
Melihat rekan-rekannya dalam bahaya, tanpa berpikir panjang, Bimo langsung menggunakan Special Skill tahap kedua.
Saat ia sedang berkonsentrasi untuk membentuk skill nya, seluruh daratan dalam radius 30 meter di sekitarnya bergetar hebat hingga membuat monster-monster purba yang berlarian di area itu saling menabrak antara satu dan yang lain akibat guncangan di kedua kaki mereka.
Asap hitam pekat bermunculan dari sekitar tubuh Bimo. Asap itu kemudian membentuk 5 buah bola sebesar ukuran kepala manusia dewasa.
Setelah bola-bola sihir berwarna hitam pekat terbentuk sempurna, energi sihir yang berada di dalamnya menghisap seluruh makhluk yang berada dalam jarak 30 meter disekitarnya, kecuali Hunter-hunter yang tadi telah dilindungi Special Skill tahap pertama Bimo.
Hunter-hunter yang selamat dari kejaran ratusan Raptor terus berlari.
Beberapa dari mereka menyadari bahwa ada kelompok Raptor lain yang baru tiba di daratan dan langsung mengejar mereka.
Mereka yang menyadari hal itu, menoleh ke arah Bimo, yang kini di kelilingi oleh ratusan Raptor yang terhisap oleh bola-bola sihirnya.
Setelah ratusan Raptor terkumpul seolah melekat jadi satu dengan berpusat pada bola-bola sihir hitam, Bimo menggunakan Special Skill tahap tiga.
BAAAANNNNGGGG!!!
Bola-bola itu meledak dengan daya ledak yang sangat dahsyat hingga menghancurkan seluruh tubuh Raptor dan hanya menyisakan serpihan-serpihan kecil seperti debu, yang adalah sisa-sisa bagian tubuh mereka.
Efek ledakan itu bahkan terasa sampai jarak 100 meter. Seluruh benda yang berada dalam radius itu terbang berhamburan, bahkan bebatuan, semak dan pohon yang berada dalam jarak tersebut hancur berkeping-keping.
Demikian juga yang dialami para Hunter yang sedang berlari menuju gerbang.
Walaupun tubuh mereka terlindung oleh sihir yang diberikan Bimo, namun Hunter-hunter yang berlarian menuju gerbang itu langsung terpental ketika bola-bola sihir meledak.
Namun, efek ledakan hanya membuat mereka terpental tanpa terluka sama sekali. Tapi, karena pelindung yang berada di sekitar tubuh mereka sudah menahan ledakan tadi, asap hitam tipis yang sebelumnya melindungi tubuh mereka, lenyap seketika.
Hunter-hunter bangkit dan berdiri untuk melihat ke arah sumber ledakan. Debu pekat berhamburan di udara, hingga mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi disana.
Yola dan Lucy yang khawatir pada Bimo, masih duduk di tempat mereka terjatuh setelah bangkit dari tanah dan terus menatap ke arah sumber ledakan.
Ren awalnya juga terdiam di tempat setelah ia bangkit duduk. Namun ketika ia mengingat bahwa mereka harus segera pergi dari tempat itu, dia mengajak semua orang untuk kembali berlari pergi.
Yola dan Lucy yang khawatir akhirnya merasa lega saat melihat Bimo keluar dari gumpalan debu tebal yang menghalangi pandangan semua orang yang berada jauh dari tempat ledakan.
Melihat dua remaja itu masih terduduk di tempat mereka jatuh, Bimo langsung memerintahkan mereka untuk pergi meninggalkan Dungeon.
“Cepat pergi!”
Mendengar teriakan Bimo, Lucy tersadar. “Bagaimana dengan mu?” tanya Lucy dengan berteriak juga, karena jarak mereka cukup jauh.
Bimo menunjuk ke arah kumparan awan hitam di langit, “Mereka masih belum habis.”
Lucy melihat ke langit. Dia menyadari memang harus ada yang memusnahkan semua makhluk itu. Jika tidak, saat penghalang gerbangnya terbuka, akan sangat berbahaya bagi populasi manusia jika makhluk-makhluk purba itu keluar dari gerbang.
“Berjanjilah untuk selamat!”
Setelah meneriakan kalimat itu, Lucy menarik Yola untuk segera berdiri dan meninggalkan tempat itu.
°°°
Bimo menggunakan banyak energi sihir lagi untuk membuat sebuah pelindung yang membatasi wilayah turunnya monster-monster dari awan dan arah gerbang tempat para Hunter berada.
Batas itu membentuk suatu garis lurus yang membentang luas di belakang tempat Bimo berdiri seperti sebuah tembok besar yang terbentuk dari energi Mana.
Tembok berwarna hitam transparan itu begitu kuat, hingga puluhan Raptor yang lolos dari serangan pedang Bimo, hanya menabrak tembok tanpa bisa melaluinya.
Bimo terus menyerang berusaha menghabisi Raptor selama beberapa menit, sampai akhirnya 3 makhluk yang memiliki tubuh lebih besar dari Raptor muncul di hadapannya.
__ADS_1
Ketiga makhluk itu masing-masing memiliki tinggi lebih dari 10 meter dengan tubuh yang panjang dari bagian mulut sampai ekornya.
Makhluk itu berdiri diam di hadapan Bimo seolah sedang mengamati lawan, sebelum mereka menyergapnya.
Wajah ketiga makhluk tersebut sangat menyeramkan dengan gigi-gigi runcingnya yang besar. Mata ketiga makhluk itu menatap Bimo dengan seksama tanpa berkedip, hingga membuat Bimo merasa sedikit ngeri.
Salah satu makhluk langsung menyerang Bimo dengan menyergapkan mulutnya yang besar, bermaksud hendak menelan Bimo yang berukuran lebih kecil dibandingkan lebar mulutnya, saat ia melihat Bimo sedikit lengah.
Bimo terkesiap karena kecepatan serangan lawannya yang diluar dugaan.
Walaupun memiliki badan besar, namun gerakan makhluk itu sangat cepat hingga membuat Bimo hampir saja tertangkap olehnya.
Bimo melompat ke samping lalu bergulingan untuk menghindari sergapan itu. Namun, ekor makhluk itu datang dari arah berlawanan dan berhasil menghantam Bimo dengan keras.
Bammmmm!
Walaupun gerakan ekornya gesit, namun Bimo dengan sigap berhasil menangkis serangan menggunakan perisai besarnya.
Bimo mengangkat pedang di tangan kirinya lalu ia membalas serangan ekor itu dengan melakukan tebasan.
Sraaaatttt…!
Ekor yang terkena tebasan terputus hingga membuat makhluk itu mengerang kesakitan, lalu menyerang Bimo dengan lebih brutal lagi.
Serangan tidak hanya datang dari satu makhluk saja. Dua makhluk berwujud serupa yang tadi tiba bersama makhluk itu, mulai menyerang Bimo dari berbagai arah.
Di keroyok dari arah kiri, kanan, dan depan, membuat Bimo terdesak mundur hingga membuatnya hampir mencapai tembok pembatas yang ia buat.
‘Kenapa mereka lincah sekali? Bukankah makhluk-makhluk berbadan besar biasanya agak lamban?’
Dengan kecepatan serangan ketiga maklhuk itu, Bimo hanya bisa menggunakan pedang dan perisainya untuk menangkisi serangan tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.
Baaannnngggg!
Kepala yang terkena tinju keras, langsung hancur seketika itu juga.
Setelah menghancurkan kepala makhluk itu, sosok itu bergerak menuju monster lain dan ia juga meledakan kepalanya.
Bannnggggg!
Tidak sampai disitu, sosok itu bergerak ke arah lain dan menangkap gigi taring yang hendak menyerang Bimo.
“Apakah kalian sempat mengambil fotonya? Orang-orang harus tahu bahwa wajah Tyranosaurus Rex lebih menyeramkan dibandingkan gambar hasil terkaan orang selama ini.” Ucap Anna, sambil berdiri di depan moncong Ty-Rex dan memeluk taring panjangnya.
Anna memeluk taring besar itu dan menahan bagian bawah mulut Ty-Rex dengan kakinya agar tidak mengatup dan menggigitnya.
"Ren hanya mengambil gambar Raptor." Sahut Bimo seraya menatap takjub pada Anna.
"Sayang sekali."
Krakkkk…
Dengan satu gerakan, Anna mematahkan taring Ty-Rex yang hampir seukuran tubuhnya.
Setelah taring itu terpisah dari gusinya, taring tersebut tiba-tiba menguap perlahan menjadi abu, lalu menghilang.
“Mereka menghilang?” gumam Anna dengan bingung. Ia kemudian menoleh pada dua Ty-Rex yang kehilangan kepala, dan ia melihat tubuh keduanya juga mulai menguap membentuk asap hitam.
“Ya. Mereka langsung menghilang saat kita membunuhnya. Sahut Bimo, mengingat tubuh Raptor yang langsung meledak menjadi serpihan saat terkena ledakan dari bola sihirnya tanpa meninggalkan seserpih tulang atau daging.
__ADS_1
Mendengar itu, Anna melesat cepat ke samping Ty-Rex di hadapannya lalu meninju kepala Ty-Rex malang tersebut.
Bangggg!!!
Anna meledakan kepala Ty-Rex terakhir.
“Sayang sekali, padahal akan baik jika kita memberikan tubuh mereka pada bangsa Orc dan Elf.” Anna berkomentar setelah menghancurkan kepala lawannya.
Raptor yang sebelumnya tidak berani mendekat saat Ty-Rex menggantikan mereka untuk memangsa lawan, langsung bergerak berhamburan menyerang Anna dan Bimo.
Walaupun makhluk-makhluk itu sangat kuat dan rata-rata memiliki energi sihir yang setara dengan Hunter peringkat A, namun mereka bukanlah lawan yang sepadan untuk Anna dan Bimo, walaupun mereka unggul dalam hal jumlah.
Banngg... Bangggggg... Banggggggg...!
Tubuh Raptor langsung meledak hanya dalam sekali pukul dan sekali tebasan pedang.
“Ngomong-ngomong, kenapa Anda sangat terlambat, nona Anna?”
“Nanti saja kita bicarakan. Bisakah kau mencegah agar Raptor-raptor ini tidak pergi ke gerbang? Penghalang gerbangnya sudah tidak ada. Berbahaya jika mereka sampai keluar.”
“Apa? Bukankah Dungeonnya masih lama untuk terjadi break?”
“Aku menghancurkan gerbangnya.”
“…”
'Apakah maksudnya, dia sudah menghancurkan pilar sihir?'
“Sudahlah. Kau tahan saja mereka semua.”
“Anda mau kemana?”
Anna mendongak dan menoleh ke atas, menatap awan hitam yang masih memiliki kilatan petir di sekitarnya.
“Aku merasa ada makhluk yang lebih kuat di dalam awan itu.”
“Hati-hati, nona Anna.”
“Ya. Kau juga.”
Setelah itu, Anna melompat lebih tinggi lalu terbang menuju awan meninggalkan Bimo yang kini bertarung seorang diri menghadapi ratusan Raptor.
°°°
Saat Anna masih berada di tengah perjalanan menuju awan, sosok makhluk berkulit merah keluar dari dalam awan.
Tubuhnya tinggi besar, namun tidak lebih tinggi dari Raptor.
Anna memperkirakan tinggi tubuhnya mencapai 2 meter.
Tubuhnya berwarna merah menyala, dengan ekor panjang mencuat dari bagian tulang ekornya.
Walaupun agak mirip Orc, namun makhluk itu jauh lebih mirip manusia di bandingkan Orc. Ia juga memiliki empat tanduk yang mencuat di bagian kanan dan kiri dahi nya, juga masing-masing satu di atas telinganya yang runcing.
Saat makhluk itu terbang mendekat dengan kedua sayapnya yang menyerupai sayap kelelawar, Anna menghentikan pergerakannya untuk memerhatikan makhluk tersebut dengan lebih seksama.
'Dia mirip gabungan dari manusia, Orc dan Elf.'
Setelah makhluk itu berada di dekat Anna, Anna menangkap adanya keterkejutan dari raut wajah makhluk itu, ketika tatapan mereka saling bertemu.
__ADS_1
Malahan, Anna melihat gelagat makhluk itu ingin langsung melarikan diri setelah mereka barusan saling bertatapan.