Goddess Of War

Goddess Of War
Bab 181 - Perasaan Kehilangan


__ADS_3

Yang paling terkejut ketika Anna tiba-tiba muncul di tempat itu tentu saja Albert Brosman.


Sebagai iblis yang selama ini tahu kekuatan Ann Arnix, ia tentu tahu seberapa berbahayanya berhadapan dengan manusia yang mewarisi kekuatan Ann Arnix ini.


Untuk itulah, Albert Brosman langsung menghancurkan tembok di belakang tempatnya berdiri, lalu segera melarikan diri meninggalkan tempat yang kini menjadi sangat berbahaya baginya.


Melihat tuan mereka kabur begitu saja, Fred dan Jordan langsung pergi mengikutinya. Walaupun mereka tidak tahu sekuat apa gadis remaja yang baru saja muncul di hadapan mereka ini, namun saat melihat wajah pucat pasi tuannya tadi, mereka bisa menebak bahwa gadis itu tentu sangat berbahaya.


Anna tadinya hendak langsung mengejar ketiga Hunter itu. Namun ia mengurungkannya, karena hal itu bukan menjadi tujuannya datang kembali ke Kepulauan Fiji.


Setelah ketiga Hunter tadi keluar dari ruangan itu, Anna berbalik pada Rodman.


"Tuan Kilirayna, di mana Ren?"


Mendengar pertanyaan itu, tentu saja membuat Rodman tersentak dan kembali tersadar setelah terkejut melihat kedatangan Anna yang tiba-tiba.


Rodman terdiam beberapa saat, seakan pertanyaan yang baru saja Anna lontarkan benar-benar seperti sebuah pertanyaan yang sangat sukar untuk di jawab.


Ia tahu, Ren sudah tewas. Ia juga tahu bahwa penyebab utama tewasnya Hunter muda itu adalah karena dirinya, bukan karena Fred dan Jordan.


Seandainya dia tidak ketakutan di bawah ancaman Asosiasi Amerika, seandainya dia bisa menghubungi Ren agar pria itu tadi pagi tidak datang untuk menemuinya, seandainya dia tidak mengatakan lokasi keberadaan Ren, seandainya dia memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu Ren menghadapi dua agen rahasia itu.


Seandainya dia berani.


Dengan rasa bersalah di wajahnya, Rodman terus memikirkan betapa pengecutnya dia.


"Tuan Kilirayna!" Anna memanggil nama Rodman dengan suara lebih nyaring saat ia melihat pria paruh baya itu gemetar dengan matanya yang terlihat tidak fokus saat sedang bertatapan dengannya.


Di panggil dengan suara nyaring seperti itu, membuat Rodman kembali tersadar dan ia akhirnya bisa fokus menatap mata Anna. "T-tuan Ren..."


"Di mana dia? Apa dia sudah kembali ke Asia Tenggara? Aku tidak bisa merasakannya berada di negara ini."


Anna mengira Rodman hendak masuk dalam pengaruh hipnotis yang iblis lakukan. Ia mengira hal itu akan terjadi saat Rodman tadi menatapnya, namun sepertinya pikirannya terfokus ke tempat lain.


Padahal, Rodman sedang mengingat betapa pengecutnya dia dan menyesal atas tindakan tidak terpujinya itu.


"M-mereka... membunuhnya...," ucap Rodman dengan suara pelan dan terbata-bata.


"A-apa?"


Rodman menundukkan kepalanya.


Ia kemudian berdehem sekali, untuk menyingkirkan sesuatu di tenggorokkannya, yang ia rasa menghambat suaranya untuk keluar dengan normal.


"Tuan Ren sudah meninggal," ulang Rodman, dengan suara pelan.

__ADS_1


Anna terdiam beberapa saat.


Tatapannya masih terpaku pada Rodman, yang berangsur-angsur menyusut lalu jatuh terduduk.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Anna merasakan sesak yang sangat menekan dadanya.


Saat ia masih kecil, Anna pernah merasakan hal seperti yang dirasakannya saat ini, ketika ia kehilangan kakek, nenek dan ibunya. Ia pernah merasakan perasaan aneh seperti ini juga.


Namun, perasaan menyakitkan yang ia rasakan kali ini sangat jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Rasa sesak yang ia rasa, bahkan melebihi tiga momen sebelumnya.


Seluruh tubuhnya gemetar dan lemas. Nafas nya naik turun saling memburu cepat, hingga membuatnya susah untuk mengendalikan diri dan merasa sesak nafas. Anna bahkan merasa hendak menangis, namun ia berusaha keras untuk menahannya.


"Sialan...," gumam Anna tiba-tiba.


Gadis itu akhirnya menatap lubang di dinding, tempat dimana dua manusia dan satu iblis tadi melarikan diri.


Dengan berusaha keras untuk menekan perasaannya sendiri, Anna akhirnya pergi menyusul ketiga Hunter yang ia yakini adalah makhluk yang bertanggung jawab atas kematian Ren.


Anna berlari secepat mungkin keluar bangunan.


Walaupun ia tidak dapat melihat mereka lagi, namun Anna bisa merasakan keberadaan energi Mana mereka saat ia memfokuskan indra perasanya pada energi Mana. Ia terus berlari dengan sangat cepat menuju arah energi Mana tersebut.


Anna terus berlari mengikuti jejak energi Mana tersebut sampai akhirnya ia pun tiba di dalam hutan yang berada di dekat pantai.


Anna mencari-cari ketiga makhluk tersebut di sekitar hutan, di lokasi terakhir dimana ia dapat merasakan aliran energi Mana ketiganya, sampai akhirnya ia melihat sebuah gerbang hitam yang ukurannya sedang berangsur-angsur menyusut, menyempit.


Bisa menebak bahwa makhluk yang dikejarnya pasti melarikan diri ke dalam gerbang itu, tanpa berpikir panjang, Anna langsung melompat masuk kedalamnya.


•••


Anna tiba di dalam goa yang sangat gelap dan lembab. Walaupun tidak ada penerangan apa pun di tempat itu, Anna sama sekali tidak terganggu karena nya.


Ia bisa melihat dengan baik dalam keadaan segelap apa pun.


Di sana, Anna melihat ada 6 terowongan yang terdapat pada dinding goa.


Sayangnya, Anna kehilangan jejak energi Mana ketiga Hunter yang sedang dalam pengejarannya itu dan ia tidak tahu lorong mana yang mereka masuki untuk melarikan diri darinya.


Tidak ada pilihan lain, Anna akhirnya memasuki keenam lorong goa satu per satu.


Setelah 3 lorong di masukinya, ia tidak menemukan Hunter-hunter yang sedang dikejarnya disana. Ketiga lorong tersebut masing-masing memiliki ujung yang buntu, hingga ia akhirnya berbalik kembali ke tempat semula, sebelum masuk lagi ke terowongan lain untuk terus mencari kemana ketiga makhluk itu pergi.


Saat Anna masuk ke lorong ke empat, ujung lorong itu tampak berbeda dari yang sebelumnya. Ujung lorong tidak buntu.


Ujung lorong itu menghubungkan goa dengan sebuah lokasi hutan belantara yang memiliki pohon-pohon besar dan tinggi.

__ADS_1


Anna akhirnya memutuskan kembali lagi, untuk memeriksa 2 lorong lain.


Setelah ia memastikan kedua lorong tersebut juga buntu seperti 5 lorong lain, barulah ia kembali ke lorong keempat tadi dan pergi masuk ke dalam hutan belantara di sana.


•••


Anna diam lama di dalam hutan tersebut, berusaha untuk merasakan energi Mana musuh yang dikejarnya. Namun, setelah ia berkonsentrasi selama puluhan menit lamanya, ia tetap tidak bisa merasakan keberadaan mereka.


Anna telah kehilangan jejak.


Merasa lelah, Anna akhirnya pergi menghampiri salah satu pohon yang berada di situ dan menyandarkan punggung tubuhnya pada batangnya yang sangat lebar.


Sebenarnya, Anna hanya mengerahkan sekitar 10% dari energi Mana nya saja untuk menggunakan sihir pendeteksinya secara maksimal, hingga ia bisa menjangkau dan merasakan energi Mana di seluruh planet tersebut.


Namun, anehnya, Anna kini benar-benar merasa lelah dan kehilangan semangat untuk melanjutkan pencariannya.


Tubuh rampingnya kemudian merosot secara kasar, bergesekan dengan pohon yang menjadi sandarannya.


Anna terduduk disana cukup lama dengan tidak memiliki gairah dan semangat lagi untuk mengejar musuh yang telah menewaskan, Ren.


Saat itu, untuk pertama kalinya, Anna benar-benar kehilangan semangat dalam hidupnya. Bahkan, saat ibunya meninggal dulu, kesedihan yang dirasakannya tidak dapat menyamai kesedihan yang dirasakannya saat ini.


Tanpa ia sadari, air mata mulai membasahi kedua pipinya dan ia pun mulai menangis sesenggukan di bawah pohon tersebut.


Tadinya, Anna sebenarnya hanya ingin istirahat sebentar untuk menenangkan pikirannya kembali agar ia memiliki tenaga dan semangatnya lagi. Namun, semakin lama berada di sana, Anna pada akhirnya semakin larut dalam kesedihan.


Suara tangisnya juga terdengar semakin nyaring, di antara suara serangga dan binatang hutan yang berada di sekitarnya.


Anna bahkan tidak dapat mengontrol energi Mana nya lagi. Hingga membuat hutan belantara yang sebelumnya tenang, tiba-tiba mulai bergetar.


Getaran yang terjadi akibat energi Mana yang meluap-luap dari tubuh Anna itu, semakin lama semakin menguat hingga membuat hutan tersebut bergetar semakin hebat.


Pohon-pohon besar di hutan secara perlahan mulai bergoyang, daun-daun yang sebelumnya menghiasi tiap dahan dan ranting, mulai berguguran.


Semakin lama, getaran yang terjadi di sana semakin kuat, hingga tak lama kemudian pohon-pohon itu mulai tumbang, saat gempa besar mendadak terjadi dan melesakkan hampir semua pohon ke dalam tanah yang amblas dan retak di seluruh area hutan tersebut.


Gempa itu semakin lama semakin membesar.


Makhluk-makhluk penghuni hutan yang masih bisa selamat dari gempa besar itu lari ketakutan, berusaha menjauhi titik pusat gempa.


Gempa mengerikan itu terjadi selama beberapa hari lamanya, hingga pada akhirnya meratakan seluruh hutan dengan tanah.


Gempa mengerikan yang disertai suara tangis pilu seorang wanita, membuat seluruh makhluk hidup penghuni planet itu, tidak akan pernah melupakan kejadian yang terjadi di tempat mereka tersebut.


•••••••

__ADS_1


__ADS_2