
Karena Ren tidak membalas sapaannya, Gordon akhirnya duduk di salah satu kursi di situ.
“Kau sedang sibuk, kawan? Kenapa kau tidak menyahuti ku?” ucap Gordon sambil menyeringai, melihat Ren menyantap makanannya dengan lahap.
"Apa makanan di rumahnya tidak layak?" pikir Gordon sambil menatap Ren dengan tatapan meremehkan.
Bersama Gordon, ada siswa lain yang berwajah angkuh. Dia siswa terkenal yang selama ini diperbincangkan oleh semua siswa baru, selain siswi dengan rekor terbaik itu.
Ren tidak tahu apakah dia memang terlahir dengan wajah seperti itu, atau karena bawaan status keluarga.
Ren hanya meliriknya sebentar sebelum menatap Gordon, mengangguk sekali, lalu kembali menatap makanan di hadapannya.
“Luke, duduklah sebentar," pinta Gordon pada teman barunya itu dengan sopan. Dia kemudian melirik pada Ren, "Perkenalkan, dia kenalan ku. Dia berasal dari daerah pinggiran kota. Hebat, kan? Dia bisa masuk Akademi walaupun berasal dari sana.”
Gordon kemudian menatap Ren dengan tatapan seakan sedang menilai tanggapan apa yang akan Ren berikan dari ucapannya.
Namun, Ren hanya mengangkat kepalanya sebentar, itu pun dilakukannya untuk menatap Luke. Setelah mengangguk sekali, dia kembali fokus pada makan siangnya sambil akhirnya sesekali melirik pada Gordon yang dia rasa sedang menatapnya dengan tajam.
Melihat Ren sepertinya tidak terganggu dan juga tidak peduli walaupun telah disindir, Gordon mendengus seraya tersenyum tipis.
Ren melihat senyuman itu dan dapat mengerti apa arti dari senyumannya. Namun, dia tidak memerdulikannya.
‘Apakah mengejek orang lain adalah hobinya?'
“Aku Luke, senang bertemu dengan mu.” Ucap Luke memperkenalkan diri.
Ren menoleh pada Luke, “Ren. Senang juga bertemu dengan mu.” Sahut Ren pelan.
Karena orang itu akhirnya memperkenalkan diri terlebih dahulu, Ren mau tak mau harus menanggapinya.
"Kau dari keluarga mana?" Tanya Luke sambil mengernyitkan alis.
Gordon tertawa.
"Nama nya hanya Ren. Satu kata. Unik kan?" ucap Gordon yang kemudian tertawa kembali.
"Aku bukan pendatang. Orang asli sini, kadang memang tidak memiliki nama keluarga di belakang nama mereka." Ucap Ren, memotong tawa Gordon yang dia tahu sedang mengejeknya.
Gordon memajukan tubuhnya dan menopangnya dengan kedua tangannya yang bersandar di meja. Dia kemudian berbicara lagi pada Ren, “Luke adalah putra dari ketua Asosiasi. Kau sebaiknya bersikap baik padanya. Bukannya kau bercita-cita untuk menjadi Hunter Asosiasi?”
__ADS_1
Ren hanya diam. Dia memang sangat mengimpikan untuk menjadi Hunter Asosiasi dan bekerja di sana setidaknya sebagai tim penambang. Namun demikian, dia tidak ingin melakukannya karena bantuan koneksi.
“Apa maksud mu?” Luke menatap Gordon dengan tatapan tidak senang, “Ayah ku tidak akan menerima anggota hanya karena koneksi. Seseorang harus benar-benar memiliki kemampuan untuk bergabung dengan Asosiasi.”
Luke mengatakannya sambil menatap Ren secara langsung dengan tatapan angkuh. Itu adalah tatapan penolakan yang ditunjukkannya secara langsung.
‘Apa sih yang mereka bicarakan? Apa ini pembicaraan yang direncanakan? Mereka seperti sengaja menyindir ku.’
Ren mendesah pelan sambil memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. Dia kemudian menyeruput kuah sup herbal dari mangkuknya dengan suara nyaring, yang memang disengajanya, tanpa memerdulikan dua orang di depannya.
Melihat tindakan Ren, Gordon menebak bahwa sindirannya telah berhasil.
“Oh maaf... Aku lupa kau harus makan untuk mengisi energi supaya tidak keteteran di pelajaran kedua nanti.” Ucap Gordon seraya menatap Ren dengan wajah khawatir, yang Ren tahu sengaja di buat-buatnya.
Pada saat itu, seorang gadis manis menghampiri mereka.
“Gordon, kau meninggalkan ku!” Umpat siswi yang baru datang itu sambil memasang wajah manjanya.
Namun saat dia melihat siapa pria yang duduk di sebelah Gordon, dia langsung merubah sikapnya dan menyapa pria itu. “Oh… hallo Luke. Kau di sini juga rupanya?”
Luke menatap siswi itu agak lama sambil tersenyum lebar. Ia kemudian menoleh pada Gordon.
Gordon seakan mengerti maksud tatapan Luke, dia kemudian memperkenalkan siswi itu pada Luke. “Oh, perkenalkan, dia Belinda dari keluarga Claes. Dia pacar ku.”
“Aw…!”
Belinda memukul lengan Gordon dengan tinjunya. Namun, dia tampak tersenyum sumringah.
“Apa-apan?” protes Gordon.
“Boleh ikut bergabung?” tanya Belinda, tanpa memerdulikan protes yang Gordon lakukan atas pukulannya.
Belinda langsung duduk walaupun mereka belum menanggapinya.
“Senang bertemu dengan mu. Aku Luke, dari keluarga Stewart.”
“Stewart? Ketua Asosiasi?” Belinda langsung menanggapi dengan tatapannya yang berseri.
Luke mengangguk seraya tersenyum. Senyuman bangga yang membuat Ren agak jijik saat melihatnya.
__ADS_1
Berada di antara 3 anak orang kelas atas membuat Ren merasa sedikit tidak nyaman. Tapi bukanlah hal yang sopan jika dia tiba-tiba pergi meninggalkan mereka. Jadi dia tetap duduk di situ dengan tenang sambil terus menyantap makan siangnya.
Ren juga menyadari tatapan siswa-siswi yang kebetulan juga sedang berada di taman. Ren tahu, tatapan mereka tertuju pada Luke.
Ren sebenarnya tahu siapa Luke. Siswa tahun pertama dengan peringkat C, peringkat tertinggi di antara semua siswa tahun pertama yang rata-rata hanya berperingkat F dan E.
Bahkan, peringkat yang Luke miliki sudah berada pada tingkatan yang sama dengan para instruktur.
Selain karena dia adalah putra dari ketua Asosiasi, Luke juga terkenal karena dia mengikuti pelatihan khusus di Amerika.
Orang-orang yakin, dia mengikuti pembelajaran di Akademi hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan lisensi.
“Senang berkenalan dengan mu Luke. Tidak menyangka bisa bertemu anggota keluarga Stewart disini.” Ucap Belinda dengan wajahnya yang ceria.
Tentu saja, bisa menjadi kenalan keluarga seorang pimpinan Asosiasi adalah hal yang sangat menguntungkan.
Orang-orang menganggap, jika mereka berada di lingkaran orang-orang terpandang dan berkuasa, tentu derajat pergaulan mereka lambat laun juga akan meningkat dan karir mereka akan mengikuti dengan sendirinya.
Belinda yang juga berasal dari keluarga Hunter yang karirnya baru saja naik, sama seperti keluarganya Gordon, tentu sangat mencari lingkaran pertemanan dari kalangan atas.
Sama seperti sebelumnya, Luke hanya menjawabnya dengan anggukkan dan senyuman. Namun, raut wajahnya tampak semakin angkuh atas rasa hormat yang di dapatnya, terutama dari seorang gadis manis.
Belinda kemudian beralih pada Ren yang tampak tidak memerdulikan mereka dan terus menyantap makanannya.
“Dia kenalan lama ku,” ucap Gordon saat dia melihat Belinda menatap Ren. Dia tahu Ren tidak akan mau ikut bergabung dalam obrolan karena asal usulnya yang berasal dari kalangan bawah.
“Oh… siapa nama mu?” tanya Belinda. Tatapan mata, raut wajah dan senyum Belinda langsung berubah saat Gordon mengatakan bahwa pria itu adalah kenalan lamanya.
Belinda langsung mengerti arti dari kata ‘kenalan lama’ yang Gordon ucapkan. Kenalan lama Gordon berarti Hunter-hunter pemula dari kalangan bawah.
‘Apa sebaiknya aku pindah saja?’
Kali ini Ren benar-benar merasa tidak nyaman. Walaupun ketiga siswa itu tidak menghinanya secara langsung, namun dari gerak tubuh, tatapan dan raut wajah mereka, tampak jelas ketiganya sedang meremehkannya.
Bagaimana pun, dia masih seorang remaja yang biasanya memiliki harga diri tinggi, yang tidak ingin di pandang sebelah mata oleh remaja lainnya seperti yang sedang ia alami saat ini.
Namun, dia tidak nyaman jika harus membuat kesan tidak baik pada seorang anak ketua Asosiasi.
Seperti yang Luke katakan, dia mungkin tidak akan pernah membantunya melalui koneksi. Tapi bukan tidak mungkin, kekuatan koneksinya akan mempersulit Ren saat nantinya melamar bekerja di Asosiasi Hunter.
__ADS_1
Pada saat Ren sedang dalam situasi yang membuatnya serba salah, seseorang memanggil namanya dengan suara ceria.
•••