
Hembusan angin yang sangat kencang dan mengandung energi sihir mengerikan itu menghempas dengan sangat keras hingga membuat tubuh ketiga malaikat tersesat itu terpental.
Ketiga malaikat tersesat yang awalnya mengira akan langsung menghabisi semua manusia itu, tiba-tiba terhempas oleh energi sihir mereka sendiri setelah serangan mereka berbalik arah saat beradu sihir melawan tembok biru pelindung yang tiba-tiba saja muncul di hadapan para manusia itu.
Tahu siapa yang membuat tembok pelindung itu, ketiga malaikat tersesat menoleh ke arah Miyuki dan menatapnya dengan tatapan putus asa.
Miyuki menelengkan kepalanya sembari memicingkan kedua matanya.
"Tsk... Apa kalian sebenarnya memang selemah ini?" ucap Miyuki dengan nada kecewa saat ia mengukur energi sihir dari ketiga makhluk itu.
Ia akhirnya ingat bagaimana Anna dulu kerepotan saat bertarung melawan Damballa namun bisa menghajar Astareth dengan mudah.
"Jadi Anna dulu tidak mengada-ada. Saat melawan Damballa dulu dia ternyata benar-benar baru pertama kali bertarung dengan makhluk kuat."
•••
Sementara Miyuki tampak sedang larut dalam pikirannya sendiri dan tidak memerdulikan mereka, Astaroth berbicara dengan pelan pada Astareth.
"Kita masih tidak bisa menang jika tetap berada dalam wujud ini. Dia memiliki kekuatan inti sihir Lorelei."
"Kau ingin menunjukkan wujud terakhir kita di hadapan para manusia?"
"Kau ingin mati? Kita bisa menjajah mereka nanti setelah kita membunuhnya." Ucap Astaroth dengan tegas.
"Tunggu dulu, aku masih memiliki kesepakatan dengan Asmodeus. Aku akan memanggilnya," ucap Astareth cepat, sebelum Astaroth mengubah wujudnya.
"Ku pikir dia tidak akan mau ikut campur jika tahu kita sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki kekuatan Lorelei. Dia ini berbeda dengan manusia yang memiliki kekuatan Ann Arnix. Dia sepertinya sudah biasa bertarung." Mammon memberikan pendapatnya.
"Aku akan mencob... Ahhh...!"
Belum selesai Astareth berbicara, tubuhnya tiba-tiba terbang terhisap kekuatan telekinesis.
Tap...
Miyuki menangkap leher Astareth, lalu membanting tubuh wanita itu dengan sangat keras.
Bannnnngggg!!!
Lantai aspal di halaman gedung Asosiasi remuk membentuk sebuah kawah saat dihantam tubuh Astareth.
Tidak sampai di situ, Miyuki langsung menancapkan tanto pada tubuh Astareth, hingga wanita itu terpaku di dalam kawah.
Stabbb!!!
__ADS_1
"Aaaaaakhhh...!"
"Kau adalah penjahat nomor satu. Tunggu di sini sampai aku membunuh dua kawan mu." Ucap Miyuki.
Setelah itu, Miyuki kembali menatap ke atas, dimana Astaroth dan Mammon sedang terbang dengan kedua sayapnya.
Miyuki mengarahkan telapak tangannya ke arah salah satu dari mereka dan menarik Astaroth untuk datang padanya.
Namun, dalam perjalanannya, daya sihir penarik Miyuki tiba-tiba lenyap saat Astaroth menggunakan kekuatan sihir untuk merubah wujudnya lagi.
°°°
Bulu-bulu halus berwarna merah mencuat dari seluruh tubuh Astaroth. Tanduk panjang keluar dari dahinya. Tanduk itu terus tumbuh memanjang sebelum akhirnya melengkung ke arah luar kiri dan kanannya.
Kedua sayap putihnya juga ikut berubah. Warna cerah pada sayapnya berangsung-angsur menggelap sampai akhirnya berubah warna menjadi hitam mengkilap.
Tidak hanya itu.
Saat tubuh Astaroth sudah berubah sepenuhnya menjadi perwujudan pengabdiannya pada iblis, sebuah lubang hitam muncul dari tanah.
Dari lubang itu, seekor serigala hitam berkepala dua dengan tubuhnya yang besar keluar dari sana.
•••
Daratan bergetar. Gedung-gedung mulai bergoyang seakan ada gempa Bumi besar di sana.
Perubahan wujud itu tidak hanya dilakukan oleh Astaroth. Mammon juga mulai merubah wujudnya ke wujud terakhir yang ia dapatkan setelah mengabdi pada iblis yang berasal dari dimensi lain.
Seluruh kulit malaikat yang awalnya cerah tiba-tiba mengelupas dan terbakar. Seluruh tubuh Mammon kini berwarna merah darah. Tubuhnya juga mengembang dan membesar dua kali lipat dari wujud sebelumnya.
Sama seperti Astaroth, sepasang tanduk panjang juga mencuat dari dahinya. Sayap-sayapnya mulai rontok hingga hilang seluruhnya.
•••
Muyuki menatap kedua makhluk berwajah serigala dan berwajah merah darah itu dengan mengerutkan kedua alisnya.
Kedua makhluk yang kini berdiri di hadapannya itu sangatlah berbeda dari yang sebelumnya ia lawan. Kekuatan mereka meningkat puluhan kali lipat.
Miyuki juga melihat tembok sihir pelindung yang ia buat untuk melindungi Rin dan ratusan manusia lain yang berada di sekitar situ mulai bergetar saat beradu kekuatan sihir dengan aura yang kedua makhluk itu pancarkan.
"Apa ini wujud terakhir kalian? Apa kalian masih memiliki wujud terkuat lainnya?" tanya Miyuki. Suaranya masih setenang dan sedingin sebelumnya seolah-olah sihir mengerikan yang terpancar dari tubuh kedua makhluk itu sama sekali tidak mengganggunya.
"Kau terlalu sombong! Kau pikir masih memiliki peluang untuk menang jika kami sudah berada dalam wujud ini?!" ucap Mammon dengan suara marahnya yang menggelegar.
__ADS_1
"Tidak," sahut Miyuki cepat.
Miyuki kemudian mengarahkan tangannya ke belakang, pada tubuh Astareth yang tak berdaya terpaku oleh sebilah tanto di dalam kawah besar.
Saat Miyuki mengangkat tangannya, tanto di tubuh Astareth tercabut.
Miyuki kemudian menarik tubuh Astareth dan melemparkannya pada Astaroth dan Mammon.
"Kalian masih belum bisa menang." Ucap Miyuki, menyambung ucapannya tadi. Ia kemudian menunjuk Astareth dan kembali berbicara, "Kalau kau berubah juga ke wujud terakhirmu sama seperti mereka, kalian mungkin akan memiliki peluang."
"Kau hanya seorang manusia dan kau berani berkata sombong di hadapan kami?!" Astareth mengumpat. Sepanjang hidupnya yang sudah miliaran tahun, belum ada yang berani berkata sombong seperti itu di hadapannya, termasuk para dewa. "Aku akan mengabulkan keinginan mu dan akan memakanmu nanti!"
Setelah Astareth mengakhiri kalimatnya, bulu-bulu halus berwarna merah mencuat dari seluruh tubuhnya. Sama seperti Astaroth, kedua sayapnya berubah warna menjadi hitam mengkilap.
Setelah Astareth berubah ke wujud aslinya, sebuah lubang hitam besar muncul di langit. Dari dalam lubang itu, keluarlah seekor Ular Naga raksasa bersisik merah, yang memiliki tubuh hampir sama besar dan panjangnya dengan sebuah kereta api.
Ular Naga itu langsung terbang dengan cepat menuju Miyuki, lalu menyemburkan nafas api yang menyala-nyala pada gadis itu.
Wooooosssshhhhh...
Api yang menyala-nyala itu menyambar-nyambar sampai beberapa menit lamanya.
Setelah merasa cukup, Astareth meminta binatang peliharaannya itu untuk menghentikan serangan.
Bekas tiupan nafas dari Ular Naga terlihat sangat jelas.
Aspal yang sebelumnya berada di sana meleleh dan meninggalkan lubang yang sangat dalam dengan diameter yang cukup untuk menelan puluhan mobil sekaligus.
Astareth tertawa terbahak-bahak. Terutama saat ia tidak merasakan lagi energi sihir samar dari Miyuki, yang selalu menekan energi Mana nya agar tidak terpancar keluar dari dalam tubuhnya.
"Sialan. Dia benar-benar hanya bermulut besar. Dia bahkan langsung menguap hanya dengan serangan naga ku?" ucap Astareth dengan nada angkuh.
"Diam!" bentak Astaroth.
"Kenapa kau membentak ku?!"
"Lihat. Kalau dia sudah mati, sihir pelindung itu juga pasti akan lenyap." sahut Astaroth sembari menatap ke arah gazebo dimana Rin berada.
"H-hei... Dimana serigala mu?!" ucap Mammon yang justru menyadari terlebih dahulu hilangnya serigala Astaroth dari sekitar mereka.
Saat mereka masih kebingungan mencari kemana perginya serigala itu, sebuah suara terdengar dari langit, dari arah kepala Ular Naga merah.
"Sword Of Death part 2..., Life Destroying Blade!"
__ADS_1