
"Kenapa kau takut melihat ku?" tanya Anna yang kemudian tersenyum pada Ren saat dia sudah berada di depan pria itu.
"Bukan seperti itu," sahut Ren pelan sambil melirik teman-teman sekelasnya yang sedang memerhatikan mereka berdua.
Anna berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke telinga Ren. "Aku mencari mu untuk melihat kelas ku berada. Kalau kau seperti ini, orang-orang akan mencurigai adanya sesuatu di antara kita." Bisik Anna di dekat telinga Ren.
Anna kemudian menatap wajah Ren lalu mengedipkan sebelah matanya saat Ren melirik untuk menatapnya.
Ren menatap Anna dengan wajah yang memerah.
'Dia benar-benar suka mempermainkan orang!'
"Anna, kenapa kau ada di barisan kelas B? Kelas mu ada di sana." Ucap Lucy seraya meununjuk barisan yang agak jauh.
Saat Lucy menyebut nama gadis itu barusan, semua siswa yang berada di tengah arena akhirnya tahu siapa siswi cantik itu.
Mereka akhirnya berbisik-bisik antara satu dan lainnya, tak menyangka siswi terbaik dalam ujian penerimaan selain memiliki bakat yang hebat juga memiliki wajah secantik itu.
"Kau bilang ingin sekelas dengan ku? Nah, disinilah aku sekarang." Ucap Anna yang kemudian tersenyum pada Lucy.
Senyumannya itu membuat semua mata yang menatap wajahnya seakan mengalami pencerahan. Senyuman yang mendamaikan hati itu bahkan membuat Riko yang awalnya menerima perpindahan wali kelas dengan senang hati, kini meragukan bahkan menyesali keputusannya.
Riko menoleh pada Liu Gong yang tersenyum-senyum sendiri sambil menatap Anna.
'Bajingan licik! Pantas saja dia meminta pertukaran.'
°°°
"Kau..., apakah kau pindah ke kelas B?!" tanya Lucy dengan matanya yang melebar.
"Ya. Aku akan berada di kelas mu mulai sekarang." sahut Anna yang kemudian melirik pada Ren.
Lucy melihat lirikan itu.
"Kau pindah untuk sekelas dengan ku, atau dengan dia?" tanya Lucy seraya tersenyum nakal.
"Ketua kelas, mereka bisa mendengar mu." Tegur Ren dengan suara setengah berbisik.
Lucy menepuk pundak Ren. "Bro, aku tahu kau sama bahagianya dengan ku. Ayo kita kalahkan kelas A hari ini." Ucap Lucy dengan matanya yang berapi-api.
Ren : "..."
"Jadi, apa peraturannya?" tanya Anna.
Lucy mendengus dan menatap Anna dengan kesal.
"Kau memang tidak pernah tahu peraturan, kan?"
"Oh, aku baru saja datang dan baru saja kembali dari cuti."
Lucy menatap Anna sebentar lagi. Walaupun dia terlihat sedikit kesal, namun aura pesimis yang sebelumnya sedikit tampak padanya, kini sirna.
Semua anggota tim dari kelas B dapat melihat kilatan cahaya penuh semangat dari mata Lucy.
Lucy kemudian menunjuk pada dua menara kecil yang berada di kejauhan.
"Kita harus mengambil masing-masing bendera dari satu menara dan kita harus menjaga jangan sampai tiga bendera yang ada di menara kita di rebut,"
"Masing-masing tim akan berusaha mengambil satu bendera untuk dibawa pulang ke benteng mereka. Kemudian mereka akan mengambil satu bendera lagi setelahnya."
"Usahakan bendera kita setidaknya ada tersisa satu. Jika tidak, kita akan didiskualifikasi. Kau mengerti?"
Anna mengangguk. Dia kemudian melihat lingkaran besar yang mengelilingi menara kecil di belakangnya.
'Jadi lingkaran ini bentengnya.'
Lucy masih menatap Anna agak lama dan Anna menyadari itu.
"Ada apa?" Tanya Anna. Dia merasa tatapan seperti itu tidak asing baginya.
'Dia meragukan ku, kan?'
Lucy tidak menjawabnya, dia malah menoleh ke sekelilingnya lalu meminta semua anggota tim untuk merapat pada mereka.
Anggota tim yang agak ragu, langsung merapat ketika Liu Gong juga meminta mereka untuk melakukan apa yang kapten tim minta.
Anggota tim sebenarnya bukan ragu untuk menuruti perintah Lucy. Mereka hanya ragu untuk berada lebih dekat dengan Anna.
__ADS_1
Kecantikan dan keanggunannya, membuat siswa-siswi itu takut mendekatinya seakan mereka akan merusak pemandangan indah yang berada disana.
"Tuan Wang, bolehkah saya mengatur strategi untuk tim kita?" Tanya Lucy pada Wang Liu Gong.
Liu Gong menyipitkan matanya menatap Lucy. Namun dia akhirnya mengangguk.
"Baiklah, coba aku dengar dulu rencana mu."
Lucy mengangguk kemudian menatap pada Anna.
"Kau, jaga benteng kita. Kami akan merebut benderanya." ucap Lucy yang kemudian menyeringai lebar.
Tuk...
Liu Gong menepuk pelan belakang kepala Lucy dengan pedang kayu di tangannya. "Strategi konyol macam apa itu?"
"Tuan Wang, pertandingan tidak akan seru jika dia ikut menyerang." Sahut Lucy membela diri.
"Pertandingan ini bukan sekedar untuk mendapatkan kemenangan. Pertandingan ini untuk melihat bagaimana perkembangan kalian semua dalam seminggu belakangan." Liu Gong menjelaskan arti pertandingan itu.
"Tapi..."
"Sudahlah, percaya saja pada instruktur mu."
Mendapat teguran seperti itu, Lucy akhirnya diam.
Liu Gong kemudian menatap pada Anna, "Ngomong-ngomong, mana senjata mu?"
"Itu...," Anna kemudian mendesah pelan. Dia tidak memerlukannya, namun bertarung dengan tangan kosong tidak diperbolehkan. "Maaf, saya lupa." Anna akhirnya pergi mengambil senjatanya.
"Tuan Wang, kali ini saja. Ayo kita buat sebuah pertunjukan." Pinta Lucy sekali lagi.
"Di kelas A, ada siswa Luke yang memiliki peringkat C dan juga instruktur Riko dengan peringkat A. Di kelas C, ada instruktur Davina seorang Assassin berperingkat C. Menurut mu, jika mereka menyerang secara bersamaan, apakah siswi Anna akan sanggup menahannya seorang diri?" Ucap Liu Gong, memberikan gambaran apa yang akan terjadi jika Anna hanya sendirian menjaga benteng.
Seberbakat apapun Anna, dia tidak akan sanggup bertahan seorang diri dari 3 Hunter yang memiliki peringkat jauh di atasnya. Apalagi, ketiga Hunter yang Liu Gong sebutkan tadi adalah Hunter-hunter tipe menyerang.
"Dia benar," sahut Anna yang sudah kembali.
Liu Gong menatap Anna dan menganggukkan kepalanya.
"Saya berencana untuk lulus hanya dalam waktu enam bulan. Ayo kita buat pertunjukkan. Selagi kepala Akademi menonton kita." ucap Anna, menyetujui apa yang dikatakan Lucy. Dari kedua matanya, Liu Gong dapat melihat semangat yang membara.
Tapi, kata-kata Anna yang mengatakan ingin lulus dalam waktu enam bulan itu, membuat mereka semua hanpir tertawa.
Bahkan Gina sebagai lulusan tercepat saja membutuhkan waktu 2 tahun. Itu pun sudah lebih cepat 1 sampai 2 tahun dari kebanyakan lulusan lainnya.
Liu Gong menatap Anna dengan wajahnya yang kehilangan ekspresi. Dia agak menyesali keputusannya setelah mendengarkan apa yang baru saja siswi terbaik itu ucapkan.
'Apakah aku mempertaruhkan harapan ku pada orang gila?'
Liu Gong kemudian melihat senjata yang di pilih Anna.
"Kau menggunakan tongkat?"
Anna menatap tongkat di tangannya, lalu menoleh ke rak yang berada agak jauh dari mereka, dimana hanya ada tongkat-tongkat saja di sana."
"Sebenarnya hanya senjata jenis ini yang tersisa." sahut Anna.
Liu Gong menghela nafasnya pelan.
"Apa kau memilih senjata hanya karena itu yang tersisa? Kau bisa meminjam dari rak kelas sebelah."
"Saya tidak masalah dengan ini. Malahan, menggunakan tongkat akan lebih baik." sahut Anna. Tatapan matanya penuh percaya diri.
"Tempo hari kau menggunakan tombak, sekarang tongkat. Sebenarnya, apa senjata utama mu?" tanya Liu Gong penasaran.
"Saya bisa menggunakan banyak senjata." sahut Anna dengan santai.
Liu Gong tidak menanggapi. Dia menatap kedua mata Anna lekat-lekat dan melihat ada rasa percaya diri di sana.
"Apa itu benar atau hanya omong kosong?" pikir Liu Gong. Dia kemudian mendesah pelan, "Aku memang sudah gila karena memutuskan pindah kelas tanpa berpikir panjang."
"Ayo kita ikuti strategi ketua kelas." Ucap Anna yang belum mendapatkan persetujuan Liu Gong.
Liu Gong menggelengkan kepalanya.
"Ini memang pertandingan mingguan, tapi ini bukan sebuah permainan," sahut Liu Gong. Dia kemudian menatap siswa yang membawa perisai di tangan mereka. "Kalian semua jagalah benteng bersamanya." Perintah Liu Gong pada 3 siswa kelas Tanker.
__ADS_1
Karena permintaannya tidak di setujui, Anna akhirnya menyerah. Dia pun pergi menghampiri Yola yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraan.
"Yola." Sapa Anna dengan senyuman di bibirnya.
"Hai, Anna." sahut Yola dengan kurang bersemangat. Namun dia menatap wajah Anna dengan penuh perhatian.
"Ikutlah dengan ku setelah pelajaran selesai."
Yola menatap Anna dengan wajah bingung. "Maksud mu?"
"Saudara mu sudah kembali, dia ingin bertemu dengan mu."
"Apa?!" Yola tersentak. Suaranya cukup nyaring hingga membuat beberapa orang yang berada di dekat mereka menoleh padanya.
Anna kemudian maju lebih dekat pada Yola, lalu berbicara padanya dengan setengah berbisik. "Ada pekerjaan penting yang harus dia lakukan untuk ku dan dia tidak sempat menghubungi mu saat hendak pergi."
Saat Anna sudah menjaga jaraknya lagi, Yola menatapnya lekat-lekat.
Yola tahu, satu-satunya orang yang akan kakaknya ikuti perintahnya hanya boss wanitanya yang baik hati pada kakaknya dan sering membantu perekonomian mereka.
"J-jangan-jangan, Anda nona Anna Ly..."
"Ya. Tolong jangan katakan pada siapapun." Ucap Anna, memotong kalimat Yola.
Mendengar itu, Yola mengangguk pelan dan tidak berbicara lagi. Dia menatap Anna lebih lekat, memerhatikan wajah orang yang selama ini telah membantu keluarganya, bahkan membiayai semua kebutuhan pemakaman neneknya dan juga memberikan rumah tinggal baru untuk dia dan kakaknya.
'Ternyata dia dewi penyelamat kami...'
°°°
Sementara itu di barisan kelas A, Luke menatap gadis cantik yang berada di barisan kelas B dengan hampir tak berkedip.
Dia tidak menyangka orang yang di bencinya memiliki kecantikan yang di luar nalar. Namun, bagaimanapun, Luke berpikir akan memberikannya pelajaran hari ini.
'Andai dia mau mengakui kearoganannya, maka aku akan memaafkannya.'
Di kelas A, hanya Luke dan Milena yang senang saat melihat Anna pindah ke kelas B.
Yang pertama ingin memberikan pelajaran pada Anna, sedangkan yang terakhir benar-benar ingin menyakitinya.
Siswa lain yang sebenarnya lebih suka pada Anna, mengutuk Luke dan Milena di dalam hati. Mereka menganggap karena kedua siswa angkuh itulah Anna akhirnya memilih untuk pindah ke kelas B.
Kecuali kedua siswa itu, semua siswa di kelas A sebenarnya sangat memuja Anna atas bakatnya. Apalagi, saat mereka mengetahui si pemilik bakat luar biasa itu juga memiliki wajah rupawan.
Saat pertandingan akan dimulai, Riko meminta semua siswa kelas A untuk bersiap di posisi masing-masing.
Rencana mereka adalah untuk menyergap kelas B terlebih dahulu.
Riko dapat menebak, Davina pasti akan memilih untuk menyerang benteng kelas B dan mengambil bendera mereka terlebih dahulu, dibandingkan mengambil resiko dengan menyerang kelas A yang jauh lebih kuat karena memiliki siswa-siswa yang lebih kompeten.
Tapi, kelas B yang memiliki Wang Liu Gong juga pasti berpikir untuk menyerang mereka terlebih dahulu untuk menyingkitkan saingan utama.
Karena itu, Riko meminta semua siswa kelas Mage untuk menyerang Liu Gong secara bersamaan saat dia memberi kode.
Saat pertandingan akan dimulai, Luke Stewart berjalan menghampiri Anna yang berdiri di dalam lingkaran, di bentengnya.
"Hati-hati, aku akan menyerang dengan serius." Ucap Luke mengingatkan.
"Kau tak perlu khawatir dengan itu, dia memiliki seorang kakak sepupu Healer terkenal di Asia Tenggara. Dia akan segera disembuhkan separah apapun cideranya." sahut Milena yang berdiri tak jauh dari mereka. Kata-kata sarkasnya itu sengaja diucapkannya pada Luke untuk memanas-manasi pria itu.
Milena kemudian menatap Anna dan tersenyum sinis padanya. "Ayo kita lihat apa kau benar-benar sekuat itu? Bagaimana pun kau hanya Hunter peringkat F." Ejek Milena.
"Tunggulah, aku akan mengurus mu dengan cepat setelah dia." ucap Anna seraya mengacungkan tongkatnya pada Luke.
Luke tertawa, lalu menatap tajam pada Anna dan berkata, "Jangan menangis nanti."
Luke kemudian menoleh pada Milena dan memberikan tatapan marah pada gadis itu, namun tak mengatakan apapun. Dia hanya berjalan melewatinya untuk pergi kembali ke barisan kelas A.
Setelah mereka berdua kembali ke barisan kelas A, Anna berbalik dan menatap pada 3 Tanker yang berdiri agak jauh dibelakangnya.
"Jagalah bendera di dekat menara. Aku akan menghadang semua tim penyerang." pinta Anna pada mereka dengan memberikan senyum manisnya di akhir kalimat.
Ketiga Tanker mengangguk dengan wajah tersipu, lalu menuruti permintaan Anna. Mereka bersiaga di dekat menara.
Saat masing-masing kapten dari ketiga tim menyatakan kesiapan timnya, bel tanda pertandingan dimulai pun berbunyi.
•••••••
__ADS_1