
Betapa terkejutnya Hunter-hunter yang masih berkumpul dan berbaris itu saat melihat ada puluhan gerbang baru yang bermunculan di sisi kiri dan kanan gerbang peringkas S yang ingin mereka masuki.
Gerbang-gerbang yang sangat besar itu berjejer dengan rapi tampak seperti deretan pintu toilet umum.
Yang membuat semua Hunter lebih terkejut lagi adalah saat mereka sudah menghitung jumlah gerbang dan mengukur energi sihir gerbang untuk menentukan level dari Dungeonnya. Ada 99 gerbang ditempat itu yang kesemuanya adalah gerbang dari Dungeon peringkat S.
Setelah mereka tahu berapa jumlah dan peringkat gerbang itu, Hunter-hunter tentu saja menjadi sangat panik. Mengatasi satu Dungeon peringkat S saja mereka tidak yakin akan berhasil, apalagi sekarang ada 99 gerbang dari Dungeon peringkat S yang sama.
"B-bagaimana ini?" ucap seorang Hunter peringkat A pada ketua guild mereka, Wang Sin Long.
Wang Sin Long yang juga tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, sambil memerhatikan keributan yang terjadi disekitarnya.
Sebagai kapten dari tim raid yang dibentuk secara dadakan, ia juga tidak memiliki ide apa pun untuk bisa mengatasi 99 gerbang dihadapannya itu.
Tapi, Wang Sin Long akhirnya pergi menghampiri kapten dari pasukan militer.
"Tuan Sun, sebaiknya mulai evakuasi saja warga kota dan seluruh kota di sekitar Beijing juga," pinta Sin Long dengan suara tak bersemangat. Ia tahu, negaranya pasti akan hancur sebentar lagi.
Satu gerbang peringkat S saja sangat berbahaya. Belasan tahun lalu, 1 gerbang peringkat S yang gagal ditutup saja bisa menghancurkan seluruh wilayah di Asia Tenggara. Bagaimana dengan 99 gerbang?
"Apa kehidupan manusia akan berakhir?" pikir Wang Sin Long dengan putus asa.
"Saya sudah memerintahkan pasukan kami untuk melakukannya, tuan Wang," sahut pria itu.
Awalnya, warga diminta evakuasi 3 hari setelah gerbang peringkat S muncul dan masih ada 1 hari lagi yang tersisa. Tapi, setelah gerbang itu menjadi 99, tentu saja menunda evakuasi adalah hal yang sangat bodoh.
"Kalau bisa, minta warga untuk meninggalkan kota Beijing dan kota-kota disekitarnya," ucap seorang gadis remaja yang tiba-tiba muncul di dekat mereka.
Melihat Miyuki tiba-tiba muncul di dekat mereka, kedua pria itu kaget. Tapi, rasa kaget mereka langsung digantikan sukacita saat tahu siapa orang yang baru saja berbicara itu.
"Nona Nakano, apa Anda di sini untuk membantu kami?" tanya Sin Long dengan tatapan berbinar.
"Lakukan apa yang tadi kukatakan jika kalian ingin kami membantu negara ini."
"T-tentu saja. Akan segera saya laksanakan," sahut kapten dari pasukan militer yang kemudian mengeluarkan smartphone nya. "Tapi, apa kita boleh berfoto bersama, nona Nakano?"
Miyuki menoleh dan menatap wajah pria itu dengan tatapan malas lalu mengalihkan tatapannya ke arah gerbang.
Miyuki kemudian mengalihkan tatapannya lagi pada Wang Sin Long dan berbicara padanya, "Kalian tunggu saja sampai dungeon break terjadi dan tetap berjaga disekitar gerbang. Biar aku dan teman-temanku yang akan masuk kedalam gerbang. Kami akan berusaha mengurangi jumlah gerbang sebanyak yang kami bisa sebelum terjadi dungeon break."
"Y-ya... Nona Nakano!" sahut Sin Long cepat. Tapi, ia kemudian menyadari ada kalimat yang sedikit aneh dari apa yang baru saja Miyuki katakan. "Anda dan teman-teman?"
__ADS_1
"Ya. Kapten tim ku akan tiba dalam waktu dekat."
"Kapten tim? Nona Stewart?!"
"Ya."
Mengetahui itu, Sin Long tiba-tiba menjadi sangat gelisah. Hal yang menyebabkannya gelisah adalah karena ia bingung untuk meluapkan perasaan senang dan semangat berapi-api yang tiba-tiba saja berkobar di dalam dirinya.
Miyuki tertawa saat melihat tingkah lucu Wang Sin Long. "Kau sepertinya sangat bersemangat."
Mendengar itu, Sin Long langsung tertunduk malu. Ia tahu bahwa tidak sepantasnya dia bersikap aneh disaat situasi sedang genting seperti ini.
"M-maaf...," ucap Sin Long pelan.
"Tidak apa-apa. Kau sebaiknya meminta Hunter-hunter peringkat B dan C juga untuk datang membantu. Tapi tempatkan mereka dengan jarak yang jauh dari gerbang. Minta mereka mengelilingi area ini dan bersiaga saja disana apabila kita meloloskan satu atau dua monster nantinya."
"Y-ya, nona Nakano!"
Setelah Miyuki mengatakan hal itu, ia tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka lalu muncul kembali di tempat yang agak jauh, di samping pria bertopeng.
•••
Wang Sin Long meminta seluruh Hunter untuk bersiaga di sekitar gerbang dan memanggil seluruh Hunter peringkat B yang berada di Beijing agar mereka bersiaga dalam radius 1 kilometer dari gerbang Dungeon. Ia juga meminta Hunter-hunter peringkat C untuk bersiaga dalam jarak 2 kilometer dari gerbang, untuk mencegah apabila nantinya ada monster-monster yang lolos dari peperangan di depan gerbang.
Saat Wang Sin Long dan seluruh Hunter peringkat tinggi dari kota Beijing masih sibuk mengatur strategi ulang, Gina Stewart, Kevin Jung, Bimo Gandri, Gus Stevin dan 30 avatar hunter berperingkat S yang di angkut dengan bus khusus 9 AM akhirnya tiba di lokasi itu.
Diantara 30 avatar hunter yang baru saja tiba, ada 1 avatar hunter peringkat SSSS yang datang dengan digendong secara khusus oleh Bimo.
Begitu ia melihat Miyuki melambaikan tangan padanya, Bimo langsung berbelok arah dan pergi dengan berlari kecil menuju Miyuki, disusul oleh Gina, Kevin dan Gus Stevin.
"Miyu, ini avatar dan perlengkapan pilotnya," ucap Bimo sambil menurunkan tas di tangannya, juga menurunkan avatar hunter dari punggungnya.
Bersamaan dengan itu, Rin yang sejak tadi menunggu agak jauh dari Miyuki juga tiba di dekat mereka.
"Kau yang akan memakainya Rin?" tanya Bimo saat melihat Rin langsung mengambil tas besar yang berisi perlengkapan pilot dan membongkar isinya.
"Ya," sahut Rin sambil mendongak hanya untuk senyum pada Bimo sebelum ia kembali memeriksa perlengkapan pilotnya.
"Ini benar-benar akan menjadi peperangan yang sangat besar," ucap Kevin sembari membuka tas besar yang ia bawa dan mengeluarkan perlengkapan tempurnya.
"Apa mereka akan ikut masuk?" tanya Gina pada Miyuki, sembari menatap ratusan Hunter yang juga sedang menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Aku meminta mereka untuk berjaga diluar. Tapi, kalau kau memiliki strategi lain, kau bisa mengatakannya pada mereka. Mereka pasti akan menurutimu," sahut Miyuki.
"Menurutiku?"
Miyuki tertawa. Tawanya itu menyebabkan semua orang menoleh padanya. Wajah manisnya saat sedang tertawa itu bahkan bisa membuat Kevin Jung yang selama ini selalu kesal padanya, terpesona.
"H-hei... Bisakah kau sering-sering tertawa?" pinta Kevin.
"Jika ada yang membuatku bahagia, kenapa tidak?" Sahut Miyuki.
"Tapi, kenapa mereka mau menurutiku?" tanya Gina lagi, setelah ia menyingkirkan rasa terpesonanya pada wajah tertawa Miyuki.
"Mereka sepertinya sangat mengidolakanmu."
"Apa?!"
"Begitulah."
"Yah, itu sudah pasti. Kau memang sangat cocok menjadi seorang pemimpin," puji Kevin.
Gina langsung meninju pelan bahu Kevin. Mendengar itu, ia ingat saat Anna dulu memintanya untuk menjadi ketua guild dan memimpin semua teman-temannya.
"Ngomong-ngomong, dimana dia sekarang?" gumam Gina.
"Siapa?"
"Anna."
Mendengar nama itu terucap dari mulut Gina, mereka terdiam. Ekspresi rileks yang tadinya terukir jelas di wajah semua orang, menghilang seketika mereka mengingat orang yang sudah mempersatukan mereka.
°°°
"Tapi, bagaimana kau tahu bahwa akan ada banyak gerbang bermunculan disini hingga kau meminta kami untuk bersiap?" tanya Gina penasaran karena Miyuki sudah meminta mereka bersiap sejak beberapa minggu lalu, seakan dia tahu akan ada banyak gerbang bermunculan di tempat ini.
"Aku tidak tahu. Aku hanya menebak. Aku sengaja memancing kemarahan mereka saat berada disini karena dataran Tiongkok begitu luas. Akan mudah berperang disini." Sahut Miyuki dengan santainya.
Mengetahui itu, semua rekannya terdiam. Apa yang ada di dalam pikiran mereka sama persis.
'Dia psikopat.'
•••
__ADS_1