi andalan dan idola di Kota C, setelah guild Nine Bears di blokir oleh Asosiasi Asia Tenggara.


Saat nama baiknya sudah di pulihkan, Chu Gong memimpin tim muda itu untuk melakukan banyak raid di berbagai macam peringkat Dungeon di Kota C.


Dengan adanya bantuan dari Li Wen Xia, Chu Gong dan seluruh anggota tim nya berhasil mendapatkan kenaikan peringkat, hanya dengan mengosumsi pil iblis yang membuat mereka kini berada di peringkat teratas Hunter se-Kota C.


Setelah mengosumsi pil tersebut, Chu Gong mendapatkan kenaikan peringkat ke peringkat SS hanya dalam kurun waktu 6 bulan saja, sementara Reinhard Bern sebagai wakil tim raid nya, kini sudah berperingkat S.


Sejak seluruh anggota guild Nine Bears di blokir dari Kota C dan mereka menyingkir ke negara-negara kecil, tim yang Wang Chu Gong ketuai ini akhirnya menjadi satu-satu nya tim tersukses di Kota C, meninggalkan tim dari guild lain jauh di belakang mereka.


Karena prestasi mencolok yang mereka ukir itulah, seluruh masyarakat di Asia Tenggara meminta guild mereka, Gold Dragon, untuk menyiarkan secara langsung raid yang kini sedang mereka lakukan.

__ADS_1


Selain karena mereka merupakan idola masyarakat, juga karena raid kali ini mereka lakukan di Dungeon peringkat A.


"Sayang sekali mereka tidak bisa mendengar apa yang kita bicarakan," ucap salah seorang Hunter.


"Yah, setelah orang-orang dari 9 AM itu melarikan diri dari buruan Asosiasi Amerika, tampaknya tidak ada ilmuwan yang bisa membuat suara pada kamera rusak ini berfungsi lagi." Sahut Hunter lain.


Mengabaikan obrolan anggota tim nya, Reinhard Bern pergi menghampiri Chu Gong yang tiba-tiba terlihat sangat tidak bersemangat, tidak seperti saat ia melakukan wawancara sebelum mereka memasuki gerbang tadi.


"Apakah ada yang membuat Anda tidak senang, tuan Wang?" tanya Reinhard.


"Tentu saja. Lihat Dungeon ini. Apa kau pikir kita bisa menemukan kristal sihir disini?"


Andai Chu Gong tidak mengatakannya, Reinhard mungkin akan sangat terlambat menyadari hal tersebut.


Reinhard menatap keadaan di sana, dan tidak menemukan adanya pantulan cahaya kristal sihir sama sekali.


"Apa mungkin kristal sihirnya berada di dalam tanah?" ucap seorang Hunter, yang berada di dekat mereka.


Chu Gong menoleh padanya dan memberikan tatapan marah.


"Bagaimana bisa kau begitu bodoh? Sejak kapan kristal sihir berada di dalam tanah?"


"Cepat cek lokasi monsternya. Kita selesaikan ini dengan cepat. Aku ingin cepat pulang dan bermain dengan para wanita ku." Perintah Chu Gong pada Reinhard, yang langsung mengeluarkan alat pendeteksi energi Mana.


"Ini aneh, monsternya terkumpul di satu titik," ucap Reinhard, melaporkan hasil pengecekan pada Chu Gong.


Chu Gong yang juga merasa aneh, merampas alat pendeteksi dari tangan Reinhard dan memeriksanya.


Tapi, walaupun ia memang merasa hal itu sangat janggal, namun Chu Gong akhirnya tersenyum sinis, lalu mengumpulkan semua Hunter dan berbicara dengan lantang pada mereka.


"Ayo kita selesaikan ini dengan cepat!"


•••


Di kamp para Elf, Peral sudah mengumpulkan seluruh pasukan. Andai hutan tempat mereka berlindung masih ada, Peral pasti tidak akan sekhawatir saat ini.


Jika hutan mereka masih ada, Peral tinggal mengatur semua pasukan di pos mereka masing-masing, dalam posisi bertahan saja.


Namun, karena wilayah mereka sangat terbuka, Peral memilih untuk mendatangi musuh terlebih dahulu sebelum musuh mengepung lokasi mereka, dimana banyak penduduk yang bukan dari kalangan petarung ada di situ.

__ADS_1


Dengan adanya Elf penyihir, Peral dapat mengetahui lokasi keberadaan musuh dan ia pun memimpin pasukannya untuk langsung pergi ke sana.


•••


Di salah satu tenda, tempat Sylph dan tahanan wanita berada, Sylph dan 2 pengawal yang Peral kirimkan untuk menjaganya, hanya bisa bersiaga sambil berharap bangsa pemburu tidak sampai memasuki wilayah perkemahan mereka.


Namun, Sylph sebenarnya sangat yakin bahwa Peral bisa mengatasi situasi darurat ini.


"Nona Sylph, apakah membiarkannya tetap hidup tidak akan menjadi masalah?" tanya salah satu pengawal, sembari menatap pada tahanan yang tertidur lelap di atas ranjang kayu.


Sylph ikut menatap tawanan mereka lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, dia bukan petarung. Dan lagi, dia sudah dibelenggu gelang sihir."


Pengawal itu menghampiri tahanan wanita untuk memerhatikannya dari dekat.


Namun, saat ia masih berjalan menghampiri, terdengar suara ledakan yang kemudian di susul dengan kobaran api yang membakar bagian atap tenda.


Booooommmmm! Zrasshhhhhh...


Sylph dengan sigap melompat dan menarik tubuh tahanan mereka untuk terhindar dari tiang atap tenda yang mulai berjatuhan.


"Nona Sylph, cepat keluar! Tinggalkan saja dia di sini." Ucap salah satu pengawal yang lebih mementingkan keselamatan Sylph.


"Kita harus membawanya. Siapa tahu dia bisa dijadikan sandera." Sahut Sylph yang sudah menaikan tahanan itu ke pundaknya.


Walaupun dua pengawal itu sebenarnya tidak menyetujui hal itu, namun mereka tidak berani membantah perkataan Sylph.


"Cepat keluar." Perintah Sylph.


Kedua pengawal itu akhirnya berlari ke pintu tenda untuk memeriksa keadaan sebelum Sylph keluar. Namun, baru saja mereka keluar dari tenda, keduanya masuk lagi dengan gerakan melompat mundur.


Niat mereka untuk pergi meninggalkan tenda sudah sangat terlambat, karena bangsa pemburu sudah berada di depan pintu tenda.


Sylph akhirnya merobek dinding tenda yang berbahan kulit kayu dan kulit binatang di belakangnya, untuk melarikan diri dari sana.


Namun, saat ia baru saja keluar, seorang pemburu yang terkejut begitu melihatnya, langsung menembakkan bola api dari telapak tangannya pada Sylph.


Wushhhhh...

__ADS_1


Zlaaarrrr!!!


__ADS_2