Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 254 - Kembali Ke Planet Titans


__ADS_3


Bagian 5 : Pertempuran Antar Dimensi


☆ ☆ ☆


"Conqueror of Darkness, part 2. Light in the Darkness."


Ziiiiiinnnnggg...


°°°


Necromancer yang memiliki kekuatan untuk membangkitkan makhluk-makhluk yang telah mati dan menjadikan mereka pengikutnya itu terbelalak saat melihat cahaya keemasan bersinar terang dari dalam kerumunan pasukannya.


Cahaya keemasan itu kemudian memendar dari dalam kerumunan ratusan juta pasukan iblis yang sebelumnya menenggelamkan Anna dan seluruh pasukannya di dalam lautan tubuh mereka, sebelum akhirnya menyerap semua tubuh makhluk-makhluk itu ke dalam sinar terangnya.


Necromancer melihat proses musnahnya pasukan iblis yang baru saja ia bangkitkan.


Lautan pasukan iblis itu terus tersedot ke dalam pusat cahaya bagaikan air yang terseret masuk kedalam sebuah pusaran.


Sampai akhirnya, yang tersisa hanyalah kegelapan malam yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan redup.


Tidak memerlukan waktu atau kesulitan apa pun bagi sang Necromancer untuk mengetahui siapa yang menggunakan sihir itu. Ia menatap pada sosok gadis ramping yang berdiri di bawah sana sambil menatapnya lurus dengan kedua matanya yang memiliki manik keemasan.


Dia adalah satu-satunya sosok yang tidak terlindung oleh cahaya keemasan seperti semua makhluk lain yang berdiri di belakangnya.


"Kekuatan itu... Aku sepertinya pernah mendengar tentangnya," gumam Necromancer.


Ia kemudian berteriak sekali lagi untuk memanggil tentara iblis yang biasanya langsung bangkit kembali setelah mendengar panggilan darinya.


Namun, jiwa-jiwa yang telah mati itu tak kembali lagi ke kehidupan nyata.


"Dia mengirim mereka ke ketiadaan?!"


"Apa ada hal lain yang bisa kau lakukan selain membangkitkan mayat?!" seru Anna seraya menatap sang Necromancer dengan tatapan malas.


Saat Necromancer itu masih menatap Anna dengan tatapan takjub, tubuh gadis itu tiba-tiba menghilang.


Tak lama kemudian, Necromancer merasa pandangannya berputar-putar dengan tidak beraturan, sebelum pandangannya tiba-tiba menggelap dan ia pun kehilangan kesadaran sama sekali.


•••


"Jadi bagaimana? Apa kita kembali sekarang?" tanya Anna pada dewi Ezili, sembari membuang kepala sang Necromancer dari tangannya.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.


Semua mata terfokus pada kepala Necromancer yang baru saja Anna buang dengan sembarangan, sebelum tatapan mereka beralih pada tubuh tanpa kepala sang Necromancer yang kini melayang jatuh dari langit.


Glup...


Secara bersamaan, mereka kemudian menatap Anna yang kini sudah tiba di hadapan mereka.


"Makhluk itu sangat kuat dan dia menarik kepalanya begitu saja hingga terlepas dari tubuhnya? Apa dia ini sudah sekuat dewi Ann?" pikir dewa Ogun sambil berusaha menutupi tubuhnya yang gemetaran.


Sama seperti apa yang dewa Ogun pikirkan, dewi Ezili, Lorelei dan Nordic juga memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda.


"Hallo?"


"Ah, y-ya... Apa kita kembali sekarang?" sahut dewa Ogun, terkejut saat Anna melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.


"Aku menemukan jejak dewi Lyn dari ingatan makhluk itu tadi." ucap Anna.

__ADS_1


Ia tadi membaca pikiran sang Necromancer sebelum mencabut kepalanya.


"Kau menemukan keberadaan dewi Lyn?"


"Ya. Dewi Lyn sepertinya masih berada di planet bangsa Titans. Aku melihat dewi Lyn dan dua dewa perang bangsa Titans di bawa ke sebuah kota."


"Sebuah kota? Kau yakin itu berada di planet Titans?"


"Mungkin. Aku melihat ada patung kalian berdua di sana. Yah, kecuali ada makhluk dari planet lain yang memuja kalian."


"..."


"Kalau begitu ayo kita kembali," ucap dewi Ezili.


Rombongan itu pun akhirnya masuk kembali ke gerbang sihir.


Saat semua orang masuk kembali kedalam gerbang, Anna yang berada di bagian paling belakang rombongan menatap ke sekeliling arah di planet bangsa iblis itu sekali lagi.


Jangankan rekan-rekannya yang melihat kemampuannya tadi. Ia juga sangat terkejut dengan kekuatannya yang meningkat dengan sangat pesat.


'Apa yang dewi Ann lakukan pada tubuh ku? Kenapa aku merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya?'


•••


"Aneh. Kenapa tidak ada dewa Zeus atau malaikat kepercayaannya yang menunggu kita disini?" ucap dewa Ogun yang telah kembali ke wujud red panda.


"Apa dia seharusnya menunggu disini?"


"Ya. Ini adalah tempat terakhir keberadaan kita. Dia seharusnya menemukan jejak kita di sini."


"Begitu... Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita naik ke atas dulu?"


°°°


Saat mereka baru tiba di mulut goa, mereka sedikit kaget saat melihat ada seorang pria tampan yang sedang duduk-duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil memakan buah-buahan dari keranjang rotan miliknya.


Ia tampak seperti seorang yang sedang menikmati pikniknya seorang diri.


"Dia membodohi kita," bisik dewa Ogun pada Anna dari pundaknya.


"Hah? Apa maksudmu?"


"Dia dewa Zeus. Dia sedang mengunci energi Mana nya juga dan menunggu kita di sini," sahut dewa Ogun.


Anna justru senang mengetahui hal itu. Ia malah langsung pergi menghampiri dewa Zeus dan langsung duduk di hadapannya, di atas tikar jerami.


Anna juga mengambil satu buah yang menyerupai buah apel dari dalam keranjang rotan dan langsung menyantapnya.


"Woah..., ini manis dan menyegarkan!" seru Anna, saat ia merasakan apel itu di lidah dan tenggorokannya.


"Kau mengambil makanan orang lain tanpa meminta izin?" ucap dewa Zeus. Ia kemudian menoleh ke belakang dan menatap pada ratusan ribu tentara berkuda yang masih mengantri keluar dari dalam goa.


"Oh, maaf. Aku sudah lama tidak makan dengan benar," sahut Anna sambil mengambil buah lain saat ia melihat hanya tersisa dua buah lagi di dalam keranjang itu.


"Kau tidak takut kalau ada racun di dalam buah itu?"


"Kau pasti sudah mati sejak tadi jika buah ini beracun."


Mendengar itu, dewa Zeus tertawa.


Mereka kemudian diam cukup lama dan hanya menyantap buah-buah itu sampai akhirnya habis.

__ADS_1


Baik dewa Ogun dan dewi Ezili yang bertengger di pundak Anna, juga Lorelei dan Nordic yang memerhatikan mereka dari kejauhan, diam tanpa bicara sepatah kata pun. Tapi, tatapan mereka tak beralih sama sekali dari dewa Zeus.


"Apa kau yang telah menghajar Herakles?" tanya dewa Zeus yang akhirnya berbicara kembali.


"Dia menghalangi jalan ku."


Dewa Zeus mengangguk pelan sebelum kembali bertanya, "Apa yang kau temukan disana?"


"Di dalam goa itu?"


"Bukan. Di dalam gerbang di bawah sana."


"Itu jalan menuju dimensi lain."


"Dimensi siapa?"


"Iblis."


Dewa Zeus mengangguk lagi. Kali ini ia lakukan sembari menghela nafas panjang.


"Apa kau kebetulan bertemu saudara-saudara ku di sana?" tanya dewa Zeus lagi.


Anna menggelengkan kepalanya.


"Mereka tidak berada di sana."


Mengetahui itu, dewa Zeus akhirnya tersenyum.


"Kalau begitu, kau tahu jika aku sedang kehilangan dua saudara ku, kan?"


Anna membalas senyumannya dengan senyuman juga.


"Tidak usah bertele-tele. Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?"


Dewa Zeus kehilangan senyumnya. Ia kemudian menatap dua hewan imut yang berada di kedua bahu Anna.


"Apa kalian berdua akan membantunya jika aku ingin membunuh..."


Bannngggg!!!


Belum sempat dewa Zeus menyelesaikan kalimatnya, Anna sudah meninjunya terlebih dahulu.


"Apa kau tahu siapa aku?" tanya dewa Zeus, sembari berusaha mencengkeram kepalan tinju Anna yang berhasil ia tangkap, dengan sekuat tenaga. Ia ingin meremukkan tangan mungil itu.


Tapi, ia sama sekali tidak bisa melakukannya, hingga akhirnya harus membuka energi Mana.


"Padahal aku sudah menemukan lokasi kedua saudaramu. Sayang sekali." ucap Anna, yang kemudian mengeluarkan tombak Igigi dari ujung lengan bajunya.


Wussshhhh...


Anna langsung menyerang dewa Zeus dengan tombaknya.


Dewa Zeus yang terancam, segera melepaskan tangan Anna dari genggamannya dan mundur menjauh.


"Dewi Ann... Kau sudah melanggar hukum para dewa dan berani memasuki wilayah ku! Kau pikir kau akan selamat?!"


Sambil berdiri tegak dengan kuda-kuda bertarungnya, Anna tersenyum pada dewa Zeus.


"Kau salah orang!"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2