Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 194 - Dewa Elf, Eru Iluvatar


__ADS_3

Patung dewa Eru melemparkan Anna kembali. Namun kali ini ia melemparkan Anna jauh ke tengah padang rumput.


Patung itu kemudian berbicara lagi pada para Elf, tanpa memerdulikan Anna sama sekali. "Siapa di antara kalian yang membawanya ke sini?!"


Nobara dan Fael hendak menjawab pertanyaan tersebut, namun mereka sama sekali tidak bisa membuka mulut.


Sihir penyembahan yang patung gunakan pada mereka, membuat semua Elf benar-benar tidak bisa bergerak, berbicara, bahkan berkedip.


Sejatinya, Elf tidak bisa melawan ucapan penciptanya. Karena itulah, hanya dengan ucapannya saja, patung dewa Eru bahkan bisa membinasakan mereka.


"Aku mengizinkan pengkhianat yang membawa makhluk itu untuk berdiri!"


Setelah patung memberikan perintah, Fael tiba-tiba berdiri, walaupun Fael sendiri masih belum memiliki niat untuk berdiri.


Dashhhh...!


Fael langsung terpental jauh, saat angin kencang menghantam tubuhnya.


Hukuman yang patung dewa Eru berikan tidak hanya sampai di situ. Dari langit, tiba-tiba muncul ribuan pedang es yang meluncur dengan deras, menghujani Fael.


Namun, hujan pedang es itu sama sekali tidak pernah menyentuh tubuh Fael, setelah ia dilindungi oleh cahaya keemasan yang mengelilingi tubuhnya.


•••


Melihat dan merasakan aura sihir pelindung itu, patung dewa Eru merasa sedikit terkejut, karena ia seperti mengenal auranya.


Namun, patung dewa Eru yang sedang marah, tidak memerdulikannya.


Tahu siapa yang memberikan perlindungan pada Fael, patung dewa Eru menoleh ke tengah padang rumput, untuk melihat makhluk asing yang tadi di lemparnya ke sana.


Namun, ia terkejut saat melihat orang yang di carinya sudah tidak berada di sana.


Anna tiba-tiba muncul di hadapan patung dewa Eru dan memukul wajahnya.


Bannnggggg!!! Kraaakkkk...!


Pukulan yang Anna lontarkan, mendarat dengan sangat keras pada wajah patung, yang langsung membuatnya terpental sangat jauh, sampai melebihi lokasi di mana patung melemparkan tubuh Anna tadi.


Namun, tak berselang beberapa detik, patung itu telah kembali dan langsung membalas serangan Anna tadi dengan melayangkan tinjunya pada wajah gadis itu.


Wussshhhh...


Anna menghindari tinju dengan mudah dan mengembalikan serangan patung tepat di wajahnya lagi.


Bannnggg!!! Kraaakkkkk...!


Patung yang sebenarnya sudah berusaha untuk menghindari serangan, tetap saja wajahnya terserempet tinju Anna yang sangat cepat, bahkan melebihi batas pengelihatannya. Tinju itu akhirnya membuat sebagian wajah patung pecah dan ia kembali terpental sangat jauh.


Anna kemudian menoleh pada patung wanita, dan berbicara padanya, "Mau sampai kapan kau diam seperti ini?" tanya Anna.


Walaupun Anna tahu patung wanita, patung dewi Yolin, itu sedang mengawasinya juga sejak tadi, namun ia enggan untuk menyerangnya, karena Anna sama sekali tidak merasakan adanya aura permusuhan dari patung dewi Yolin, tidak seperti aura patung dewa Eru.


Baru selesai berbicara, Anna menoleh lagi ke tempat terpentalnya patung dewa Eru.


Dari arah tersebut, ia merasakan energi sihir yang sangat besar yang sedang datang padanya dengan kecepatan cahaya.


Tahu bahwa ia tidak akan sempat menghindari serangan, Anna memperkuat sihir pelindung untuk menyambut langsung serangan tersebut.

__ADS_1


Namun, saat serangan itu sudah berada dekat pada tubuhnya, tangan patung dewi Yolin tiba-tiba bergerak dan menangkap anak panah yang hampir saja mengenai Anna.


Tapppp...!


Melihat patung itu menangkap anak panah dengan sangat mudah, Anna benar-benar terkejut. Ia sendiri bahkan hanya bisa merasakan aura sihirnya, tanpa bisa melihat dengan jelas wujud anak panah hingga tidak yakin bahwa ia bisa menangkapnya dengan benar.


"Yolin, kenapa kau menahan serangan ku?!" Umpat sosok Elf pria berambut hitam yang memiliki wajah sangat tampan.


Elf pria itu baru saja datang mendekat dan kini sedang melayang-layang di hadapan Anna, dengan membidikkan anak panah di tangannya pada Anna.


Sementara itu, Anna mengalihkan pandangannya dari tangan patung dewi Yolin untuk menatap dewa Eru, yang sudah mengancamnya dengan panah di tangan.


Namun, begitu Anna melihat wajah lawannya, perhatiannya teralihkan oleh ketampanan berlebihan dari dewa Eru yang sudah menunjukkan wujud aslinya.


Anna menatapnya dengan sangat terkagum-kagum. Ketampanan dewa Elf itu bahkan membuat nya menyesal saat mengingat tadi telah memukul wajahnya.


Anna benar-benar terpesona, walaupun ia sedang berada di bawah ancaman bidikan panah dewa Eru.


°°°


Dewi Yolin, patung wanita, melemparkan kembali anak panah milik Eru, kembali padanya.


Dewi Yolin yang masih berwujud patung akhirnya menggerakkan tubuhnya untuk pertama kali, sejak saat patung itu berada di dunia Elf.


Dewi Yolin hanya menggerakkan lehernya untuk menoleh dan menatap Anna.


Ia menatap Anna tepat di mata gadis itu dalam waktu cukup lama, sebelum akhirnya berbalik menghadap dewa Eru, lalu berbicara padanya.


"Dia bukan lawan mu, Eru." ucap dewi Yolin pelan.


Mendengar dewi Yolin berbicara, Anna mengalihkan pandangannya kembali pada patung dewi Yolin dan menatapnya dengan tercengang. Bukan karena apa yang dikatakannya, namun karena suaranya.


Mendengar ucapan dewi Yolin, saudari nya, dewa Eru tertawa.


"Tentu saja. Bagaimana makhluk rendahan ini bisa mengalahkan dewa?"


"Tidak. Kau yang tidak bisa mengalahkan nya."


"A-apa? Kau bercanda?"


Dewi Yolin mengabaikan saudaranya dan kembali berbalik untuk menatap Anna.


"Kepala mu terasa pusing, kan?" tanya dewi Yolin pada Anna.


Anna terkejut, makhluk itu dapat mengetahuinya.


Sebelumnya, Anna tidak bisa menghindari serangan patung dewa Eru dan tidak bisa menangkal sihirnya karena ia telah memblokir energi Mana nya sendiri saat masih tertidur di tenda Sylph.


Anna memiliki penyakit aneh yang hanya akan di alaminya saat ia berada di planet lain, selain saat ia sedang berada di Bumi dan planet buatannya.


Saat ia berada di planet asing, yang tidak sedang terhubung ke gerbang Dungeon di Bumi, ia selalu mendapat serangan sakit kepala yang serasa *******-***** otaknya.


Namun, secara tidak sengaja, Anna menemukan cara untuk menghilangkan rasa sakitnya itu, setelah ia menghancurkan hutan milik Klan Api.


Saat Peral menemukan dan membawanya, Anna langsung mengunci energi Mana nya, khawatir apabila kesedihan datang kembali saat mengingat Ren, ia akan secara tidak sengaja menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.


Pada saat itulah, sakit di kepalanya tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


Karena itu, Anna akhirnya membiarkan energi Mana nya tetap terkunci. Hal itu juga yang membuatnya tidak terpengaruh dengan gelang pembelenggu sihir yang Peral dan Sylph pasang di semua pergelangan tangan dan kaki nya.


•••


Tidak mendapatkan jawaban dari Anna, dewi Yolin akhirnya berbicara kembali dan memberikan saran pada Anna, "Kau bisa mengunci kembali energi Mana mu jika kau tidak ingin tersiksa oleh rasa sakit di kepala mu itu."


Anna masih diam. Ia sebenarnya malu untuk berbicara, saat tahu suara nya tidak sebagus dan seindah suara patung itu.


Baru mendengar suaranya saja, Anna sudah berkecil hati. Belum lagi saat ia nanti melihat wujud asli dewi Yolin.


Namun, karena Anna juga memiliki rasa penasaran tinggi kenapa dewi Yolin bisa mengetahui rasa sakit yang ia alami, ia akhirnya berbicara walaupun dengan suara yang sangat pelan karena rasa tidak percaya diri.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Anna penasaran, dengan suara hampir berbisik


Walaupun dewi Yolin masih berwujud patung, namun wajah nya tetap terlihat sangat cantik saat ia tersenyum lembut pada Anna.


'Astaga! Dia benar-benar seorang dewi!'


Patung dewi Yolin menoleh kembali pada dewa Eru. "Eru, apa kau tidak mengenalnya? Bagaimana bisa kau berani menyerang nya?"


Eru mengerutkan keningnya dan menatap Anna lekat-lekat.


"Wajahnya memang mirip dengan seseorang, tapi..."


"Kau tidak mengenal Ann? Keterlaluan sekali," ucap Yolin, mencibir saudaranya.


"Apa?!"


Walaupun Anna juga terkejut saat dewi Yolin tahu siapa dirinya, tepatnya tubuh yang dia gunakan, namun Anna hanya membelalakan mata tanpa bersuara.


Bukan Anna, melainkan dewa Eru yang langsung tersentak saat ia mendengar nama yang sangat terkenal di dunia para dewa itu di sebutkan oleh adiknya.


Dewa Eru menatap Anna lekat-lekat dan akhirnya menyadari, walaupun warna rambut dan manik mata nya berbeda, namun wajah nya sama persis seperti wajah Ann Arnix, dewa terkuat di antara para dewa.


Sontak saja, dewa Eru langsung gemetar dan menurunkan busurnya, mengingat bagaimana ia telah berani mengancam bahkan tadi telah menyerang Anna terlebih dulu.


"Tapi...," dewa Eru menatap Anna lekat-lekat.


Ia tahu, jika yang menyerangnya benar-benar dewi Ann, dia pasti sudah mati. Karena ia merasa, Anna tadi memberikan pukulan padanya dengan kekuatan sihir. Jika yang menyerangnya benar-benar dewi Ann, kepalanya pasti sudah pecah.


"Tapi kenapa kau tidak langsung mati saat dia memukul wajah mu?" dewi Yolin menyambung kalimat dewa Eru, yang memang ingin menanyakan hal itu.


Dewa Eru mengangguk.


"T-tunggu... K-kau..., mengenal Ann Arnix?" tanya Anna, akhirnya, dengan suara pelan, hampir terdengar seperti suara orang yang sedang berbisik.


Anna sebenarnya merasa terharu, setelah rasa terkejutnya mulai surut, saat akhirnya bertemu seseorang yang mungkin tahu kenapa dia mendapatkan kekuatannya saat ini, yang sepertinya ia dapatkan untuk berurusan dengan iblis yang telah membuat kekacauan di Bumi.


Patung dewi Yolin tersenyum. Namun, senyuman itu hanya terlihat sesaat.


"Aku akan menjawab mu, jika kau memberi tahu, kenapa kau bisa berada di dalam tubuh Ann." sahut dewi Yolin.


Senyum dan tatapan lembutnya tiba-tiba menghilang, di gantikan dengan tatapan tajam.


Tatapan tajam yang membuat Anna merinding dan merasa takut ketika tatapan mereka bertemu.


Aura lembut yang sejak awal ia rasakan dari patung dewi Yolin tiba-tiba menghilang, di gantikan aura membunuh yang sangat mengancam.

__ADS_1


Sejak Anna berhadapan dengan makhluk-makhluk kuat di berbagai Dungeon dan planet asing, baru kali ini dia merasa benar-benar takut. Ia baru tahu, ada makhluk yang sangat kuat, bahkan jauh lebih kuat dari nya.


•••


__ADS_2